Membaca Pembicaraan Terorisme

Tindakan teror bom bunuh diri baru-baru ini diberitakan marak di Jawa Timur khususnya Surabaya. Menjelang Pemilihan Presiden, kasus besar menimpa kemanusiaan ini seakan-akan menjadi “ladang subur” bagi oposisi pemerintah untuk mengambil kesempatan. Bagaimana usaha mereka? Dengan menyebarkan berita, opini dan menaikkan isu bahwa terorisme di Indonesia subur sebab pemerintah gagal sejahterakan rakyat.

Pengikut oposisi ini kemudian menyebarkan berita tersebut di sosial media. Mereka tidak menyadari, pemberitaan semacam ini bukanlah solusi. Malah justru memperkeruh keadaan. Ini menunjukkan pula, betapa dangkalnya pengetahuan mereka terhadap “para panutannya” yang bermain kotor dalam politik.

Ada juga pihak oposisi dari kalangan agamawan mengatakan bahwa terorisme yang terjadi  beberapa hari belakangan sengaja dibentuk untuk membuat framing terhadap citra Islam. Pertanyaannya, siapa sih yang bicara di publik kalau itu framing dan menuduh umat Islam pelakunya? Presiden RI saja di dalam siaran pers menyebutkan bahwa “terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apapun.” Kok bisa-bisanya ada tokoh dari kalangan agamawan yang bicara begitu?

Sentimen Bicara

Media sosial menjadi satu-satunya tempat bebas bicara bagi siapapun. Setiap orang, secara eksplisit, memiliki “panggung” mereka sendiri. Siapapun dia. Apapun latar belakangnya. Termasuk saya, termasuk Anda pembaca budiman.

Sayangnya, tidak semua menyadari “kebebasannya” itu sesungguhnya punya batas dan  porsi. Saking lepasnya, hoaks beredar, penghakiman pada pihak-pihak tertentu dengan pandangan subjektif dan sangat tidak proporsional.

Media sosial kemudian membakar kemelut nafsu sehingga banyak masjid-masjid yang menyiarkan kebencian. Sangat disayangkan ketika musibah teror terjadi dan merenggut korban jiwa malah direspon dengan pernyataan-pernyataan yang kurang empatis. Jika ada rekan atau keluarga kita yang seiman wafat saja, kita langsung berbela sungkawa. Kenapa jika merenggut saudara tidak seiman namun sebangsa dan setanah air malah kurang empatis? Apakah berempati harus pilih-pilih?

Banyak muslim termasuk yang mengaku ulama/ustaz justru malah membahas di luar pernyataan empatis. Seyogyanya kita mengucap, “turut berbela sungkawa atau turut berduka cita.” Alih-alih menunjukkan empati, orang-orang dengan sentimen tinggi justru fokus pada pembelaan yang seakan-akan dirinya lebih tersakiti dari korban.

Salah satu tokoh yang dianggap sebagai ustaz/dai bahkan mencuitkan sebuah pernyataan sentimen di media sosial twitter. Sentimen itu ditunjukkan dengan pernyataan, “Yang melakukan aksi teror bom itu sangat jahat dan biadab, tapi yang memanfaatkan isu ini untuk membuat framing negatif pada kaum Muslim, jauh lebih jahat dan lebih biadab

Pertanyaan di dalam benak saya ketika membaca pernyataan itu, “Kok bisa ya, korban ledakan bom teroris yang tubuhnya luluh lantak itu, yang keluarganya menangis pilu tak tahu sampai kapan bisa mengikhlaskannya, masih dianggap tidak ada apa-apanya dibandingkan framing yang sebenarnya pun tidak ada seorang pun di bumi Indonesia mengatakan bahwa perbuatan teror itu hasil ajaran Islam?”

Muslim Harus Menyadari dan Mengakui

Tidak ada yang mem-framing kasus ini sebagai hasil atau buah ajaran Islam. Tidak ada. Akan tetapi, gunakanlah logika sehat kita. Pelaku bom bunuh diri itu (sedower apapun bibir kita bilang dia bukan seorang muslim) dia dan keluarganya memakai atribut keislaman. Menurut pengakuan RT dan RW setempat, pelaku teror bahkan rajin salat di musala dekat rumah. Tak hanya itu, dia juga gemar mendiskusikan dengan RW untuk kemajuan musala di tempat lain. Istri dan anak-anak perempuannya bahkan berhijab dan bahkan belakangan ini istri yang juga pelaku teror menggunakan cadar saat beraksi. Secara umum, tetangga mereka mengenal mereka sebagai keluarga muslim.

Artinya apa?

Kita memang harus mengakui bahwa pelaku teror memang muslim. Berangkat dari keluarga muslim. Adapun perbuatan teror mereka, ideologi terorisme yang mereka anut sampai membunuh banyak orang, jelas BUKAN ajaran Islam. Jadi, ketika pihak korban atau siapapun menampilkan berita bahwa pelaku teror adalah seorang muslim, kita tidak perlu marah apalagi mengutuk.

Kita tidak perlu teriak-teriak “Oh, kami difitnah, muslim difitnah, Islam dinistakan, ini  pengalihan isu, ini framing terhadap Islam!” Toh memang begitu keadaannya! Mereka hanya menyampaikan berita dengan sebenar-benarnya. Toh jika pelaku teror adalah orang gila, tidak teridentifikasi pun pasti akan disampaikan demikian.

Tindakan Preventif, Bukan Framing!

Pemeriksaan mendetil saat ini tidak mengkhususkan siapapun (muslim atau bukan pasti diperiksa). Jika ada saudara kita yang bercadar, lalu diperiksa dengan tempat terpisah berarti aparat sudah menjalankan prosedur dengan baik. Bukankah wanita bercadar sudah pasti tidak mau buka cadarnya di tempat umum? Wajar kan jika aparat memisahkan dia?

Justru saya kecewa jika wanita bercadar dipaksa membuka cadar atau pakaian lebihnya di tempat umum. Jika demikian, buat apa dia bercadar? Dan jika ada aparat yang memintanya turun dan memeriksanya di tempat terpisah, bukan berarti yang lain tidak diperiksa. Semua pasti diperiksa. Sesuai dengan keadaan yang diperiksa. Aparat juga pastinya melakukan pemeriksaan sesuai prosedur dan memastikan tidak ada pelaku teror baik muslim atau pun non muslim. Baik berhijab, bercadar atau tidak sama sekali.

Menteri Agama kita, beberapa waktu lalu juga sudah mengeluarkan pernyataan bahwa muslimah bercadar harus dihargai kebebasan  keyakinannya. Dengan kata lain, Menteri Agama juga menjamin kebebasan siapapun untuk bercadar atau tidak. Jika keleluasaan dan pembelaan pemerintah terhadap umat Islam sudah sebaik ini tapi masih ada yang mengatakan pemerintah Indonesia itu thagut, saya tidak tahu harus berkata apa.

Dewasalah dalam berpikir dan bersikap. Bijaklah karena bukan hanya orang Islam yang tinggal di bumi ini. Jika Allah menginginkan seluruhnya menjadi orang Islam, sungguh suatu kemudahan bagi-Nya. Akan tetapi, Allah menghendaki perbedaan. Bahkan menciptakan manusia dari berbagai ras, etnis dan bangsa-bangsa agar kita semua saling mengenal.

Saudaraku, sampai kapan urusan akhirat seakan-akan menjadi hak prerogratifmu? Mari belajar menjadi manusia yang sempurna meski kesempurnaan itu hanya milik Allah. Bukan tugas kita mengambil wilayah Allah. Bukan peran kita menjadi Tuhan di dunia ini.

Damai Indonesiaku.

 

 

Posted in Feature, Journalistic | Leave a comment

13 Mei 2018

Anakku sayang,

Maafkan mami sudah mengandungmu. Kehadiranmu di dalam rahimku adalah berkah dan kebahagiaan tak berkesudahan. Meski aku tahu benar, mungkin kelak kau akan kecewa saat melihat dunia ini. Terlebih jika aksi-aksi teror seperti yang menimpa saudara-saudara kita beberapa waktu ini, termasuk hari ini di Surabaya akan masih  terus berlanjut sampai kiamat nanti.

Sebagai muslim aku percayakan pada Allah bahwa ini semua adalah garis kehidupan. Walau sebagai manusia kita harus melakukan pencegahan serta antisipasi agar tidak terulang di kemudian hari. Aksi teror tetap ada, dari masa ke masa, dari zaman ke zaman.

Anakku sayang,

Ketika sampai waktumu nanti tumbuh di dunia yang kotor ini. Satu hal yang kuharapkan padamu, jangan pernah kau beri ruang sedikitpun bagi aksi teror di dalam hatimu. Termasuk doktrin-doktrin buruk yang kau dengar, atau kau lihat, atau kau dapat dari orang-orang yang kau temui kelak. Buang mereka, buang pikiran mereka, dan tempatkanlah satu-satunya dalam hatimu CINTA. Bukan benci, bukan keinginan untuk melukai.

Sekalipun itu pada orang yang benar-benar tidak kau suka.

Nak,

Sekali lagi maafkan mami saat ini sedang mengandungmu dalam sukacita walau mami tahu ke depannya kau akan menjumpai tidak hanya kebahagiaan. Ini jalan hidup dan kau harus menempuhnya, sama seperti mami dulu sewaktu kecil sampai sebesar ini.

Dengan kau dilahirkan dan dijadikan manusia ini, adalah pertanda bahwa Allah memberi kepercayaan padamu. Untuk menjadikan dunia ini sedikit lebih baik. Dengan caramu yang penuh kasih, penuh cinta. Kepada semua makhluk di dunia ini tanpa kecuali.

Maka,

Berbahagialah kamu Nak. Jangan sekalipun kau berpikir “aku tak pernah berharap dilahirkan” seperti yang pernah kuucapkan di masa mudaku dulu. Ketika tua ini, aku baruu menyadari betapa Allah sangat mencintaiku dan memberikan amanat kepadaku sebagai salah satu pemimpin di dunia ini untuk membawa dunia lebih baik. Walau dengan tanganku yang lemah, atau hanya dengan doaku yang kubisikan samar-samar. Aku bersyukur menjadi manusia dengan akal dan nurani. Kuharap kau mengambil hal baik itu dari diriku.

Anakku yang baik,

Tumbuhlah dalam kebahagiaan meski lingkunganmu tidak membahagiakanmu. Hiduplah dalam rasa syukur meski kau didera kekurangan. Jangan pernah mengeluh karena tidak hanya kamu yang menikmati penderitaan di dunia. Banyak yang lebih menderita namun mereka tetap bersyukur, tetap berbuat baik, dan terus berjuang menuju kebaikan.

Sayangku,

Meski telah kau tempuh ribuan kilo untuk memperjuangkan cinta dan kebenaran. Telah kau korbankan jiwa ragamu demi perdamaian dunia dan kemaslahatan seluruh makhluk. Akan selalu ada orang-orang, kelompok-kelompok yang ingin mencekal dan menjatuhkanmu. Tidak semua perbuatan baikmu itu akan diterima oleh orang lain. Akan mereka syukuri. Maka dari itu, berbuat baiklah bukan karena apa-apa dan siapa-siapa. Berbuat baiklah karena memang kamu harus berbuat baik. Karena memang kamu adalah orang baik.

Pada akhirnya, seperti yang mami kutip dari Shariati, semua itu tentang kamu dan Tuhanmu. Bukan kamu dan orang-orang. Biarlah kebaikanmu menjadi kebahagiaan bagi nuranimu. Sebab perbuatan baik biasanya akan memberi rasa damai di hati dan membuat kita lebih bahagia, lebih sehat. Ingat ucapan mami, Nak, meski kau berada di dalam lumpur, jika hatimu sebening mutiara kau akan tetap berkilau.

Kutulis jurnal hari ini dengan perasaan luka terhadap bangsaku sendiri. Andai aku bisa menciptakan dunia yang lebih baik akan kulakukan seketika buatmu, Sayang. Namun apa daya, dunia ini adalah dunia ini apa adanya dengan takdirnya. Kita yang membuat dan memilih hendak bahagia atau tetap mengutuki keadaan.

Jadilah pemimpin kebaikan. Bukan untuk siapa-siapa. Tidak mengatas namakan apa-apa. Berbuat baiklah sebab kau memang senang berbuat baik.

Salam sayangku selalu untukmu, cepatlah besar, cepatlah memelukku.

Posted in Journal | Leave a comment

Ingat, Kamu Sudah Mahasiswa Sekarang!

the-conference-3248255_960_720

Gaya mengajar dosen tidak sama dengan guru (dok: pixabay.com)

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya; Apa yang perlu Anda lakukan sebagai mahasiswa Sastra Arab di Semester Awal. Yang tidak saya sangka akan banyak dibaca berulang-ulang terutama pada musim penerimaan mahasiswa baru seperti ini.

Di tulisan sebelumnya, saya menghadirkan tiga pertanyaan inti dengan komitmen akan membahas lanjutannya. Kini, mungkin waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan kedua: Bagaimana aku mampu menghadapi perangai dosen yang atmosfer mengajarnya sudah berbeda dari guru-guru di SMA?

Pertama sekali, kamu mungkin berpikir perangai mengajar dosen akan benar-benar berbeda dengan para guru di sekolah. Sebenarnya, tidak mutlak begitu. Ketika kuliah, saya menemukan beberapa dosen yang cara mengajarnya ‘terasa’ masih seperti guru di sekolah. Hanya saja, diksi yang mereka gunakan sudah berbeda. Kebanyakan mereka akan menyapamu dengan ‘Anda’. Dan, jika kamu tidak terbiasa dengan itu, kamu akan menganggap itu sapaan yang tidak bersahabat.

Lantas, seperti apa saja sebenarnya perangai dosen saat mengajar dan bagaimana kita menghadapinya? Berikut ini beberapa tipe mengajar dosen (berdasarkan pengalaman saya di universitas) dan sedikit masukan dari suami saya yang kebetulan berprofesi sebagai dosen.

Dosen Gemar Mendongeng

Perkuliahan anak sastra (Sastra Arab apalagi) pasti bakal ketemu dengan tipe dosen yang satu ini. Tidak hanya laki-laki, perempuan pun ada. Sebelum sang dosen masuk ke materi yang akan dibahas, ia akan membukanya dengan sebuah thesis.

Misal ya, jika materi yang dibahas tentang Gerakan Relijius di Timur Tengah (kenapa contohnya bidang Kajian Timur Tengah? Karena berdasarkan pengalaman saya, dosen tipe ini kebanyakan mengampu materi Kajian Timur Tengah), si dosen bisa saja memulainya dengan cerita awal mula perdebatan Sunni-Syiah. Tidak banyak yang mampu menjelaskan materi ini secara objektif dan valid, meski sering kali saya menemukan thesis ini naik ke permukaan.

Kemudian, si dosen akan berlanjut menceritakan bagaimana perpecahan terjadi. Barulah masuk ke dalam materi yaitu gerakan-gerakan yang timbul setelahnya. Itu pun, jika si dosen tidak teringat cerita seru yang tiba-tiba ia selipkan. Kalau terlintas dalam kepalanya, siap-siap kamu tidak akan langsung mendapatkan materi yang semestinya kamu nikmati saat itu.

Bagaimana cara mengantisipasinya?

Sebagai mahasiswa baru, saya yakin kamu masih sedikit bingung hendak memulai dari mana untuk mempersiapkan diri menghadapi tipe dosen seperti ini. Tapi, jangan khawatir. Segala sesuatu akan menjadi lebih mudah jika persiapanmu sudah maksimal. Meskipun, tidak ada standar benar-salah atau sempurna-tidaknya terhadap persiapanmu itu.

Membaca beberapa referensi singkat tentang materi yang akan  disampaikan si dosen akan sangat membantumu. Jangan salah, itu juga bisa membantu teman-temanmu yang lain di kelas. Misal, dengan pengetahuanmu yang cukup berdasarkan apa yang kamu baca sebelumnya, kamu bisa menggiring dongeng yang disampaikan si dosen kembali pada inti materi. Kamu bisa menanyakan hal-hal yang membuat si dosen teringat bahwa ia harus menyelesaikan materi yang ia bawa.

Hal itu tidak akan terjadi jika kamu tidak mau sedikit ‘berkorban’ pada malam hari sebelumnya untuk membaca beberapa tulisan. Tidak perlu tulisan atau riset yang panjang. Cukup esai atau artikel ilmiah yang terbukti validitasnya (seperti jurnal atau kumpulan esai yang disarikan dalam satu buku). Satu atau dua judul terkait, tidak perlu sampai puluhan kalau kemampuan bacamu masih minim. Kamu sudah siap menggiring ‘dongeng’ sang dosen kembali pada ‘fitrah’ materi perkuliahan.

Dosen Buku Sentris

Sesuai namanya, si dosen ini selalu mengacu pada buku ajar yang dibawanya atau yang sudah disepakati untuk dipelajari bersama. Biasanya, pada perkuliahan Sastra Arab, dosen-dosen semacam ini mengampu materi Linguistik. Mereka sudah menyiapkan kitab-kitab morfologi Bahasa Arab yang siap digelontorkan ke otakmu. Memang, mau tidak mau, metode guru membaca dan murid mendengar (sambil menyatat artinya) adalah yang paling lazim dan efektif.

Tapi, bagi beberapa murid yang punya tempramen tidak sabaran seperti saya, tipe belajar seperti itu sangat MENYEDIHKAN. Boro-boro masuk ke otak, kalau sudah ngantuk karena saking lamanya membaca kalimat-kalimat bahasa Arab dan mengartikannya, yang ada cuma kesal dan malas.

Bagaimana cara mengatasinya?

Jika kamu tipe mahasiswa yang mudah bosan macam saya, kamu bisa ambil short-cut. Caranya, dengan belajar lagi 10 menit saja setiap pelajaran si dosen selesai dengan teman yang kamu percaya mampu menjelaskannya padamu. Ketika dosen menyampaikan materi dari buku yang juga kamu baca dan kamu menemukan ada beberapa kalimat/materi yang tidak kamu pahami, kamu cukup memberi tanda dengan pulpen atau stabilo.

Setelah kelas, kamu bisa menanyakan hal itu kepada temanmu (jika kamu malas mendatangi langsung si dosen). Tapi alangkah lebih baik jika kamu langsung minta penjelasan ke dosen terkait materi tersebut. Terkadang, belajar secara privat untuk hal-hal berkaitan dengan gramatika bahasa lebih efektif dibandingkan duduk bersama banyak orang di kelas.

Dosen Open-Minded

Tipe mengajar dosen yang satu ini salah satu paling favorit buat saya. Kenapa? Karena, dengan sikap dan arah berpikirnya yang fleksibel dan terbuka alias open-minded, sangat menguntungkan bagi mahasiswa. Itu pun jika mahasiswa menyadarinya. Maksudnya?

Begini lho, dosen yang satu ini sangat senang dengan mahasiswa yang aktif, reaktif, mau berjuang dan belajar meskipun kerap terdapat kekurangan dalam proses belajarnya. Dia tidak akan menilai mahasiswa hanya berdasarkan hasil ujian. Tapi juga dari perilaku di kelas dan out-put setiap tugas yang diberikan. Entah itu berupa esai, tulisan artikel ringan, maupun makalah.

Bagaimana cara menghadapinya?

Kalau ketemu sama dosen macam begini, kamu harus benar-benar ekstra belajar. Mereka bukan mencari mahasiswa yang kuat dalam hafalan. Tapi, mencari mahasiswa yang tekun dan memahami materi dibandingkan hanya sekedar ‘hafal’. Mereka menghargai mahasiswa yang bertanya dengan bobot ketimbang mahasiswa yang asal bunyi demi mendapat nilai.

Dosen seperti ini yang (menurut saya) harusnya ada di setiap universitas. Di setiap kelas. Di setiap materi kuliah. Mereka tidak hanya yakin dengan visi misi dan komitmen mereka terhadap tri dharma perguruan tinggi tapi juga membuktikannya. Dengan tipe mengajar seperti yang mereka lakukan, dengan sendirinya mahasiswa akan terpacu untuk belajar dan membaca lebih banyak sumber.

Dosen seperti ini pun tidak akan merasa ragu atau direndahkan jika ada mahasiswanya berpikir kritis. Karena memang yang ingin mereka bangun adalah generasi dengan nalar kritis. Mereka tidak segan bahkan menanyakan, “kenapa?” dari pada “apa” untuk mengorek apa yang diketahui mahasiswa. Semata-mata untuk juga memperkaya keilmuannya, tidak sekedar menguji apalagi mencari kesalahan mahasiswa.

Bagi dosen dengan tipe mengajar seperti ini, mahasiswa dengan perspektif baru adalah aset berharga. Sayangnya, tidak banyak mahasiswa yang sadar dan mau berjuang untuk memacu dirinya ketika berhadapan dengan dosen seperti ini. Terang saja begitu, karena  dosen seperti ini sangat menghargai waktu, kinerja cerdas dan kinerja autentik. Jangan harap kamu bisa plagiat satu dua kalimat, mereka bisa tahu meski tanpa mengeceknya.

Cara ‘memantaskan’ diri di hadapan mereka adalah dengan membaca dan belajar sebanyak-banyaknya. Kamu bahkan akan menemukan hal-hal baru di luar apa yang kamu pelajari ketika kamu berhasil diskusi dengan dosen seperti ini.

Nah, masih banyak tipe dosen lain yang kalau ‘dipretelin’ tidak akan habis. Setidaknya, tiga tipe mengajar dosen yang sudah disebutkan di atas adalah yang paling umum. Dan tentunya bakal kamu temukan di setiap perkuliahan khususnya kamu yang tahun ini jadi mahasiswa baru di Sastra Arab.

Ingat ya, kamu sudah jadi mahasiswa, lho! Jangan ngarep disuapin terus, mbok ya belajar sendiri dan percaya dengan kemampuan dirimu. Semoga beruntung, ya!

 

Posted in Feature, Journalistic | Tagged | Leave a comment

3 Tahapan Belanja Online di Mizanstore Buat Kamu yang Super Duper Mager!

relaxing-1979674_960_720

dok: pixabay.com

Mager alias males gerak bikin siapa saja betah duduk santai berlama-lama. Biasanya ditemani gadget, minuman hangat atau soft drinks, sambil nonton TV atau leha-leha di sofa ruang tamu.

Jangankan untuk gerak ke sana ke mari, orang yang udah mager biasanya suka hal yang praktis. Termasuk ketika berbelanja online. Semakin mudah tahapan belanja online semakin dinikmati oleh generasi mager, iya nggak?

Nah, ada beberapa tips nih buat kamu yang super duper mager kalau belanja buku di Toko Buku Online Mizanstore. Selain waktu belanja lebih cepat, kamu juga nggak perlu ribet untuk isi regulasi ini dan itu. Simak, yuk!

  1. Cek header website!
Untitled

Males Scroll? Kamu bisa cek buku baru, pre-order, sampai buku dengan diskon banyak di awal muka website Mizanstore!

Begitu kamu buka website Mizanstore, kamu akan berjumpa dengan serangkaian buku terbaru, pre-order sampai buku diskon yang menarik. Sebagai orang paling mager, tentu ini kesempatan kamu untuk belanja simpel dan mudah. Tinggal swipe ke kiri dan kamu bisa pilih buku terbaru yang hendak kamu beli!

Selain itu, kamu juga bisa cek di Buku Pilihan Editor. Setidaknya, kamu tahu buku apa yang keren dan jadi favorit dari orang yang kesehariannya berkutat dengan buku!

2. Selesai Checkout Belanja Langsung “Belanja Sebagai Tamu!”

ggdgd

klik “belanja sebagai tamu” untuk menyingkat waktu transaksi

Dulu awal-awal saya belanja masih harus log-in sebagai member. Sekarang belanja online lebih cepat tanpa harus daftar akun dengan fitur “Belanja Sebagai Tamu”. Kamu nggak perlu isi biodata dan log-in member dan tinggal mengisi alamat untuk pengiriman buku. Gampang kan?

3. Pilih Layanan SMS Banking atau Klik-Pay BCA!

sms banking bri

dok: google

Tips ketiga sekaligus terakhir ini paling sering saya gunakan pas mager-magernya! Bayar pakai SMS Banking atau Klik-Pay BCA (meskipun nebeng sama akun orangtua atau saudara) lebih nyaman ketimbang harus keluar rumah dan cari ATM buat transfer. Hari gini masih transfer lewat ATM? Mager banget ye kan?

(tulisan ini dimuat dalam rangka MIZANSTORE BLOG REVIEW COMPETITION #MIZAN35 tahun 2018)

 

Posted in Journalistic, Partisipasi Lomba Blog | Leave a comment

Mizanstore: Surganya Penulis Amatir!

Tidak seperti toko buku online lainnya, Mizanstore juga jadi “lapak” buat buku-buku yang lahir dari “program” Self-Publishing. Fasilitas keren yang disediakan Mizan Group ini turut meramaikan rak buku jualan Mizanstore dengan genre beragam.

Saya tidak akan bisa menulis artikel dengan tema ini tanpa mengalaminya. Ya, kalau Anda penasaran seperti apa pengalaman saya menerbitkan buku melalui Mizan Self-Publishing dan akhirnya novel saya bisa “nongkrong” di lapak Mizanstore, Anda bisa akses di link ini.

Di sana Anda akan menemukan alasan kenapa saya menerbitkan novel melalui Self-Publishing, bagaimana prosesnya dan sampai juga pembagian royalti.

reading-3355230_960_720

Menerbitkan buku dan sampai di tangan pembaca adalah impian tiap penulis (dok: pixabay.com)

Tidak banyak teman dekat yang saya punya. Novel yang sudah dipajang di Mizanstore pun merupakan tugas rumah bagi saya untuk ikut membantu menjual. Dengan kondisi teman yang tidak banyak itu saya tidak berharap banyak. Mizanstore memang tidak menargetkan apa-apa. Tapi, semakin rajin kita bantu menjual tentu semakin besar peluang kita mendapat royalti dari hasil penjualannya.

Penjualan novel saya dari lapak Mizanstore tergolong sangat sedikit. Namun saya sangat mengapresiasi pelayanan dari Mizanstore khususnya bagian Customer Service Self-Publishing yang merespon cepat dan tanggap atas semua pertanyaan yang saya ajukan. Pembuktian pembayaran royalti pun jelas, per enam bulan dan tidak terpatok dari berapa buku/eksemplar yang terjual.

Untitled

meski yang baru terjual 9 eksemplar per 3 November 2017, royalti tetap dibayarkan lho! Bukti setoran royalti pun dikirim melalui email.

Toko Buku Online Mizanstore pada hemat saya merupakan lebih dari sekedar toko buku. Dengan fasilitas Self-Publishing, Mizanstore mengakomodasi penulis amatir seperti saya untuk bisa mewujudkan buku karangannya dijual bebas dan luas di website.

Jika saya rajin seperti penulis internasional yang bahkan sebenarnya bukan penulis amatir seperti Stephen King dan J.K. Rowling (mereka itu diam-diam juga self-publishing, lho!) saya pun bisa mencapai angka royalti yang besar. Hanya saja, saya tidak serajin mereka berdagang buku, hehehe

Jadi, tidak hanya belanja mudah dan menyenangkan. Melalui Mizanstore, Anda pun bisa memajang buku karangan Anda untuk dikenal masyarakat luas!

(tulisan ini dimuat dalam rangka MIZANSTORE BLOG REVIEW COMPETITION #MIZAN35 tahun 2018 dan meraih juara favorit. Link pengumuman pemenang cek di sini.)

 

Posted in Journalistic, Partisipasi Lomba Blog | Tagged | 1 Comment

Mizanstore: Belanja Buku Online untuk Dunia Literasi yang Lebih Bijak

Berada di antara kebebasan pasar dunia literasi, Toko Buku Online Mizanstore kian menggeliatkan kiprahnya. Mulai dari berbagai potongan harga, promo, self publishing, bantuan pembelian buku dan Mizan Lumos sebagai bagian dari Mizan Digital Publishing yang dapat diunduh di playstore menjadi layanan yang ditawarkan.

smartphone-2995676_960_720

belanja buku online dari Mizanstore cukup via smartphone (dok:pixabay.com)

Perkembangan tersebut seakan-akan menjadi bukti dari komitmen untuk terus  menggalakan melek literasi di tengah hiruk pikuk industri penerbitan dan penjualan buku konvensional yang terancam kolaps.

Perjuangan itu membuahkan kesuksesan penjualan buku-buku terbitan Mizan Group dan bahkan sampai naik ke layar lebar. Sebut saja yang masih terasa hingar bingar euforianya adalah Dilan 1990.

Namanya juga toko buku online, Mizanstore tentu saja menjual buku-buku dari website yang sangat mudah diakses para pembelinya. Selain hemat waktu dan tenaga, membeli buku secara online juga lebih menyenangkan karena pembeli bisa melihat dan bahkan mencari langsung buku yang diminati dalam waktu singkat. Terlebih, semua itu bisa diakses hanya dari gadget kecil seperti smartphone dan tablet.

Sebagai salah satu pelanggan belanja buku online di Mizanstore, saya merasakan betul keamanan pembayaran dan pengiriman buku yang sudah dibeli. Ini merupakan faktor penting yang pastinya ingin diketahui oleh pembeli. Karena, meski sudah menawarkan fasilitas dan kenyamanan berbelanja online, belum tentu sebuah website belanja online mampu menjamin keamanan proses pembelian produk yang ditawarkan.

Rekening yang ada pun beragam dengan pilihan pembayaran yang juga variatif. Pembeli bisa menggunakan sistem pembayaran melalui transfer dari ATM, SMS banking, uang elektronik t-cash, melalui provider seperti XL-tunai dan Indosat dompetku, bahkan sampai Indomaret. Begitu pun dengan pengiriman melalui kurir, Mizanstore  menggunakan jasa pengiriman JNE, POS Indonesia, TIKI dan RPX yang jelas pengiriman dan waktu sampainya.

Semakin mudah berbelanja, semakin aman dan semakin nyaman bersama Mizanstore. Efisiensi waktu, tenaga, keamanan pembayaran, pengiriman yang tepat dan mampu menjangkau wilayah manapun di seluruh Indonesia adalah upaya untuk perwujudan dunia literasi yang lebih bijak.

(tulisan ini dimuat dalam rangka MIZANSTORE BLOG REVIEW COMPETITION #MIZAN35 tahun 2018)

Posted in Journalistic, Partisipasi Lomba Blog | Tagged | Leave a comment

Lebih Baik Menulis!

feather-3237961_960_720

dok pixabay.com

 

Berangkat dari pengalaman sendiri saat menulis, akhirnya tulisan ini lahir. Menulis memberi jalan kepadaku untuk menciptakan sebuah ruang di antara kesempitan dan kelonggaran yang nyata. Sebuah proses yang akhirnya membentuk budaya, kebiasaan berulang dan sulit untuk ditinggalkan; menulis lagi dan terus menulis.

Proses menulis yang selama ini kulampaui menunjukkan kepadaku perkembangan kejiwaan dan nalar berpikirku. Aku menertawakan kebodohanku saat cinta monyet di bangku SMP dan SMA, yang bisa kutelisik kembali melalui buku harianku.

Begitupun aku sedikit tersanjung saat membaca esai-esai juga karya sastra sewaktu SMA dan kuliah yang pernah meraih juara. Semakin tua usiaku, semakin kutengok bagaimana proses menulisku selama ini, semakin banyak pula hikmah yang dapat kuambil. Tentunya menjadi acuanku menilai bagaimana ke depannya aku harus menulis. Serta sudah se-efektif apa kalimat yang kutulis selama ini.

Menulis sebagai Healing

“Kertas lebih sabar dari manusia,” tulis Anne Frank di dalam buku hariannya. Buku curahan hati seorang gadis remaja yang kini bisa kita nikmati versi cetaknya dalam ragam bahasa. ‘Kitty’ nama buku harian Anne Frank, dan ia menulis semua yang ia pikirkan dan alami di sana. Termasuk kekhawatirannya dalam pengasingan. Sebagai orang yahudi yang harus lari dari pembunuhan massal kamp konsentrasi Hitler di Jerman.

Vincent Van Gogh, seorang pelukis Perancis pun menyalurkan perasaan-perasaannya melalui surat kepada sang adik. Ia ceritakan bagaimana dunia yang ia  impikan, keinginannya untuk membangun basis pelukis di Paris dan cita-cita luhurnya. Termasuk bagaimana ia bertahan di tengah gejolak sakit jiwa yang mendera sampai-sampai ia mengiris daun telinganya.

Aku pun pernah mengalami ketakutan-ketakutan seperti mereka. Di usiaku yang masih muda (18 tahun) aku pernah bersikeras untuk menikah dan akhirnya kandas. Dalam upayaku untuk bangkit dan maju dari kenangan masa laluku aku harus menulis. Di sana kulahirkan sebuah novel perjalanan dan telah kuterbitkan secara indie.

Menulis adalah proses terbaik yang dilakukan manusia untuk mengukur apa yang selama ini ia hadapi. Dengan itu, manusia bisa menciptakan dunia baru, harapan-harapan, yang tidak lain akan bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Bisa dikatakan pula, sebuah proses yang akan berwujud sesuai tangan penciptanya.

Menulis untuk Perubahan

Pernahkah kamu berpikir, “betapa tidak adilnya hal ini…” ketika menemukan suatu masalah?

Setiap nurani manusia bersih dan sesuai fitrahnya dia condong pada kebaikan. Keadilan termasuk di dalamnya. Nurani akan kecewa melihat penindasan, ia akan tergerak untuk melakukan sesuatu agar dapat menghentikannya.

Tidak sedikit para penulis, sastrawan, pemikir, dan lainnya yang menulis sebab dipicu oleh kondisi sosial di sekitarnya. Soe Hok Gie misalnya. Dia menulis pengalaman sehari-hari di buku harian. Dia juga aktif menulis di surat kabar, menulis buku dan melahirkan puisi-puisi yang membela kemanusiaan. Melalui puisi-puisinya, Gie menyerukan generasi muda untuk peduli pada kemanusiaan. Tidak sedikit yang tergerak untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang demonstran untuk kepentingan rakyat. Termasuk hobinya bergelut dengan alam sampai ajal menjemputnya. Semua dukungan itu, pergerakan dan pembebasan itu sebab ia menulis.

Jika tidak menulis, ilmu yang ditemukan para filsuf dan ilmuan dunia pun tidak akan sampai pada kita. Semua pemikiran dan ilmu yang diabadikan melalui tulisan akan dipelajari oleh manusia di masa-masa selanjutnya. Menulis menjadi sarana pembebasan untuk ketidakadilan, ketimpangan, dan segala hal yang dapat diperjuangkan.

Menulis untuk Mengenal Diri

“Tanpa mempelajari bahasa sendiri, orang takkan mengenal bangsanya sendiri,” demikian ujar Pramoedya Ananta Toer.

Kini, sudah lazim bagi siapapun berbahasa dari negara manapun untuk menulis. Namun bagaimanapun, menulis dengan bahasa ibu masih sesuatu yang umum. Setiap negara tentu memberlakukan warganya untuk berbahasa sesuai bahasa negara tersebut dengan baik dan benar. Di Indonesia, perlombaan menulis masih memberlakukan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan dan sebagai salah satu jati diri bangsa.

Orang yang terbiasa menulis dengan bahasa ibu mereka secara alami akan mengenal asal muasal dirinya. Ia akan menggali kosakata demi kosakata dan mempelajari budaya-budaya baru untuk memperkaya isi tulisannya. Pemikirannya pun akan terbuka, tidak sempit dan tidak mudah menghakimi sesuatu yang tidak diketahui atau belum dikenalnya.

Jadi, lebih baik menulis. Lebih baik berproses setiap hari dengan kalimat demi kalimat yang dirangkai. Lebih baik menuangkan dan memikirkan kembali gejala dan fenomena hidup di sekitar kita. Daripada sekedar mengeluhkannya di media sosial atau mencibir sesuatu yang belum benar-benar kita pahami. Menulislah dengan sebenar-benarnya menulis, yang melibatkan nalar yang sehat, kritis, penguasaan ilmu dan kebijaksanaan bertutur kata.

 

Posted in Writing & Beyond | Leave a comment

Bedjo – Anak Kami yang Berumur Kandungan 19 Minggu 3 Hari — AK. Dawami

Menjadi ayah merupakan sebuah hal yang membanggakan untuk dapat dikenang. Kehidupan yang terus berjalan, juga harus memiliki keseimbangan, kesadaran untuk dapat memahami, bahwa kita adalah manusia. Dan Alloh selalu menitipkan semua yang ada di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Sehat-lah terus, Jo. Berbahagialah selalu dalam suksma yang terus terbangun menuju Alloh yang Esa. Terima kasih, Alloh […]

via Bedjo – Anak Kami yang Berumur Kandungan 19 Minggu 3 Hari — AK. Dawami

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perjumpaan Pertama Bangsa Russia dengan Islam di Suatu Masa yang Lalu (622-1480) Bagian Pertama

RUSIA SEBELUM RUS

pagan altar

Altar Pagan di Rusia, Ukraina, Polandia. (dok: pinterest.com)

Kala itu, Islam baru saja hadir di dataran Arab sebagai agama baru berpengaruh di abad ketujuh. Leluhur bangsa Rusia modern atau juga dikenal dengan istilah proto-Rusia masih  menganut paham Pagan yang sangat menghormati kekuatan-kekuatan alam. Kuil Pagan mereka terdiri dari beberapa unsur alam seperti Perun yakni Dewa Guntur dan Kilat, Svaroga-Dewa Langit, Stibog-Dewa Angin dan Dajbog, Khors serta Veles sebagai Dewa Matahari.

symbol of svarog batallion

simbol batalyon Svaroga (doc: http://www.vice.com)

V. Kulchevski, seorang sejarawan Rusia tersohor meyakini formasi etnis bangsa Rusia dipengaruhi oleh empat unsur alam yang kelak akan membangun bangsa Rusia itu sendiri. Empat faktor alam pembentuk itu di antaranya; лес (Lyes)-Hutan, степь (stepp)-Stepa, река (ryeka)-Sungai, dan зима (zima)-Musim Salju.

Para leluhur Rusia ini merupakan suku Slavia Timur yang terdiri dari Poliane, Severiane, Viatichi, Radimichi, Dragovichi, Il’men dan Krivichi. Mereka semua berpopulasi di tepian sungai Driepr, Pripyat’, Bug dan Volkhov pada masa kini di Rusia Barat dan Ukraina. Mereka tadinya bangsa besar yang menetap dan mengandalkan kegiatan mengumpulkan, memancing, berburu, berdagang dan bercocok tanam untuk kehidupan. Kesemuanya itu berdasarkan teknik ‘menebang’ dan ‘membakar’.

Mereka tidak tinggal sendiri. Para tetangganya terdiri dari bangsa nomaden dan juga ada yang menetap seperti bangsa Turkic (bangsa yang paling bersitegang dengan proto-Rusia), Altaic, Finno-Ugric, Mongol, Iran dan Asli Kaukasus. Hubungan proto-Rusia dengan para tetangganya ini memiliki dua sisi; konflik dan kooperasi. Permasalahan yang timbul di antara mereka sudah jelas dapat ditebak. Konflik-konflik tersebut berkutat seputar;

  1. klaim atas hak kepemilikan tanah atau lahan subur untuk bercocok tanam dan padang rumput untuk gembala
  2. Sumber daya alam
  3. Rute Trans Perdagangan Kontinental yang menguntungkan
khazar

Situs benteng Khazar di Sarkel. Foto udara dari ekskavasi yang dilakukan oleh Mikhail Artamonov pada 1930-an (dok: wikipedia indonesia)

Namun, siapa sangka. Perekonomian dan pemerintahan proto-Rusia justru berkembang di bawah pengaruh budaya dan ekonomi bangsa tetangganya yang lebih maju dan direpresentasikan oleh Turkic Khagenat, Biarmia, dan Khazar Khaganat. Sedangkan untuk tingkat atau level lebih rendahnya direpresentasikan oleh Khwarasm, Soghdiana, Sasanid Iran, Bizantium dan Khilafah Arab.

Tidak hanya melalui persentuhan kehidupan bertetangga itu, leluhur Rusia juga memiliki para pedagang yang berpartisipasi dalam jalur dagang Eurasia Utara-Selatan. Perdagangan ini juga mempertemukan mereka dengan dunia Timur Tengah yang kala itu sudah dikuasai oleh Islam. Jalur dagang Yunani atau Greek Route menghubungkan antara Eropa Timur dan Skandinavia dengan Konstantinopel dan Timur Tengah melalui laut hitam dan laut mediterania.

Bahkan, bagi kronik bangsa Persia dan Arab, para proto-Rusia ini memiliki beberapa nama panggilan seperti Kuiabah, Arthaniyah, dan Sakaliba. Mereka pun pada akhirnya menempuh jalur dagang ke Baghdad (Irak) dan Konstantinopel (sekarang Istanbul) menuju Derbend dan Semender di Laut Kaspia.

Varangian_routes

Varangian trade routes: the Volga trade route (in red) and the trade route from the Varangians to the Greeks (in purple). Other trade routes of the 8th to the 11th centuries shown in orange. (dok: wikipedia english)

Beberapa barang dagang yang dijual leluhur bangsa Rusia adalah:

  1. Budak
  2. Gandum
  3. Madu
  4. Lilin
  5. Bulu binatang
  6. Kayu
  7. Timah
  8. Panah
  9. Pedang
  10. Baja
  11. Kulit Musang Hitam
  12. dan Kulit Berang-berang

Tidak hanya puas melampaui Greek Route, proto-Rusia juga bergabung dalam jalur dagang Garam “Salt Route” yang berkaitan juga dengan Eurasia ke Kaukasus juga Timur Tengah. Melalui rute dagang tersebut, leluhur bangsa Rusia mendirikan beberapa kota yang sampai sekarang bisa Anda temui jika ke Rusia; Kiev, Chernigov, Pereslavl, Polotsk, Rostov, Liubech, Novgorod dan Izborsk.

Perpolitikan bangsa proto-Rusia dan kehidupan sosialnya ternyata dipengaruhi oleh bangsa Khazars dan Biars dari Bulgaria. Meskipun pada umumnya bangsa Khazars adalah penganut Pagan, mereka mengizinkan umat Kristiani dan Islam bernaung di perbatasan Khaganat. Di masa itulah, Islam hadir di Khazar Khaganat selama perang Arab-Khazar tahun 708-37. Di akhir abad kedelapan, Ibukota Khazar yakni Itil’ dan beberapa kota di Khazar memiliki beberapa masjid. Meski diawali dengan peperangan, berbagai travelogue abad pertengahan menunjukkan bahwa toleransi antar umat beragama di Khazar sangat kontras dengan atmosfer intoleran kaum kristiani kontemporer di Eropa Barat kala itu.

Di kota-kota di Khazar, masjid-masjid ditempatkan berdekatan dengan gereja-gereja Kristen dan kuil-kuil Pagan. Bahkan, untuk kemiliteran, pemerintahan Khaganat mengutamakan orang-orang Islam.

 

Diterjemahkan dan disarikan dari judul “Russia’s Encounter with Islam (622-1480)” Sub-judul pertama dari buku “Russia and Islam; A Historical Survey” karya Galina M. Yemelianova.

Posted in Islamic Studies, Journalistic, Middle Eastern Studies, Resume | Leave a comment

1 April 2018

IMG_1852

Alhamdulillah masuk bulan kelima, minggu ke-19

Mencapai bulan kelima kehamilan, rasa mual dan muntah sudah banyak menghilang. Kecuali, kupaksakan diri memakan masakan yang memang tidak bisa kumakan karena mengundang rasa mual dan akhirnya muntah seperti ayam dan telur.

Di rumah mertua, akhir Maret kemarin diadakan pengajian untuk kehamilanku. Cukup banyak yang datang. Terutama dari tetangga dan kumpulan pengajian ibu-ibu. Meskipun penceramahnya banyak keluar dari konten yang dipesan (kami memesan ceramah tentang kehamilan dan memiliki anak dalam fiqih Islam) namun ia suka keluar jalur bahkan ke politik Jokowi. (Nggak suka Jokowi nggak papa tapi ndak perlu diselipkan ke ceramah ye kan?)

Mertuaku itu jago bikin Sop Galantin. Itu salah satu menu favoritku jika mengunjungi beliau. Jadi, meski penuh kesadaran bahwa kuah sop itu dari kaldu balung ayam, aku tetap memakannya. Alhasil, aku muntah-muntah dan tidak berhenti sampai kutenggak ondansentron 8 miligram. Obat mual dan muntah yang sebaiknya sih tidak dikonsumsi ibu hamil namun jika manfaatnya lebih besar daripada resikonya maka diperbolehkan. Lagipula, itu obat dari dokter internis dan dia tahu aku sedang hamil. Menurutnya, lambungku “unik” jadi terpaksa pakai ondansentron. Primperan atau B6 nggak ngefek sama sekali di lambungku.

Oleh karenanya, akhir Maret kulewati dengan lambung perih, tubuh lemas dan hilang nafsu makan.

Sekarang aku bangun di awal April dengan kondisi lambung setengah galau gara-gara muntah banyak sehabis makan Sop Galantin. Meski demikian, kupaksa minum energen setelah subuh dan kemudian segera kuisi nasi dengan ikan bandeng presto. Cukup enak dan nyaman di perut. Otakku juga mulai bisa bekerja. Kupikir, akan lebih bagus jika selama liburanku di Solo ini, kuisi dengan hal-hal menarik dan manfaat. Mungkin aku akan banyak mengambil foto dan shooting video untuk vlog. Juga untuk keperluan menulis. Mumpung perut ini mulai membuncit dan cukup bisa diabadikan melalui kamera.

Hamil itu memang menyakitkan. Namun, seperti menimba ilmu; buahnya manis.

Posted in Journal | Leave a comment