Selamat Ulang Tahun, Angga Kusuma Dawami!

I’m trying to hold my breath

Let it stay this way
Can’t let this moment end

IMG_6505

Pulau Tiga Teluk Banten

You set off a dream in me

DSC_3784

Pantai Glagah Jogjakarta

Getting louder now
Can you hear it echoing?

Take my hand
Will you share this with me?
‘Cause darling without you

IMG_6264

Pelabuhan Karangantu

All the shine of a thousand spotlights
All the stars we steal from the nightsky
Will never be enough!
Never be enough!

1

Bishkek, Kyrgyzstan

Towers of gold are still too little
These hands could hold the world but it’ll
Never be enough!
Never be enough!

DSC_4195

Sekipan, Karanganyar

 

Surakarta, 26 September 2019

Dari yang menyayangimu,

Miranti Kencana Wirawan

Posted in Journal | 1 Comment

Kilas Balik Masa Muda Saat Menjadi Orangtua, Perlukah?

Apakabar Mommies?

Menjadi orangtua membuatku sibuk belajar. Buku-buku parenting yang semula kurang kuminati, kini menjadi sahabat karib. Dekat sekali. Aku bahkan menuliskannya! Sungguh indah, bukan?

Saat ini aku masih menelusuri pemikiran Maria Montessori (dan karena sulit mendapatkan buku aslinya) aku membaca tulisan orang tentang dia. Setelah ini, aku akan membeli buku aslinya Absorbent Mind yang jika tak kutemui penjual terpercaya via online akan kubeli di google playstore.

Montessori menciptakan kemandirian intelektual. Itu inti awal dari metode ini. Sejak mula, orangtua diajak untuk berpartisipasi aktif dalam usaha mendidik anak mandiri. Bukan melakukan kewajiban anak.

Ketika aku konsultasi ke dokter spesialis setelah operasi cesarean, aku menanyakan beberapa hal. Salah satunya tentang apa yang paling awal harus kulakukan setelah menyusui. Maksudku, adakah tindakan-tindakan lain di luar kewajibanku yang bisa kulakukan untuk putriku di awal pertumbuhannya. Dia (sang dokter) berpikir sebentar lalu mengangkat kedua bahunya, “Entahlah, Bu. Jika di Jepang, orangtuanya berhasil mendidik anak mereka sejak dari lahir. Masih bayi, anak-anak Jepang sudah bisa banyak hal.”

Cukup lama aku mencerna jawaban sang dokter. Tapi kemudian aku teringat bacaanku terhadap Montessori yang kala itu masih sekelebat. Mungkin dokter ini ingin menunjukkan padaku bahwa bayi-bayi di Jepang bisa hebat-hebat karena orangtuanya peka atas masa-masa peka mereka (sensitive periode). Ya, Montessori mungkin jawabannya.

Dalam perjalananku mempelajari Montessori, aku menemukan titik-titik yang jika ditarik garis akan menimbulkan garis lurus yang seperti benang mungkin dapat dikatakan terajut rapi. Sedikit dari titik-titik itu membuatku ingin untuk menarik mundur dan sekedar menoleh ke masa lalu. Sepertinya, aku memang butuh untuk sedikit kilas balik. Karena ketika membaca periode usia anak 12-18 tahun, Montessori mengatakan bahwa kala itu anak adalah sosok penjelajah sosial. Biasanya, di usia tersebut, anak mulai membaca banyak buku menarik, tidak lazim, menyukai teman sebayanya, dan menulis buku diary.

Ciri-ciri yang telah disebutkan tadi, sangat melukiskan kepribadian remajaku. Makanya, kupikir ada baiknya jika kutulis tentang perenunganku beberapa hari ini. Kilas balik masa muda saat menjadi orangtua, perlukah?

Masa Muda Untuk Evaluasi

Apa yang kutinggalkan tak lebih dari lima buku diary dari masa remaja dan kuliahku. Seingatku, aku mulai menulis buku harian ketika duduk di bangku dua SMP. Meski sebelumnya aku sudah sering menulis, namun lebih pada novel anak, puisi dan lirik lagu pada lembaran kertas.

Buku harianku dimulai ketika Papi dan mami meninggalkan buku harian mereka ketika SMA. Ditambah, aku membaca tulisan-tulisan Soe Hok-Gie saat duduk di kelas 2 SMP. Juga buku-buku sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Aku ingat betul kala itu aku benar-benar hanyut dalam tulisan Layar Terkembang, juga Atheis. Aku juga sedang khusyuk-khusyuknya membaca pemikiran Gie (meski bukan pada pandangan politiknya) melainkan pada intuisi-intuisinya terhadap kemanusiaan. Gie adalah sosok manusia sempurna di mataku kala itu. Dari situ aku jadi kenal sosok lain seperti Gus Dur, Kartini, Cut Nyak Dien dan Ahmad Wahib, sementara sebelumnya aku juga sudah jatuh cinta pada pemikiran Bapak Sukarno, dan yang terutama kepada HAMKA.

Saat ini aku tengah mempelajari ulang catatan harianku sewaktu remaja. Ada geli campur haru. Juga terkadang ilfeel sama diriku sendiri. Tapi semua itu kutahan demi mengetahui apa yang perlu kuevaluasi dari diriku, dari “didikan” mami dan lingkungan yang membentuk diriku kala itu. sambil mengingat-ingat pula masa-masa jatuh cinta, cinta monyet, dan rasa deg deg ser yang tidak terulang lagi di masa-masa selanjutnya (apalagi setelah menikah, kepala dan hati lebih dipenuhi pikiran tentang anak).

Jadi, Mommies…

Apapun yang Anda tinggalkan di masa lalu Anda. Apakah diary atau pun tidak. Prestasi ataupun cerita buruk. Jangan buang begitu saja. Coba telaah sesekali. Evaluasi apa yang kurang kala itu. Dan tentu apa yang mungkin membuatnya istimewa. terkadang, dengan sejenak kembali ke masa lalu kita akan menemukan mutiara hikmah yang mampu kita bagi untuk anak-anak kita nanti. Termasuk, bagaimana jika di masa mendatang anak-anak kita menempuh ‘stage’ remaja seperti yang sudah kita lampaui meski zamannya sudah pasti berbeda. Namun, setidaknya kita pernah berada ‘di sana’ dan merasakannya. Sedikit kilas balik untuk evaluasi sangat menyenangkan, juga termasuk sikap healing bagi siapa saja yang memiliki masa lalu yang kelam.

Posted in Sleepless Mommy: A Parenting Stuff | Leave a comment

Pentingnya Menjaga Kebahagiaan pada Anak

Apakabar, Mommies?

Saat ini Lyubov masih berada pada titik unconscious mind. Antara nol sampai dua tahun kemungkinan dia mengingat suatu peristiwa sangat sedikit. Bahkan bisa jadi tidak ingat sama sekali. Tapi, bukan berarti tidak ingat betul.

Suami saya misalnya, dia ingat ketika usia dua tahun punya mainan mobil besar. Tidak ada anak lain di kampungnya yang punya mobil mainan sebesar miliknya. Ketika saya tanyakan pada mertua ternyata benar bahwa usia dua tahun suami saya sudah diberikan mainan mobil besar yang bisa dinaiki dan dikemudikan.

Suami saya mengaku, saat itu perasaannya bahagia sekali. Mobil itu memang tidak lama usianya karena sering dipakai tapi perasaan bahagia dan berbungah itu lama membekas di hatinya.

Dari pengalaman itu saya mulai memikirkan kondisi Lyubov. Sejak lahir dia mengalami perpindahan ke sana ke mari. Dari Jakarta, Cikarang, Bogor sampai Surakarta. Dan kini, posisi kami sekeluarga berada di Surakarta. Kemungkinan besar kami akan menetap di kota ini tiga atau empat tahun ke depan.

Dan itu tandanya saya harus mulai merancang sebuah pendidikan di rumah bagi Lyubov di usianya yang masih amat belia namun sangat subur untuk ditanami pendidikan moral dan rasa bahagia.

Jika suami saya saja masih ingat bagaimana senangnya dia menaiki mobil mainannya, tentu Lyubov bisa pula mengingat bagaimana dia berinteraksi dengan keluarga barunya di Surakarta. Tidak baru-baru amat memang, tapi terakhir dia berjumpa intens dengan keluarga mertua saya adalah saat Lyubov masih berusia empat bulan. Dia sudah lupa pada awalnya namun dia mulai mengenali satu persatu anggota keluarga.

Ini adalah tugas yang berat. Bagaimana bisa sebagai orangtua dewasa yang tinggal bersama mertua mampu menjaga hubungan baik tanpa merelakan kebahagiaan anak?

Namun, bukan berarti ini mustahil, kan?

Anak usia 0-2 atau bahkan 3 tahun belum ‘diwajibkan’ khatam ABC. Mereka hanya perlu ‘ditanami’ beragam kata dan ekspresi saat mengucapkannya. Pada tulisan Belajar Bersama Anak: Cerita Tentang Dongeng, saya menjabarkan beberapa poin kelebihan jika kita mendengarkan dongeng pada anak.

Usia unconscious mind memang usia yang rentan pada kekerasan verbal orangtua dan lingkungannya. Padahal di usia itu bayi, balita, menanam kata-kata dalam benak mereka. Ketika sampai usia mereka pada usia sadar atau conscious mind, mereka baru mulai mengucapkan apa yang mereka tanam di usia unconscious mind. Oleh karenanya, orangtua lebih baik berpikir sebelum berkata-kata. Termasuk menstimulus otak bayi dengan menyampaikan dongeng atau membacakan kalimat-kalimat dari buku dan dari barang-barang di sekitarnya.

Sebagai contoh putri saya, Lyubov.

Tidak hanya dongeng yang saya sampaikan padanya. Tapi juga kalimat-kalimat yang tertera pada barang-barang di sekitarnya. Instruksi menggunakan alat yang tertempel di belakang benda, manfaat dari sampo, cara penggunaan obat, dosis yang dianjurkan pada botol paracetamol tetes. Apapun benda yang ada di sekitar Lyubov, saya ambil, saya baca cara penggunaannya, komposisinya, termasuk bahasa-bahasa asing yang tertera pada benda tersebut. Saya ingin sebanyak mungkin Lyubov menabung kata-kata dan ekspresi sehingga kelak akan membantunya berbicara.

Ah, tapi tulisan saya bukan bermaksud fokus pada tips ini. Justru sebenarnya saya ingin menyampaikan bagaimana kita menyampaikan dongeng dan membacakan cerita pada anak tanpa beban sehingga dia merasa senang belajar dengan kita? Bagaimana membuat anak bahagia tanpa perlu merelakan uang keluar banyak? Bagaimana cara menjaga keteraturan pada emosi anak dengan melatihnnya menerima dan mensyukuri apa yang ada untuk tetap bahagia?

Tanamkan Bahagia

Ada dua peraturan yang saya terapkan pada Lyubov sejak dia lahir.

  1. Tidak ada mainan yang berlebihan. Mainan dibeli atau dirakit untuk kepentingan mengasah indra-indra Lyubov saja.
  2. Sedikit biaya keluar untuk menciptakan momen kebahagiaan.

Pelit? Tidak. Saya tidak terima dibilang orangtua pelit. Bagi saya kebahagiaan itu bisa diciptakan, dinikmati dan disyukuri. Jika kurang puas, kita ciptakan sendiri bagaimana caranya supaya bahagia. Jika anak sejak bayi sudah dibiasakan ‘menciptakan’ kebahagiaan dengan menguras banyak ongkos maka sampai besar dia akan melanjutkan kebiasaan itu. Kebiasaan konsumtif. Sebaliknya, jika kebahagiaan yang kita latih untuk dia ciptakan adalah berasal dari perilaku-perilaku positif maka sampai besar pun dia akan melanjutkan kebiasaan baik itu.

Kebiasaan positif yang saya terapkan pada Lyubov untuk menstimulus cara menciptakan bahagia dimulai dari berterima kasih. Pada siapapun. Pada apapun.

“Terima kasih, Oma. Oma sudah sayang sama Lyubov.”

“Terima kasih Ayah, ayah sudah bekerja keras untuk Lyubov.”

“Terima kasih ya Allah cuaca hari ini panas sekali tapi Lyubov diberi kesehatan sudah senang.”

Saya juga mengajak Lyubov berdoa dan mendoakan orang lain. Doa untuk ayahnya yang pergi kerja, untuk dirinya, untuk saya, untuk banyak orang untuk dunia.

Kebiasaan lainnya adalah memberi. Lyubov masih belum paham konsep ini, layaknya konsep berterima kasih tapi saya yakin suatu saat dia mengerti dia akan mengerti maknanya.

“Ini buat mami, ya. Lyubov kasih biskuit. Semoga mami suka.” Saya selalu bicara begitu sambil mengajak tangannya memasukkan biskuit ke mulut saya. Lalu saya mengucapkan terima kasih dan dia tersenyum.

Bukan perbincangan kita yang akan dikenang bayi, balita ataupun anak kecil. Tapi suasana perbincangan itu, bahagia atau tidak. Menekan atau mengancam. Menyakiti atau melukai.

Tanamkan bahagia untuk anak-anak kita, Mommies. Suatu saat dia akan tumbuh menjadi pribadi yang bersih dan mengasihi.

Posted in Sleepless Mommy: A Parenting Stuff | Leave a comment

Bayi Usia 10 Bulan Sudah Banyak Keinginan

Bukan hanya artikel keislaman yang menunggak banyak (sebab saya menulisnya dalam bentuk draft di memo smartphone) tapi juga jurnal di blog ini. Sungguh suatu hal yang kurang terpuji jika saya katakan bayi saya lah penyebab semua itu (meski memang begitu adanya) namun menjadi ibu penuh waktu memang harus mengalami hal tersebut.

baby and bear

sumber pixabay.com

Sudah sepuluh bulan saya membesarkan Lyubi. Waktu yang singkat, cepat, tahu-tahu bayi ini sudah bisa merangkak, sudah punya gigi (walau masih secuil), dan yang lebih hebat dari itu semua, bayi saya sudah punya ‘karep’.

Karep itu tidak boleh dibiarkan liar. Sejak kecil, yang namanya karep itu harus diwaspadai. Tidak selamanya bisa dilakukan, dibiarkan apalagi dilepas liarkan.

Dear Mommies,

Karep atau keinginan, sudah ada sejak bayi lahir namun gejalanya baru tampak ketika mennginjak usia enam bulan ke atas. Ada bayi yang sudah bisa menolak makan (GTM; Gerakan Tutup Mulut). Ada juga yang menunjukkan sikap-sikap lain seperti kepingin sobek tisu banyak-banyak, pukul-pukul setiap benda bergerak, dan seterusnya.

Lyubi termasuk yang punya karep-karep semacam itu. Dan yang terbaru ini, dia sedang senang-senangnya bermain air. Hampir setiap saat maunya jalan ke pancuran, main selang air atau ciprat-ciprat air dari ember besar. Apalagi kalau lihat Oma-nya sedang siram tanaman. Dia sudah menjerit kegirangan dari dalam rumah sambil maksa diantar ke Oma-nya yang basah pegang selang.

Terlihat sederhana, bayi masih kecil sudah punya keinginan banyak–ini dan itu. Tapi, kalau orangtua tidak cermat pada perilaku-perilaku yang tidak baik dari keinginannya itu, orangtua semestinya pandai menahan keinginan sang anak. Sedih, iya. Saat anak kepingin main air siang-siang bolong sementara dia baru saja sembuh dari pilek, saya ingin menangis juga ketika melihatnya rewel karena tidak saya izinkan. tapi, itu yang namanya pendidikan. Tidak semua hal boleh begitu pun tidak semua yang memerlukan pengawasan berarti dilarang.

Bagaimana dengan putra dan putri Anda, para Mommy tersayang? Semoga kita selalu diberi keteguhan hati dalam mengasuh dan mendidik anak-anak kita.

Salam

Posted in Sleepless Mommy: A Parenting Stuff | 3 Comments

Perpustakaan-Museum Keliling, Suatu Gagasan Untuk Indonesia Maju

“Mengosongkan pikiran seseorang dari kemampuan, atau bahkan semangat, untuk mengakses sumber daya kultural merupakan kemenangan besar bagi sistem kapitalis.” –Noam Chomsky, How the World Works-

Perpustakaan adalah Harapan

STORM REYES, besar di kampung imigran Amerika ketika usianya delapan tahun dan bekerja sebagai pemetik buah. Upahnya tidak bisa mencukupi bahkan untuk makan. Di kawasan tempat tinggalnya rentan akan keamanan juga kenyamanan. Pada suatu ketika, sebuah perpustakaan mobil keliling menyambangi desanya. Dari perpustakaan keliling itu, Reyes menemukan semangat hidup!

Sang pustakawan mengatakan sesuatu hal penting pada awal percakapan mereka. “You know, the more you know about something, the less you will fear it.” Kini, Reyes menjadi seorang staf di salah satu Departemen Pemerintah Amerika. Sesuatu yang mungkin tidak bisa dia raih jika dia tidak membaca. Melalui tulisannya, Reyes mengakui bahwa keberadaan perpustakaan adalah suatu hal yang penting. Perpustakaan telah mengubah hidup Reyes.

Seperti yang dikatakan Chomsky, pada era 30 sampai 40-an, masyarakat pekerja kebanyakan menghabiskan waktu mereka membaca di perpustakaan. Membaca di perpustakaan merupakan suatu aktivitas yang tidak hanya memberi nutrisi atau pandangan-pandangan baru, tapi juga ‘kebutuhan’ dan ‘harapan’.

NoamChomsky

sumber foto chomsky.info

“Saya pikir itulah salah satu alasan pada masa itu orang miskin bahkan pengangguran yang tinggal di pemukiman kumuh, masih kelihatan memiliki harapan…Perpustakaan adalah salah satu faktornya. Tempat itu bukan hanya untuk orang terpelajar, semua orang bisa memanfaatkannya, meski sekarang tak lagi demikian.” Noam Chomsky, How the World Works.

Kapitalis Mencerabut Peradaban Manusia dan Makna Perpustakaan Dari Kacamata Umberto Eco

Umberto Eco mengatakan, buku-buku yang tidak dibaca lebih berharga pada hidup kita dibandingkan sebuah buku yang sudah dibaca. Ungkapan sarkastik ini tentu keluar dengan suatu alasan. Sejak dulu, kapitalis tidak hanya merajai perindustrian namun juga telah mencerabut akar-akar juga semangat kultural manusia akan peradabannya sendiri.

Itu sebabnya, Umberto Eco memilih untuk menjadi ‘antischolar’ di dalam budaya masyarakat yang menjadikan pengetahuan hanya sebagai alat untuk berkuasa. Masa posmodern ini memperlakukan pengetahuan sebagai properti perorangan, sesuatu yang terlalu dilindungi seperti harta karun. Sesuatu yang membuat Umberto Eco membagi ruang perpustakaannya (yang terdiri dari tiga puluh ribu buku) menjadi dua bagian. Pertama, bagi mereka yang datang dan berkata, “Oh Tuan Eco, banyak sekali buku koleksi Anda! Berapa banyak yang sudah Anda baca?”, dan kedua, bagi mereka yang memahami bahwa perpustakaan pribadi bukanlah pelengkap untuk meningkatkan egoisitas (gengsi) tapi justru alat penelitian.

Perpustakaan menurut Eco, semestinya memenuhi segala apa yang tidak diketahui manusia sebagaimana manusia menaruh perhatian besar pada keuangan, hipotek dan real-estate. Eco beranggapan bahwa semakin tua seseorang mestinya semakin banyak dia ‘menumpuk’ buku-buku. Tumpukan buku itu akan memandang pemiliknya dengan penuh ancaman. Semakin banyak hal diketahui manusia, semakin banyak deretan buku belum dibaca yang semestinya memenuhi perpustakaannya.

Konsep Perpustakaan dan Museum all in one dan mobile Untuk Masyarakat Buta Huruf dan Anak-anak

Jika memungkinkan, berkunjunglah ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sejak melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung, pengunjung akan disambut dengan pameran barang-barang dan buku-buku bersejarah. Berbagai replika kitab bersejarah juga terdapat di sana sehingga pengunjung dapat mempelajarinya. Presentasi dari keluhuran budaya bangsa diterjemahkan layaknya paduan museum dan perpustakaan dalam satu tempat.

Pertanyaannya, bagaimana jika tidak berkemungkinan untuk mengunjungi dan belajar di Perpustakaan Nasional RI?

Bagaimanapun usaha pemerintah dalam mewujudkan masyarakat cerdas telah dilakukan dalam lebih dan kurangnya namun masih perlu ditingkatkan lebih jauh lagi. Perpustakaan RI semestinya  dapat dijadikan rujukan dan pula melayani serta memfasilitasi perpustakaan-perpustakaan lainnya di daerah-daerah. Termasuk juga perpustakaan yang ada di universitas-universitas seperti Perpustakaan Unsyiah. Buku-buku dan perangkat belajar yang berada di dalam pusat studi Unsyiah maupun UPT Unsyiah semestinya juga bervariasi (tidak hanya bersifat akademis). Sehingga masyarakat luas (termasuk memiliki pelatihan untuk mereka yang buta huruf) dapat mengakses bacaan sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.

Kenyataannya, bookmobile atau perpustakaan keliling juga sangat dibutuhkan. Perpustakaan yang berada di universitas seperti Unsyiah Kuala semestinya dapat mengakomodasi hal tersebut. Karena sejatinya universitas dan institusi-institusi belajar haruslah berkontribusi bagi masyarakat luas.

Hanya saja, bagaimana konsep perpustakaan keliling yang patut digalakan?

Mari sejenak mundur ke era di mana Indonesia pernah menjadi tuan rumah ketika diselenggarakannya Konferensi Peranan Pendidikan Estetika dalam Pendidikan Umum di Yogyakarta pada kurun waktu 1970-an. Sebuah konferensi yang merekomendasikan anjuran untuk mempererat kerjasama antara sekolah dan lembaga-lembaga kebudayaan, mengisi kurikulum pengajaran dengan wawasan budaya dan memperluas pemakaian sumber pendidikan. Baik di perpustakaan juga termasuk di dalam gagasan ini adalah dipadukan dengan museum.

Konsep perpustakaan dan museum dalam praktik perpustakaan-museum keliling semestinya dapat diwujudkan. Indonesia telah berkecimpung terkait gagasan ini sejak tahun 1970-an seperti yang sebelumnya sudah disebut. Namun, bagaimana perkembangannya sampai hari ini, masihlah menjadi sekedar ‘wacana’.

Di dalam perpustakaan-museum keliling, pustakawan dituntut kreatif dalam mengabdi. Perpustakaan-museum keliling dapat keluar masuk kampung, pedesaan, dan kota. Pustakawan dapat melangsungkan sebuah pameran sederhana, pertunjukan seni, penayangan film dokumenter, ataupun panggung mendongeng. Intinya, apapun yang memungkinkan untuk diselenggarakan.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan pula metode lecturing layaknya di sekolah-sekolah tinggi dapat dilaksanakan dengan bahan materi yang tentunya telah disesuaikan. Bayangkan, sebuah mobil besar berisi padat ilmu, alat-alat canggih, ornamen indah menarik hati, yang mampu membuka mata dan wawasan siapa saja berkeliling keluar masuk kampung setiap harinya! Masyarakat buta huruf mungkin tidak serta-merta membaca buku tapi mereka dapat duduk manis menyimak tayangan dokumenter. Anak-anak akan senang duduk mendengar dongeng dari pustakawan yang ramah dan selalu tersenyum. Everybody is doing good for everybody.

Perpustakaan Harus Terbuka Untuk Siapa Saja!

vintagereading2

dokumentasi brainpickings

Di daerah Surakarta, tempat di mana saya menghabiskan masa kuliah beberapa waktu silam. Terdapat sebuah perpustakaan yang gemar dinikmati semua kalangan. Bisa dibilang, hanya di tempat itu saya bisa menemukan ibu-ibu menyusui (seperti saya) khusyuk membaca sambil menimang dan menyusui bayinya, anak-anak duduk di ruang khusus bermain sambil membaca, para pekerja, orang lanjut usia, serta para mahasiswa yang sibuk mencari referensi. Mereka (mahasiswa ini) bahkan kebanyakan lebih menikmati perpustakaan milik seorang filantropis Amerika ini ketimbang perpustakaan di kampusnya sendiri.

Di perpustakaan itu juga para orangtua yang mulanya hanya mengantar anak, menjadi tertarik untuk datang lagi dan lagi. Pada awalnya mereka hanya menonton film dokumenter yang diputar tanpa henti. Setelahnya, mereka meraih buku-buku bacaan yang dibaca anaknya. Dan keesokannya mereka mulai memiliki minat untuk mencari tahu sendiri buku-buku apa yang mereka minati.

Apa yang saya cermati dari kondisi pengunjung dan perpustakaan ini (selain dari pengarsipan buku yang tepat) juga acara-acara yang mereka laksanakan. Perpustakaan juga bisa menjadi sebuah ruang untuk melahirkan karya apapun terlebih karya seni dan estetika. Pendirinya juga menyempatkan waktu mengajar bahasa Inggris. Di mana hal itu bahkan tidak saya dapatkan secara cuma-cuma dari seorang native di universitas saya (kala itu).

Buku-buku Prioritas

Chomsky mengaku sedih ketika perpustakaan favorit yang selalu dia donasikan tidak memiliki buku-buku politik yang lengkap. Bahkan pustakawannya mengaku bahwa buku-buku teori yang bersifat analitik tergeser oleh buku-buku laris alias bestseller.

Sayangnya, kategori bestseller tidak melulu mencitrakan buku bermutu, bermakna dan menggugah. Saya tidak akan menyebut penulis atau pengarang dengan ciri-ciri buku bestseller yang tidak mencerminkan mutu, kita semua akan menyadarinya jika rajin bertamasya ke Toko Buku.

Itu artinya, masyarakat akan selamanya berpikir bahwa buku terbaik adalah yang berlabel bestseller jika mereka tidak terbiasa dengan membaca buku-buku yang mengasah dan melatih nalar pikir mereka seperti buku-buku politik dan pendekatan disiplin ilmu lainnya.

Minat itu tidak akan pernah muncul jika tidak dirangsang langsung ke lapisan-lapisan masyarakat dan unit terkecil (keluarga). Dan, salah satu cara untuk dapat merangsang minat itu adalah pengadaan Perpustakaan-Museum Keliling.

Saya rasa, setiap universitas, sekolah-sekolah, dan pribadi-pribadi akademik memiliki tanggung jawab besar akan hal itu. Momen seperti Unsyiah Library Fiesta semestinya akan lebih marak, lebih bermanfaat dan lebih…LUAR BIASA jika mengadakan Perpustakaan-Museum Keliling, menebar ilmu, menebar kebaikan dan kebahagiaan.

Ya, sesuatu yang harus kita laksanakan, bukan lagi direnungkan.

 

Sumber bacaan.

https://www.brainpickings.org/2016/10/06/libraries-storycorps-bookmobile/

https://www.brainpickings.org/2015/03/24/umberto-eco-antilibrary/

https://miraworldweb.wordpress.com/2016/05/24/feature-sejarah-ringkas-perkembangan-pendidikan-berbasis-museum-di-iran-dan-aljazair/

Noam Chomsky, How the World Works, 2017:Pustaka Bentang

 

Posted in Partisipasi Lomba Blog | Leave a comment

Medium!

xJGh6cXvC69an86AdrLD98

dokumentasi google

Kawan, jika berkenan silakan mampir ke blog Medium saya @mirantikejer, di mana saya menaruh catatan-catatan belajar filsafat dan spiritualitas di sana. Semoga dapat saling mencerahkan. Jangan lupa tinggalkan claps atau komentar untuk interaksi yang lebih membangun!

Salam hangat,

Miranti

Posted in Writing & Beyond | Leave a comment

Tentang MPASI di bawah 6 bulan dan Bagaimana Putriku Menjalaninya

Saat ini, putriku berusia 5 bulan 14 hari. Pada usia 5 bulan 5 hari kemarin, ASI-ku tidak lancar keluar. Selama sepekan, ASI yang keluar sangat sedikit meski segala cara sudah kucoba. Kuakui memang ada beban pikiran saat sepekan itu, dan imbasnya adalah putriku. Dia lapar. Setiap malam dia rewel.

Setelah membaca sebuah penjelasan dari Dokter Meta, terkait MPASI di bawah 6 bulan, aku dan suami memutuskan untuk memberi Lyubi MPASI. Karena memang ASI yang kuhasilkan sedikit sekali. Tidak seperti sebelumnya yang banjir melimpah.

Ada beberapa ciri bahwa bayi siap MPASI. Kepalanya sudah tegak, bisa duduk dengan bantuan yang sangat sedikit, serta bisa menelan makanan (mendorong masuk makanan ke tenggorokkan).

Pertama kali, kucoba menyuapi Lyubi dengan ASI yang sedikit dari hasil pompa. Kusuapi dengan botol bersendok. Dan, Lyubi bisa! Lyubi memang sudah memenuhi kriteria bayi siap MPASI.

MPASI pertama yang kuberikan adalah menu tunggal. Labu kuning (kabocha) yang kucampur ASI. Lyubi lahap sekali. Malamnya dia pup. Alhamdulillah dia tidak sembelit. Sebagai tambahan juga, susu formula SGM karena ASI ku masih belum keluar banyak. Dua hari belakangan, ASI ku mulai normal. Sehingga, MPASI kuberikan tidak sebanyak sebelumnya dan aku stop susu formula. Mulai dua hari belakangan sampai sekarang, Lyubi alhamdulillah bisa lebih banyak ASI lagi. MPASI tetap kuberikan hanya saja porsinya telah berkurang dari sebelumnya yang juga tidak banyak.

Lyubi juga kuberikan MPASI pabrikan merek CERELAC. Tapi masih yang rasa buah. Belum rasa daging ayam atau daging sapi. Panduan tentang kenapa juga pakai MPASI pabrikan karena kebutuhan zat besi yang aku ribet ngitungnya. Jadi, dalam satu hari, Lyubi makan MPASI homemade, juga MPASI pabrikan kutambah buah. Tapi tentu porsi ASI juga banyak. Panduannya bisa disimak dari penjelasan dokter Meta.

Posted in Sleepless Mommy: A Parenting Stuff | Leave a comment

Putriku dan Mainannya

5

putriku dan mainan pinjaman

Aku, suamiku dan putriku menghabiskan pekan yang manis di rumah salah satu keluarga kami di Boyolali beberapa waktu lalu. Beliau, saudara saya itu punya putri cantik dan pintar namanya Janitra. Kami sudah sering main ke sana dan bermalam. Bahkan dari Lyubov masih dalam rahimku.

Janitra punya banyak sekali mainan. Lyubov tentu senang karena bisa pinjam semua mainan Janitra. Meskipun Janitra sering menangis karena tidak mengizinkan Lyubov bermain dengan mainannya, Lyubov masih santai (karena belum mengerti). Sementara itu, orangtua Janitra memberikan didikan kepada putrinya itu untuk dapat berbagi.

Satu hal yang kukagumi dari Lyubov adalah, walaupun senang memainkan mainan Janitra, Lyubov tetap santai saat ayahnya menjauhkan mainan darinya. Dia tidak menangis apabila kami tidak memberinya mainan-mainan itu. Ketika kami dengar Janitra menangis atau rewel melihat mainannya dimainkan, kami coba menjauhkan Lyubov dari mainannya. Dan, surprise sekali, Lyubov tidak menangis!

Di rumah memang tidak ada mainan buat Lyubov. Boneka pun tidak ada. Kemarin kami baru beli mainan kerincingan dan bebek-bebek kecil untuk teman mandi Lyubov. Tapi dia kurang tertarik dengan kerincingan walau sudah bisa menggenggamnya. Lepas itu, dia tidak menangis jika tidak ada kerincingan. Ketika dia sudah bisa pegang, dia langsung lepas dan lebih tertarik untuk membolak-balikkan tubuhnya, atau memperhatikan kipas yang bergerak.

Ya, Lyubov senang dengan mesin yang bergerak, alat yang berproses. Dia bisa mengamati dengan wajah penasaran dan alis berkerut-kerut bila kunyalakan-kumatikan lampu. Atau kunyalakan-kumatikan kipas angin. Lyubov senang memperhatikan sinar-sinar terik. Saat dia berusia setengah bulan dan masih harus sering dijemur karena bilirubin, Lyubov menatap matahari di langit tanpa berkedip selama beberapa detik. Aku buru-buru menutupi walau dia bersikeras untuk tetap melihatnya.

Sampai sekarang aku belum membelikannya mainan lain. Dan sedikit ragu sebenarnya. Alasannya, waktu aku kecil dulu, mainanku banyak sekali. Boneka tidak terhitung jumlahnya. Pokoknya, sampai kelas tiga SD, aku masih suka mengoleksi boneka, barbie dan mainan. Tapi, dulu aku pelit. Kalau ada teman atau saudaraku pinjam, aku sering kali kesal. Jadi, karena takut seperti aku dulu, aku tidak membelikan Lyubov mainan yang terlampau banyak. Baru ada kerincingan, boneka bebek buat mandi, dan boneka monyet milik ayah Lyubov dulu kecil.

Posted in Journal | Leave a comment

Belajar Bersama Anak: Cerita tentang Dongeng

Mommies,

Tentu semua orangtua mengingkan anaknya tumbuh dengan pribadi  yang baik. Jujur dalam berkata dan berbuat, ikhlas dalam menolong serta pandai bersosialisasi. Sayangnya tidak semua orangtua memiliki kesadaran bahwa semua itu perlu dipupuk sejak dini. Salah satu metode terbaik untuk mengasah keterampilan sosial dan jiwa baik anak adalah dengan mendongeng!

Dikutip dari Keajaiban Mendongeng , ternyata ada beberapa tips jitu dalam memilih jenis dongeng untuk anak. Alasannya, tidak semua dongeng relevan dengan usia anak. Beberapa di antaranya baru bisa diterima anak ketika beranjak remaja. Beberapa tipe dongeng itu ialah:

  • Tipe Orientasi Relativis-Instrumental

Anak-anak yang terbiasa didongengkan jenis ini akan memiliki imajinasi tentang sosok pahlawan dan arti perbuatan baik. Anak akan belajar bagaimana perbuatan baik akan memiliki dampak yang baik pula. Setiap perbuatan baik akan diberikan jalan yang mudah dan menyenangkan pada akhirnya. Jenis dongeng seperti ini bisa ditemukan dalam cerita-cerita pahlawan atau tokoh-tokoh daerah yang melawan keburukan dengan kebaikan. Dongeng seperti ini cocok untuk anak usia 1 s.d 5 tahun.

  • Tipe Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Dongeng tipe ini merupakan pasangan dari sebelumnya. Anak yang didengarkan dongeng jenis ini akan belajar bahwa perbuatan buruk akan berunjung pula pada keburukan. Orang yang berbuat jahat akan mendapat sanksi. Dengan demikian, Anak juga belajar bahwa daripada dihukum lebih baik berbuat baik karena berbuat baik tidak akan dihukum. Dongeng tipe ini cocok untuk anak usia 5 s.d 7 tahun.

  • Tipe Konformitas Interpersonal

Pada tahap ini, anak belajar bahwa perbuatan baik tidak hanya menghadirkan kesenangan pada dirinya namun juga mendapat pengakuan dari kelompok sosial (label). Dongeng-dongeng tentang anak yang berusaha untuk mendapatkan banyak teman dengan berbuat baik biasanya cocok untuk merepresentasikan tipe ini. Biasanya diceritakan kepada anak usia remaja sekitar 10 s.d 13 tahun.

  • Tipe Orientasi Hukum dan Keteraturan

Tahap ini merupakan kelanjutan sebelumnya. Anak akan mempelajari dari dongeng Ksatria Malam yang ditunggu warga untuk menjaga mereka dari ancaman naga api bahwa menjadi baik dan diakui tidak cukup. Anak akan belajar bahwa berbuat baik merupakan suatu sikap yang lahir dari kerelaan hati. Ksatria Malam itu, tidak hanya berbuat baik dan diharapkan kedatangannya. Namun juga mau berjuang sampai mati menyelamatkan banyak orang dan desa.

Posted in Sleepless Mommy: A Parenting Stuff | 1 Comment

2019 Titik Temu Dua Samudra

Impian dan Harapan

Masa kecilku terlalu banyak diisi oleh impian dan harapan. Mungkin itu cara terbaik dari tipikal orangtua zaman dulu. Tidak mungkin mereka bermaksud menjatuhkanku dengan impian dan harapan itu, kan? Pasti ada suatu nilai yang bisa kuteladani. Toh, pada akhirnya aku berhasil melalui berbagai fase kehidupan. Impian dan harapan yang telah mengakar itu menjadi faktor penyelamat ketika aku menempuh fase-fase sulit. Salah satunya, fase pernikahan seumur jagung-ku.

Siapapun boleh mendefinisikan momen spesial. Bagiku, momen spesial adalah proses bangkit dari keterpurukan. Pernah menikah kemudian berpisah, juga termasuk salah satu momen spesial dalam hidupku. Setidaknya, itu definisi yang kuyakini. Fase itu juga tetap kuakui sebagai fase tersulit. Tidak ada obat yang melebihi dari hangatnya penerimaan keluarga dan impian juga harapan untuk kembali menikmati kehidupan itu sendiri.

Saudara boleh periksa ke berbagai cerita atau tulisan dari perempuan yang bercerai di usia muda. Tidak ada satupun dari mereka tidak melihat awan mendung menghiasi hari-harinya. Terlebih di Indonesia, di mana mulut-mulut masyarakat tak hanya jago berjualan namun juga menyebarkan berita-berita yang laris, seperti kasus perceraian keluarga yang bisa digoreng tiap harinya. Status janda muda bukanlah bagian dari impian dan harapanku saat kecil dulu, tapi nyatanya ia hadir dalam suratan hidup, dan aku menjalaninya.

Kegiatan menulis yang sebelumnya sudah sering kulakukan di platform blogspot dan buku harian menjadi berhenti seketika. Depresi rupanya berhasil memisahkan korban dengan aktivitas-aktivitas positif yang menemani kehidupannya. Tapi, dalam nestapa, aku ingat buku harian mami-ku saat dia muda dulu. Di sana kubaca ulang betapa merananya dia, yang jauh dari ibunya. Bisa jadi karena itulah aku mulai berani menulis pengalaman pahitku, ya, aku mulai menuliskannya.

Ceritaku dimulai dari blogspot. Sebelum beralih ke website ini, aku menuangkan segala gundah dan gulanaku di blogspot. Banyak guru dan teman sekolah yang saat itu merasa iba padaku, dan juga penasaran. Disitulah mereka merasa terbantu karena aku sudah menuliskan segala problema perceraian di blogspot. Merasa terbantu karena pasti jadi tidak enak hati jika menanyakan padaku tentang perceraianku.

Tidak sedikit yang kemudian memberikan kata-kata semangat, perasaan hangat dan terbuka yang dikirim melalui email atau sms. Meski tidak lama, mami-ku meminta agar semua tulisan itu dilenyapkan.

“Mami tidak kuat mengetahui sesuatu yang menyedihkan telah menimpamu malah terabadikan dalam mesin digital meski mami selalu mendorongmu untuk terus menerus bangkit.”

Sebagai catatan: Orangtuaku tidak pernah memaksaku menikah. Pernikahan ini aku yang menginginkannya.

Aku pernah bersikeras menolak tuk menghapusnya. Kukatakan pada mami bahwa catatan sedihnya dalam buku harian justru menginspirasiku menulis dan bangkit. Tapi sepertinya, tidak ada luka yang lebih dalam dari pada luka hati seorang ibu melihat anaknya mengalami kejadian itu dan akhirnya terpuruk. Tidak, aku tidak bisa bersikeras lagi setelahnya. Semua tulisan yang sebenarnya menjadi teman depresiku itu telah kuhapus.

Selalu ada pelangi setelah hujan pergi. Itu benar sekali. Tanpa perpisahan itu, aku tak akan menemukan diriku yang selama muda begitu egois dan fanatik pada ambisiku. Aku mungkin tidak akan pernah menjadi seseorang yang mampu memaafkan atau menerima mendung sebagai suatu keteduhan.

Dan yang terpenting, tanpa pengalaman jatuh, aku tidak tahu sampai di mana aku bisa meningkatkan kemampuan mental dan bakat untuk meraih impian. Menulis di blog kemudian menjadi suatu pengalaman paling berpengaruh dalam hidupku; menulis di blog menyembuhkanku.

Saatnya Melaju!

 

foto

Selamat datang, 2019!

Aku telah selesai dengan masa laluku. Ada satu hal yang menjadi tantangan selanjutnya. Apakah aku bisa menerima kehadiran seseorang lagi di hatiku?

Namun inilah hidup. Paceklik pasti berlalu, ladang-ladang akan ditumbuhi palawija. Badai pasti kan pergi dan matahari kan menyinari. Tidak sedikit petani yang menanam kentang lalu mendapati hasil panennya melimpah. Satu atau dua buah kentang akan berukuran besar dan lezat.

Pengelana mungkin akan membawa karavannya pergi meninggalkan satu kota ke kota lainnya dan menemukan keistimewaan dari setiap tempat yang ia singgahi. Begitu pun perjalanan cinta. Sampai pada pelabuhan hati terakhir, tidak seorang pun bisa menerka-nerka!

I’m lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

(Jazon Mraz feat Colbie Caillat)

Sahabat yang selama ini menjadi tempat bual-bualan, ejek-ejekan, malah menjadi pendamping hidupku. Kami sama-sama berniat menempuh pelayaran hidup ini bersama sejak tahun 2013. Proses penyatuan dua hati ini tidak bisa dibilang cepat, begitu lama, butuh usaha, butuh kerelaan, butuh saling mengerti. Kami bahkan melewati rangkaian proses itu dengan menulis di Tumblr.

Perjalananku ke Negeri Legenda kemudian meyakinkan diri ini bahwa memang sahabatku itulah partner perjalanan terbaik yang pernah kumiliki. Pengalaman ini kuabadikan dalam novel KARPINSKI STREET.

Bersama belahan jiwa, telah kulalui proses-proses penuh ujian untuk menjadi ibu. Pengalaman ini pun tidak lupa kutulis di blog dan kemudian intisarinya terbit dalam Antologi Indahnya Jika Dipanggil Bunda. Sampai kemudian kami berjumpa di penghujung tahun 2018. Tahun kesaksian hadirnya buah hati kami, IMAN LYUBOV DAWAMOVA yang kemudian kuabadikan dalam tulisan CINTA dan diterbitkan oleh Penerbit Diomedia.

Titik Temu Dua Samudra

Maka, tidak berlebihan kiranya jika tahun 2019 ini kuanggap titik pertemuan dua samudra. Samudra yang berasal dari masa lalu dan samudra masa depan, yang masih menjadi rahasia. Samudra, ya aku mengibaratkan kehidupan dengan samudra.

Kenapa?

Karena samudra adalah tempat pertemuan seluruh air yang bergerak. Seluruh air dari segala penjuru. Samudra tidak pernah memilih dari mana air itu berasal atau membawa zat apa air yang datang padanya. Samudra selalu menerima dan bahkan menyimpan ragam rasa, warna, rupa di dalamnya. Seperti hidup, yang penuh dengan keragaman.

2019 sesungguhnya adalah awal perjalanan karirku sebagai penulis (dengan berbagai pengalaman sebelumnya yang masih perlu diasah lagi). Tentu juga awal dari peran baruku sebagai ibu, sebagai orangtua. Sebagai istri yang semakin hari semakin harus sabar mendampingi suami dan pekerjaannya. Juga sebagai seorang perempuan yang aku yakin sampai kapanpun tidak akan pernah berhenti bicara dan kampanyekan soal cinta.

Untuk itu, tanpa bermaksud muluk-muluk, kukatakan dengan yakin bahwa visi resolusiku di tahun 2019 adalah; MELAKUKAN BANYAK AKTIVITAS BERDASARKAN CINTA UNTUK CINTA. Kita akan mudah letih saat berjuang, manusia akan mudah bosan saat bekerja, tapi dengan cinta, semua akan terasa lebih ringan dan menenangkan jiwa.

Adapun resolusiku terdiri dari beberapa target yang bisa disimak melalui bagan berikut:

Print

bagan resolusi 2019. dokumentasi gambar pribadi.

Menjadi seorang Narablog atau Blogger saat ini bisa dikatakan suatu pekerjaan menyenangkan. Bagaimana tidak? Bagi seorang yang hobi menulis, membaca dan riset, blog merupakan media paling mudah sekaligus bisa membuka peluang pendapatan. Dengan mengaca pada artikel-artikel yang pernah kutulis sebelumnya, maka tahun 2019 ini kuputuskan untuk lebih fokus pada tema-tema tertentu. Tema-tema itu telah tertulis pada bagan.

Aku telah melewati masa-masa kritisku dengan menulis di blogspot. Juga telah menyimpan berbagai petualanganku dengan suamiku di tumblr. Aku telah menulis momen paling berkesan saat hamil dengan pengalaman Hyperemesis Gravidarum di wordpress. Dan pengalaman-pengalaman lain yang memerlukan proses penyembuhan dengan menulis telah kulakukan di platform ini.

Dengan itu semua, aku yakin bahwa keseriusanku menjadi seorang blogger bukanlah suatu hal yang biasa. Keputusan ini didasari dari periode-periode “samudra” masa lalu yang saat ini berjumpa dengan “samudra” masa depan. Adalah suatu langkah yang perlu ditekuni karena dengan menulis aku bisa membagikan semangat dari energi positif yang berpendar. Terbukti dari tulisan-tulisanku di blog yang telah terangkum dan terbit mendapatkan respon baik dari para saudara pembaca. Aktivitas menulis, selamanya akan membekas bagi para pembacanya. Akan mengendap dalam sanubari mereka yang mungkin dirundung hal serupa dari apa yang mereka baca. Sesuatu yang tidak pernah lekang, sesuatu yang Pram bilang sebagai, “bekerja untuk keabadian.”

Posted in Partisipasi Lomba Blog | Tagged , | 2 Comments