Perpustakaan-Museum Keliling, Suatu Gagasan Untuk Indonesia Maju

“Mengosongkan pikiran seseorang dari kemampuan, atau bahkan semangat, untuk mengakses sumber daya kultural merupakan kemenangan besar bagi sistem kapitalis.” –Noam Chomsky, How the World Works-

Perpustakaan adalah Harapan

STORM REYES, besar di kampung imigran Amerika ketika usianya delapan tahun dan bekerja sebagai pemetik buah. Upahnya tidak bisa mencukupi bahkan untuk makan. Di kawasan tempat tinggalnya rentan akan keamanan juga kenyamanan. Pada suatu ketika, sebuah perpustakaan mobil keliling menyambangi desanya. Dari perpustakaan keliling itu, Reyes menemukan semangat hidup!

Sang pustakawan mengatakan sesuatu hal penting pada awal percakapan mereka. “You know, the more you know about something, the less you will fear it.” Kini, Reyes menjadi seorang staf di salah satu Departemen Pemerintah Amerika. Sesuatu yang mungkin tidak bisa dia raih jika dia tidak membaca. Melalui tulisannya, Reyes mengakui bahwa keberadaan perpustakaan adalah suatu hal yang penting. Perpustakaan telah mengubah hidup Reyes.

Seperti yang dikatakan Chomsky, pada era 30 sampai 40-an, masyarakat pekerja kebanyakan menghabiskan waktu mereka membaca di perpustakaan. Membaca di perpustakaan merupakan suatu aktivitas yang tidak hanya memberi nutrisi atau pandangan-pandangan baru, tapi juga ‘kebutuhan’ dan ‘harapan’.

NoamChomsky

sumber foto chomsky.info

“Saya pikir itulah salah satu alasan pada masa itu orang miskin bahkan pengangguran yang tinggal di pemukiman kumuh, masih kelihatan memiliki harapan…Perpustakaan adalah salah satu faktornya. Tempat itu bukan hanya untuk orang terpelajar, semua orang bisa memanfaatkannya, meski sekarang tak lagi demikian.” Noam Chomsky, How the World Works.

Kapitalis Mencerabut Peradaban Manusia dan Makna Perpustakaan Dari Kacamata Umberto Eco

Umberto Eco mengatakan, buku-buku yang tidak dibaca lebih berharga pada hidup kita dibandingkan sebuah buku yang sudah dibaca. Ungkapan sarkastik ini tentu keluar dengan suatu alasan. Sejak dulu, kapitalis tidak hanya merajai perindustrian namun juga telah mencerabut akar-akar juga semangat kultural manusia akan peradabannya sendiri.

Itu sebabnya, Umberto Eco memilih untuk menjadi ‘antischolar’ di dalam budaya masyarakat yang menjadikan pengetahuan hanya sebagai alat untuk berkuasa. Masa posmodern ini memperlakukan pengetahuan sebagai properti perorangan, sesuatu yang terlalu dilindungi seperti harta karun. Sesuatu yang membuat Umberto Eco membagi ruang perpustakaannya (yang terdiri dari tiga puluh ribu buku) menjadi dua bagian. Pertama, bagi mereka yang datang dan berkata, “Oh Tuan Eco, banyak sekali buku koleksi Anda! Berapa banyak yang sudah Anda baca?”, dan kedua, bagi mereka yang memahami bahwa perpustakaan pribadi bukanlah pelengkap untuk meningkatkan egoisitas (gengsi) tapi justru alat penelitian.

Perpustakaan menurut Eco, semestinya memenuhi segala apa yang tidak diketahui manusia sebagaimana manusia menaruh perhatian besar pada keuangan, hipotek dan real-estate. Eco beranggapan bahwa semakin tua seseorang mestinya semakin banyak dia ‘menumpuk’ buku-buku. Tumpukan buku itu akan memandang pemiliknya dengan penuh ancaman. Semakin banyak hal diketahui manusia, semakin banyak deretan buku belum dibaca yang semestinya memenuhi perpustakaannya.

Konsep Perpustakaan dan Museum all in one dan mobile Untuk Masyarakat Buta Huruf dan Anak-anak

Jika memungkinkan, berkunjunglah ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sejak melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung, pengunjung akan disambut dengan pameran barang-barang dan buku-buku bersejarah. Berbagai replika kitab bersejarah juga terdapat di sana sehingga pengunjung dapat mempelajarinya. Presentasi dari keluhuran budaya bangsa diterjemahkan layaknya paduan museum dan perpustakaan dalam satu tempat.

Pertanyaannya, bagaimana jika tidak berkemungkinan untuk mengunjungi dan belajar di Perpustakaan Nasional RI?

Bagaimanapun usaha pemerintah dalam mewujudkan masyarakat cerdas telah dilakukan dalam lebih dan kurangnya namun masih perlu ditingkatkan lebih jauh lagi. Perpustakaan RI semestinya  dapat dijadikan rujukan dan pula melayani serta memfasilitasi perpustakaan-perpustakaan lainnya di daerah-daerah. Termasuk juga perpustakaan yang ada di universitas-universitas seperti Perpustakaan Unsyiah. Buku-buku dan perangkat belajar yang berada di dalam pusat studi Unsyiah maupun UPT Unsyiah semestinya juga bervariasi (tidak hanya bersifat akademis). Sehingga masyarakat luas (termasuk memiliki pelatihan untuk mereka yang buta huruf) dapat mengakses bacaan sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.

Kenyataannya, bookmobile atau perpustakaan keliling juga sangat dibutuhkan. Perpustakaan yang berada di universitas seperti Unsyiah Kuala semestinya dapat mengakomodasi hal tersebut. Karena sejatinya universitas dan institusi-institusi belajar haruslah berkontribusi bagi masyarakat luas.

Hanya saja, bagaimana konsep perpustakaan keliling yang patut digalakan?

Mari sejenak mundur ke era di mana Indonesia pernah menjadi tuan rumah ketika diselenggarakannya Konferensi Peranan Pendidikan Estetika dalam Pendidikan Umum di Yogyakarta pada kurun waktu 1970-an. Sebuah konferensi yang merekomendasikan anjuran untuk mempererat kerjasama antara sekolah dan lembaga-lembaga kebudayaan, mengisi kurikulum pengajaran dengan wawasan budaya dan memperluas pemakaian sumber pendidikan. Baik di perpustakaan juga termasuk di dalam gagasan ini adalah dipadukan dengan museum.

Konsep perpustakaan dan museum dalam praktik perpustakaan-museum keliling semestinya dapat diwujudkan. Indonesia telah berkecimpung terkait gagasan ini sejak tahun 1970-an seperti yang sebelumnya sudah disebut. Namun, bagaimana perkembangannya sampai hari ini, masihlah menjadi sekedar ‘wacana’.

Di dalam perpustakaan-museum keliling, pustakawan dituntut kreatif dalam mengabdi. Perpustakaan-museum keliling dapat keluar masuk kampung, pedesaan, dan kota. Pustakawan dapat melangsungkan sebuah pameran sederhana, pertunjukan seni, penayangan film dokumenter, ataupun panggung mendongeng. Intinya, apapun yang memungkinkan untuk diselenggarakan.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan pula metode lecturing layaknya di sekolah-sekolah tinggi dapat dilaksanakan dengan bahan materi yang tentunya telah disesuaikan. Bayangkan, sebuah mobil besar berisi padat ilmu, alat-alat canggih, ornamen indah menarik hati, yang mampu membuka mata dan wawasan siapa saja berkeliling keluar masuk kampung setiap harinya! Masyarakat buta huruf mungkin tidak serta-merta membaca buku tapi mereka dapat duduk manis menyimak tayangan dokumenter. Anak-anak akan senang duduk mendengar dongeng dari pustakawan yang ramah dan selalu tersenyum. Everybody is doing good for everybody.

Perpustakaan Harus Terbuka Untuk Siapa Saja!

vintagereading2

dokumentasi brainpickings

Di daerah Surakarta, tempat di mana saya menghabiskan masa kuliah beberapa waktu silam. Terdapat sebuah perpustakaan yang gemar dinikmati semua kalangan. Bisa dibilang, hanya di tempat itu saya bisa menemukan ibu-ibu menyusui (seperti saya) khusyuk membaca sambil menimang dan menyusui bayinya, anak-anak duduk di ruang khusus bermain sambil membaca, para pekerja, orang lanjut usia, serta para mahasiswa yang sibuk mencari referensi. Mereka (mahasiswa ini) bahkan kebanyakan lebih menikmati perpustakaan milik seorang filantropis Amerika ini ketimbang perpustakaan di kampusnya sendiri.

Di perpustakaan itu juga para orangtua yang mulanya hanya mengantar anak, menjadi tertarik untuk datang lagi dan lagi. Pada awalnya mereka hanya menonton film dokumenter yang diputar tanpa henti. Setelahnya, mereka meraih buku-buku bacaan yang dibaca anaknya. Dan keesokannya mereka mulai memiliki minat untuk mencari tahu sendiri buku-buku apa yang mereka minati.

Apa yang saya cermati dari kondisi pengunjung dan perpustakaan ini (selain dari pengarsipan buku yang tepat) juga acara-acara yang mereka laksanakan. Perpustakaan juga bisa menjadi sebuah ruang untuk melahirkan karya apapun terlebih karya seni dan estetika. Pendirinya juga menyempatkan waktu mengajar bahasa Inggris. Di mana hal itu bahkan tidak saya dapatkan secara cuma-cuma dari seorang native di universitas saya (kala itu).

Buku-buku Prioritas

Chomsky mengaku sedih ketika perpustakaan favorit yang selalu dia donasikan tidak memiliki buku-buku politik yang lengkap. Bahkan pustakawannya mengaku bahwa buku-buku teori yang bersifat analitik tergeser oleh buku-buku laris alias bestseller.

Sayangnya, kategori bestseller tidak melulu mencitrakan buku bermutu, bermakna dan menggugah. Saya tidak akan menyebut penulis atau pengarang dengan ciri-ciri buku bestseller yang tidak mencerminkan mutu, kita semua akan menyadarinya jika rajin bertamasya ke Toko Buku.

Itu artinya, masyarakat akan selamanya berpikir bahwa buku terbaik adalah yang berlabel bestseller jika mereka tidak terbiasa dengan membaca buku-buku yang mengasah dan melatih nalar pikir mereka seperti buku-buku politik dan pendekatan disiplin ilmu lainnya.

Minat itu tidak akan pernah muncul jika tidak dirangsang langsung ke lapisan-lapisan masyarakat dan unit terkecil (keluarga). Dan, salah satu cara untuk dapat merangsang minat itu adalah pengadaan Perpustakaan-Museum Keliling.

Saya rasa, setiap universitas, sekolah-sekolah, dan pribadi-pribadi akademik memiliki tanggung jawab besar akan hal itu. Momen seperti Unsyiah Library Fiesta semestinya akan lebih marak, lebih bermanfaat dan lebih…LUAR BIASA jika mengadakan Perpustakaan-Museum Keliling, menebar ilmu, menebar kebaikan dan kebahagiaan.

Ya, sesuatu yang harus kita laksanakan, bukan lagi direnungkan.

 

Sumber bacaan.

https://www.brainpickings.org/2016/10/06/libraries-storycorps-bookmobile/

https://www.brainpickings.org/2015/03/24/umberto-eco-antilibrary/

https://miraworldweb.wordpress.com/2016/05/24/feature-sejarah-ringkas-perkembangan-pendidikan-berbasis-museum-di-iran-dan-aljazair/

Noam Chomsky, How the World Works, 2017:Pustaka Bentang

 

Posted in Partisipasi Lomba Blog | Leave a comment

Medium!

xJGh6cXvC69an86AdrLD98

dokumentasi google

Kawan, jika berkenan silakan mampir ke blog Medium saya @mirantikejer, di mana saya menaruh catatan-catatan belajar filsafat dan spiritualitas di sana. Semoga dapat saling mencerahkan. Jangan lupa tinggalkan claps atau komentar untuk interaksi yang lebih membangun!

Salam hangat,

Miranti

Posted in Writing & Beyond | Leave a comment

Tentang MPASI di bawah 6 bulan dan Bagaimana Putriku Menjalaninya

Saat ini, putriku berusia 5 bulan 14 hari. Pada usia 5 bulan 5 hari kemarin, ASI-ku tidak lancar keluar. Selama sepekan, ASI yang keluar sangat sedikit meski segala cara sudah kucoba. Kuakui memang ada beban pikiran saat sepekan itu, dan imbasnya adalah putriku. Dia lapar. Setiap malam dia rewel.

Setelah membaca sebuah penjelasan dari Dokter Meta, terkait MPASI di bawah 6 bulan, aku dan suami memutuskan untuk memberi Lyubi MPASI. Karena memang ASI yang kuhasilkan sedikit sekali. Tidak seperti sebelumnya yang banjir melimpah.

Ada beberapa ciri bahwa bayi siap MPASI. Kepalanya sudah tegak, bisa duduk dengan bantuan yang sangat sedikit, serta bisa menelan makanan (mendorong masuk makanan ke tenggorokkan).

Pertama kali, kucoba menyuapi Lyubi dengan ASI yang sedikit dari hasil pompa. Kusuapi dengan botol bersendok. Dan, Lyubi bisa! Lyubi memang sudah memenuhi kriteria bayi siap MPASI.

MPASI pertama yang kuberikan adalah menu tunggal. Labu kuning (kabocha) yang kucampur ASI. Lyubi lahap sekali. Malamnya dia pup. Alhamdulillah dia tidak sembelit. Sebagai tambahan juga, susu formula SGM karena ASI ku masih belum keluar banyak. Dua hari belakangan, ASI ku mulai normal. Sehingga, MPASI kuberikan tidak sebanyak sebelumnya dan aku stop susu formula. Mulai dua hari belakangan sampai sekarang, Lyubi alhamdulillah bisa lebih banyak ASI lagi. MPASI tetap kuberikan hanya saja porsinya telah berkurang dari sebelumnya yang juga tidak banyak.

Lyubi juga kuberikan MPASI pabrikan merek CERELAC. Tapi masih yang rasa buah. Belum rasa daging ayam atau daging sapi. Panduan tentang kenapa juga pakai MPASI pabrikan karena kebutuhan zat besi yang aku ribet ngitungnya. Jadi, dalam satu hari, Lyubi makan MPASI homemade, juga MPASI pabrikan kutambah buah. Tapi tentu porsi ASI juga banyak. Panduannya bisa disimak dari penjelasan dokter Meta.

Posted in Sleepless Mommy: A Parenting Stuff | Leave a comment

Putriku dan Mainannya

5

putriku dan mainan pinjaman

Aku, suamiku dan putriku menghabiskan pekan yang manis di rumah salah satu keluarga kami di Boyolali beberapa waktu lalu. Beliau, saudara saya itu punya putri cantik dan pintar namanya Janitra. Kami sudah sering main ke sana dan bermalam. Bahkan dari Lyubov masih dalam rahimku.

Janitra punya banyak sekali mainan. Lyubov tentu senang karena bisa pinjam semua mainan Janitra. Meskipun Janitra sering menangis karena tidak mengizinkan Lyubov bermain dengan mainannya, Lyubov masih santai (karena belum mengerti). Sementara itu, orangtua Janitra memberikan didikan kepada putrinya itu untuk dapat berbagi.

Satu hal yang kukagumi dari Lyubov adalah, walaupun senang memainkan mainan Janitra, Lyubov tetap santai saat ayahnya menjauhkan mainan darinya. Dia tidak menangis apabila kami tidak memberinya mainan-mainan itu. Ketika kami dengar Janitra menangis atau rewel melihat mainannya dimainkan, kami coba menjauhkan Lyubov dari mainannya. Dan, surprise sekali, Lyubov tidak menangis!

Di rumah memang tidak ada mainan buat Lyubov. Boneka pun tidak ada. Kemarin kami baru beli mainan kerincingan dan bebek-bebek kecil untuk teman mandi Lyubov. Tapi dia kurang tertarik dengan kerincingan walau sudah bisa menggenggamnya. Lepas itu, dia tidak menangis jika tidak ada kerincingan. Ketika dia sudah bisa pegang, dia langsung lepas dan lebih tertarik untuk membolak-balikkan tubuhnya, atau memperhatikan kipas yang bergerak.

Ya, Lyubov senang dengan mesin yang bergerak, alat yang berproses. Dia bisa mengamati dengan wajah penasaran dan alis berkerut-kerut bila kunyalakan-kumatikan lampu. Atau kunyalakan-kumatikan kipas angin. Lyubov senang memperhatikan sinar-sinar terik. Saat dia berusia setengah bulan dan masih harus sering dijemur karena bilirubin, Lyubov menatap matahari di langit tanpa berkedip selama beberapa detik. Aku buru-buru menutupi walau dia bersikeras untuk tetap melihatnya.

Sampai sekarang aku belum membelikannya mainan lain. Dan sedikit ragu sebenarnya. Alasannya, waktu aku kecil dulu, mainanku banyak sekali. Boneka tidak terhitung jumlahnya. Pokoknya, sampai kelas tiga SD, aku masih suka mengoleksi boneka, barbie dan mainan. Tapi, dulu aku pelit. Kalau ada teman atau saudaraku pinjam, aku sering kali kesal. Jadi, karena takut seperti aku dulu, aku tidak membelikan Lyubov mainan yang terlampau banyak. Baru ada kerincingan, boneka bebek buat mandi, dan boneka monyet milik ayah Lyubov dulu kecil.

Posted in Journal | Leave a comment

Belajar Bersama Anak: Cerita tentang Dongeng

Mommies,

Tentu semua orangtua mengingkan anaknya tumbuh dengan pribadi  yang baik. Jujur dalam berkata dan berbuat, ikhlas dalam menolong serta pandai bersosialisasi. Sayangnya tidak semua orangtua memiliki kesadaran bahwa semua itu perlu dipupuk sejak dini. Salah satu metode terbaik untuk mengasah keterampilan sosial dan jiwa baik anak adalah dengan mendongeng!

Dikutip dari Keajaiban Mendongeng , ternyata ada beberapa tips jitu dalam memilih jenis dongeng untuk anak. Alasannya, tidak semua dongeng relevan dengan usia anak. Beberapa di antaranya baru bisa diterima anak ketika beranjak remaja. Beberapa tipe dongeng itu ialah:

  • Tipe Orientasi Relativis-Instrumental

Anak-anak yang terbiasa didongengkan jenis ini akan memiliki imajinasi tentang sosok pahlawan dan arti perbuatan baik. Anak akan belajar bagaimana perbuatan baik akan memiliki dampak yang baik pula. Setiap perbuatan baik akan diberikan jalan yang mudah dan menyenangkan pada akhirnya. Jenis dongeng seperti ini bisa ditemukan dalam cerita-cerita pahlawan atau tokoh-tokoh daerah yang melawan keburukan dengan kebaikan. Dongeng seperti ini cocok untuk anak usia 1 s.d 5 tahun.

  • Tipe Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Dongeng tipe ini merupakan pasangan dari sebelumnya. Anak yang didengarkan dongeng jenis ini akan belajar bahwa perbuatan buruk akan berunjung pula pada keburukan. Orang yang berbuat jahat akan mendapat sanksi. Dengan demikian, Anak juga belajar bahwa daripada dihukum lebih baik berbuat baik karena berbuat baik tidak akan dihukum. Dongeng tipe ini cocok untuk anak usia 5 s.d 7 tahun.

  • Tipe Konformitas Interpersonal

Pada tahap ini, anak belajar bahwa perbuatan baik tidak hanya menghadirkan kesenangan pada dirinya namun juga mendapat pengakuan dari kelompok sosial (label). Dongeng-dongeng tentang anak yang berusaha untuk mendapatkan banyak teman dengan berbuat baik biasanya cocok untuk merepresentasikan tipe ini. Biasanya diceritakan kepada anak usia remaja sekitar 10 s.d 13 tahun.

  • Tipe Orientasi Hukum dan Keteraturan

Tahap ini merupakan kelanjutan sebelumnya. Anak akan mempelajari dari dongeng Ksatria Malam yang ditunggu warga untuk menjaga mereka dari ancaman naga api bahwa menjadi baik dan diakui tidak cukup. Anak akan belajar bahwa berbuat baik merupakan suatu sikap yang lahir dari kerelaan hati. Ksatria Malam itu, tidak hanya berbuat baik dan diharapkan kedatangannya. Namun juga mau berjuang sampai mati menyelamatkan banyak orang dan desa.

Posted in Sleepless Mommy: A Parenting Stuff | Leave a comment

2019 Titik Temu Dua Samudra

Impian dan Harapan

Masa kecilku terlalu banyak diisi oleh impian dan harapan. Mungkin itu cara terbaik dari tipikal orangtua zaman dulu. Tidak mungkin mereka bermaksud menjatuhkanku dengan impian dan harapan itu, kan? Pasti ada suatu nilai yang bisa kuteladani. Toh, pada akhirnya aku berhasil melalui berbagai fase kehidupan. Impian dan harapan yang telah mengakar itu menjadi faktor penyelamat ketika aku menempuh fase-fase sulit. Salah satunya, fase pernikahan seumur jagung-ku.

Siapapun boleh mendefinisikan momen spesial. Bagiku, momen spesial adalah proses bangkit dari keterpurukan. Pernah menikah kemudian berpisah, juga termasuk salah satu momen spesial dalam hidupku. Setidaknya, itu definisi yang kuyakini. Fase itu juga tetap kuakui sebagai fase tersulit. Tidak ada obat yang melebihi dari hangatnya penerimaan keluarga dan impian juga harapan untuk kembali menikmati kehidupan itu sendiri.

Saudara boleh periksa ke berbagai cerita atau tulisan dari perempuan yang bercerai di usia muda. Tidak ada satupun dari mereka tidak melihat awan mendung menghiasi hari-harinya. Terlebih di Indonesia, di mana mulut-mulut masyarakat tak hanya jago berjualan namun juga menyebarkan berita-berita yang laris, seperti kasus perceraian keluarga yang bisa digoreng tiap harinya. Status janda muda bukanlah bagian dari impian dan harapanku saat kecil dulu, tapi nyatanya ia hadir dalam suratan hidup, dan aku menjalaninya.

Kegiatan menulis yang sebelumnya sudah sering kulakukan di platform blogspot dan buku harian menjadi berhenti seketika. Depresi rupanya berhasil memisahkan korban dengan aktivitas-aktivitas positif yang menemani kehidupannya. Tapi, dalam nestapa, aku ingat buku harian mami-ku saat dia muda dulu. Di sana kubaca ulang betapa merananya dia, yang jauh dari ibunya. Bisa jadi karena itulah aku mulai berani menulis pengalaman pahitku, ya, aku mulai menuliskannya.

Ceritaku dimulai dari blogspot. Sebelum beralih ke website ini, aku menuangkan segala gundah dan gulanaku di blogspot. Banyak guru dan teman sekolah yang saat itu merasa iba padaku, dan juga penasaran. Disitulah mereka merasa terbantu karena aku sudah menuliskan segala problema perceraian di blogspot. Merasa terbantu karena pasti jadi tidak enak hati jika menanyakan padaku tentang perceraianku.

Tidak sedikit yang kemudian memberikan kata-kata semangat, perasaan hangat dan terbuka yang dikirim melalui email atau sms. Meski tidak lama, mami-ku meminta agar semua tulisan itu dilenyapkan.

“Mami tidak kuat mengetahui sesuatu yang menyedihkan telah menimpamu malah terabadikan dalam mesin digital meski mami selalu mendorongmu untuk terus menerus bangkit.”

Sebagai catatan: Orangtuaku tidak pernah memaksaku menikah. Pernikahan ini aku yang menginginkannya.

Aku pernah bersikeras menolak tuk menghapusnya. Kukatakan pada mami bahwa catatan sedihnya dalam buku harian justru menginspirasiku menulis dan bangkit. Tapi sepertinya, tidak ada luka yang lebih dalam dari pada luka hati seorang ibu melihat anaknya mengalami kejadian itu dan akhirnya terpuruk. Tidak, aku tidak bisa bersikeras lagi setelahnya. Semua tulisan yang sebenarnya menjadi teman depresiku itu telah kuhapus.

Selalu ada pelangi setelah hujan pergi. Itu benar sekali. Tanpa perpisahan itu, aku tak akan menemukan diriku yang selama muda begitu egois dan fanatik pada ambisiku. Aku mungkin tidak akan pernah menjadi seseorang yang mampu memaafkan atau menerima mendung sebagai suatu keteduhan.

Dan yang terpenting, tanpa pengalaman jatuh, aku tidak tahu sampai di mana aku bisa meningkatkan kemampuan mental dan bakat untuk meraih impian. Menulis di blog kemudian menjadi suatu pengalaman paling berpengaruh dalam hidupku; menulis di blog menyembuhkanku.

Saatnya Melaju!

 

foto

Selamat datang, 2019!

Aku telah selesai dengan masa laluku. Ada satu hal yang menjadi tantangan selanjutnya. Apakah aku bisa menerima kehadiran seseorang lagi di hatiku?

Namun inilah hidup. Paceklik pasti berlalu, ladang-ladang akan ditumbuhi palawija. Badai pasti kan pergi dan matahari kan menyinari. Tidak sedikit petani yang menanam kentang lalu mendapati hasil panennya melimpah. Satu atau dua buah kentang akan berukuran besar dan lezat.

Pengelana mungkin akan membawa karavannya pergi meninggalkan satu kota ke kota lainnya dan menemukan keistimewaan dari setiap tempat yang ia singgahi. Begitu pun perjalanan cinta. Sampai pada pelabuhan hati terakhir, tidak seorang pun bisa menerka-nerka!

I’m lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

(Jazon Mraz feat Colbie Caillat)

Sahabat yang selama ini menjadi tempat bual-bualan, ejek-ejekan, malah menjadi pendamping hidupku. Kami sama-sama berniat menempuh pelayaran hidup ini bersama sejak tahun 2013. Proses penyatuan dua hati ini tidak bisa dibilang cepat, begitu lama, butuh usaha, butuh kerelaan, butuh saling mengerti. Kami bahkan melewati rangkaian proses itu dengan menulis di Tumblr.

Perjalananku ke Negeri Legenda kemudian meyakinkan diri ini bahwa memang sahabatku itulah partner perjalanan terbaik yang pernah kumiliki. Pengalaman ini kuabadikan dalam novel KARPINSKI STREET.

Bersama belahan jiwa, telah kulalui proses-proses penuh ujian untuk menjadi ibu. Pengalaman ini pun tidak lupa kutulis di blog dan kemudian intisarinya terbit dalam Antologi Indahnya Jika Dipanggil Bunda. Sampai kemudian kami berjumpa di penghujung tahun 2018. Tahun kesaksian hadirnya buah hati kami, IMAN LYUBOV DAWAMOVA yang kemudian kuabadikan dalam tulisan CINTA dan diterbitkan oleh Penerbit Diomedia.

Titik Temu Dua Samudra

Maka, tidak berlebihan kiranya jika tahun 2019 ini kuanggap titik pertemuan dua samudra. Samudra yang berasal dari masa lalu dan samudra masa depan, yang masih menjadi rahasia. Samudra, ya aku mengibaratkan kehidupan dengan samudra.

Kenapa?

Karena samudra adalah tempat pertemuan seluruh air yang bergerak. Seluruh air dari segala penjuru. Samudra tidak pernah memilih dari mana air itu berasal atau membawa zat apa air yang datang padanya. Samudra selalu menerima dan bahkan menyimpan ragam rasa, warna, rupa di dalamnya. Seperti hidup, yang penuh dengan keragaman.

2019 sesungguhnya adalah awal perjalanan karirku sebagai penulis (dengan berbagai pengalaman sebelumnya yang masih perlu diasah lagi). Tentu juga awal dari peran baruku sebagai ibu, sebagai orangtua. Sebagai istri yang semakin hari semakin harus sabar mendampingi suami dan pekerjaannya. Juga sebagai seorang perempuan yang aku yakin sampai kapanpun tidak akan pernah berhenti bicara dan kampanyekan soal cinta.

Untuk itu, tanpa bermaksud muluk-muluk, kukatakan dengan yakin bahwa visi resolusiku di tahun 2019 adalah; MELAKUKAN BANYAK AKTIVITAS BERDASARKAN CINTA UNTUK CINTA. Kita akan mudah letih saat berjuang, manusia akan mudah bosan saat bekerja, tapi dengan cinta, semua akan terasa lebih ringan dan menenangkan jiwa.

Adapun resolusiku terdiri dari beberapa target yang bisa disimak melalui bagan berikut:

Print

bagan resolusi 2019. dokumentasi gambar pribadi.

Menjadi seorang Narablog atau Blogger saat ini bisa dikatakan suatu pekerjaan menyenangkan. Bagaimana tidak? Bagi seorang yang hobi menulis, membaca dan riset, blog merupakan media paling mudah sekaligus bisa membuka peluang pendapatan. Dengan mengaca pada artikel-artikel yang pernah kutulis sebelumnya, maka tahun 2019 ini kuputuskan untuk lebih fokus pada tema-tema tertentu. Tema-tema itu telah tertulis pada bagan.

Aku telah melewati masa-masa kritisku dengan menulis di blogspot. Juga telah menyimpan berbagai petualanganku dengan suamiku di tumblr. Aku telah menulis momen paling berkesan saat hamil dengan pengalaman Hyperemesis Gravidarum di wordpress. Dan pengalaman-pengalaman lain yang memerlukan proses penyembuhan dengan menulis telah kulakukan di platform ini.

Dengan itu semua, aku yakin bahwa keseriusanku menjadi seorang blogger bukanlah suatu hal yang biasa. Keputusan ini didasari dari periode-periode “samudra” masa lalu yang saat ini berjumpa dengan “samudra” masa depan. Adalah suatu langkah yang perlu ditekuni karena dengan menulis aku bisa membagikan semangat dari energi positif yang berpendar. Terbukti dari tulisan-tulisanku di blog yang telah terangkum dan terbit mendapatkan respon baik dari para saudara pembaca. Aktivitas menulis, selamanya akan membekas bagi para pembacanya. Akan mengendap dalam sanubari mereka yang mungkin dirundung hal serupa dari apa yang mereka baca. Sesuatu yang tidak pernah lekang, sesuatu yang Pram bilang sebagai, “bekerja untuk keabadian.”

Posted in Partisipasi Lomba Blog | Tagged , | 2 Comments

Protected: [U.P. Ms. Yusi Nurcahya] Project Novelet

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Posted in Novels

14 Januari 2019: Buku Panduan MPASI Lyubi

whatsapp image 2019-01-14 at 3.08.04 pm

dokumentasi pribadi

Bulan Maret besok Lyubi mulai makan MPASI. Itu artinya, mulai sekarang saya menulis keperluannya, mencatat jadwal menu makannya dan mempersiapkan segalanya. Tidak boleh menyiapkan dadakan, itu prinsip saya. Alhamdulillah, suami saya sangat mendukung. Kami berdiskusi dan memutuskan untuk membeli buku tentang MPASI berdasarkan advise dari Ahli Gizi.

Kami pergi ke Toko Buku Gramedia Solo, karena kebetulan sejak 12 Desember kami tinggal di Solo. Suami harus melakukan penelitian singkat sampai bulan Maret. Seru juga, karena selain di Solo itu banyak kulinernya, ke mana-mana dekat dan murah!

Saya dan suami menelusuri rak buku bertema parenting. Awalnya suami bersikeras kalau menu MPASI itu ada di rak buku resep. Tapi feeling saya mengatakan ada  di rak parenting. Dan benar saja, di sanalah buku yang kami cari berada.

Kalau ingin tahu sekilas isi buku, bisa baca di Kegiatan Baru Ibu: Mengolah MPASI. Saya dan suami sama-sama merasa bersyukur mendapatkan buku ini. Alasan utamanya, kami kurang percaya pada artikel bebas di media sosial dan apalagi postingan-postingan di instagram. Bahkan kami berencana kalau buku tentang saran MPASI dari ahli gizi tidak ada, kami bakal ke rumah sakit untuk konsultasi dengan ahli gizi.

Sepenting itukah?

Iya, bagi kami penting banget. Alasannya logis. Kami berdua punya latar belakang pengasuhan MPASI yang berbeda dan cukup ekstrem di masa kami. Jangankan bahas MPASI… Suami saya itu, waktu masih bayi merah usia dua hari, tali pusat masih gantung, dikasih puree pisang campur nasi lumat sama neneknya hanya karena tidak berhenti menangis. Orang desa zaman dulu itu prinsipnya cuma satu. Anak bayi kalau nangis ya berarti laper atau haus. Kakeknya suami bahkan berprinsip bahwa ASI itu ya cuma air kayak orang dewasa minum air putih. Ya anak bayi mana mungkin kenyang cuma minum ASI…

Untung saja suami saya tidak mengalami sakit. Itu jadi pembenaran bagi orangtua zaman dulu bahwa ngasih makan puree pisang ke bayi baru lahir itu aman. Mereka dulu belum punya televisi yang banyak saluran programnya. Radio pun belum segencar sekarang menggaungkan gaya hidup sehat. Jadi, dulu ya prinsipnya biar anak bayi nggak rewel, dikasih bubur. Masih bayi merah kek apalagi udah besar.

Dengan latar belakang itu, kami berdua mempelajari sistem pencernaan kami masing-masing. Suami saya yang sudah dicekoki karbohidrat sejak bayi merah, jadi “melar” ususnya. Kalau nasinya sedikit dia bisa lemes dan nggak bisa konsentrasi. Sedangkan saya, sewaktu kecil saya dikasih MPASI usia 4 bulan. Mami saya dulu berpikir kasih MPASI pabrikan itu sangat aman dan memang praktis. Saya sering dikasih biskuit dan bubur dari MPASI pabrikan. Alhasil, beranjak besar, saya tidak suka sayur karena rasanya hambar.

Kami tidak mau hal-hal itu dialami Lyubi.

Untuk menu 4 bintang (meski dilansir dari WHO itu aman) tapi saya kok masih merasa kurang yakin. Dan setelah baca buku ini, saya jadi dapat pencerahan. Usia 6 bulan memang sudah boleh diberikan menu 4 bintang untuk MPASI hanya saja sebagai awalan lebih baik diperkenalkan menu tunggal seperti puree buah atau puree beras merah campur labu. Awal MPASI pun belum disarankan pemberian lemak tambahan dan protein hewan. Jadi, untuk MPASI Lyubi besok saya akan pakai menu tunggal dan menu 2 bintang (karbohidrat dan protein nabati).

Saya pikir ini lebih logis dan aman. Alasannya, banyak curhatan emak-emak di medsos itu yang MPASI awal anak mereka langsung 4 bintang dan mengeluhkan anaknya sembelit sampai kembung perutnya. Bahkan ada yang sampai sulit kentut. Wah itu kan bahaya banget ya. Ternyata setelah saya baca dari buku ini, hal itu dapat terjadi karena di menu 4 bintang, sistem pencernaan anak usia 6 bulan “kaget” gitu istilahnya dengan proses pergantian glukosa dari karbo ke tenaga, ditambah kaget juga dengan serat dari sayur dan protein nabati, udah gitu ada lemak UB pula. jadi banyak anak usia 6 bulan yang sembelit di awal MPASI.

Well,

Di bulan keenam nanti, Lyubi kami putuskan untuk konsumsi menu tunggal atau dua bintang dulu. Ketika dia mau masuk ke usia tujuh bulan, baru deh saya tambah jadi tiga bintang dan ketika pas tujuh bulan baru pakai menu 4 bintang. Saya percaya, pemberian MPASI bertahap akan lebih mudah dan tidak bikin sistem pencernaan dia “kaget”.

Nah, setelah ini saya mau bikin jadwal makan dan menu untuk menu tunggal dan menu dua bintang. Semoga rencana ini berjalan lancar, amin!

 

 

 

Posted in Journal | Leave a comment

Kegiatan Baru Ibu: Mengolah MPASI

Halo, Mommies!

Ada kegiatan baru yang menyenangkan setelah menjadi ibu. Mengolah MPASI! Ya! Hampir semua ibu merasa tertantang untuk menyiapkan MPASI terbaik. Kalau zaman dulu saya kecil, panduan MPASI dan hidangan harian adalah empat sehat lima sempurna. Kalau sekarang, adalah menu sehat gizi seimbang.

gizi-seimbang-untuk-nutrisi-anak

dokumentasi Google

Seperti apa menu sehat gizi seimbang?

Mommies bisa perhatikan bagan berbentuk tumpeng di samping. Semakin ke atas artinya semakin sedikit dibutuhkan. Sedikit bukan berarti tidak sama sekali atau terlalu jarang ya!

Dikutip dari Buku Top 300 Menu Bayi dan Balita, kebutuhan karbohidrat bayi usia 7 s.d 11 bulan adalah 82 gram. Dan anak usia 1 s.d 3 tahun sebanyak 155 gram. Karbohidrat juga dibedakan menjadi dua; kompleks dan sederhana. Karbohidrat kompleks mengolah glukosa menjadi energi dalam waktu lama. Karbohidrat sederhana mampu mengolah glukosa menjadi energi dalam waktu cepat. Contohnya; nasi putih.

Sumber karbohidrat ini yang menjadi gizi paling banyak dikonsumsi. Banyak, bukan berarti suka-suka, ya Mommies. Takaran untuk karbohidrat atau makanna pokok adalah 3 s.d 8 porsi sehari. Setelah karbohidrat, ada makanan sumber vitamin dan mineral. Tentu makanan ini diwakili oleh sayur mayur dan bebuahan. Porsinya pun berkisar antara 3 s.d 5 porsi sehari untuk sayuran dan 2 s.d 3 porsi untuk bebuahan.

Menu selanjutnya adalah makanan mengandung protein. Sesungguhnya, protein dan lemak itu agak berbeda sedikit. Jika protein, dibutuhkan per harinya sekitar 2 s.d 3 porsi. Protein bisa dijumpai pada hewan dan tumbuhan. Pada hewan misalnya ikan laut (salmon, tuna dll yang baik bagi pertumbuhan otak). Adapun pada tumbuhan misalnya jenis kacang-kacangan (multigrain); kacang hijau, merah, dan kacang almond. Produk dairy juga bisa; keju, cheddar, susu, dan yoghurt.

Terakhir sumber lemak untuk MPASI. Bisa didapatkan dari UB (Unsalted Butter), margarin dan EVO (Extra Virgin Olive Oil).

Kategori MPASI

MPASI (Makanan Pendamping ASI) dari akronimnya saja kita bisa mempelajari bahwa untuk masa emas (golden age) bayi dan balita, peran makanan ini adalah pendamping. ASI masih menjadi yang paling sering diberikan, sampai bayi berusia maksimal dua tahun. Oleh karenanya, begitu bayi diperkenalkan MPASI pertama kali, tidak perlu diberikan kandungan gizi kompleks. Sistem pencernaannya perlu diperkenalkan dulu dengan bahan-bahan makanan yang selama ini menjadi kebiasaan makan keluarga.

Mommies bisa memulainya dari puree non-olah dan puree olahan.

Contoh Puree non-olah untuk MPASI awal bayi 6 bulan:

Puree Alpukat

Bahan: 1 Buah Alpukat matang ukuran sedang, ASI secukupnya

Cara membuat: 1) Belah dan keruk daging alpukat. 2) Hancurkan daging dengan garpu atau blender, 3) Tambahkan ASI secukupnya ketika hendak dikonsumsi.

Contoh Puree Olahan untuk MPASI awal bayi 6 bulan:

Puree Labu Kuning dan Beras Merah

Bahan: 1 sdm tepung beras merah, 100 ml air, 50 gram labu kuning, potong dan rebus lalu haluskan, ASI secukupnya

Cara membuat: 1) Campur tepung beras dan air aduk hingga rata, Panaskan di atas api kecil sampai matang. 2) Masukkan labu kuning halus, aduk rata. 3)Campurkan ASI sesaat sebelum disajikan.

Bayi usia 6 bulan memang harus diperkenalkan dengan MPASI. Hanya saja belum kompleks seperti bayi usia 7 bulan. Di usia 6 bulan, bayi juga belum perlu diberikan produk dairy dan lemak tambahan. Ketika Bayi berusia 7 bulan, ragam makanan baru boleh diberikan karena sistem pencernaannya sudah siap. Pemberian protein hewani dan Lemak tambahan juga bisa diberikan di usia 7 bulan ini.

Sumber:

Top 300 Menu Bayi dan Balita karya Utami Sri Rahayu dan Ahli Gizi: Yunyun Komalasari, Roza Hasye. Tahun 2018 Penerbit Grasindo: Jakarta

Posted in Sleepless Mommy: A Parenting Stuff | 1 Comment

Manusia itu Kejam, Saudara!

whatsapp image 2019-01-06 at 2.14.19 pm

Selamat jalan pohon jambu tetangga

“Wah, sekarang jadi terang!” seru ibu mertua saya. Di dalam hatinya saya tahu, sebenarnya beliau juga sedih pohon Jambu itu ditebang. Bukan karena sudah lama dan tumbuh besar sampai akarnya menyeruak ke selokan. Tapi juga berkat kehadiran si pohon, teras rumah jadi adem dan bisa iyup-iyup.

Kemarin terakhir kalinya saya menggendong Lyubi bernaungkan dahan pohon itu. Dan baru saja saya  nge-batin, “untung pemiliknya suka pohon,” eh, saya tak menyangka hari ini si pohon berjasa itu ditumbangkan…

Alasannya sangat normatif; lelah bersih-bersih sehari bisa tiga sampai lima kali menyapu halaman. Jambunya suka berjatuhan dan memenuhi halaman rumah. Berserakan, jadi tidak enak sama tetangga.

Andai saya tahu itu alasannya, pastilah saya akan menyanggupi untuk bersih-bersih halaman. Walau itu halaman tetangga depan. Tapi, saya toh tidak menetap lama di rumah ibu mertua saya. Dua bulan lepas saya bakal balik ke Leuwiliang. Jadi pasti pemiliknya bakal kerepotan jika saya tidak menyapu halamannya lagi.

Hanya saja, si pohon mengingatkan saya pada Suta Naya Dhadhap Waru karya Iman Budhi Santosa. Yang beberapa waktu lalu saya baca habis. Dan saya benar-benar merasa bingung saat ini. Pasalnya, di buku itu jelas tertulis bagaimana cintanya manusia Jawa terhadap alam dan utamanya pohon. Tapi, tetangga depan yang menebang habis pohon jambunya tentu tidak mengafirmasi pernyataan itu. Padahal beliau sudah masuk usia sepuh dan terkenal tawadhu. Hanya karena lelah membersihkan halaman, si pohon harus diakhiri hidupnya.

Pohon itu, sudah membersamai perjalanan dua keluarga (si pemilik) dan ibu mertua saya. Tetangga kanan-kiri pun jika berkumpul pasti di bawah pohon itu. Mereka saling tegur sapa sore hari. Atau menggendong anaknya dan menyuapi satu persatu. Anak-anak yang bisa bermain sepeda akan memarkir sepedanya di bawah pohon itu dan bermain dengan kawannya di bawah naungan sejuk dahan-dahan.

Siang ini, saya berduka. Sebuah pohon yang telah berjasa dan memberikan manfaatnya begitu besar bagi kehidupan manusia di sekitarnya telah dipaksa mati. Hanya karena manusia malas memunguti bebuahan dan dedaunan kering yang dijatuhkannya. Bukankah, selama ini alam tidak pernah membunuh manusia yang sudah buang taik dan air kencing?

Food for thought.

Posted in Journal | Leave a comment