19 Februari 2018

Ternyata, semangat saja tidak cukup untuk mengolah emosi dan rasa benci pada sakit. Pada titik nadir, pasrah biasanya lebih berfungsi daripada “melawan”.

Setelah bisa sembuh dan bangkit dari kasur, aku mulai jalan-jalan dengan suami. Tidak jalan sekedar keliling komplek, langsung naik kereta. Selain menghadiri undangan pernikahan, jalan-jalan ini juga ditujukan untuk mengolah tubuhku agar tidak lengket lagi dengan kasur. Bukan sebab malas, cerita lengkapnya bisa dibaca di tulisan sebelum ini.

Meski sepulangnya, aku muntah-muntah lagi. Tapi sehari kemudian aku bisa memaksa tubuh ini untuk berdiri dan keluar dari rumah. Kukatakan pada jabang bayi berkali-kali, “jangan manja ya, jangan manja. Jangan keluarkan lagi makanan yang sudah masuk.”

Ya, soal makanan. Kali ini aku mau cerita makanan apa yang tidak bisa kumakan selama hamil muda.

Tapi sebelulmnya, aku dapat kabar dari sepupuku yang hamil barengan. Kali ini dia tidak bisa lagi makan ayam. Sudah kukatakan padanya, sejak awal aku hamil aku tak bisa barang cium aroma ayam. Entah ayam goreng, ayam penyet, pokoknya yang ada ayamnya. Sempat bisa makan ayam kampung tapi cuma seminggu setelah itu aku muntah-muntah lagi kalau makan ada ayamnya.

Mamiku pernah masak Sop Kimlo kegemaranku dan di dalamnya terdapat ayam rebus. Baru teguk beberapa kali kuahnya aku sudah mual. Begitu selesai makan, semua Sop Kimlo keluar dari perutku.

Walau sebenarnya aku memang bukan penggemar ayam. Bagiku, ayam itu (khususnya ayam negeri), dagingnya amis betul. Aku tidak bisa makan ayam dengan potongan besar. Lebih suka disuwir seperti yang ada di nasi liwet atau di soto. Namun itu pun tak dapat kumakan sekarang.

Selain ayam, aku juga tidak bisa makan unggas lainnya; bebek dan burung dara. Juga entok. Di sini, ramai orang jual nasi bebek. Padahal dulu aku doyan bebek sampai ke ubun-ubun. Sekarang baru dengar namanya sudah pusing.

Alhasil, aku hanya bisa makan yang bisa kumakan. Aku pasrah dengan apa yang bisa kumakan ini. Tahukah kalian apa makanan itu? NASI UDUK JENGKOL.

Apakah ini jabang bayi suka jengkol ketika lahir nanti? Aku tak ambil pusing. Yang penting aku bisa makan. Selain nasi uduk jengkol, aku bisa makan nasi goreng kambing, nasi goreng seafood, dan nasi bistik sapi tepung. Ya, hanya daging kambing, daging sapi, dan seafood yang bisa masuk perutku. Sedikit sayur seperti sawi putih, sawi hijau, kacang panjang, jagung putren. Selebihnya seperti wortel, kangkung dan bayam tidak bisa masuk perutku. Pasti muntah.

Begitu banyak rahasia di bumi ini. Bahkan ibu hamil pun punya cerita tersendiri. Apakah misteri di galaksi ini suatu saat akan terungkap? Selain makanan yang tidak semua bisa cocok dengan ibu hamil, hidung yang tiba-tiba menjadi lebih peka terhadap bau, dan perasaan yang tidak bisa dibohongi.

Posted in Journal | Leave a comment

27 Januari 2018

Sepanjang dua puluh hari yang lalu, rasa sakit menderaku.

Bertubi-tubi. Lambung meremas-remas tiada henti. Asam lambung naik, muntah tak berkesudahan. Suamiku dengan begitu sabar dan sigap membawaku ke Rumah Sakit. Dari hasil laboratorium, ketton dalam tubuhku mulai habis. Yang ada, tinggal toksik yang jika telat sedikit saja, bisa membahayakanku dan janin ini.

Tiga hari aku dirawat di RS. Sempat pulang beberapa hari lalu opname lagi dengan diagnosa berbeda; tidak ada masalah dengan ketton yang sudah negatif. Sekarang tinggal maag kronis.

“Ibu punya riwayat maag?” tanya sang dokter internis.

“Betul, dan Opname dua kali karena thypoid sewaktu SMA.” paparku. Dokter itu mengangguk dan memberiku Ranitidine, Primperan serta berbagai nasehat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan/diminum.

Berlabu-labu infusan habis. Salah satu perawat yang iba bahkan sampai bilang, “begini susahnya ya Bu perjuangan seorang ibu.”

*

TIDAK pernah terbayang bahwa kelak aku kan hamil muda dengan begini susah payahnya. Bahkan untuk mengangkat kepala dari bantal seperti tak kuasa. Jika lambung sedikit membaik, aku bisa duduk-duduk. Tapi hidungku begitu sensitif, jadi aku tidak bisa berlama-lama duduk di suatu tempat. Hidungku seakan mampu membaui segala macam benda di sekitar. Hal ini sejujurnya menginspirasiku membuat cerpen.

Hanya saja, entah kapan bisa kuselesaikan cerpen itu. Sore di hari ini bisa duduk tanpa lambung perih atau rasa mual saja sudah sangat kusyukuri. Setiap saat kuberbaring, kuelus lembut ulu hati dan lambungku seraya berdoa.

“Tuhan, aku tidak ingin sakit lagi. Engkau Tuhan seluruh alam, seluruh manusia, tolong cabut rasa sakit ini. Aku hanya ingin sehat dan bahagia selama mengandung bayiku, saat melahirkannya dan ketika membesarkannya.”

Apakah ini sebabnya Muhammad Saw mengatakan tiga kali untuk menghormati Ibu baru kemudian menghormati Ayah?

Posted in Journal | Leave a comment

7 Januari 2018

Seminggu tepat sejak 1 Januari kutulis catatan ini. Perutku tidak bisa diajak kompromi. Muntah-muntah. Suhu tubuh yang terkadang berubah drastis. Mood yang tidak mengenakkan. Termasuk mood menulis blog. Sial betul.

Kini, setelah mengonsumsi Sop Ayam ala Pak Min dekat rumah, kondisiku membaik. Entah ramuan apa yang digunakan. Kuahnya begitu lezat dan tidak memancing mual. Lalu kepala ini mulai bisa berpikir lebih jernih. Mabuk bergejolak mungkin kan melanda di kemudian hari namun setidaknya, hari ini aku diberi tenaga dan kemampuan berpikir untuk menulis.

Semestinya kemarin, kutulis semua kejadian yang menimpaku ini. Asal muasal rasa eneg, agak sembelit dan meriang-meriang ini. Rasa yang rupanya dinantikan banyak pasangan yang sudah menikah. Rasa yang selama ini ditunggu mertuaku, hampir dua tahun lamanya menurut Kalender Hijriyah.

Dan, setelah melewati serangkain pemeriksaan, tes, suamiku dengan wajah sumringah namun tenang menghubungi orangtuanya. Ya, orangtuanya menghubungiku kembali sebagai balasan dan mengabarkan betapa senangnya mereka.

Sementara mami dan papiku, juga adik-adikku yang sedang liburan di Malang menggelontorkan nasehat-nasehat….nasehat-nasehat…. dan nasehat-nasehat lagi…

Mamiku sepertinya takut aku punya anak yang keras kepala (sepertiku dulu…atau mungkin sampai sekarang bagi mereka hehe) dan agaknya mami kewalahan. Mami sering mengungkapkan dalam diksinya secara implisit bahwa ia senantiasa berdoa keturunanku nanti anak-anak penurut (at least tidak sepertiku yang kepala batu dan tidak mudah percaya sebelum kubuktikan sendiri).

Dulu, sewaktu mami belum terlalu tekun mengaji ibadah-ibadah mahdhah, pikirannya sangat kritis dan nalarnya sangat luar biasa. Malah menurutku dulu mami punya sikap-sikap sufi. Kini, semua dilakukannya berdasarkan pengetahuan tekstual (dari sumber-sumber ulama tekstualis pula) dan aku masih sering berdebat dengannya. Itu yang menyebabkan mami berpikir, “anak ini dari jabang bayi kubesarkan kok sampai sekarang masih saja sulit diatur (susah nurut)”

Bahkan, mami sering (baca:selalu) menceritakan pengalamannya saat mengandung sampai melahirkanku. “Hamil kamu itu hamil paling nyiksa, deh. Mual muntah nggak selesai-selesai. Udah gitu lahirnya lama!” maklum saja, mami masuk RS (sudah merasa mulas mau melahirkanku) dari habis subuh. Tapi aku baru lahir jam 8 malam. Dia kesal betul rupanya (aku suka ketawa membayangkan ini).

Aku hapal ceritanya dan itu sangat membuatku geli. Aku sudah membuat mamiku kesal bahkan sejak belum lahir.

Jadi,

Dari pengalaman itu, mami ingin aku banyak berdoa agar kelak anakku tidak sok tahu tidak sok kritis macam diriku ini. “Suamimu harus baca Quran dekat perutmu, bisikin yang baik-baik, zikir dekat perutmu,” itu nasehat mami kemarin dan ketika kusampaikan pada suamiku–kulihat ekspresinya melongo. Tapi, dia menantu terbaik di dunia–tidak sepertiku yang apa-apa pakai “Sok” dipikir dan dikritisi. Suamiku selalu melakukan nasehat apapun yang disampaikan mertuanya (mami papiku).

Well, dengan begitu, aku tidak janji bisa menulis harian ini setiap hari. Namun, akan kuusahakan yang terbaik! Rasa mual ini, eneg dan muntah meriang ini, jika memang benar sebuah pertanda bahwa kelak aku kan melahirkan anak yang tak jauh beda seperti diriku maka hanya ada satu hal yang kupercaya;

“Aku ‘kan melahirkan seorang filsuf!”

Posted in Journal | Leave a comment

Ragam Olahan Makanan yang Aman untuk Pencernaan (Edisi: Sayur Labu Siam)

Ada seorang saudara minta tolong dibagikan resep makanan untuk familinya yang pernah mengidap thypoid. Salah satu penyakit yang mengganggu sistem pencernaan dan banyak faktor yang melatarbelakanginya.Entah kenapa hal ini mengingatkan saya pada suatu peristiwa sewaktu kecil.

Saat itu saya duduk di bangku kelas tiga SD. Jarang sekali makan sayur. Sangat aktif dan hobi bermain di lapangan dekat rumah. Pun, jadwal makan yang berantakan karena tidak punya nafsu makan. Alhasil, suatu hari, saya sakit cukup parah. Tidak sembuh sampai beberapa hari dan akhirnya dibawa malam-malam ke klinik.

Dokter bilang, saya harus tes darah. Dari tes itu, saya dinyatakan thypoid.

Ingat betul betapa sakitnya kala itu. Semua makanan yang masuk pasti keluar lagi. Saya pikir, saya akan mati. Seperti kakek saya, seperti teman saya, seperti orang-orang di televisi.

Dokter saya dulu, orangnya tenang sekali. Namanya Dokter Sanata Polo. Beliau bilang, saya akan diberi antibiotik tapi ada satu syarat yang harus saya ikuti.

Selama sakit, saya tidak boleh lepas dari sayur Labu Siam. Saya harus banyak makan Sayur Labu Siam. Pokoknya sayur Labu Siam setiap hari. Juga berbaring, tidak boleh banyak bergerak.

Percaya atau tidak, obat saya tidak banyak. Tapi Labu Siam itu khasiatnya luar biasa. Meski satu bulan lamanya saya sakit dan harus istirahat (tidak boleh aktifitas berat) dua bulan sesudahnya, namun selama itu saya merasa pencernaan saya membaik.

Tiga bulan sudah saya makan Labu Siam. Saya tidak pernah menderita Thypoid lagi setelah itu. Alhamdulillah sampai sekarang pun. Nah, bagaimana cara mengolah sayur Labu Siam untuk orang yang rentan terhadap Thypoid atau penyakit pencernaan lainnya? Begini resepnya;

SAYUR LABU SIAM

(versi kuah)

Bahan:

Labu Siam (Potong-potong. Besarnya sesuai selera)

Bawang Putih dan Lada (merica) butir (Haluskan semua)

Air dan Air Kaldu

Garam

 

Cara Olah:

  1. Didihkan air. Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan (bawang putih dan merica). Masukkan potongan Labu Siam. Diamkan sampai Labu benar-benar empuk. Tambahkan air kaldu (tidak perlu jika bumbu sudah terasa sedap).
  2. Masukkan garam. Koreksi rasa. Sajikan.

Bahan sayuran lain yang bisa dicampurkan:

a. Jagung Manis (Masukkan Jagung di tahap pertama saat air sudah mendidih lalu rebus sampai jagung matang).

b. Daun Bayam (Masukkan bayam setelah labu dan bumbu halus sudah matang sempurna. Bayam cukup direbus 1-3 menit tergantung besar api dan kualitas kesegaran bayam).

c. Oyong (Masukkan potongan oyong setelah labu dan bumbu halus matang. Oyong punya kulit yang cukup keras. Jika kulit oyong tidak dikupas halus, oyong harus direbus kurang lebih tiga sampai empat menit. Jika dikupas bersih, cukup dua sampai tiga menit).

d. Wortel (Masukkan potongan wortel bersamaan dengan bumbu halus dan labu siam)

Bahan non-sayur yang bisa dicampurkan ke sayur labu siam:

a. Sosis ayam, Sosis sapi, Bakso ayam, sapi, ikan. (Dimasukkan bersamaan dengan bumbu halus dan labu siam. Tergantung merek dan kualitas Sosis/Bakso. Misal merek Sosis Kimbo; Masukkan bersamaan dengan bumbu dan labu siam. Kalau merek Champ; masukkan terakhir setelah semua sayur hampir matang sempurna.

 

SAYUR LABU SIAM

(versi tumisan)

Bahan:

Labu Siam (diserut, dicacah panjang atau diiris seperti korek api)

Kacang Panjang

Tahu/tempe/sosis/bakso/ayam atau sapi cincang/udang/cumi (terserah mau yang mana)

Bawang Merah, Bawang Putih (Iris halus)

Merica butir (dihaluskan)

Cabai Hijau Besar secukupnya (cabai hijau besar tidak pedas sama sekali dan aman untuk pencernaan)

Sedikit irisan bawang bombay

Saus Tiram (secukupnya. Rekomendasi: merek Maggi atau cap panda atau ABC)

Daun salam, daun jeruk-serai-sedikit jahe yang dimemarkan (jika pakai campuran daging/seafood), Sedikit lengkuas.

Minyak untuk menumis (lebih bagus minyak zaitun, kedelai, canola atau sunflower)

Sedikit butter atau boleh margarin

Sedikit air kaldu

 

Cara Olah:

  1. Panaskan Wajan. Masukkan minyak sedikit dan margarin atau butter, tumis sampai keduanya tercampur. Jangan sampai minyak terlalu panas (tidak boleh juga memanaskan minyak zaitun bisa jadi racun).
  2. Tumis daging cincang atau sosis atau apapun yang bersifat amis daging. Sampai berubah warna. (khusus untuk daging ayam, tumis lebih lama lagi).
  3. Masukkan irisan bawang, daun salam, lengkuas, jahe, daun jeruk dan serai. tumis semua sampai wangi dan irisan bawang berwarna keemasan.
  4. Masukkan sedikit saus tiram dan garam. (kalau suka manis boleh tambah sedikit gula pasir atau kecap manis).
  5. Masukkan irisan labu siam dan kacang panjang. Tumis sebentar. Masukkan air kaldu, rebus tiga menit.
  6. Masukkan irisan bombay dan irisan cabai hijau besar. Tumis sampai sayuran terlihat layu (tidak perlu lama-lama nanti kurang crunchy sayurnya). Koreksi rasa. Sajikan.

Mudah kan? Selamat mencoba!

Posted in Kitchen of Bolshaya Mira | Leave a comment

1 Januari 2018

Sesuai apa yang tertuang di blog ini, saya mulai berjalan kaki lebih jauh setiap pagi. Ketika pulang, kedua tangan ini menggotong belanjaan sayur untuk dimasak. Berjalan kaki lebih jauh, lebih pagi, dan lebih bahagia. Motivasi saya di tahun 2018 adalah menjadi lebih baik dimulai dari fisik. Mengingat, di tahun 2017 saya sering mengalami depresi dan sakit-sakitan.

Tidak ada rasa sakit di tahun 2018. Tidak boleh terjadi lagi!

Beruntung bagi saya memiliki suami yang tidak sulit bangun pagi. Malah beliau yang sering membangunkan saya ibadah subuh. Fisiknya lebih kuat. Kualitas mental dan jiwa suami saya jauh lebih mumpuni. Itu sebabnya, saya ingin mengiringinya dengan segenap kemampuan ini. Siapa sih yang tidak mau hidup sampai tua renta bersama kekasihnya?

Pagi ini, meski lupa membawa smartphone, saya dan suami berjalan kaki lebih jauh dari yang biasa kami tempuh. Dan, kami tidak menyangka telah menemukan jalan baru untuk melintasi suatu tujuan. Selain itu, saya berjumpa dengan seekor anak kucing yang tentu saja mengingatkan saya pada Kuro, kucing saya yang dibuang oleh beberapa anggota keluarga.

Dengan penuh sayang, saya belai anak kucing berbulu abu-abu kecoklatan itu. Dua bola mata abu-abu yang berbinar, sementara bulunya jarang-jarang. Sudah dapat dipastikan dia kucing tidak bertuan. Ataupun iya, pasti tidak pernah diurus dengan baik. Oh, saya sangat mencintainya pada pandangan pertama.

Karena lupa bawa smartphone saya tidak bisa LIVE di instagram ketika kucing kecil itu mengikuti saya pergi. Saya beranjak pergi dan dia mengikuti saya lalu menempel pada sela-sela kaki. Dia bahkan merebahkan tubuh mungilnya di atas sepatu kets saya. Dia menggeliatkan badan.

kitty-2948404_960_720

dokumentasi pixabay. (kucingnya kurang lebih mirip begini. matanya paling mirip)

“Lari!” Suami saya menyuruh. Dia pikir, jika berlari, kucing kecil itu akan diam dan tidak mengejar. Dia salah besar. Kucing itu pun berlari! Dia berlari cepat sekali dan menubruk betis saya. Lalu seseorang di belakang saya berteriak,

“Kucing Lu lari tuh, ngikut orang!”

Lantas, tak berapa lama kemudian seorang bocah keluar dari pagar rumahnya dan menghampiri saya. Dia menunduk dan mengambil kucing yang berada di sekitar saya berdiri.

“Nakal, ya!” kata si bocah sambil menggotong kucing mungil itu dengan satu tangan! Saat itu kedua mata kami terpaut dan saya kembali teringat Kuro.

Saya bilang pada suami yang tidak suka kucing, “Saya rindu Kuro. Benar-benar rindu. Saya harap dia sehat dan mendapat teman hidup yang baik.”

Kami pun berjalan pulang. Meski suami saya tidak menyukai kucing, dia selalu sabar mendengar setiap keluhan dan air mata saya soal Kuro.

Perjalanan kami masih panjang, semoga saja selalu ada pelangi dibalik hujan yang menderu bumi.

Posted in Journal | Leave a comment

6 Hal Paling Penting Untuk Kamu Lakukan di Tahun 2018

wheelie-bin-2270582_960_720

Buang Sampah pada Keranjang Sampah dan Kategorikan Menjadi Organik dan Anorganik

SAMPAH masih menjadi masalah paling besar di bumi. Khususnya di Indonesia. Sudah saatnya kita betul-betul sadar untuk maju sebagai bangsa yang beradab. Mulai dari tidak membuang sampah sembarangan (sekecil apapun sampahnya) dan menggolongkan mana sampah organik mana yang anorganik.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai, tempat umum, selokan, saluran air pembuangan bisa menyebabkan berbagai masalah. Selain banjir, sampah yang mengotori sungai otomatis akan berserakan di laut lepas. Sampah-sampah itu (terutama plastik) akan sangat rentan dimakan oleh penyu, paus, dan ikan-ikan laut. Tentu saja itu berbahaya bagi mereka dan banyak mengakibatkan kematian. Kalau sudah begini, jangan berharap bisa menikmati seafood ya!

pollution-1148841_960_720

Sampah yang tidak dikelola dengan baik juga menimbulkan banyak penyakit. Jika pembuangan sampah di dekat area rumah tidak dikelola dengan benar akan menyebarkan bakteri dan penyakit. Jangan pernah membakar sampah plastik, kaleng dan sampah anorganik lainnya. Satu-satunya cara adalah membersihkan mereka dari sisa organik yang menempel lalu dikemas rapi dan dibuang di tempat pengolahan sampah. Semua sampah anorganik pasti akan dikelola lebih tepat.

Hemat Air, Listrik, Kertas Tisu dan Mulailah Menanam Pohon!

kleenex-5610_960_720

AIR, Listrik dan Kertas Tisu entah mengapa menjadi tiga hal paling sering dikonsumsi manusia di abad ini. Ketiganya pula merupakan kunci bagi kesejahteraan dan kelanggengan umur bumi.

Ingatlah betapa banyak manusia di belahan bumi lainnya yang kesulitan mendapat air bersih. Bahkan untuk mendapatkan air untuk minum, ada banyak orang yang harus mendaki gunung dan mempertaruhkan nyawanya. Air bersih juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Gunakan air bersih untuk mandi, mencuci dan masak seperlunya. Jangan sampai air bersih terbuang percuma.

LISTRIK juga dikonsumsi paling banyak setelah air. Hampir semua manusia yang mengenal gadget pasti memerlukan listrik (termasuk saya). Kita mengenal earth day setiap tanggal 22 April sebagai simbol cinta untuk bumi dengan tidak menggunakan listrik seharian penuh. Namun, bukan berarti earth day hanya dilakukan tanggal 22 April setiap tahunnya.

Kita sangat diperbolehkan untuk mengapresiasi ‘kehidupan’ sang bumi dengan lebih sering menjadikan momen earth day di dalam keseharian kita. Mulai dari menghemat baterai telfon genggam, hemat penggunaan laptop dengan memaksimalkan waktu pakai dan memperhatikan alat penghubung listrik (charger) dan juga mengurangi durasi menonton televisi.

KERTAS TISU juga tak kalah penting untuk jadi perhatian. Jangan merasa sudah berkontribusi merawat bumi jika masih sering menghabiskan tisu. Semakin banyak tisu yang terbuang semakin gundul bumi kita. Itu sebabnya banyak bencana alam seperti tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, hujan asam, dan punahnya satwa liar.

Jika air, listrik dan tisu sudah digunakan dengan sehemat mungkin, kita masih perlu melakukan satu langkah lagi; MENANAM POHON!

ecology-2985781_960_720

Mulailah menanam dari pohon yang kamu sukai atau sesuai kebutuhanmu. Tidak perlu berat-berat menanam pohon di hutan atau pegunungan jika kamu tinggal di kota. Kamu sudah bisa berkontribusi menyelamatkan bumi dengan menghijaukan area sekitar rumahmu. Mulailah dari halaman rumah meski kecil kamu bisa kok menanam banyak jenis tanaman manfaat. Bisa tanaman herbal, umbi-umbian, cabai, sayur-mayur sampai tanaman hias. Semua itu ada manfaatnya baik bagi kesehatan tubuh maupun lingkungan.

Makan Secukupnya dengan Gizi Seimbang

Veganism bukan jawaban final untuk solusi hidup yang seimbang dengan alam. Jika kamu seorang vegan dan mempercayainya, silakan saja. Tapi, terpikirkah jika semua orang menjadi vegan, siapa yang mampu mengontrol laju perkembang biakan ternak?

poster-2783804_960_720

Bagaimanapun, hidup seimbang sangat diperlukan. Mengonsumsi makanan sumber protein hewani bukan berarti menjadikannya pola makan setiap hari. Kita tidak melulu perlu makan protein hewani. Lebih banyak sayur lebih baik meski sesekali kita juga butuh makan daging, ikan, dan telur. Karena tidak bisa kita pungkiri, tubuh kita juga butuh asupan gizi hewani meski dalam porsi yang wajar.

Olahraga dan Perbanyak Membaca Buku

books-1757734_960_720

Olahraga bukan berarti harus super duper lelah dan banjir keringat. Kamu bisa berkeringat cukup dengan berjalan kaki minimal setengah jam setiap harinya. Bersih-bersih rumah juga bisa bikin kamu keringetan dan memacu detak jantung lebih sehat. Darah juga akan mengalir membawa oksigen ke seluruh organ tubuhmu, termasuk ke otak supaya bisa memikirkan ide-ide brilian!

Jangan lupa juga perbanyak buku. Genre buku yang mampu mendongkrak kreativitasmu di antaranya; buku filsafat, buku resep, buku motivasi dan cara-cara mengerjakan/mengorganisir sesuatu, novel detektif/petualangan/misteri, buku-buku pemikiran dari berbagai kepercayaan dan agama, dan buku-buku teori serta metodologi penelitian. Buku hasil riset juga bisa membantumu untuk memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari.

Rajin Menabung dan Jalan-jalan

Menabung tidak semudah teorinya. Tapi, pastikan kamu punya kemampuan menabung meski seribu atau dua ribu rupiah (tergantung berapa nominal yang kamu suka). Menabung tidak selalu harus ke Bank. Kamu bisa menyelipkan lembar demi lembar uang di tiap buku yang sudah selesai kamu baca. Ketika pergantian tahun tiba, kamu bisa mengumpulkannya dan bersiaplah terkejut bahagia ketika tahu berapa jumlahnya!

camping-2581242_960_720

Tidak sedikit juga orang yang menabung untuk jalan-jalan. Usahakan trip yang kamu lakukan bermanfaat agar uangmu tidak terbuang percuma. Jalan-jalan juga tidak selamanya perlu mengeluarkan uang banyak. Kamu bisa kok menyempatkan waktu bersantai ke pedesaan atau daerah-daerah terpencil yang jauh dari perkotaan dengan sekedar berkemah atau memancing. Jalan-jalan berkualitas adalah jalan-jalan yang tidak hanya membuatmu merasa diperbaharui namun juga mampu menghasilkan. Entah menghasilkan uang atau pengalaman spiritual.

Jadilah Relawan!

Pada akhirnya, menjadi relawan sangat penting bagimu untuk mengasah emosi. Semakin kamu sadar bahwa hidup ini “cuma numpang minum”, semakin tinggi pula kesadaranmu untuk menolong sesama. Jangan takut kekurangan, karena dengan memberi sesungguhnya kualitas kehidupan kita semakin bertambah. Konsep memberi tidak selamanya dengan uang. Memberi, menjadi relawan, tidak hanya dengan uang dan materi lainnya tapi bisa juga dengan ilmu, tenaga dan ide.

volunteer-1326758_960_720

Kemauan menolong orang yang membutuhkan adalah suatu inisiatif dalam diri seseorang yang amat berharga. Dengan sering membantu dan berkontribusi dengan sosial, jiwa dan kepribadian kita bisa lebih kuat dan lebih bersyukur. Kalau sudah bersyukur, kita akan merasa bahagia sebab rasa syukur akan mengalahkan segalanya yang bersifat sia-sia.

Jangan buang-buang waktumu dan lakukan enam tips ini untuk usia bumi di masa depan. Masa di mana anak-anak dan keturunan kita, para manusia ini memerlukan kehidupan yang aman, tenang dan damai.

MAKE THE WORLD GREAT AGAIN, HAPPY NEW YEAR 2018 AND LET’S GET STARTED!

Posted in Feature, Journalistic | Leave a comment

Raih Ide Untuk Judul Skripsimu Sekarang!

catch the ideas (dokumentasi pixabay)

Banyak mahasiswa menunggu semester enam atau tujuh untuk mulai memikirkan “ide” skripsi mereka. Padahal, sebenarnya ide tersebut telah “berkeliaran” sejak pertama kali mereka bertemu perkuliahan di semester-semester awal. Untuk itu, penting sekali untuk peka terhadap ide-ide yang mengelilingi kita. Tapi, bagaimana cara menangkap ide-ide itu ya?

Soroti Minat Mata Kuliah Sejak Awal

Ketika masuk kuliah pertama kali, kita tentu sudah tahu beban sks dan mata kuliah yang akan kita ambil. Mulailah mencari tahu lebih dalam tema-tema mata kuliah yang akan kita hadapi. Itu sebabnya, kita disarankan untuk kuliah sesuai dengan minat dan bakat kita.

Dari tema yang sudah kita pelajari, kita baru akan bisa menyesuaikan tema mana yang ingin kita dalami. Misalnya, waktu aku kuliah S1 dulu, ada empat peminatan di jurusanku. Ada minat linguistik, minat sastra, minat penerjemahan dan terakhir minat kajian budaya.

Sejak kecil aku suka sejarah dan budaya-budaya dari berbagai negara. Untuk itu, aku pilih kajian budaya sejak awal kuliah. Fokusku ini kemudian membantuku dalam meraih nilai untuk “porsi” peminatan agar bisa diraih. (Sebelum semester peminatan di semester enam ke atas, nilai sangat mempengaruhi). Jadi, aku sengaja memfokuskan diri pada kajian budaya ketimbang minat lainnya supaya nilainya pun lebih maksimal.

Otomatis, aku harus sukses ketika menempuh semua mata kuliah yang sesuai dengan minat tersebut. Misalnya, karena aku fokus pada minat budaya maka aku harus mendalami kuliah filsafat, jurnalistik, teori budaya dan wacana, sejarah, etnografis serta kuliah lain yang relevan.

Fokus terhadap minat dan mata kuliah yang sesuai dengan diri kita akan membantu kita secara alami menyeleksi ide-ide yang berkeliaran. Dengan sendirinya, kita sudah memfokuskan bahan bacaan dan belajar kita untuk mendapatkan ide yang tepat. Percayalah, tahap pertama ini sangat penting dijalankan di awal kamu masuk kuliah. Jika fokus ini sudah berjalan, berarti kamu siap untuk mulai “menangkap” ide dengan teknik-teknik selanjutnya!

Tangkap dan Catat Berita di Sekitarmu

Penelitian di tataran strata satu memang tidak menuntut kamu untuk menemukan teori baru. Seorang dosen pernah berkata, “Ketika mengerjakan skripsi, Anda tidak diminta untuk menemukan teori baru atau membantah teori lama. Anda hanya perlu menyusun argumentasi dengan baik dan benar.”

Namun, bukan berarti kamu tidak perlu update berita. Mata kuliah apapun pasti memiliki relevansi dengan kondisi dunia terkini. Kamu bisa mulai mencari tahu dari koran, situs-situs di internet, majalah, jurnal, dan sumber-sumber lainnya. Ketika kamu sudah menemukan minat kuliah idaman, update berita terkini yang sesuai dengan minat tersebut akan sangat membantumu untuk memulai bahan awal skripsi.

Kalau sudah begitu, kamu bisa menelusuri benang merah kejadian. Misalnya, untuk mereka yang memilih minat budaya Timur Tengah, mereka bisa terus memantau perkembangan budaya, pemikiran atau bahkan politik di dalam lingkup budaya yang terjadi melalui ragam referensi.

Dari situ sudah bisa dipilih tema apa yang mau dispesifikasi atau bahasa ilmiahnya; mulai tentukan objek penelitian. Budaya itu kan luas. Mau ambil budaya yang bagaimana nih? Negara mana? Madzhab apa? atau mungkin tokoh pemikir yang mana dan buah pikir apa yang hendak dijabarkan di skripsimu?

Dengan selalu awas pada berita terbaru, perkembangan dari objek penelitian yang sudah dipilih akan terlihat lebih nyata. Kamu juga akan lebih semangat karena referensi yang selama ini kamu kumpulkan mulai tersusun menjadi rencana skripsi yang mulai terarah!

Akurat, akurat, akurat!

Konsep “akurat, akurat, akurat!” sebenarnya kupelajari selama menjadi penyiar sekaligus reporter di sebuah radio swasta. Siapapun yang mendalami jurnalisme tentu akan mengedepankan motto itu. Entah kenapa, semangat ini juga masuk ketika aku mengerjakan skripsi. Bagaimana tidak sesuai? Akurat (accuracy) merupakan elemen penting bagi penelitian ilmiah. Tanpanya, tulisan penelitian kita hanya dongeng belaka.

Apapun yang kita baca (tidak peduli dari mana sumbernya) perlu diperhatikan unsur keakuratannya. Tidak sembarang buku bisa jadi rujukan, tidak sembarang kutipan bisa dijadikan pelengkap skripsi. Sikap waspada dan meninjau kembali setiap yang kita terima ini akan membuat hasil skripsi semakin objektif dan tentunya mampu dipertanggung jawabkan.

Diskusi dengan Ahlinya!

Tidak semua dosen di kampus tempat kamu menimba ilmu memiliki kesesuaian ilmu dengan tema skripsi yang kamu ambil. Dan, belum tentu juga dosen yang mengampu mata kuliah yang relevan dengan tema skripsimu enak diajak diskusi. Ya kaaaan? Hehehe…

Akhirnya, semua kembali pada selera. Ya, kita memang tidak boleh pilih-pilih buta pada dosen begitu pula halnya dosen pilih-pilih mahasiswa. Tapi, adalah unsur yang penting untuk memilih dosen pembimbing yang tepat. Supaya apa? Supaya pengerjaan skripsimu lancar dan tidak keluar dari jalur.

Untuk itu, sebelum kamu berdiskusi dengan dosen yang sesuai, kamu perlu memperhatikan tipikal dosen tersebut. Usahakan, dosen yang membimbing skripsimu adalah dosen yang objektif dan disiplin. Sehingga, pandangan dan arahan-arahan beliau tidak akan mempengaruhi objektifitas konten dan hasil penelitian skripsimu.

Jika sudah begitu, selamat menyusun skripsi dan mendiskusikannya dengan dosen pembimbing. Buatlah rekapan atas semua saran atau sugesti dari sang dosen untuk kemudian kamu selaraskan dengan apa yang mesti kamu lakukan dalam penelitian skripsimu. Bertanyalah dengan baik dan sopan, serta disiplinlah dengan jadwal konsultasi. Menghargai waktu orang lain adalah cerminan kebersihan hatimu dan tentunya akan sangat membantumu menyelesaikan skripsi tepat waktu. Kamu nggak mau diwisuda terakhir kan?

Selamat “menangkap” ide, ya!

Posted in Writing & Beyond | Tagged , , , | Leave a comment

Buat Liburanmu Lebih Menyenangkan dengan Menulis!

Kalau kamu bisa sempatkan beberapa waktu saja untuk menulis saat liburan, kamu bisa juga lho menerbitkannya! Loh, kok bisa? Gimana tuh caranya? Mau tau kan? Yuk, simak di sini infonya!

Menulis saat liburan bukan aktivitas yang mengganggu. Kamu bahkan bisa mengabadikan momen liburanmu melalui tulisan yang berhasil kamu terbitkan. Sekarang ini, banyak sekali website resmi yang mengunggah cerita-cerita atau bahkan tips-tips menarik seputar liburan. Lagi pula, dengan menulis kamu berarti sudah berkontribusi juga pada dunia literasi!

Perjalananmu bersama keluarga mungkin bukan suatu hal yang penting untuk disebarluaskan. Tapi bagaimana kamu menempuh perjalanan itu, berapa biayanya, destinasi wisata apa yang kamu tuju, fasilitas apa yang kamu dapatkan di penginapan serta apa yang kamu temukan saat tamasya pasti akan membantu orang lain ketika hendak menuju tempat yang sama.

Nah, sudah menulis semua hal itu? Berarti kamu siap untuk menerbitkan tulisanmu! Caranya? Kamu bisa banget mengirim tulisan perjalanan ke majalah Femina. Jangan salah, meskipun Femina adalah salah satu majalah wanita terbesar di Indonesia, Femina menerima tulisan hasil perjalanan dari siapapun selama sesuai dengan kriteria penulisan yang diminta. Jadi, tidak harus perempuan yang menulis cerita perjalanan itu.

Femina biasanya juga meminta penulis untuk melampirkan foto-foto perjalanan. Pas banget kan sama kamu yang hobi jeprat-jepret? Tapi, jangan salah ya, bukan foto selfie yang diminta melainkan foto-foto di destinasi wisata yang kamu tuju. Aku pernah mengirimkan naskah perjalananku ke Bishkek dan alhamdulillah naskahku diterbitkan. Memang agak lama untuk proses penayangannya, tapi ternyata Femina memberikan honor yang tak kalah menggiurkan!

IMG_7900

perjalananku di Bishkek diterbitkan Majalah Femina dan bisa kamu akses secara online di sini.

Tidak hanya Femina, kamu juga bisa menerbitkan tulisan liburanmu ke rula.co.id. Kalau di Rula, kamu bisa menulis tips atau hal-hal unik seputar perjalanan. Tahun 2016 lalu aku pernah gabung di Creative Hub Rula karena masuk finalis di kompetisi menulis Help Nona. Dari situ aku belajar banyak sekali tentang menulis, terutama bagaimana cara menerbitkan tulisan (which is still out of my fact life karena mungkin aku kurang memacu diri). Sempat gabung di Rula dan menulis beberapa artikel di sana adalah anugerah buatku (baca ya tulisanku di Rula!. ) Setelah itu aku terpaksa mengundurkan diri karena aku kurang engaged dengan waktu juga banyak tugas kantor (limpahan dari sekretaris lama) yang menumpuk kala itu.

Nah, gimana dengan kamu yang rajin nulis pakai Bahasa Inggris?

Menulis dengan Bahasa Inggris yang fasih, benar tata bahasanya serta mengangkat konten menarik sangat dibutuhkan di berbagai website perjalanan. Salah satunya The Culture Trip. Belum pernah sama sekali sih kirim ke The Culture Trip, mungkin kesempatan selanjutnya di tahun 2018 aku akan coba ikut berkontribusi mengirim naskah ke sana. Kalau kulihat dari websitenya, The Culture Trip itu mirip-mirip Rula. Mereka menyuguhkan artikel yang informatif, ringan dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Website ini juga membuka kesempatan seluas-luasnya untuk penulis dari berbagai negara untuk menulis seputar perjalanan dan budaya.

Jadi, tetep cuma leha-leha dan membiarkan semua kesempatan itu lewat di hadapanmu? No, way! Ayo buka agenda atau laptop dan mulai tulis perjalananmu!

Posted in Writing & Beyond | Tagged | Leave a comment

Jangan Pernah Berhenti Menulis!

Sudah masuk liburan panjang Natal dan tahun baru 2018. Salah satu elemen penting dari seorang penulis atau setidaknya gemar menulis pastinya menulis, ya kan? Nah, kadang liburan panjang, perjalanan wisata atau kumpul-kumpul bersama keluarga suka bikin kita lupa dengan jadwal menulis.

Tadinya sudah jelas nih jadwal menulis cerpen, kelanjutan novel atau mungkin sekedar menegaskan karakter tokoh-tokohnya. Tapi, karena liburan panjang yang begitu seru ini sayang dilewatkan, kita bisa saja hanyut dalam euforia dan kesenangan selfie bareng keluarga.

Buat kamu yang suka menulis, hal itu jelas akan mengurangi kualitasmu mengolah tulisanmu. Menurutku sih, menulis itu harus dilakukan setiap hari meski dalam bentuk tulisan yang berbeda. Sekali, dua kali boleh-boleh saja rehat menulis. Namun jika berlarut, efek selanjutnya akan berbahaya karena rasa malas yang sekali atau dua kali itu bisa menular ke hari-hari selanjutnya.

Jangan Berhenti Menulis

board-2449726_960_720

dokumen pixabay

“Liburan ya liburan! Jangan nulis mulu, dong!” aku pernah loh digituin sama orangtua waktu masih SMA dulu. Ceritanya, aku suka banget nulis cerpen, novel dan bahkan puisi. Sampai-sampai kemanapun aku pergi, aku selalu bawa buku agenda. Termasuk ketika liburan panjang kala itu, aku sedang berada di Solo dan menginap di Sunan Hotel. Saat memanjakan diri dengan perawatan tubuh di Spa hotel, aku bahkan menulis puisi dan membaca novel!

Kemampuan itu seakan-akan masih kurasakan sampai sekarang. Bahkan jujur, aku sangat merindukannya. Di awal kuliah, aku pernah mengalami masalah keluarga dan membuatku depresi. Aku bahkan sempat mendapat perawatan medis dan spiritual selama dua tahun. Selama itu, aku muak melihat buku harian karena mengingatkanku pada masalahku.

Maka selama dua tahun itu aku tidak membaca buku dan menulis kecuali ada beban tugas kuliah. Membaca dan menulis sastra kutinggalkan meski dulu sempat jadi jadwal nomor wahid dalam hidupku. Selama itu, aku hanya membeli buku dan mengumpulkannya di rak (kini kutahu itu simtom tsundoku).

Aku mulai menata kembali kehidupan menulisku di tahun 2014 ketika pulang dari Kyrgyzstan. Mungkin, karena perjalanan jauh ke negeri orang, berhasil membuatku menyelesaikan satu buah novel dalam satu bulan dan bahkan juara dua senasional! Kupikir karena kontennya benar-benar baru yaitu kultur dari belahan bumi lain. Kalau secara bahasa sih, aku mengakui tulisanku itu tidak begitu brilian.

Tapi, masalahku belum selesai. Lepas itu, aku sempat kelimpungan karena tidak menulis lebih dari dua tahun (aku mengalami depresi di tahun 2010. Terapiku dimulai di tahun itu dan baru berakhir di tahun 2012. Itu pun kadang aku masih suka bentur-benturin kepala). Akhirnya, aku mulai menyusun jadwal menulis dan ternyata cukup ampuh! Aku memaksa diriku untuk patuh pada jadwal dan tidak mementingkan hasil. Yang penting aku menulis!

Untuk itu, aku sangat tidak merekomendasikan kamu untuk sekali saja berhenti menulis. Entah karena kamu depresi, sibuk, apalagi malas. Menulislah! Meskipun tulisanmu tidak diterbitkan. Meskipun tulisanmu berantakan. Meskipun menurutmu tidak ada ide apapun yang bisa ditulis. Tulis saja apa yang ada di dalam kepalamu, apa yang kamu rasakan.

Jangan biarkan rasa malasmu mengalahkan habit menulis yang positif. Jika kamu merasa tulisanmu kurang berbobot, kamu bisa memulai dari membaca apapun yang menarik minatmu. Mulai dari situ, kamu akan penasaran dan terus mencari tahu. Jika demikian, gagasanmu tentang menulis akan muncul dan kamu pasti akan siap untuk menulis gagasan itu!

 

 

 

 

Posted in Writing & Beyond | Tagged | Leave a comment

Revolusi Mami*

*artikel ini belum pernah dipublikasikan dan atau diikutsertakan pada lomba-lomba sebelumnya.

17636924_10209220811977445_938223883861402006_o

mamiku sang revolusioner

 

Mami…

Perempuan yang telah menghabiskan separuh lebih usia pernikahannya untuk mengasuh kami ini, kupanggil dengan sebutan ‘Mami’. Keputusan mami untuk meninggalkan jabatannya sebagai sekretaris direksi sebuah perusahaan swasta ternama di Indonesia tidaklah mudah. Ia mungkin telah berjibaku cukup lama dengan egonya. Bahkan ketika perlahan ia mengimani bahwa sebagai manusia ia harus menutup aurat-auratnya yang penting. Mami meninggalkan perusahaan besar itu. Perusahaan yang sudah sangat baik terhadapnya selama ini. Perusahaan yang tidak melarang karyawannya untuk membawa anak di hari lembur. Mami meninggalkan kenangannya di sana. Pada sebuah kardus berisi dokumen-dokumen yang mesti diberangus sebab tidak layak lagi untuk ‘diwariskan’ pada sekretaris selanjutnya. Dengan wajah serius mami mengemasi perintilan unik yang menghiasi meja kerjanya; foto suami, kertas memo, tempelan magnet dari berbagai belahan dunia, dan tentu saja fotoku; anak pertamanya.

*

Mamiku seorang filatelis. Masa pacarannya dengan papi bahkan dihiasi dengan kado-kado perangko jadul–lengkap dengan albumnya. Ia mewariskan salah satu kegemarannya itu padaku. Juga berbagai buku, majalah dan kaset lagu. Semua koleksi mami itu tersusun rapi di rak buku rumah baru kami.

Mami tahu benar minatku terhadap matematika begitu kecil. Ditambah, aku pernah mendapat ‘perlakuan’ kurang baik dari guru matematika hanya karena tidak bisa mengerjakan satu soal pembagian. Rasa benciku terhadap pelajaran yang satu itu kian mengakar. Mami terus berusaha mencari berbagai cara agar aku bisa diterapi belajar sampai-sampai aku masuk kursus Aritmatika. Meski tidak mengubah total kemampuan dan minatku, setidaknya tanganku tidak tremor lagi saat mengerjakan soal matematika.

Oleh karenanya, mami lebih intens mendidik dan menuntunku membaca banyak literatur. Ia mulai lupa pada kesedihannya akan perusahaan yang ditinggalkannya itu. Meski begitu, ujian dan godaan masih menderu; anak cabang perusahaan di kota tempat kami pindah membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi mami untuk kembali bekerja. Tawarannya pun menggiurkan; naik jabatan, salary dan fasilitas lainnya.

Namun mami tidak mengharapkan itu semua…

Mami kian semangat mengajariku membaca, menghitung, bernyanyi, mendeklamasikan puisi, dan bermain peran. Perlahan, sorot matanya sudah cerah dan berbinar seperti sedia kala. Prestasiku di dunia sastra muncul di bangku sekolah dasar dan membuatnya gembira serta merasa bersyukur telah melampaui ambisinya.

Ketika duduk di kelas empat, mami mulai melibatkanku di dapur. Bukan sekedar cuci piring atau cuci sayuran. Aku sudah terbiasa dengan itu semua sejak kelas dua. Mami memberikan kesempatan padaku untuk memasak. Masakan pertamaku kala itu adalah tumis kangkung dan bakwan goreng. Mami bangga dengan hasilku. Maksudku, apa sih yang membuat orangtua tidak bangga?

2017-12-05-134909-untitled-1-07

dok: saliha.id

Dari semua itu, aku belajar. Mami melakukan sebuah sikap idealis yang tidak membatasinya berprestasi dari ‘sekedar’ ibu rumah tangga. Definisinya tentang keberhasilan tidak semata melahirkan uang dan materi. Mami telah berhasil memandang sesuatu di balik sesuatu yang acap kali alpa bagi perempuan yang begitu kuat mempertahankan hasratnya. Mami membuktikan sebuah jalan bahwa untuk menjadi perempuan hebat, tidak melulu menduduki posisi jabatan tertentu di perusahaan. Karir, merupakan sesuatu yang amat mulia dan juga bisa didapatkan di rumah; sebagai pendidik anak-anak yang terus menerus belajar dan mengevaluasi diri. Dengan peran itu, mami yakin ia menjadi sang pembaharu. Lagi pula, mami sering memberi semangat; “kerjalah sebelum menikah dan puaskan dirimu di sana,

Revolusi yang dilakukan mami atas hidupnya benar-benar menginspirasiku. Atas kerelaannya, aku jadi mengenal betapa sulit dan mahalnya sikap menjaga dan teliti dari koleksi filateli. Atas asuhannya, aku jadi mampu menulis ribuan kata setiap hari, entah membantu temanku menerjemahkan atau menulis cerita pendek dan esai untuk koran. Atas kedisiplinannya, aku merasakan betul nikmatnya jatuh cinta pada sastra, roman, filsafat dan sejarah kehidupan. Atas keberaniannya, aku mampu mengarungi sepertiga dunia, menjumpai banyak keragaman di negeri orang dan melahirkan satu buah novel indie tentang chubbul wathan min al-iimaan.

Mamiku tidak jarang bertolak belakang pemikiran denganku yang kepala batu ini. Namun, dibalik keras didikannya itu, tersisip lembutnya cinta kasih seorang ibu yang tidak akan pernah bisa kubalas setitik darahpun.

*

Setahun lalu, sebulan sebelum pernikahanku berlangsung, aku memutuskan sesuatu. Duduk di kursi jabatan sebagai sekretaris direktur mengingatkanku pada pengalaman mami dulu. Sembari menyiapkan kardus kosong dan mengarsipkan dokumen lama, kubersihkan satu-persatu hiasan di meja kerjaku. Jambangan dan bunga kertas dari sahabatku di Bishkek, Memo tempel warna-warni, Sebotol kecil minyak wangi…

Dan terakhir, di dalam laci. Sebuah pigura potretku bersama perempuan paling tangguh sedunia; Mami.

Posted in Feature, Journalistic, Partisipasi Lomba Blog | Tagged | 2 Comments