Gaya Hidup Masyarakat Muslim Indonesia Kekinian

“Bergayalah maka kamu ada!” mungkin semboyan yang tepat bagi masyarakat kita saat ini khususnya masyarakat muslim Indonesia. Bagaimana jurnalisme gaya hidup mendongkrak popularitas para selebriti? Apa usaha para politisi dalam meraup dukungan? Bagaimana sensibilitas keagamaan masyarakat kita begitu rapuh untuk ditaklukkan?

Simak selengkapnya di Bincang Syariah.

https://bincangsyariah.com/headline/gaya-hidup-masyarakat-muslim-indonesia-kekinian/

Posted in Artikelku di BincangSyariah.com | Leave a comment

Anak-anak dan Pemahaman Radikal

 

Jangan tukar imaji indah masa kanak-kanak dengan paham teror! Simak selengkapnya hanya di Bincang Syariah

https://bincangsyariah.com/kalam/anak-anak-dan-pemahaman-radikal/

Posted in Artikelku di BincangSyariah.com | Leave a comment

Antara Cinta, Sufistik dan Kebatinan untuk Kemanusiaan yang Pudar

Ramai ujaran kebencian, fitnah dan berita palsu (hoaks) di tanah air melalui berbagai media sosial adalah bukti bahwa kemanusiaan kita sudah makin tergerus. Di zaman post-modern ini, kita tidak hanya ‘berjibaku’ dengan realitas-realitas baru. Tapi juga tantangan untuk bersikap dan berpikir bijak.

Bagaimana caranya agar kita mampu mengembalikan kemanusiaan kita? Benarkah dengan cinta, sufistik dan kebatinan manusia mampu belajar kembali jati diri sebenarnya?

Simak selengkapnya melalui URL berikut:

https://bincangsyariah.com/khazanah/antara-cinta-sufistik-dan-kebatinan-untuk-kemanusiaan-yang-pudar/

Posted in Artikelku di BincangSyariah.com | Leave a comment

Potret Keberislaman di Negeri Beruang Merah

Negeri Beruang Merah, demikian julukan bagi Negara Federasi Rusia. Siapa yang tidak kenal dengan panorama alam Rusia? Gadis-gadis moleknya? Atau Sup Borsch yang merah kental nan lezat itu? Rupanya, negeri ini tidak hanya menyimpan sejarah eksotisme namun juga sejarah agama-agama. Salah satunya Islam.

Seperti apa Islam di Rusia? Bagaimana dengan perkembangan muslim di sana? Benarkah Tolstoy seorang mualaf?

Temukan semua jawaban itu di POTRET KEBERISLAMAN DI NEGERI BERUANG MERAH hanya di bincangsyariah.com

 

Posted in Artikelku di BincangSyariah.com | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Tentang 150 Tahun Little Women karya Louisa May Alcott

I don’t think it’s fair for some girls to have plenty of pretty things, and other girls nothing at all,” -Little Women and Good Wives-

wikimedia commons

Louisa May Alcott (dokumentasi Wikimedia Commons)

Tahun 2018 ini, genap sudah 150 tahun perjalanan novel sastra klasik Little Women (1868-2018) karya Louisa May Alcott. Seorang penulis literatur Amerika yang lahir pada 29 November 1832 di Germantown, Pennsylvania. Sebuah novel yang ternyata tidak ingin dia kerjakan. Bagaimana ceritanya?

Penggemar Little Women dan serial berikutnya, Good Wives tentu familiar dengan gadis-gadis tokoh utama dalam novel ini; Meg, Jo, Beth dan Amy. Novel yang ditulis selama perang sipil Amerika ini rupanya berdasarkan pengalaman nyata kehidupan Alcott bersama tiga saudarinya; Anna, May dan Elizabeth.

Alcott tidak memulai karirnya dengan Little Women. Dia sudah banyak menulis sebelumnya dengan berbagai nama samaran sebab merasa belum mantap berkarir di panggung literasi. Meski begitu, Little Women telah banyak memberikan kemapanan finansial bagi Alcott selama perjalanan karir menulisnya. Walau sejak terbitnya Little Women, Alcott harus berurusan banyak dengan paparazi yang kerap menguntitnya dari pagar untuk mendapat potretnya. Juga banyak orang asing meminta tanda tangannya di mana hal-hal itu sangat membuatnya takut.

Pendidikan dan Awal Karir Alcott

Louisa May Alcott belajar secara informal dengan rekan keluarganya, Henry David Thoreau, Ralph Waldo Emerson dan Theodore Parker. Sebelumnya juga, sang ayah, Amos Bronson Alcott telah mengajarinya banyak hal sampai pada tahun 1848.

louisa-may-alcott-9179520-1-402

Alcott muda (dokumentasi biography.com)

Kondisi finansial keluarganya membuat Alcott harus bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga ketika tinggal di Massachusetts. Namun, dia juga merangkap sebagai guru dari tahun 1850 sampai tahun 1862. Selama perang sipil Amerika, Alcott pergi ke Washington D.C. dan bekerja sebagai perawat. Pengalamannya berada di garis depan melahirkan karya fiksi The Hospital Sketches. Karyanya ini merupakan yang paling sukses sebab banyak orang ingin mengetahui kondisi riil dari perang sipil.

Karya Lain Louisa May Alcott

Tidak banyak yang tahu bahwa Alcott telah menerbitkan pula beberapa puisi, cerita pendek, cerita thriller dan dongeng Juvenile sejak tahun 1851. Hanya saja di bawah nama samarannya kala itu yang kerap berganti-ganti, Flora Fairfield. Dia bahkan mengadopsi nama pena A.M. Barnard pada tahun 1862 untuk beberapa karya melodramanya yang sering ditampilkan di panggung Boston. Sejak keberhasilan atau debut pertamanya menulis The Hospital Sketches, Alcott baru benar-benar serius menjadi seorang penulis.

Dari sana, dia mulai mempublikasikan cerita-ceritanya dengan nama asli. Adapun cerita-cerita tersebut di antaranya yang paling terkenal adalah Atlantic Monthly dan Lady’s Companion. Alcott bahkan sempat melakukan perjalanan singkat ke Eropa pada tahun 1865 sebelum akhirnya menjadi editor untuk majalah perempuan bernama Merry’s Museum.

Pada akhir tahun kehidupannya, dia melahirkan aliran novel dan cerita pendek yang kebanyakan berisi tentang kaum muda. Cerita itu diambil langsung dari pengalaman hidup keluarganya sendiri. Buku-buku Alcott yang lain seperti Little men (1871), Eight Cousins (1875) dan Jo’s Boys (1886) juga buku-buku dewasa yang coba ia kerjakan seperti Work (1873) dan A Modern Mephistopheles (1877). Sayangnya, karya-karya itu tidak sepopuler karya-karya lain Alcott sebelumnya.

Little Women and Good Wives, Sederhana Tetapi Memikat

Seiring hadirnya romantisisme, salah satu aliran atau paham genre sastra di Amerika, Little Women agaknya memang tepat dikatakan salah satu produknya. Romantisisme pertama kali terjadi di Eropa akhir abad 18 menuju 19 dan bermigrasi ke Amerika. Paham ini kemudian banyak mempengaruhi perpolitikan saat itu, kesenian, dan tentunya kesusasteraan Amerika antara tahun 1830 s.d 1865.

Romantisisme kental di dalam kisah Little Women dan sekuel selanjutnya, Good Wives (menceritakan ketika Little Women beranjak dewasa). Merupakan sebuah keyakinan bahwa emosi dan intuisi lebih penting dari pada logika dan kenyataan yang ada.

Sebagai salah satu penulis romantisisme, Alcott sangat sesuai dengan rasa optimis, pengerahan perasaan, pemunculan indera-indera, imajinasi dan penjabaran cerita pengalaman berdasarkan kehidupannya yang berkaitan pula dengan lingkungan sekitar. Di dalamnya, Little Women juga sarat akan pesan-pesan moral dan hampir-hampir sangat menolak pemikiran konservatif relijius yang saat itu tengah beredar di masyarakat.

Pertama kali saya membaca Little Women and Good Wives (kebetulan saya membelinya dalam satu kesatuan buku). Kesan mendalam tentang pemikiran para perempuan muda ini untuk berpikir positif dan maju sebetulnya sangat kuat. Tokoh Jo yang rupanya penggambaran Alcott akan dirinya sendiri sebenarnya tidak benar-benar ingin ditampilkan menikah. Karena Alcott sendiri melajang dalam hidupnya. Cerita ini ternyata bisa diakses pula secara online dan gratis untuk pembaca yang menikmati serial sastra klasik melalui gadget.

 

Disarikan dari:

https://www.biography.com/people/louisa-may-alcott-9179520

http://time.com/5272624/little-women-history-real/

https://www.vox.com/culture/2016/11/29/13763644/little-women-louisa-may-alcott-pbs-miniseries

http://mentalfloss.com/article/56706/10-things-you-may-not-know-about-little-women

https://americanliterature.com/author/louisa-may-alcott/book/little-women/summary

https://books.google.co.id/books?id=IxNZCwAAQBAJ&printsec=frontcover#v=onepage&q&f=false

https://americanliterature.com/romanticism-study-guide

Posted in Brief Biography, Journalistic, Literatures | Leave a comment

Buhul Dari Langit

16358792937_5065bfc0fd_k

Jerat buhul terlampau menderas dari langit. Seseorang telah memaksakan kehendaknya. Simpul-simpul benang mencerut dan jampi-jampi mulai menggaung kepenatan alam pikir. Saat pemeliharaan itu mulai renggang, jiwa lesu perlahan bersandar. Sungguh, masa yang dinanti akan sampai. Dan pada masa itu, seluruh jerat dan penat yang mencerut akan merembas. Raib, tak berbekas.

***

Rumah Suita berada di sudut jalan sunyi. Terkungkung antara bangunan lain yang tak kalah besar. Dengan rumah seluas itu, Suita menjalani rumah tangganya bersama Andy. Beberapa pemilik rumah di sekitar mereka pun tidak benar-benar menempati rumah mereka. Mereka meminta para pelayan dan orang yang dipercaya untuk mengurus. Setidaknya, ada seorang nenek yang kerap duduk di depan pagar, tidak jauh dari rumah Suita. Nenek itu hanya memandang ke pagar tetangga depannya. Hanya kepada nenek itu, Suita merasa punya tetangga. Meski jarang berbicara atau sekedar memandang.

            Andy mengirimkan pesan singkat. Sedikit terlambat pulang, katanya. Suita sudah terbiasa dengan kabar itu belakangan ini. Dua tahun terakhir, Andy memang meluangkan waktu ekstra untuk sebuah restoran baru milik keponakannya. Selain pintar meracik bahan makanan, Andy sudah bosan bekerja kantoran. Menjadi pegawai kantor dengan jam kerja lembur setiap hari, hanya akan membuat jaraknya dengan Suita kian melebar. Jadi, sebelum pria itu benar-benar meninggalkan profesi keahliannya, ia berusaha membiasakan diri dengan situasi dapur restoran. Hidup sederhana dengan profesi sederhana. Setiap saat mencium aroma makanan, membuatnya gembira. Lagipula, Suita bisa menunggunya di restoran jika akhir pekan tiba.

            “Bisa titip pembalut?”Suita meninggalkan pesan suara pada Andy. “Ini sudah masuk tanggal datang bulan.  Badanku tidak enak, agak meriang. Perutku juga terasa kembung.”

            Andy mengiyakan. Lalu meninggalkan balasan suara, “Ada ikan bawal nih, mau bumbu kecap atau asam manis?”

            Suita tersenyum mendengarnya. Tidak ada suami sebaik Andy, Suita yakin sekali. “Bumbu kecap. Bawangnya banyak ya.”

            Perempuan paruh baya itu melanjutkan aktifitas sorenya. Ia menyetel radio, mencari gelombang favorit dengan penyiar terkocak se-seantero kota. Ia akan mendengar lagu-lagu kenangan sembari mencuci piring. Musik mengalun membuatnya sedikit lupa akan rasa sakit yang hinggap di rahimnya. Suita sering mengalami sakit rahim menjelang menstruasi. Tidak sadarkan diri di sekolah sampai diantar pulang wali kelasnya sudah menjadi cerita lazim di masa remajanya. Sejak menikah dengan Andy, jika lelaki itu ada di rumah, ia akan mengisi bak mandi dengan air hangat dan menaburkan garam mandi aroma melati. Suita selalu menyukainya.

            Pukul setengah enam sore. Sebentar lagi adzan magrib berkumandang, pikir Suita. Perempuan itu bergegas menyiapkan minuman segar untuk Andy. Buah semangka yang manis. Andy tidak suka teh di malam hari. Ia lebih suka minum es jika badannya lelah. Suita mengeluarkan buah semangka bulat berukuran sedang dari dalam kulkas. Dengan kedua tangannya yang kecil, ia memeluk semangka itu dan menempatkan perlahan di atas talenan. Tangan kanannya meraih pisau, hendak membelah semangka menjadi dua. Namun tangannya terhenti. Kulitnya meraba halus permukaan buah berwarna hijau paduan itu.

            “Buah ini terlalu bulat. Terlalu halus. Persis seperti perut ibu hamil.” Ucap Suita lirih. Ia mengangkat semangka dan menciumi bagian di mana sulurnya tumbuh. Suita menciumi semangka itu. Begitu wangi, begitu lembut. Ia teringat pada perjalanan pulangnya tadi sore.

            Siang menjelang sore tadi, Suita pamit pulang lebih dulu pada Yusi, redakturnya. Yusi sudah maklum. Sebulan sekali, Suita pasti akan menemui “masa bertapanya” dan Yusi harus mengizinkan dia pulang sebelum rasa sakit rahimnya menjalar dan ia pingsan di kantor. Ketika berada di dalam bus, Suita melihat perempuan hamil muda berdiri bersama suaminya. Dia yang paling dekat di situ, lantas ia berdiri dan mempersilakan perempuan muda itu menempati kursinya. Dengan pandangan penuh terima kasih, perempuan muda itu duduk. Tangan kirinya masih menjabat erat sang suami yang berdiri menggendong tas. Suita memperhatikan kedua insan itu dengan amat bahagia. Terutama ketika telapak tangan perempuan itu mengelus lembut perutnya yang bulat buncit.

            Entah apa yang membuat Suita begitu senang sampai-sampai ia kembali mengingat peristiwa di bus siang tadi. Segalanya menjadi menggembirakan; hanya karena sebuah semangka dan memori. Tanpa sadar, setelah Suita meletakkan semangka itu lagi, ia mulai menggosok lembut perut rahimnya. Membayangkan seandainya benar-benar ada jabang bayi di sana. Membayangkan masa-masa penantiannya selama sepuluh tahun ini, menanti anak dari hasil kawinnya dengan Andy. Membayangkan jika hari demi hari perutnya kian membesar dan ia kan memberitahu mama mertuanya dengan suara bangga. Penuh kebanggaan untuk menyatakan, “Mama, aku bisa memberikan cucu untukmu.” Meski nalarnya tahu benar kebahagiaan imajinasi itu paling banter bertahan dalam hitungan menit, Suita masih ingin melanjutkannya. Ia mungkin sudah mulai lelah berdoa. Namun hasratnya kali ini sungguh sulit dibendung dengan hanya satu kalimat, “ah, ini cuma khayalan.”

            Adzan berkumandang. Jam kukunya berdentang enam kali. Semangka bulat itu dibelahnya menjadi dua bagian. Sejenak dalam hening ia pandangi daging merah buah semangka wangi itu. Belum sempat ia keruk, lampu rumahnya padam. Semburat cahaya petang biru kemerahan menyelesak masuk.

            Tidak ada pemberitahuan kalau sore itu listrik akan dipadamkan satu jam. Suita meninggalkan dapur. Ia bergegas menuju ruang keluarga dan menyabut kabel radio. Sedikit mendengus kesal lantaran bakal melewati segmen kesukaannya. Satu jam tanpa listrik di saat magrib dan artinya harus menyalakan lampu cadangan. Ia mencari-cari di mana sang suami terakhir kali menaruh lampu jaga itu. Hampir sepuluh menit lebih ia masih mencari sementara rumahnya kian gelap. Matanya hanya menangkap setumpuk kardus berisi lilin panjang beserta pemantiknya. Jemari lentik Suita mulai cepat mengeluarkan lilin panjang satu persatu. Sedikit bergetar sebab ia begitu benci dengan kegelapan. Suita berhasil menyalakan satu lilin. Dua lilin. Tiga lilin. Empat lilin.

            Angin semilir masuk dari celah ventilasi. Suita bergidik.

            Api-api mungil pada lilin bergoyang. Api lilin keempatnya padam. Suita menyalakannya lagi. Api lilin ketiganya padam. Suita menggeser tubuhnya ke kiri dan menyalakannya lagi. Api lilin keduanya padam. Suita mengatur napasnya. Tubuhnya mulai gemetar. Ia nyalakan lagi api di lilin kedua. Dengan waspada ia memandangi lilin pertamanya. Sedikit menunggu. Lilin pertama tetap berpijar. Suita menghela napas, mungkin hanya kebetulan, pikirnya. Perempuan itu tersenyum dan memutar tubuhnya. Namun telinganya mendengar sebuah tiupan.

            Api lilin pertama pun padam.

*

             Saat rahasia dimulai. Jiwa merana bersemayam. Di sanalah kan tertanam harapan. Dengan tiada berkabar ia terus tumbuh. Sang jiwa kembali bersuka. Sampai waktunya kelak, harapan itu kembali musnah. Maka jiwa bergumam dengan khusyuk. Sebuah permintaan kepada Sang Pemelihara pun akhirnya tersemat.

            Masih bergetar tubuhnya. Suita duduk di ruang tamu dengan posisi tangan merangkul kedua kaki di dada. Selain kulit menyesap udara yang kian sejuk, lilin-lilin yang sudah ia nyalakan kembali padam. Kini ia tak berani bergeser sedikitpun. Ia berusaha menyibukkan diri dengan curhat melalui pesan singkat kepada Andy, meski berulang kali sinyal mandek. Jemarinya terus mengetik layar sentuh telepon genggam sembari masih  merangkul kedua kakinya.

            “Cepat pulang,” ucap Suita lirih. Entah mengapa, lidahnya kelu untuk berdoa. Dan, jauh dari pada rasa takutnya itu, Suita merasakan sesuatu bergejolak di dalam perutnya. Sesuatu yang mulai berdetak-detak dan mencoba ia acuhkan. Dia bahkan sempat berpikir, betapa hebatnya ketakutan itu jika bercampur dengan gundah, gelisah, kesal dan cemas. Tidak hanya rasa sakit, namun pula gejolak-gejolak baru. Sekelebat, Suita hanya beranggapan bahwa gejolak itu mungkin karena ia akan datang bulan. Di dalam hatinya hanya satu; semoga Andy segera pulang. Semoga semua rasa takut ini hanya ilusi semata.

*

            Jauh dari malam aneh Suita, sebuah keluarga kecil sudah mulai beranjak tidur. Ramli sudah merapikan kasur, menyusun bantal dan guling. Kelambu kamarnya sudah terlepas dari ikatan pita  kecil di ujung tiang kasur. Kelambu putih berjaring. Tina, istrinya masuk dengan langkah pelan namun kuat menapak. Seperti kaki-kaki penari keraton yang elok menumpu taris. Tangannya menyibak lembaran kelambu berjaring dan mulai merebahkan diri terlentang. Teramat berjaga dengan kandungan yang dibawanya. Tina selalu menggenggam kuat telapak tangan Ramli, seakan-akan khawatir bercerai dari pria penyayang itu. Di bus, di jalan, di toko belanja, bahkan kini sudah hendak tidur pun masih digenggamnya.

            “Kau tahu, Mas. Firasatku tidak enak belakangan ini.” Tina tiba-tiba saja membuka obrolan. Ramli yang sudah setengah terpejam jadi membuka mata lebar-lebar. Dipandangi wajah istrinya, pundaknya, kedua bulatan sintal di dadanya, perut yang kian membesar dan tangan yang selalu menggenggam.

            “Sebab itukah kamu selalu menggenggam tanganku?”

            Tina mengangguk pelan. Ramli termenung sebentar. Daripada bertanya apa firasat itu, yang mungkin akan berkaitan dengan masa lalu mereka, Ramli lebih memilih untuk menenangkan istrinya, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Dik.” Kini, giliran ia genggam tangan istrinya itu lekat-lekat. “Selama Mas ada di sisimu, Mas akan berusaha meyakinkan, semua akan baik-baik saja.”

            Keduanya mencoba untuk tidur. Namun Tina masih mengedarkan pandangan. Ia menatap kelambu putih berjaring cukup lama. Diliriknya Ramli, sudah hampir pulas. Genggaman tangannya mulai kendur. Tina duduk perlahan, bersandar pada bantal empuk di punggungnya. Jemari telunjuk kirinya menyentuh kelambu. Kain itu bergoyang-goyang tertiup angin dari kipas kecil di sudut kamar.

            Jemari Tina masih menyentuh kelambu dan bermain-main sejenak. Sebenarnya, Tina teringat akan mimpinya beberapa hari kemarin. Kelambu berjaring itu makin menguatkan mimpinya yang tersusun-susun. Ia berada di sebuah ruangan. Hampa dan sunyi. Ia berjalan dengan perut besarnya. Menghampiri sudut ruangan. Tina tidak mendengar apa-apa, tidak menjumpai apa-apa selain tembok putih berdiri mengukungnya. Sampai disitu, ia lantas terbangun. Tina penasaran akan kelanjutan mimpinya. Jika ia kembali ke masa kanak-kanak, dengan mudah akan ia ketahui apa kelanjutan dan makna mimpi itu. Tina sudah cukup hebat untuk disebut Penenung. Ia bahkan masih sedikit ingat betapa mahirnya ia meramal mimpi-mimpi dan mewujudkannya, atau melenyapkan dalam sejentik jari.

            Rahasia itu yang tak ingin ia bongkar. Ia tak bisa berkisah lebih jauh selain berkeluh kesah pada suaminya. Kalimat “firasatku tidak enak” adalah yang terbaik yang bisa ia sampaikan. Jika kebablasan, apalagi bicara soal mimpinya yang belum rampung itu, bisa jadi membuat Ramli makin penasaran yang nantinya berujung pada pembongkaran identitas Tina di masa lalu. Tina mulai mengantuk. Dia mulai merebahkan diri lagi. Ingatan masa kanak-kanak dan titisan magi dalam darahnya masih menggenang halus dalam benak. Tina mulai menguap kecil, dan tidur untuk beberapa waktu.

*

            Andy belum datang.

            Sementara kesejukan mulai reda, berganti peluh bertetesan dari dahinya, Suita membuka mata dari tidur singkatnya. Lampu sudah menyala. Segera ia melangkah menuju AC dan menyalakannya. “Ah, aku hanya mimpi buruk. Buktinya, api lilin-lilin itu masih berpijar.” Suita berbicara sendiri sambil meniup api lilin satu persatu. Perasaannya cukup tenang. Meski hatinya bertanya-tanya dan entah ada suatu perasaan ganjil bersemayam, setidaknya Suita merasa lebih baik. Ia melangkah ke dapur, hendak melanjutkan minuman semangka segar. Namun kedua bola matanya menangkap pemandangan paling tak lazim di seumur hidupnya;

            Daging semangka itu berceceran seperti sudah dicongkel-congkel dari kulit. Air merah semangka menetes-netes dari atas talenan, mengalir di lantai dan bergerak ke arahnya. Bergerak, ya, seperti ada yang menarik kuat dari dalam tubuh Suita. Begitu sampai pada ujung jempol kakinya, Suita segera berpaling dan bergegas masuk ke dalam kamar.

            Sebuah cermin besar bergantung pada dinding kamar. Suita mampu melihat sosok dirinya tepat seusai ditutupnya pintu kamar dengan kepanikan yang mendidihkan ubun-ubun.

Suita menjerit.

*

Napas Tina tidak beraturan. Kulitnya beku, pucat kelabu seperti mayat. Ramli terganggu tidurnya. Ia kaget saat nampak istrinya bagai kehabisan darah. Tina meronta-ronta. Tangan kirinya menjambak kuat kain kelambu putih berjaring dan menarik-narik dengan kasar. Beberapa detik kemudian, kain itu ambruk, menutupi sepasang suami istri itu. Tina masih menggelepar seperti ikan yang terlempar dari pukat dan berkelejatan di atas dek kapal. Ramli mencoba menyingkirkan kelambu dan menyeka wajah Tina dengan amat prihatin. Kelambu itu masih berada di sekitar Tina, sedikit membalut perutnya.

            “Dik, bangun, Dik. Kamu mimpi buruk!”

            Tina masih berkelejatan dan napasnya kian tersengal-sengal. Ramli tak patah arang. Begitu kuat cintanya pada Tina, ia peluk tubuh istrinya itu dengan segenap tenaga. Tina mulai lemas. Kepalanya menggeleng ke kanan, perlahan kemudian ke kiri. Kelopak matanya berkedut-kedut, kian pelan kian tenang. Ramli bermaksud menyingkirkan kelambu yang membebat tubuh istrinya itu namun ia hampir terjengkang saking kagetnya ketika Tina menahan tangan Ramli dan berujar parau,

            “Enyah kau laba-laba!”

*

Ramli memeluk erat istrinya itu. “kenapa perutmu mengempis?” Tina memandang perutnya yang tak lagi bulat sempurna. Ramli bahkan terkejut sebab baru menyadari hal itu.

            “Mimpiku tadi,” Tina melanjutkan ceritanya. “Dinding-dinding putih mengurungku. Di sudut dinding terdapat seekor laba-laba kecil yang sedang menenun benang dari liurnya. Aku berusaha mendekati dan mengajaknya berbicara seperti seorang teman. Namun dia berhenti merajut. Laba-laba itu malah bersenandung,

            Rumahku tak ubahnya air liur mengering

            Tiup dengan bibirmu dari jarak sehasta; kau dapati luluh lantak!

            Begitupun dirimu,

            Kau rajut angan-anganmu.

            Namun tak ubahnya angan-angan itu, bagaikan rumahku!”

***

            Ada yang salah dari langit itu, pikir Sofyan. Belum waktu malam, namun langit sudah gulita dan kartika telah berpendar cantik. Ayahnya sudah menunggu di depan pagar, sedikit sinar kuning yang bertabrakan membuat pria itu tak sadar dengan apa yang dipikirkan putranya. “Sudah adzan. Kita harus sampai masjid sebelum iqamat.”

            Sofyan berjalan keluar, masih bersimbah air wudhu. Dari terompahnya bertumpah-tumpah percikan air. Belum sempat melangkah lebih jauh, Sofyan tertegun. “Peciku tertinggal,”ujarnya dengan raut kecewa. Tak lama ia buang angin, “…dan kentut.”

            “Mari, Pak Andy,” sapa seorang tetangga. Yang disapa segera mengangguk membalas, “Silakan, Pak Tahir.” Pak Andy masih menyisakan senyum sedikit dan melihat tetangganya berlalu menuju masjid. Senyum itu lekas pudar saat iqamat berkumandang.

            “Lebih baik kau bergegas. Atau salat di rumah bersama ibumu.”

            Sofyan segera berpaling hendak berwudhu lagi dan mengambil peci. Tapi matanya tertumbuk pada jejak terompahnya. Air wudhu begitu cepat menyerap ke dalam tanah, pikir anak itu. Dan, Eh, bukankah ini aspal?

            Anak lelaki bernama Sofyan itu segera salat bersama ibunya di rumah. Mereka menggumamkan doa-doa, tangan mereka mengangkat naik dan ibunya sedikit terisak-isak. Ibu Sofyan, selalu menangis dalam salatnya. Salatku adalah penjaga. Salatku adalah penguat. Perempuan itu sering mengatakan hal demikian pada Sofyan. Dalam jiwanya.

            “Kau itu titipan, Nak. Dan suatu saat kau akan dikembalikan.”

            Sofyan akan selalu mendengar ibunya berbicara demikian. Setelah salat, sepulangnya dari masjid, atau di saat-saat tertentu ketika sang ibu berwajah pucat. Sofyan tidak mau mengganggu ibunya dengan pertanyaan yang rumit. Ia pernah bertanya sekali tentang laba-laba yang sering muncul di loteng rumah besar itu.

            “Jika ada yang bertanya, rumah apa yang paling rapuh di dunia? Kau bisa menjawabnya, rumah laba-laba.”

            Tapi setelah menjawab, ibunya tidak sadarkan diri. Sofyan tidak mungkin tidak bertanya. Ia selalu bertanya bahkan setelah peristiwa itu. Dan jika ayahnya tahu, Sofyan akan dikurung di loteng. Jangan bertanya, jangan terusik. Apapun yang kau lihat hanya ada di kepalamu. Tidak ada di kepalaku, tidak ada di kepala ibumu.

            Bagaimanapun, ibu tetaplah curahan hati. Selepas salat, Sofyan dipandangi benar oleh perempuan itu dan ia berkata, “Meskipun aku akan selalu sakit jika menjawab pertanyaanmu, aku berusaha untuk bisa mengetahuinya.”

            “Ibu,” Sofyan menelan ludah. Kali ini dia tahu, dia bakal dikurung lagi di loteng. “Aku melihat air wudhuku selalu tumpah. Di lantai. Di aspal. Di tanah. Di manapun itu dan selalu terserap dengan cepat.” Sofyan lalu berlari kecil menuju kamar mandi dan berwudhu. Ia perlihatkan pada sang ibu dengan berjalan di hadapannya. “Apakah kau lihat, air wudhuku terserap?”

            Ibunya tak hanya melihat air wudhu yang terserap. Namun juga bunyi desis seperti genangan air yang mengering tersorot sinar matahari panas. Perempuan itu berdiri dari alas ibadahnya menuju teras. Suaminya baru saja masuk dan menutup pagar. Ketika ia melihat istrinya hendak rubuh, tubuhnya spontan menahan. “Sudah waktunya,”perempuan itu berbisik di kuping suaminya. Sampai waktunya kelak, harapan itu kembali musnah. Maka jiwa bergumam dengan khusyuk. Sebuah permintaan kepada Sang Pemelihara pun akhirnya tersemat.

            “Suita!”Pria bernama Andy itu mengguncang-guncang bahu istrinya. Ia tidak melirik marah pada Sofyan, bagaimanapun, ia juga merasakan firasat yang sama. Sampai waktunya kelak, harapan itu kembali musnah. Andy membopong Suita menuju kamar tidur. Telinganya masih jelas terngiang kalimat itu. Suita sering mengatakan hal-hal aneh sejak malam munculnya Sofyan.

            Kau bisa membaca pikiranku, bukan? Pikir Andy. Sofyan mengangguk. “Sepuluh tahun penantian kami. Kau datang suatu malam dengan amat misterius. Kami membesarkan kau dengan sebaik yang kami bisa.” Saat itu Sofyan memilih untuk mengurung dirinya di loteng. Hukumannya di loteng tak pernah dianggapnya sebagai rasa benci sang ayah. Sofyan sudah bisa mengerti itu bahkan sebelum ayahnya berteriak menyuruhnya ke atap.

            Adalah cinta kepada istri yang menjadi kebanggaan seorang ayah, pikir Sofyan. Dengan masih bertanya-tanya ia menatap gelapnya langit. Mungkin ada gerhana bulan, Sofyan mendengar pikiran ayahnya. Pria itu masih di bawah, merawat istrinya untuk segera siuman. Sofyan mengulurkan kepala keluar dari jendela loteng yang bundar. Tidak, bulan mulai memancarkan cahaya. Bukan gerhana, ini pasti tanda-tanda alam yang baru. Oh, sebab aku ibu selalu sakit. Sedangkan aku tak bisa menahan semua pertanyaan ini. Sofyan masih menatap dan berkutat dengan pikirannya sendiri.

            Pada masa-masa itu, Sofyan menjumpai sesuatu berkelebat cepat dari dalam tanah, mencoba melayang ke atas namun tersangkut pada ranting pohon. Ia mengerjapkan mata. Satu, dua, tiga, apakah aku bisa menghampirinnya saja? Batin anak itu. Ia berlari turun menuju pohon besar di depan rumahnya. Ia berdiri di bawah pohon, memperhatikan seksama. Orang itu berasal dari lubang parit di tanah dan terbang melayang lalu tersangkut ranting. Kini dia memasang wajah tangis tapi suaranya tak terdengar sama sekali. “Kau siapa?”

            Jika kujawab, apakah anak ini mau ikut bersamaku ke dalam bumi? Sosok itu terlihat berpikir, dia memandang ke bawah—ke arah Sofyan—penuh rencana. “Aku bisa mendengar pikiranmu.” Jawab Sofyan lantang. Sosok itu sedikit terguncang. Sofyan merasakan hembusan angin kencang dari atas pohon menerjang dirinya.

            “Buka matamu, Nak.”

            Sofyan membuka perlahan kedua kelopak matanya. Sedikit terhenyak, memandangi sekitar. Rumahku tidak ada, semua rumah hilang! Sofyan hanya merasa dingin yang terlampau parah di bagian bawah sampai-sampai kuku kakinya mati rasa.

            Rupanya, makhluk itu menjerumuskannya pada sebuah lorong gelap dalam tanah, melewati parit. Mereka menarik Sofyan kuat-kuat dan menyandarkannya pada sebuah papan. Sofyan mulai menjajaki dunia baru itu dan menyadari bahwa ia sudah ditipudaya oleh sang makhluk. Tak berapa lama, makhluk yang membawanya itu berputar layaknya kumpulan angin tornado mengelilingi tubuh Sofyan. Semakin cepat dan semakin membuatnya bergidik.

            Anak lelaki itu mendengar langkah-langkah setelah pusaran tornado berhenti. Bunyi benda kering yang tirus, berdetar-detar menapaki lantai batu yang dingin. Sofyan masih bersandar, ia bangkit dan mulutnya merapal doa. Bunyi benda kering tirus itu masih berdetar. Dalam hitungan menit, bunyi itu berhenti tepat di hadapannya. Ia dihadirkan sesosok tulang belulang. “Kau masih punya air wudhu,” ia mengeluarkan lidahnya yang aus berusaha menjilat tetesan air wudhu yang sudah tercampur keringat pada dahi Sofyan. Tulangnya berpisah-pisah lalu tersusun rapi. Ia mendeham ringan seakan-akan setetes air wudhu itu bisa membuatnya lebih baik.

            “Lihat langit yang elok sebelum kau masuk ke sini?”

            Tulang belulangnya masih berdetar, “Aku yang membawamu masuk ke dalam rahim ibumu. Aku yang memindahkanmu dari rahim…ibumu.”

            “Aku sudah tahu.” Sofyan menjawab berdesis. “Tak perlu kutanyakan pada ayahku siapa diriku sebenarnya. Pikiran-pikiran mereka sudah dapat kuketahui bahkan dari sebelum aku lahir.”

            “Bagus,”

            “Tengkorak!” seru Sofyan,”jangan kau harap aku mau menjadi tumbalmu!”

            Tengorak itu terkekeh, bergemeletuk gigi gerahamnya dan ia membuka mulut, “Sudah menjadi perjanjian antara manusia dengan iblis. Dan aku menjalaninya ribuan tahun di sini.”

            “Kembalikan aku pada ayah-ibuku, Tengkorak Busuk!”

            “Kau bisa memanggilku, Atimoha.” Tengkorak itu terkekeh, “dan harus kukembalikan pada ayah-ibumu yang mana? Yang penyihir? Atau yang bertobat?”

            “Orang tuaku bukan penyihir. Mereka mencintaiku dan menginginkanku sampai kau dan budak-budak keturunanmu bersekutu memindahkanku!”

            “Jangan kau lupa, anak kecil.” Tengkorak itu mulai melemas. Lidahnya menjulur lagi mencari tetesan air wudhu. Ia mendapatkannya kali ini di bawah telinga Sofyan, pada rambutnya yang masih mengunci tetesan air. Ia berdeham lagi dan merasakan nikmat di seluruh tubuhnya. Ia mendekat, “Iblis berkedok Orang Saleh hanya bisa diketahui jati dirinya di dunia Ruh. Kau tahu? Air wudhu manusia-manusia berhati suci adalah obat kami. Adalah pelipur lara.” Suaranya tercekat.

            “Apa yang kau inginkan?”

           Tengkorak bernama Atimoha itu mengulurkan tangannya, “kau akan ikut denganku ke langit. Malam ini, semua kebencian akan bersatu.”

            “Aku tidak membenci siapapun,” Sofyan bersikeras, “kembalikan aku.”

            “Titisanmu adalah kebencian. Kita akan selalu membenci dan ini belum menjadi akhir. Sudah selesai waktu mereka untuk mengasuhmu. Kini kau pengikutku. Atau…”

            Sofyan sudah tahu. Sebelum tengkorak itu mengeluarkan kalimat kejinya, ia mengangguk sepakat. “Bawa aku sebagai budakmu. Tinggalkan kedua orangtuaku sendiri.”

            “Mari,” tengkorak itu berjalan menuju pintu yang mengarah ke luar bumi. Ia merasa senang mengajakku,ia hanya butuh bertahan dengan menjilati air wudhuku, aku bisa mengatasi ini, pikir Sofyan. Tengkorak itu berkata,  “Kita selesaikan cerita ini, Anak kecil.”

***

Malam menjaga sebuah rahasia tentang rencana besar beberapa makhluk. Mereka dengan anggunnya menari menuju sebuah meja perkumpulan di langit. Bayangan mereka berkelebat. Sempurnanya dua belas warna pelangi yang berputar dan memendarkan cahaya putih kebiruan.

Posted in Literatures, Short Stories | Leave a comment

Tradisi Menabung Para Perempuan; Dari Zaman Cleopatra Hingga Madonna, Mulai dari Kesehatan, Pendidikan, sampai Kehamilan dan Persalinan!

index

Konon, sejak tahun 3100 Sebelum Masehi, perempuan di Mesir Kuno sudah memiliki hak setara dengan laki-laki dalam hal pengaturan keuangan. Mereka bahkan mampu membeli, memiliki dan membuang properti atas nama mereka sendiri.

Waktu bergulir, Islam yang hadir di dunia Arab kurang lebih pada tahun 600 Masehi membebaskan perempuan yang kala itu dalam belenggu dan tekanan. Perempuan bebas untuk mewarisi aset, membeli properti yang mereka inginkan dan bahkan diizinkan untuk menggugat cerai pernikahan.

Sejarah kemudian mencatat pasang surut kebebasan perempuan dalam mengelola keuangan, aset dan properti mereka di berbagai belahan dunia. Namun, kaleidoskop sejarah itu juga membuktikan betapa perempuan memang sepantasnya memiliki hak (dan bahkan sudah semestinya) menabung juga memiliki properti. Hal itu sudah sewajarnya karena memang kebutuhan perempuan lebih kompleks dibandingkan laki-laki.

Perempuan dan Kebutuhan Kesehatan Reproduksi

Tidak seperti laki-laki, perempuan memiliki “jadwal rutin” setiap bulan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Jika bicara soal “jadwal” itu saja sudah terbayang berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan. Belum lagi jika masalah-masalah kesehatan yang melanda perempuan selama “jadwal” tersebut berlangsung.

Lagi pula, rahim, salah satu organ dalam tubuh perempuan yang tidak dimiliki lelaki ini memiliki peran vital dan harus dijaga kesehatannya. Sebab, perempuan pada umumnya ingin merajut mahligai rumah tangga dan tentunya memiliki keturunan dari rahimnya sendiri. Bagaimana tidak penting, rahim merupakan tempat satu-satunya di mana janin bersemayam.

Hal ini kemudian menjadi sangat perlu untuk diperhatikan. Kesehatan alat dan organ reproduksi perempuan sangat kompleks. Begitupun usaha-usaha untuk merawatnya. Tidak heran, perempuan sangat tidak bisa lepas dari aktivitas menabung. Dengan menabung sejak dini, seorang perempuan akan mampu menolong dirinya sendiri di masa mendatang. Kebutuhan pemeriksaan kesehatan kini tidak berada pada nominal yang rendah. Akibatnya, seringkali perempuan yang kurang menyiapkan tabungan untuk kesehatan reproduksinya merasa kecewa karena tidak bisa merawat tubuhnya dengan optimal.

Perempuan dan Pendidikan

Sama seperti menjaga kesehatan reproduksi, pendidikan juga kunci utama keberhasilan seorang perempuan. Sebagai sekolah pertama (al-madrasatu al-ula) bagi anak-anaknya, perempuan sudah mesti banyak mempelajari ilmu dan keterampilan. Di zaman yang sudah final dengan persoalan gender ini, pendidikan terhadap perempuan merupakan kehormatan yang layak diperjuangkan.

Tradisi menabung untuk pendidikan perempuan tidak berbatas pada gelar-gelar akademik tertentu. Sebab, minat dan bakat setiap perempuan berbeda. Pendidikan juga tidak melulu soal duduk di bangku kuliah. Dengan mengikuti pelatihan atau kursus, perempuan juga sudah mampu dikatakan dapat menguasai keterampilan tertentu. Untuk itu, kebutuhan menabung dan pemenuhannya pun beragam.

Perempuan dan Aset

Pemikiran bahwa aset akan dimiliki sebab warisan atau pemberian suami sepertinya tidak akan terjadi pada perempuan masa kini. Kebutuhan memiliki aset tidak dapat dipandang jika seorang perempuan sudah menikah. Sebelum menikah, perempuan pun sudah sepantasnya mempertimbangkan diri untuk menyiapkan aset bagi dirinya. Tidak ada aturan tertentu yang melarang perempuan memiliki kapasitas dalam hal itu. Menabung selama usia produktif bekerja untuk memiliki aset sangat diperlukan, baik seorang perempuan ingin menikah atau tidak.

Kebutuhan aset dapat disesuaikan dengan penghasilan dan gaya hidup seorang perempuan. Namun, hanya perempuan yang bijaklah yang mengerti perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Menabung untuk membeli aset seperti tempat tinggal dan kendaraan sepertinya sudah sangat lazim saat ini. Perempuan tentu memiliki haknya atas kebutuhan tersebut.

pregnant

Kehamilan dan Melahirkan adalah peristiwa terhebat bagi seorang perempuan. Menabung akan membantu segalanya menjadi lebih mudah. (dokumentasi pixabay.com)

Ketika Perempuan dihadapkan dengan Kehamilan. Bukan hanya penting akan kebutuhan dirinya yang mempersiapkan diri sebagai ibu. Tapi juga kebutuhan buah hatinya, selama dalam kandungan, saat persalinan dan setelah melahirkan. Menjadi ibu, bukan berarti berhenti menabung. Bijak mengatur finansial justru akan mulai matang di tahap ini.

Perempuan yang sudah terbiasa menabung sejak kecil akan mengalami titik klimaks di tahap ia mempersiapkan dan menjadi seorang ibu. Selain sadar bahwa dirinya patut dirawat, dimanjakan sesuai dengan kebutuhan, terlebih saat berbadan dua. Perempuan di tahap ini juga akan banyak mempertimbangkan kebutuhan penting untuk buah hatinya.

Sebagai contoh saja, saya yang saat ini sedang mengandung anak pertama di usia delapan bulan kandungan sangat merasakan betul manfaat dari menabung. Di awal pernikahan, saya dan suami sudah sepakat bahwa kami menyisihkan beberapa penghasilan untuk mempersiapkan kehamilan, persalinan dan kehadiran buah hati. Sekecil apapun nominal tabungannya sangat terasa manfaatnya di dalam perjalanan rumah tangga kami.

Menabunglah Sebab Tidak Semua Kehamilan Terasa Mudah

Begitu menerima kabar pasti kehamilan dari dokter kandungan akhir Desember 2017 lalu, saya mulai memeriksa anggaran keuangan rumah tangga. Di sana, kami sudah menabung untuk persiapan kehamilan melalui asuransi kesehatan. Saya pikir, kehamilan ini akan berjalan mulus tanpa kendala. Ternyata saya salah besar. Trimester awal kehamilan saya sudah dihadapkan dengan rasa sakit dan muntah berlebih (Hiperemesis Gravidarum). Sehingga saya harus dirawat di rumah sakit sampai tiga kali.

Tabungan yang sebelumnya sudah kami siapkan melalui asuransi kesehatan berperan besar saat itu. Kami tidak kerepotan dengan biaya sewa kamar rumah sakit dan obat-obat yang saya terima. Bolak-balik sampai tiga kali dengan kasus sama pun tidak menjadikan masalah. Setidaknya, ketika saya sudah tepar dan suami sudah cukup panik, kami tidak lagi dibebankan masalah biaya dan tetek-bengeknya.

Konsep menabung dalam bentuk asuransi kesehatan sangat membantu untuk kondisi kehamilan bermasalah seperti yang saya alami. Konsep ini mungkin bisa diadaptasi oleh para ibu muda dengan kehamilan pertama mereka. Alasannya, karena ketika rasa sakit melanda saat hamil, kita tidak perlu lagi meributkan keberadaan dan jumlah uang. Dengan menabung melalui asuransi kesehatan, kita bisa nyaman dan tenang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Mempersiapkan Persalinan Bukan Main-main, lho!

top-view-unisex-newborn-baby-260nw-433541749

Perlengkapan Bayi Memang Banyak, Bunda!

Salah satu yang paling membuat seorang perempuan bakal ibu menjadi senang. Atau setidaknya, tidak terlalu terasa penat dan lelahnya mengandung. Adalah ketika ia berkesempatan belanja kebutuhan persalinan dan buah hatinya pasca lahir.

Perlengkapan bayi yang seabrek itu sesungguhnya bisa disesuaikan lagi. Bahkan bisa dicicil per bulan selama kehamilan sampai persalinan tiba. Jika pasangan suami-istri tidak melakukan persiapan dana untuk menyambut itu semua, si ibu pasti akan mengalami kekhawatiran. Padahal, tanpa memikirkan biaya pun seorang calon ibu sudah pasti khawatir akan banyak hal. Dia sudah repot dengan sakitnya hamil. Calon ibu yang bekerja di kantor maupun menjadi ibu rumah tangga sama-sama merasa repot dan tentu punya banyak pikiran. Persiapan menabung untuk cicilan perlengkapan calon anak semestinya bukan kendala di saat kehamilan berlangsung.

Saya dan suami punya cara sendiri untuk mengatasi biaya tersebut. Setiap bulannya kami menyisihkan dana untuk membeli perlengkapan bayi dan biaya persalinan kelak. Dari awal trimester kehamilan, kami sudah mempertimbangkan di mana saya akan bersalin. Meski dalam perjalanan kehamilan ini kami masih suka mengganti opsi. Namun pada akhirnya, kami memiliki standar dan nominal biaya yang cocok sesuai kemampuan kami. Karena saya berniat untuk melahirkan di Rumah Bersalin bersama bidan, saya pikir akan lebih bijak untuk mengikuti TABULIN (Tabungan Bersalin).

Para ibu muda dengan kehamilan pertama seperti saya pasti butuh banyak survey Rumah Bersalin atau Rumah Sakit. Apapun keputusannya, di manapun tempatnya, opsi menabung sejak trimester awal kehamilan adalah tindakan bijak. Ketika tiba masanya persalinan, sang ibu diharapkan tidak perlu lagi memikirkan biaya. Dia akan fokus pada pengontrolan emosi dan kesehatannya untuk melahirkan. Sebab, ketenangan batin dan pikiran seorang perempuan yang hendak melahirkan merupakan yang utama.

Menabung Untuk Persiapan Sekolah Anak

Adalah hal lumrah bagi sepasang suami-istri untuk merencanakan di mana kelak anaknya bersekolah. Padahal calon anaknya masih ada di dalam perut. Jika kita punya pemikiran seperti ini, selamat! Tandanya, kita benar-benar sadar bahwa segalanya butuh dipersiapkan.

Setelah persalinan dan kebutuhan sandang pangan sudah terpenuhi, seorang ibu biasanya mulai berangan-angan tentang pendidikan anaknya. Dia sadar bahwa biaya pendidikan tidak serta merta murah. Indonesia masih belum menganut sistem pendidikan gratis di semua wilayahnya. Angan-angan itu boleh jadi suatu “panggilan” bagi suami-istri untuk kembali ancang-ancang dengan menyiapkan tabungan buat si kecil.

Kini, tidak sulit untuk menjamin penyimpanan keuangan demi masa depan. Kita bisa menyimpannya dalam bentuk tunai di bank, atau deposito. Asuransi pun melayani fasilitas menabung untuk pendidikan. Apapun bentuknya, keputusan suami-istri menabung demi persiapan pendidikan anaknya merupakan sikap yang tepat. Ada waktu cukup panjang dari bayi berusia nol hari sampai dia siap usia bersekolah (sekitar lima tahun untuk taman bermain). Selama itu, pasangan suami-istri seharusnya sudah sangat siap dengan tabungan mereka, apapun versinya.

joan-Rivers

(sumber:www.dailyworth.com)

Menabung Mengantisipasi Krisis Finansial

Menabung sejatinya bukanlah bentuk ketakutan manusia akan hidup. Justru sebuah bentuk tanggung jawab manusia terhadap dirinya dan keluarga yang ia bina. Terkadang masih ada perspektif konservatif maupun tradisional di masyarakat kita tentang hakikat menabung. Apalagi jika sudah bicara menabung melalui asuransi. Padahal, bagaimanapun bentuk tabungannya, bisa disesuaikan dengan preferensi masing-masing individu.

Jika setiap perempuan Indonesia sadar pentingnya menabung, maka bisa dikatakan tiap keluarga akan lebih rendah resiko menghadapi krisis finansial. Bahkan pada kenyataannya, tabungan tidak melulu hanya disimpan, perempuan cerdas dan kreatif sudah tentu akan “menyulapnya” menjadi putaran uang yang berlipat. Era  digital memungkinkan segalanya terjadi dan sejujurnya mampu memfasilitasi perempuan untuk semakin maju dalam berpikir dan bertindak. Namun bagaimanapun juga, dengan tabungan pasif dan tradisional sekalipun, seorang perempuan sudah mampu menolong (minimal) dirinya sendiri dalam menghadapi tantangan zaman dan dinamika sosial masyarakat.

Selain itu, bicara tabungan tentu bicara uang. Uang memang bukan segalanya, seperti yang dikatakan Joan Rivers. Perempuan pertama yang membawakan acara The Late Show with Joan Rivers ini malah memberi pandangan bahwa dengan uang (apalagi konteks uang tabungan) yang kita miliki, kita setidaknya bisa melakukan apa yang kita butuhkan.

Sampai kapanpun, keterkaitan perempuan dengan menabung sangat erat. Hal ini dikarenakan peran perempuan sangat banyak dan krusial bagi keberlangsungan suatu keluarga, masyarakat dan negara.  Bravo, perempuan Indonesia!

Tulisan ini merupakan partisipasi untuk lomba “LPS Press & Blogger Awarding 2018: Photos and Articles” dengan Tema “Inspirasi Ayo Menabung”

#LombaLPS #AyoMenabung

Posted in Journalistic, Partisipasi Lomba Blog, Pregnancy Stuff | Tagged , , , , , , , , , | 3 Comments

Akibat Menabung: Belajar dari Pekerja yang (juga) melanjutkan Sekolah Tinggi.

pernahkah kamu mendengar cerita yang begitu menyentuh dari sebuah kegiatan menabung? Jika belum, cerita pendek berikut ini bisa jadi teman makan siangmu. Selamat membaca!

AK. Dawami

Jika ada sebuah aktivitas yang pantas untuk dikatakan sebuah keajaiban, ku katakan itu adalah menabung.

Pendidikan adalah hak seluruh warga negara yang hidup dan tinggal di Indonesia. Pada umumnya kita dikenalkan pendidikan dari mulai Usia Dini, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, sampai Perguruan Tinggi. Banyak orang tua di wilayah pedesaan menginginkan anaknya menjadi Sarjana, dibandingkan menjadi buruh di desa.

Tak berbeda jauh dengan Satrio yang telah 6 tahun merantau di Jakarta semenjak lulus SMA 2010 silam. Aku belajar kepadanya, seorang anak yang lahir dari buruh tani dari tanah Mataram. Menyisihkan sepuluh ribu perhari untuk ditabung ke kotak rahasia, ketika ku tanya, “suatu saat pasti berguna.”

Kenapa rahasia? Karena tidak bisa dibuka dengan tangan kosong, minimal harus ada pisau untuk membukanya, kita bisa membeli kok di toko mainan. Murah pula. Baiknya bagi Satrio, tiada hari tanpa kotak tersebut dibawa. Ketika sudah penuh, dia hitung, dia tabungkan ke Bank, kemudian beli kotak lagi…

View original post 1,449 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Nalar Kritis Untuk Dunia Kritis

membaca-buku-bersama-anak

dokumentasi google dari http://www.risalah.com

Setiap anak lahir membawa anugerah berupa benih-benih kebaikan dan bakat istimewa. Keluarga adalah unit pertama yang menjadi sarana bagi mereka untuk tumbuh dan mengembangkan anugerah tersebut. Anugerah itu kemudian menjadi bekal bagi anak untuk mampu bertahan juga menyejahterakan hidupnya di tengah kemelut dunia yang kian kritis.

Berbagai permasalahan sosial, ekonomi, dan budaya kelak akan menjadi tantangan setiap anak untuk dapat dilalui. Keseluruhannya, akan terlampaui lebih mudah jika setiap anak sudah disiapkan dengan nalar kritis yang sesungguhnya pun sudah mereka miliki hanya saja belum sepenuhnya terasah.

Kemampuan menalar setiap masalah dengan kritis sesungguhnya mampu menjauhkan anak dari potensi-potensi keburukan. Oleh karenanya, ada suatu jalan yang sering dilupakan bahkan disepelekan masyarakat yakni mempelajari filsafat, yang sesungguhnya memberikan manfaat besar bagi keseharian. Termasuk memberikan kontribusi pada keluarga untuk berperan dalam pendidikan di era kekinian yang kian menantang, kritis dan beragam.

Pendekatan Filsafat Untuk Anak Sejak Dini

Tenang saja, filsafat bukan hal yang berat juga bukan barang baru. Ia justru berada di sekitar kehidupan manusia meski keberadaanya abstrak tidak terjangkau penglihatan. Nyatanya, anak-anak adalah makhluk pertama yang paling peka terhadap sentuhan-sentuhan filsafat.

Sebagai manusia mungil, anak adalah seorang filsuf alamiah. Reza A. A. Wattimena dalam karyanya, “Pendidikan Filsafat untuk Anak; Pendasaran, Penerapan dan Refleksi Kritis untuk Konteks Indonesia,” mengutip apa yang dikatakan oleh Gregory (Stiftung, 2007:35-36) bahwa anak-anak selalu menjadi seorang filsuf yang mempertanyakan segala sesuatu termasuk yang sudah jelas bagi orang dewasa. Pertanyaan yang mereka ajukan bahkan seringkali mengandung unsur politis, metafisis dan etis.

Gregory juga menyaring dari berbagai penelitian bahwa penerapan gaya berpikir filsafat kepada anak mampu meningkatkan berbagai kemampuan seperti kemampuan berbahasa (linguistik), kemampuan bersosial, kemampuan menghadapi kegagalan (psikologis), dan kemampuan berpikir terbuka (ilmiah).

Oleh karenanya, anak yang sudah terbiasa dengan gaya berpikir filsafat akan mudah menghadapi tantangan global. Pendidikan berbasis filsafat menanamkan nilai-nilai sejak dini kepada anak. Bukan nilai yang hanya disandarkan pada agama atau tradisi tertentu melainkan pada banyak nilai yang terkandung di negara yang demokratis dan beragam seperti Indonesia. Sehingga, ketika dewasa kelak, anak-anak Indonesia akan tumbuh dengan pemikiran terbuka yang logis serta menghargai perbedaan.

Lantas, bagaimana cara agar keluarga mampu turut berperan dalam dunia pendidikan dengan pendekatan filsafat?

Menjadi Mitra Generasi Milenial

Salah satu masalah dunia kritis kini dikenal dengan istilah yang diungkapkan Zeitler sebagai “masyarakat banjir informasi”. Kondisi di mana kemajuan teknologi dan informasi membludak namun juga berbalapan dengan hoaks, informasi buruk, rentan pelecehan seksual dan pencucian otak. Kondisi ini membutuhkan tidak hanya sekedar pengawasan keluarga. Sikap hanya mengawasi ditambah perintah-perintah sudah banyak membuktikan anak tumbuh dengan intuisi pasif.

fake-2355686_960_720

Fake News atau Hoax (Hoaks) salah satu dampak negatif dari banjirnya informasi era digital (dokumentasi pixabay.com)

Segala sesuatunya dilakukan atau tidak hanya berdasarkan perintah dan takut sebab hukuman-hukuman tertentu. Bukan karena nalar mereka yang menuntun benar salahnya suatu keadaan, juga bukan karena kesadaran mereka bahwa ini atau itu memang harus dipelajari atau justru dihindari.

Untuk itu, upaya utama pendekatan filsafat dari keluarga adalah sepantasnya menjadi pendamping atau mitra. Bukan diktator, tukang perintah apalagi tukang marah-marah. Dengan banyak mendampingi anak, sebuah keluarga dapat membentuk nalar anak menjadi kritis sekaligus karakter dengan mental kuat. Anak akan merasa dihargai jati dirinya sebagai manusia yang juga memiliki hak untuk mengetahui dan menentukan baik buruknya suatu keadaan.

Alice Miller, seorang ahli psikoanalisis terkemuka menulis dalam For Your Own Good sebagai berikut: “Anak-anak memerlukan dukungan emosi dan fisik dari orang dewasa. Ini harus mencakup unsur-unsur berikut: (1) Penghargaan kepada si anak; (2) Penghargaan kepada kebutuhannya; (3) Toleransi terhadap perasaannya, dan (4) Kemauan untuk belajar dari perilakunya.

Pendampingan kepada anak bisa dilakukan dengan banyak cara. Namun yang paling mendasar adalah selalu menjadi teman bagi anak dalam situasi apapun. Melalui berbagai kesempatan dalam pendampingan, keluarga khususnya orangtua sebaiknya juga merangsang anak dengan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar masalah yang dihadapi anak.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menstimulasi alam pikir anak untuk tidak sekedar berlaku atau bersikap berdasarkan perintah. Mereka dilatih untuk berpikir konsekuensi dari setiap masalah yang ada. Kemampuan diskusi dengan rangsangan pertanyaan kritis pada akhirnya juga mampu menumbuhkan kesadaran tanggung jawab. Begitu pula, mental anak akan siap dengan sendirinya untuk menghadapi masalah-masalah di masa mendatang terutama ketika berada jauh dari keluarga.

Program Gernas Baku dan Pemilihan Buku yang Tepat

Kegiatan selain berdiskusi secara kritis dengan anak adalah duduk bersama sambil membaca buku. Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku alias GERNAS BAKU merupakan program inisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Ditjen PAUD dan Dikmas.

Pepatah buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya menyiratkan bahwa segala bentuk tingkah laku dan ucapan orangtua serta lingkungan akan membentuk kepribadian seorang anak manusia. Gernas Baku tidak akan pernah bisa berjalan mulus jika tidak dimulai dari orangtuanya sendiri. Dengan kata lain, sebelum mengajak anak untuk rajin membaca, orangtua diharapkan sudah memiliki kebiasaan tersebut dalam kesehariannya.

“Anak-anak belajar dari segala sesuatu yang Anda lakukan… Kalau Anda mengatakan kepada orang di telepon bahwa suami Anda sedang tidak ada di rumah, padahal ia ada di rumah, Anda mengajar anak-anak Anda bahwa berbohong itu boleh-boleh saja. Kalau Anda makan junk food, Anda mengajar anak-anak Anda makan junk food. Kalau Anda nonton televisi sepanjang hari, Anda mengajar anak-anak Anda untuk nonton televisi sepanjang hari…”

(Sal Severe, Ph.D dalam bukunya Bagaimana Bersikap Pada Anak Agar Anak Bersikap Baik, bagian II Bagaimana Anak-anak Belajar Bersikap).

Perpustakaan Nasional RI juga sudah memberikan pelayanan yang prima untuk mendukung program ini. Di lantai 7, kita bisa menemukan arena baca dan bermain anak yang bisa langsung didampingi orangtua mereka. Jika diperhatikan dari kehadiran keluarga di Perpustakaan Nasional, Gernas Baku tampaknya sudah mulai banyak diadopsi oleh orangtua Indonesia. Tentunya sebuah revolusi hebat sejak diketahui posisi minat baca Indonesia masih tergolong rendah.

Kegiatan membaca buku bersama dapat disisipi dengan diskusi ringan yang memancing nalar kritis anak. Bahkan, anak dengan intuisi filosofinya pasti akan refleks memberi respon tak terduga dari apa yang dia dengar atau baca. Untuk itu, pemilihan tema dan buku merupakan salah satu tahapan yang penting. Banyak tema buku anak yang mampu merangsang kemampuan nalar. Misalnya, tema yang memaknai keluhuran budi dari tokoh-tokoh anak yang dihadirkan, cerita fabel nusantara yang sarat akan pesan moral atau cerita-cerita fantasi yang saat ini banyak beredar dan dijadikan film.

Untuk itu, semakin orangtua mendongengkan dan mengulang hikmah dari sari buku yang dibaca, semakin anak mengerti mana perbuatan baik dan buruk. Ini sangat membantu anak dalam memaknai apresiasi dan hukuman. Bukan sebatas perbuatan baik akan menghasilkan kebaikan atau perbuatan buruk akan menghasilkan keburukan. Karena pada kenyataannya, hidup ini tidak sesederhana itu.

Kenalkan Anak Pada Lingkungan Sekitar

Upaya kedua dari pendekatan Filsafat untuk anak adalah dengan mengenalkannya lebih banyak kepada lingkungan sosialnya dibandingkan membiarkan anak berakrab lama bersama gadget dan dunia maya.

Pengenalan ini umumnya semata-mata memberikan pengalaman empiris kepada anak. Misalnya, ketika seorang anak diberi kesempatan untuk mencoba membantu ibunya memasak di dapur. Secara tidak sengaja, dia mungkin akan memegang panci yang panas dan menyebabkan jemarinya memerah. Dari situ dia belajar bahwa ia harus berhati-hati saat memegang piranti masak dari atas kompor. Proses belajar itu ia dapatkan dari pengalamannya langsung ketika berada di dapur. Dan bukan sekedar teori atau nasehat dari orangtuanya.

Nyi Mas Diane Wulansari dalam bukunya Didiklah Anak Sesuai Jamannya yang bisa diakses di laman Sahabat Keluarga Kemdikbud menyampaikan beberapa anjuran agar anak mampu keluar dari kebiasaan konsumsi gadget berlebih. Orangtua perlu merencanakan dan lagi-lagi (jangan pernah bosan) untuk berdiskusi dengan anak tentang kegiatan luar rumah apa yang mereka minati. Kursus keterampilan, olahraga atau kesenian dan aktivitas lainnya.

Anak yang sudah terbiasa beradaptasi dengan lingkungannya akan memudahkan orangtua untuk mengerti minat dan bakat yang kelak berguna di masa depan. Kegiatan produktif anak di luar rumah juga merupakan pendidikan yang sejujurnya lebih efektif dibandingkan duduk di dalam kelas.

Kegiatan wisata, ikut kelas memasak, kursus bahasa asing dan musik mungkin terdengar umum bagi keluarga di Indonesia. Orangtua sebenarnya bisa sedikit berinovasi dari aktivitas-aktivitas lazim tersebut agar lebih memuat konten filosofis yang merangsang nalar kritis anak dibandingkan anak sekedar mengikuti kursus atau jalan-jalan biasa.

brain-3269655_960_720

Membangun empati anak, keseimbangan antara pikiran dan hati (dokumentasi pixabay.com)

Misalnya, kegiatan wisata tidak hanya melulu menghadiri museum, tempat atau bangunan bersejarah. Anak bisa diasah sikap empatinya dengan diajak mengunjungi tempat-tempat padat pemukiman penduduk miskin (seperti masyarakat yang hidup di bantaran sungai, dekat penampungan sampah dan lainnya). Di sana, anak akan melihat bagaimana kehidupan ini tidak selamanya diliputi kesenangan atau kemudahan. Selama “wisata” pemukiman penduduk miskin berlangsung, orangtua bisa mendiskusikan kepada anak-anak mereka betapa pentingnya pendidikan untuk masa depan agar mampu merangkul banyak orang keluar dari garis kemiskinan.

Sikap empati yang dibangun saat kunjungan seperti itu tidak sebatas memberi sedekah dan makan kepada yang kelaparan. Tapi juga sikap empati yang lebih kepada keberlangsungan hidup selanjutnya. Karena, seperti yang dikatakan Dorothy Corkille Briggs, pengarang buku Your Child’s Seleft-Esteem,  sikap empati memerlukan banyak “keahlian memperhatikan” sama seperti sikap menghargai. Semakin sering anak memperhatikan kondisi sosial di lingkungannya, seiring pula empatinya terbangun. Ia tidak hanya dilatih berpikir solusi hari ini, namun juga akan tertanam benih-benih kebaikan, asa dan cita-citanya agar bermanfaat bagi banyak orang dan lingkungan. (selesai).

index

dokumentasi #sahabatkeluarga kemdikbud

Artikel blog ini ditulis sebagai bentuk partisipasi Lomba Blog Pendidikan Keluarga. Acara ini dipersembahkan oleh #sahabatkeluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Referensi:

Reza A.A. Wattimena, Pendidikan Filsafat Untuk Anak? Pendasaran, Penerapan dan Refleksi Kritis Untuk Konteks Indonesia. Jurnal Filsafat, Vol. 26, No. 2, Agustus 2016.

Sal Severe, Ph.D. 2000. Bagaimana Bersikap Pada Anak Agar Anak Bersikap Baik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mary Lee Grisanti, DKK. 1996. Seni Mendisiplinkan Anak. Alih bahasa Anton Adiwiyoto. Cet 2. Jakarta: Mitra Utama.

Website Links:

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4760

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4548

Posted in Filsafat, Journalistic, Partisipasi Lomba Blog | Tagged , , | 2 Comments

Konstruksi Berfikir Mahasiswa

Untuk para mahasiswa

AK. Dawami

Mahasiswa lebih memilih menjadi anak yang tidak tahu tentang apapun yang sebenarnya menarik untuk diketahui. Hanya saja terkadang, konstruksi berfikirnya tidak sesuai dengan kehidupan yang dia jalani. Masa-masa SMA yang indah tentu menjadi sebuah kebiasaan yang setiap hari dirasakan, dan dibawa setelahnya. Sebagian dari mereka memilih untuk bekerja memenuhi kebutuhan keluarga, maupun dirinya. Sebagian yang lain memilih, ataupun dipilihkan, untuk menempuh pendidikan lebih tinggi.

Pendidikan tinggi membuat orang menjadi lebih dipandang, mengarahkan dirinya menuju hal yang lebih baik, seharusnya. Tapi akhirnya dengan budaya instan yang berkembang di masyarakat menjadikan mahasiswa tidak memiliki sisi kritis untuk menjadi lebih baik. Kebutuhan konstruksi berfikir ini harusnya telah dipikirkan oleh orang-orang yang menjadi pemikir untuk bangsa dan negara. Kehidupan yang membuatnya memilih untuk sebuah jalan yang benar untuk masyarakat secara luas, atau memilih untuk menjadi seorang yang merugikan orang lain.

Fitrah manusia yang sebenarnya tidak memiliki dosa, menjadikan banyak orang memiliki sisi baik. Dalam…

View original post 211 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment