Ketidakadilan dan Kuasa

Ketidakadilan terjadi pada suatu hal kecil, sedang, bahkan besar. Sesuatu yang semestinya bisa unggul sebab diperjuangkan, menjadi korban dari ketidakadilan. Ketidakadilan terjadi saat kita mendengar manusia saling mencerca warna kulit dan ras. Ketidakadilan terjadi saat sepasang tanduk rusa nan elok, juga gading gajah dan cula badak hitam dikebiri. Ketidakadilan terjadi saat ribuan ijazah digelontorkan pada kaum muda sementara seluruh usia produktif mereka dipasung pada pabrik-pabrik kapitalis. Ketidakadilan terjadi saat masyarakat mayoritas menggeser kebebasan masyarakat minoritas atas nama agama atau apapun.

Marxisme memaparkan tentang monopoli kuasa yang dilakukan kaum borjuis. Dominasi dan monopoli kaum borjuis ini kemudian menentukan kehidupan seluruh masyarakat. Begitupun dengan gagasan Thomas Hobbes, menurutnya, kekuasaan hanya menjadi milik lembaga yang disebut negara dan negara memiliki kuasa mutlak untuk menentukan kehidupan masyarakat. Keduanya mencitrakan sebuah kesan ‘kekuasaan’ yang buruk. Kekuasaan adalah kebusukan. Kekuasaan selalu dilakukan satu pihak yang lebih kuat. Kekuasaan adalah bermakna yang demikian itu dan tidak mungkin menjadi bagian dari kemanusiaan. Sebab, baik pemikiran Marxisme dan Thomas Hobbes memiliki dampak masing-masing; Marxisme melahirkan monopoli kuasa kelas atas dan Hobbes tentunya kekerasan yang dilakukan pemerintah (lembaga negara), seperti yang pernah Indonesia alami di zaman Orde Baru, otoriter penguasa.

Hey, keadaan ini yang begitu selaras dengan semua ketidakadilan itu. Berarti benar, kan? Bahwa ketidakadilan memang terjadi sebab kekuasaan? Seandainya tidak ada kekuasaan, pun tidak ada jiwa yang menginginkannya, maka dunia akan damai dan bebas dari segala ketidakadilan! Benarkah begitu?

Kuasa

Bagaimana jika pertanyaan sebelumnya dijawab dengan suatu pertanyaan juga? Begini, jika memang ketidakadilan merupakan akibat dari kuasa, maka sampai kapan manusia harus menunda kemaslahatannya? Apakah sudah bisa menjawab sejauh ini?

Kenyataannya, filsuf klasik memiliki paradigma yang berlawanan dari filsuf modern. Pada dimensi abad para filsuf klasik, umumnya mengaitkan kekuasaan pada hal-hal yang bersifat kebaikan, kebajikan, keadilan dan kebebasan. Sebuah kontradiksi dari apa yang telah terjadi hari ini. Oposisi dari Marxisme, gagasan Hobbes dan pemikiran Machiavelli. Bahkan pada masa klasik itu, para pemikir religius menghubungkan kekuasaan dengan Tuhan. Lebih jauhnya, mereka mengenal kekuasaan politik hanya sebagai alat untuk mengabdi tujuan negara yang dianggap agung dan mulia yaitu kebaikan, kebajikan, keadilan, kebebasan yang berlandaskan kehendak Tuhan dan untuk semata-mata kemuliaan Tuhan.

Sebuah alat, katanya. Sebuah strategi yang digunakan untuk mencapai sesuatu. Wacana tentang kekuasaan dianggap penting karena umat manusia berkepentingan untuk menemukan cara bagaimana agar mampu menyeimbangkan kekuasaan itu sendiri. Keseimbangan distribusi kekuasaan antara subyek di dalam masyarakat akan melahirkan keamanan internasional yang terjamin. Strategi untuk mencapai keamanan ini, kesejahteraan ini, kebajikan ini, kebaikan ini adalah kekuasaan itu sendiri. Sesuatu yang ditulis Michael Sheehan sebagai cita-cita semua bangsa. Dan, salah satu filsuf strukturalis Michel Foucault telah menjabarkan hal bernama ‘kuasa’ ini seiring dengan apa yang ditulis oleh Sheehan, pun dengan gagasan Kuhn.

Foucault tidak pernah mendefinisikan kuasa secara konseptual, itu yang lebih unik dan menjadi istimewa dibanding pemikir lain yang mungkin relevan dengannya. Kekuasaan menurut Foucault adalah satu dimensi dari relasi. Di mana ada relasi, di sana ada kekuasaan. Atau, sesuatu yang lebih menekankan bagaimana kekuasaan itu dipraktikan, diterima dan dilihat sebagai kebenaran serta berfungsi dalam berbagai bidang hidup.

Kekuasaan menurut Foucault dengan begitu bertolak belakang dengan Marxisme juga dengan Hobbes. Bukan monopoli suatu lembaga negara, pemerintah, kepala pemerintah, atau kaum tertentu. Bukan tindakan represif, bukan kekerasan, bukan sesuatu yang menyiksa. Kekuasaan berangkat dari kekuatan setiap subyek pemikir dengan kreatifitas mereka untuk saling bersinergi dalam hidup bersama. Sebuah inspirasi bagi paham demokrasi yang kemudian dikenal khalayak sampai hari ini.

Semua konsep kekuasaan baik menurut Marxis dan Hobbes, dikritisi oleh Foucault dan lebih menunjuk pada mekanisme dan strategi dalam mengatur hidup bersama. Di dalamnya terdapat beberapa tahapan yang seiring dengan apa yang dikatakan Thomas Kuhn sebagai paradigma bersama (1).

Kekuasaan Sebagai Suatu Strategi dan Mekanisme

Pertama; peran hukum dan aturan-aturan. Foucault mengatakan “kuasa tidak selalu bekerja melalui represif dan intimidasi melainkan pertama-tapa bekerja melalui aturan-aturan dan normalisasi”. Bukan karena aturan yang menekan maka disebut kuasa melainkan persetujuan atau konsensus bersama.

Kedua, tujuan kekuasaaan. Tujuan dari adanya mekanisme kekuasaan ialah membentuk setiap individu untuk memiliki dedikasi dan disiplin diri agar menjadi pribadi yang produktif. Setiap subyek dalam masyarakat akan menyumbangkan kreativitas untuk saling bersinergi. Produktifitas dilihat dari bagaimana setiap individu saling memberikan upaya untuk kemaslahatan bersama, diakhiri dengan persetujuan bersama pula.

Ketiga, Kekuasaan itu tidak dilokalisasi tetapi terdapat di mana-mana. Karena kita tahu sebelumnya Foucault menjelaskan bahwa kekuasaan adalah keterkaitan antara relasi. Di mana ada relasi di sana ada kekuasaan maka ruang komunikasi antar subyek masyarakat termasuk usaha-usaha untuk bekerja sama adalah wujud dari kekuasaan terdapat di mana-mana. Kerja sama itu yang kemudian mewujudkan cita-cita seluruh subyek yang sesuai dengan bunyi butir Keempat, kekuasaan yang mengarah ke atas.

Kelima, kombinasi antara kekuasaan dan Ideologi. Merupakan pengakuan terarah pada setiap subyek untuk mencapai kemaslahatan bersama. Sebuah tindakan untuk menjalankan hukum dan aturan yang terarah agar mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.

Kesimpulan

Sebagai tokoh filsuf post-modernisme, Foucault terang saja mengritisi pemikiran modern (Marxis, Hobbes dan lainnya yang mengonsepkan kuasa sebuah monopoli kekuatan atau tindakan represif). Sebagaimana yang dijelaskan tentang post-modernisme; suatu intensifikasi (perluasan konsep) bersifat dinamis yang merupakan upaya untuk terus mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan. Post-modernisme menentang narasi besar (meta-naratif), menolak filsafat metafisis, filsafat sejarah serta segala bentuk totalitas. Di dalam bidang filsafat, post-modernisme diartikan sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan metafisika pada umumnya untuk menemukan bentuknya yang kontemporer.

Meski demikian, teori kuasa milik Foucault relevan juga dengan para filsuf di era klasik. Sebuah paradigma tentang kekuasaan yang berkaitan pada kebaikan, kebajikan dan bahkan sesungguhnya untuk suatu keadilan dan bahkan kebebasan! Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dipikir oleh filsuf modern.

Rupanya, kita tak perlu menjumpai ketimpangan, juga perpecahan. Seharusnya pula, tidak kita temui berbagai kelas dan dikotomi, tidak ada pengistilahan dan penggolongan suatu ras, warna kulit dan atau etnis tertentu. Semestinya, lingkungan yang berada di sekitar manusia, satwa dan kekayaan yang terdapat di dalamnya tidak direnggut dan meninggalkan jejak berdarah.

Juga para petani kita patutnya bangga dengan jerih payah mereka, dihormati dan diapresiasi sebab usaha mereka sebagai subyek yang telah berkontribusi bagi negara. Kepada pejuang Hak Asasi Manusia atau siapapun yang berusaha untuk mewujudkan suatu konsensus sebuah kehidupan bersama.

Dan, tidak ada lagi pembunuhan serta diskriminasi atas nama apapun.

Mungkinkah?

Jakarta, 21 Oktober 2017. Pada hari ulang tahunku ke-26, selangkah lebih dekat lagi menuju kematian di antara subyek-subyek manusia yang juga mengantri, untuk meregang nyawa.

Sumber bacaan:

(1) Kuhn melihat bahwa pandangan dasar setiap orang dikomunikasikasi bersama sehingga mencapai adanyan pandangan dasar bersama. Paradigma pertama-tama tidak merujuk kepada pandangan setiap orang tetapi merujuk padangan dasar bersama.

Dr. Haryatmoko.2003.  Etika Politik dan Kekuasaan, Jakarta:Kompas

Dr. Konrad Kebung, SVD. 2008. Rasionalisasi dan Penemuan Ide-Ide, Jakarta:Prestasi Pustaka

F. Budi Hardiman.2007. Filsafat Modern, Jakarta:Gramedia

Michel Foucault. 2002. Wacana Kuasa/Pengetahuan, diterjemahkan oleh Yudi Santoso, Yogyakarta:Bentang Budaya

Scoot Lash. 2004. Sosiologi Postmodernisme, Jakarta:Kanisius

Thomas Kuhn. 2000. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, terjemahan Tjun Sumarjan, Bandung:Remaja Rosdarya

Posted in Feature, Journalistic | Tagged | Leave a comment

Marina Tsvetaeva: Akhir Hidup Seorang Penyair yang Tak Seindah Puisinya

there’s just one answer to your, senseless world–refusal,Marina Tsvetaeva.

(hanya ada satu jawaban untuk duniamu yang tidak masuk akal, penolakan,”

Bulan Oktober adalah bulan Bahasa. Biasanya saya baca buku sastra selama bulan ini dan merefleksi kehidupan saya. Kali ini saya mau bertualang ke Rusia (dalam imaji saya hehe) dan jika pada pertengahan tahun lalu saya merayakan Pushkin Day, kini saya mengenang Marina Tsvetaeva. Salah satu sastrawati Rusia yang lahir di bulan Oktober dan mengakhiri hidupnya dengan tragis, sama seperti akhir hidup penyair besar Rusia kenamaan; Pushkin!

***

Marina Tsvetaeva mengakhiri hidupnya dengan gantung diri dalam kondisi jiwa yang penuh derita dan gejolak di tahun 1941. Berbeda dengan Pushkin yang mati karena sakit akibat duel, namun konon tubuhnya dicuri diam-diam untuk dimakamkan di tempat lain. Menurutku, keduanya memiliki riwayat kematian yang tragis.

Di kota Yelabuga (kini Tatarstan) tempat di mana Marina mengakhiri hidupnya dengan tragis, didirikan sebuah museum yang mengenang seluruh karya sastranya. Tulisannya masih terus dipelajari, diteliti dan dikutip masyarakat Rusia sampai saat ini.

Masa Muda

Marina mulai menulis puisi sejak pertama kali dia mampu berdeklamasi. Dia lahir pada tanggal 8 Oktober 1892. Ayahnya, Ivan Tsvetaev (1847-1913) adalah anggota koresponden Akademi Ilmu Pengetahuan St Petersburg di Universitas Moskow. Pada tahun 1911, Museum Seni (yang saat ini dikenal sebagai Museum Pushkin berlokasi di dekat Gereja Kristus Penyelamat di Moskow) ternyata merupakan inisiasi dari Ivan Tsvetaev.

Tsvetaeva rupanya mendapatkan pengaruh kuat dari beberapa tokoh baik filsuf, penyair dan penulis. Filsuf dan budayawan Nikolai Berdyaev misalnya, Penyair Pavel Antokolsky dan Penulis kenamaan; Maxim Gorky. Masa kecilnya diwarnai dengan perjalanan lintas beberapa negara Eropa yang amat dia suka seperti Swiss, Jerman dan Krimea. Marina Tsvetaeva kemudian diketahui menempuh pendidikan awal masa mudanya di rumah (home-schooling) dan mempelajari subjek pelajaran musik dan bahasa. Beberapa tahun kemudian, Tsvetaeva diketahui lulus dari Moscowis Prestigious Pototskaya dan Bryukhnenko Schools.

Marina Tsvetaeva, Karya dan Ikatan Batin dengan Pushkin

Meski dipengaruhi banyak tokoh besar, Marina rupanya lebih merasa punya ikatan dengan Sastrawan besar, Pushkin. Dengan gamblang, Marina mengatakan bahwa dirinya merupakan pewaris Pushkin. Salah satu karya prosanya berjudul ‘My Pushkin” ditulisnya, “Saya muncul dari Pushkin. Saya adalah pewarisnya, dia adalah Pusat dan Inspirasi sajak-sajak saya. Di dalam dirinya terdapat keabadian puisi saya karena kami berdua adalah para penyair Tuhan.”

Karya pertamanya terbit pada tahun 1910 dengan judul Vecherny Albom (Evening Album) yang memuat cinta dan idealismenya akan pendidikan yang ia tempuh. Karya pertama ini memiliki nuansa berbeda dengan karya selanjutnya yaitu Juvenilla (1916) yang lebih tenang, rimanya lebih damai, dan memuat efek dari Perang Dunia I terhadap penyair-penyair muda Rusia. Puisi-puisi Marina kemudian dicatat sebagai puisi dengan karakteristik energi yang kuat, jernih, mengekspresikan kebebasan dan berjiwa non-konformis.

Pasca masa remajanya, karir Marina berangsur surut. Tanpa sepengetahuan Marina, suaminya, Sergei Efron yang berpihak sebagai Anti-Soviet (white Army) yaitu menentang Boslheviks saat Perang Sipil di Rusia diasingkan keluar Rusia. Pada tahun 1922, Marina dan anak-anaknya menyusul sang suami. Dalam pengasingan 17 tahun mereka di dekat wilayah miskin di Perancis, tepatnya pada tahun 1928 Marina menerbitkan karya terbaiknya yang berjudul “After Russia”. Sayangnya, karya ini kurang ditinjau oleh rekan-rekannya dan dinilai terlalu Avant-Garde. Sementara itu, Marina masih dalam pengasingan dan menerbitkan karya terakhirnya, “Poems to Chekoslovakia” di tahun 1939.

Akhir Hidup 

Di tahun yang sama dengan karya terakhirnya, Marina sekeluarga kembali masuk ke Uni Soviet (Rusia pada kala itu). Pasangan suami-isteri dan dua orang anak itu tinggal di kota Bolshevo. Mereka tiba di Soviet dalam pengawasan atau pengamatan kuat NKVD (The Soviet Union Infamous Secret Police). Namun, tak lama kemudian layaknya para intelektual yang tewas dibunuh, Sergei Efron yang sudah sakit-sakitan pun dieksekusi mati. Dia ditembak. Sementara putri mereka, Ariadna dikirim ke penjara di Kamp Komi. Ironisnya, hasil penelitian terbaru menemukan bahwa Sergei dan Ariadna memiliki keterkaitan atau relasi dengan NKVD. Penemuan itu membuat kematian Sergei dan Ariadna menjadi dua kali lipat tragis.

Marina kemudian dipindahkan ke Yelabuga (sekarang Republik Tatarstan) pada awal-awal masa Perang Dunia 2. Dengan rasa kehilangan teramat sangat akan keluarganya yang mati, serta minat seksualitasnya yang berbeda (beberapa ahli mengatakan bahwa Marina diindikasikan lesbian) juga kesulitan makan dan hidup yang dialaminya di Yelabuga, Marina memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Selepas kematiannya, sosok Marina dianggap berbahaya karena karya-karyanya. Semua karyanya dianggap semi-dilarang selama masa Perestroika (перестройка, yaitu reformasi politik dan ekonomi yang dilakukan Mikhail Gorbachev).

Sumber bacaan:

Ahead of Her Time: Valentina Kolesnikova. Russian Life, Oct 1997;40,10: Ethnic News Watch Pg.21

Donna Seaman from Kudrova Irma “The Death of a Poet; the last days of Marina Tsvetaeva” Booklist/Feb 15, 2004. Proquest. pg 1018.

Posted in Brief Biography, Feature, Journalistic, Russian Language Course | Tagged | Leave a comment

Hadrah Kiai (Bagian Hadrah Arwah) dan Apa yang Kupikirkan Setelah Membacanya!

Hadrah—jika dilihat dari maknanya, hadrah; makaan al-chudhuur dzaatihi (merupakan tempat kehadiran zatnya). Suatu penjelasan yang menyatakan kedekatan baik secara fisik atau pula emosi. Lebih runtut lagi, hudhrah, hidhrah dan hadharah bisa diartikan sebagai suatu keadaan hadirnya seseorang atau sesuatu.[1] Hadrah Kiai, sebagaimana Raedu Basha menuliskan pada judul antologi puisi terbarunya. Adalah sekumpulan puisi yang ditulis begitu intim dari seorang santri kepada atau tentang para panutannya.

Di dalam tulisan ini, aku bermaksud mencurahkan perasaan dan pikiranku tentang Hadrah Kiai. Apa yang kupikirkan setelah membacanya. Terutama pada tiap kalimat dalam bait yang tersusun tidak lepas dari rima puisi meski begitu naratif. Sulit bagiku memang untuk menyanyikan puisi Raedu, tak seperti bila mengambil nada pada puisi-puisi liris milik Sapardi. Namun, di situlah kekuatannya! Kau tidak tahu betapa magis kata-kata yang ia rangkai, terutama jalinan dan bukan sekedar pemilihan diksi.

            bersama ciuman takzim, wangi

            Menyergap diriku dalam puisi…       

K.H.R.A. Azaim Ibrahimy mengatakan pendapatnya tentang makna Hadrah, menurutnya itu bermakna menghadirkan, “…seolah kita diajak untuk hadrah (menghadirkan) spiritualitas diri kita dalam membaca manakib ulama nusantara…” dan bagiku, pemaknaan Hadrah lebih dari ‘menghadirkan’ tapi ada something beyond what you see seperti slogan blog-ku ini. Raedu sendiri mengatakan bahwa ia seperti hendak bangun dari tidur dan mencoba berdialog dengan David Jacobson tentang unsur etnografis yang sebenarnya mampu dibangun di dalam puisi. Maka aku melihatnya jauh di balik kesengajaan Raedu ‘menghadirkan’ sosok-sosok, baik yang sudah menjadi arwah ataupun masih zahir bagi mata, Hadrah telah berhasil menggelar banyak pentas di banyak tempat (khususnya maqam khayal dan bathin pembacanya). Hadrah dengan demikian adalah tempat di mana peristiwa-peristiwa zahir maupun magis pernah digelar dan mungkin Raedu ingin terus menggelar pada tempatnya masing-masing. Bagaimana Hadrah itu sendiri mampu mewujudkan unsur etnografis sangat terasa pada setiap diksi yang mengacu pada lokasi, momen atau suatu peristiwa waktu. Aku dengan nikmat berkelana di kota-kota Asia, lompat ke Afrika Utara, Saudi, atau kemudian bergelayut seperti si Amang di bumi Nusantara. Jika bisa kusandingkan, kumpulan puisi ini tidak ubahnya cerita puitis tentang petualangan; sebuah kunjungan beruntun.

Akan tetapi, tahukah kamu bahwa tulisanku ini bermula dari sebuah puisi berjudul Taklikat Fakih dan Sufi di halaman 11? Di sana, aku merasa, “puisi ini mengaliri darahku!” ada beberapa kenangan yang menyapaku di balik penulisan puisi ini dan puisi-puisi sesudahnya. Bermula dari itulah kupikir, aku harus menuliskan sesuatu!

*catatan: tulisan berikut ini mungkin membuat beberapa orang tidak mengerti, tidak percaya atau bahkan menyimpulkan sesuatu begitu cepat. Yang perlu kau tahu, itu bukan tujuanku. selamat membaca!

Mulanya

Jadi, sebenarnya aku bukan seorang pembaca puisi yang freak. Hanya saja, sejak sekolah dasar, aku suka cara bertutur penulis melayu entah yang termaktub dalam prosa, puisi bahkan cerpen dan novel. Mereka seperti lebih dari sekedar berpantun. Sedikit banyaknya, puisi dan pantun-pantun dan bahkan cerpen atau novel itu kuulang-ulang dalam benakku. Beberapa kalimat mereka yang antik, unik. Lalu muncul nada-nada dalam benakku untuk merangkainya menjadi sebuah lagu. Sejak itu, membuat lagu dari puisi atau prosa menjadi hobi baruku.

Di bangku kuliah, aku bertemu dengan salah satu penyair yang juga guru besar Bahasa Indonesia di FKIP UNS, bapak Yant Mujiyanto. Aku dan teman-teman grup musikalisasi puisi memanggil beliau dengan nama penanya, Suksmawan. Suatu hari pada saat kami kalah bermusikalisasi puisi di sebuah ajang kompetisi, Ki Suksmawan meminta kami berjumpa dengannya. Dan, betapa terkejutnya kami bahwa beliau meminta kami membuat musikalisasi terhadap puisinya. Salah satu musikalisasi dari puisi beliau itu kemudian mengilhami kami membuat musikalisasi terhadap puisi-puisi karya penyair lain. Termasuk pada Chairil, Sapardi dan Raedu Basha.

Suatu malam di kota Solo, abangku datang tergopoh-gopoh dari Jogja. Dia yang dulu bekerja di Rumah Budaya Tembi, mengantarkanku sebuah buku berjudul Matapangara, “Nyoh, pesenanmu. Plus tanda tangan.” Lalu dengan gamblang dia ceritakan siapa penulis Matapangara itu dan aku selalu terkesima dibuai ceritanya. Berkat Matapangara, aku jadi tahu suatu kebaikan yang tak kubayangkan sebelumnya dari abangku ini. Rupanya, ia tak pelit-pelit amat soal belanja buku. Tinggal pesan, langsung dibelikan. Tapi, kalau aku pesan yang lain, apalagi pesan oleh-oleh kalau dia berkelana, pasti dia jawab, “aku nggak bawa oleh-oleh.”

Tentu, kita semua tahu siapa lagi penulis Matapangara kalau bukan Raedu Basha. Dari situ, abangku berpesan, “buatlah musikalisasi puisi dari salah satu puisi di Matapangara. Siapa tahu bisa tampil depan Raedu Basha dan menyanyikannya!” aku mengangguk. Kuajak gitarisku berunding dan kami cukup mumet pada mulanya. Bukan karena genre-nya—justru puisi-puisi Raedu di Matapangara sesuai dengan aliran musik kami yang pop-ballad-sufism. Tapi karena kalimatnya yang kurang liris dan gitarisku memberi saran, “untuk musikalisasi yang satu ini lain dari pada yang lain. kita baca, lalu kita dendangkan yang bisa didendangkan, lalu baca lagi.”

Kami terus bergumul pada tulisan-tulisan Raedu dan penyair lain sampai kami mengikuti lomba musikalisasi puisi di UGM dan meraih juara satu saat Raedu menjadi jurinya. Sampai malam kami di Jogja dan mendengar pendapatnya tentang pementasan kami. Dia tidak tahu, bahwa selama ini kami dibuat pusing oleh puisinya itu.

Hadrah Kiai, Om-ku dan Masa Laluku

wajah-wajah pertama menganut jalan sir

Wajah-wajah kedua berpedoman pada lahir

(hadrah kiai; hlm 11)

Apakah kamu orang yang percaya sesuatu yang sirr atau kamu meyakini absolutnya sesuatu yang zahir, semua itu kembali pada bagaimana kamu dibesarkan dan berproses sebagai manusia. Tapi yang jelas, kalau ada orang jengah dengan sesuatu yang Sirr itu dan mudah memberi label pada pemikiran dan sikap-sikap sufism, aku mempertanyakan keimanannya pada Tuhan. Bukankah Tuhan juga punya jalan cinta yang Sirr…?

Kebetulan sekali Hadrah Kiai mengingatkanku pada silsilah yang begitu ‘kenyang’ kudapatkan sejak kecil. Silsilah keluarga dari ibuku, ke bapaknya dan ke bapaknya lagi.

Kakekku, Raden Sarif Hidayat merupakan anak ketiga dari Sembilan bersaudara. Bapaknya, alias buyutku, Raden D. Soemaatmadja yang menikah dengan peranakan Tionghoa-Sunda (Nyai Uni Miat) adalah anak kedelapan dari Pangeran Mas Perwata, sementara Pangeran Mas Perwata adalah Putra dari Pangeran Ahmad Abdul Arifin. Nah, salah satu anak dari eyang buyut Rd. D. Sumaatmadja itu, yaitu eyang Raden Siti Rukini (aku memanggil beliau Eyang Engkin) memiliki seorang putra yang kalau kata orang sekarang, punya kekuatan spiritual.

IMG-20171015-WA0002

silsilah keluargaku dari garis Mami. kalau dari garis papi entah ke mana itu silsilah, yang jelas lebih rumit lagi haha. intinya, silsilah ini jadi teringat kembali setelah aku baca Hadrah Kiai.

Anaknya itu, kupanggil Om (paman). Sewaktu eyang Engkin hamil putranya ini, dia melihat sebuah sinar putih kebiruan masuk ke perutnya dari bulan purnama saat dia tengah duduk-duduk di luar rumah memandangi rembulan. Setelah melahirkan om-ku ini, eyang Engkin belum sadar kalau putranya mewariskan ‘sesuatu’ dari langit. Dan, entah bagaimana mulanya, saat mamiku (ibu kandungku) masih kecil dan tinggal di Cirebon bersama om-ku, menyadari bahwa om-ku punya indera keenam.

Mamiku cerita, kalau selama masa kanak-kanaknya dengan om-ku, adalah masa-masa sulit. Makanya, mami sering makan tumisan kulit singkong dan nasi kering yang diguyur pakai kuah sop atau sayur biar empuk. Uniknya, om-ku ini memberikan warna ceria bagi hidup mami. Menurut mami, om-ku waktu kecil suka jahil dan ‘ngomong sendiri’.  Dia bahkan tak sungkan memperingatkan orangtua yang suka judi atau mabuk.

Kehadiran om-ku dalam keluarga besar kami (keluarga Raden D. Sumaatmadja) memberikan banyak kontribusi positif. Terutama bagi kehidupanku ketika tahun 2010 saat aku mengalami perceraian dengan suami pertama. Masa itu merupakan masa terberat bagiku di awal kuliah di Solo. Nyaris bunuh diri dan gila di kamar kos hampir tidak terelakkan. Untungnya aku dibawa mami ke Cirebon dan om-ku inilah yang menasehatiku banyak hal.

Nah, puisi Raedu yang berbunyi “Sir…dan lahir…” membuatku mengingat bagaimana kepahitan di masa laluku mengajari banyak hal termasuk mengimani yang Sir, yang kebanyakan manusia tak mampu bahkan untuk sekedar berdiri sejenak di depan gerbangnya!

Om-ku mendudukkanku di hadapannya. Lalu seorang santrinya duduk di sisinya. Kami mulai rekes dengan bacaan-bacaan atas nama Allah, dan santri itu mulai ‘dimasuki’ qadam dari ruh mantan suamiku. Ia lalu menasehatiku untuk menerima talak dari suamiku yang menurutnya, jauh di dalam batin suamiku itu sudah disrespect terhadapku. Ia sendiri bahkan muak melihat dan membaca pikiran suamiku yang selama ini kerap membandingkanku dengan perempuan lain.

Qadamnya ruh itu (maaf kalau penjelasanku singkat dan mungkin istilah-istilahnya lebih tepat jika om-ku langsung yang menjelaskan) adalah kembaran dari ruh setiap manusia. Dan jika di padang maghsyar nanti kita disidang, dia akan menjadi saksi atas semua perbuatan yang kita lakukan di dunia. Dalam perantauan kita di bumi, dia akan menjadi pendamping ruh yang merasakan apa yang kita rasa. Jika kita merasa sedih, dia juga. Terutama saat hati kita jauh dari Sang Hyang Ada.

Perbincanganku dengan Om bukan berarti pertama kali masa itu. Sebelumnya juga sudah cukup sering, karena di pesantren, aku pernah ‘diteror’ arwah yang berada di sekitaranku. Ya, aku kecil suka lihat yang aneh-aneh dan mamiku percaya, karena sewaktu mami kecil sudah cukup kenyang dengan kelakukan om-ku yang ngobrol sendiri dan marah-marah sendiri. Persis gejalanya denganku semasa kecil.

Om mulai menjelaskan juga tentang perdebatan para wali dan bagaimana kisah-kisah dari para wali kerap kudengar dalam kajian kami. Sekali lagi, kalau kamu tidak meyakini ceritaku, bukan suatu masalah. Konon orang bijak pernah mengatakan, “jangan lihat siapa yang bertutur tapi makna dari apa yang dia ucapkan.”

Kajian di rumah om meliputi cukup banyak orang dan kalangan. Kebanyakan pasien om karena om juga mantri (paramedic) yang cukup terkenal di Cirebon. Kalau kusebut namanya di sini, kalian yang suka mondar mandir Plumbon-Pamijahan mungkin kenal. Dan, salah satu puisi Raedu juga mengingatkanku pada salah satu isi kajian di rumah om-ku saat malam jumat kliwon tiba;

Tak pernah sepi pembaringan muliamu, Sunan

Peziarah mengerumuni teduh nisan

Menabur kembang-kembang firman

(Ziarah Walisongo, hlm 14)

Pernah suatu kali, di saat Syekh Quro menyampaikan amalan untuk para pasien dan orang-orang yang menghadiri kajian melalui salah satu tubuh santri, Om-ku terlihat diam memejamkan mata. Ketika ia membuka matanya, ia berbicara kurang lebih begini intinya, “sekarang, di malam jumat kliwon ini, puluhan orang berdatangan ke makam Sunan Gunung Jati. Sementara peziarah itu banyak yang minta kekayaan, kesehatan dan keberkahan kepada Sunan. Sang Sunan malah duduk di sini, dan menangis takut kepada Allah jika kelak diminta pertanggung jawaban sebab orang-orang itu bukannya memohon pada Allah namun malah meminta kepada Sunan.”

Penjelasan om-ku itu sungguh singkat namun menusuk pada relung hati para manusia yang hadir. Kebanyakan mereka juga sering salah berpersepsi. Ketika semestinya minta diobati malah minta disembuhkan. Jelas-jelas, beda antara diobati dengan disembuhkan. Ya kan?

Dan, terkait perdebatan di kalangan Walisongo, om-ku juga sedikit bercerita kepadaku. Kenapa sedikit? Karena aku sering sekali bertanya hal yang macam-macam dari A sampai Z dan Om-ku sering bilang, “om ceritain yang perlu kamu tahu saja ya, kalau kejauhan, kamu belum siap.” Dan aku maklum. Apalah aku ini, Tuhan? Aku cuma penasaran, karena selama ini aku nonton dan baca buku tentang Walisongo dengan Syekh Siti Jenar. Namun tidak ada yang membuatku yakin.

“Intinya, di alam ruh sana, mereka semua sudah berbaikan. Kita sebagai manusia, ambil yang perlu untuk menjadi hikmah,” hanya itu yang dijelaskan om-ku terkait perselisihan Walisongo dengan Syekh Siti Jenar. Om juga sering memberi permisalan. Beliau mengatakan bahwa tidak semua orang akan mengerti tentang dirinya. “Boro-boro mengerti, percaya juga belum tentu. Dan itu bukan suatu masalah. Karena belum tentu yang kutahu diketahui orang lain dan orang lain ketahui, diketahui olehku, biar Allah yang menjadi pengadilnya,” ucapan om-ku yang kurang lebih begini sering kudengar. Sungguh mengejutkan bahwa ungkapan ini juga termaktub dalam puisi Raedu ketika berusaha menjelaskan sukma Siti Jenar;

Aku tahu apa yang kutahu

Aku tak tahu apa yang kutahu

Aku tahu apa yang tak kutahu

Aku tak tahu apa yang tak kutahu

Biarlah hanya zat yang tahu

(Gerbang Siti Jenar, hlm 20)

Hadrah Kiai dan Kekuatan ‘Healing’

Buku yang baik adalah buku yang setelah dibaca akan meninggalkan sense positif bagi batin pembacanya. Setidaknya itu yang kupercaya, dari beribu-ribu orang mengutip kalimat itu sebagai quote ke dalam bahasa mereka masing-masing.

Terlepas  dari pendapatku dan kisah yang telah kutulis setelah membaca Hadrah Kiai, kumpulan puisi karya Raedu Basha ini memang pantas diapresiasi. Para pakar sudah memberikan komentar terbaik mereka tentang buku ini dan menurutku, itu lebih dari isi kepala anak berumur jagung ini.

Bagiku, Hadrah Kiai (bagian Hadrah Arwah) tidak hanya berhasil menggelar tempat-tempat di mana seluruh peristiwa dan tokoh Kiai pernah berkelana dan berdakwah. Di dalamnya juga terjalin emosionalitas yang kuat dan begitu takzim. Bagian paling keren juga ketika Raedu mencoba mengalirkan kegelisahannya tentang persatuan rakyat Indonesia yang terguncang serta bagaimana panutannya memberi wejangan tentang Bhinneka Tunggal Ika. Hadrah Kiai, tidak hanya mampu menggelar itu semua namun juga menghadirkan sebuah ‘healing’ yang melebur masuk urat nadi bangsa ini.

Buat kamu yang ngaku puitis apalagi sampe bela-belain bikin puisi di sosmed, jangan melulu bicara cinta platonik yang ujung-ujungnya ngepop abis. Ayo basuh hati, basuh nurani dengan Hadrah Kiai!

P.S: Hmm sepertinya ada yang lupa kutulis, ada satu koreksi yang mungkin nggak penting-penting amat sih. Raedu menulis pada halaman 27 puisi Matahari Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan, “…berlanjut sanadnya kepada sang mujahid rasyid ridlo di Universitas tertua di dunia al-Azhar Kairo,” Nah, mungkin maksud penulis, Universitas Al-Azhar di Kairo itu salah satu yang tertua. Kalau begitu aku setuju, karena kalau Universitas tertua di dunia setahuku ada di Maroko, didirikan oleh Intelektual muslimah bernama Fatima. Dia dan adiknya mendirikan Sekolah Al-Qarawiyyin, universitas dan perpustakaan tertua di dunia pada 245 H atau 859 Masehi (lihat Sejarah Islam yang Hilang karya Firas Alkhateeb atau tirto.id)

[1] Kamus al-Munjid karya Luis Ma’luf, halaman 139, Penerbit Dar El Machreq, Riad el-Solh, Beyrouth, Lebanon. Cet 21 tahun 2003.

Posted in Journal | Tagged | Leave a comment

Harapan Aleksandra

BIRU bukanlah warna terbaik yang diharapkan Aleksandra. Bayinya sudah merengek lapar tapi matanya masih mengutuki warna itu. Biru bukan warna yang tepat. Baginya, biru hanya akan menyebar kemuraman.

Angin, aku perlu banyak celah agar angin bisa masuk. Ia membuka dua jendela besar. Angin dingin membasuh peluh. Lyubina sudah tidak terlalu rewel. Aleksandra menimangnya sambil bernyanyi dan memperhatikan satu persatu ruangan yang ada. “Biru ini membuat gelap keadaan yang harusnya lebih menceriakan,” ia masih menggerutu.

“Waktunya kau istirahat, Sayangku,” Aleksandra membuka kenop pintu dan semakin menggerutu, “Aku akan memberi warna hijau dan merah. Lyubina harus dibesarkan dengan keceriaan. Warna biru mengajarkannya merajuk.”

Perempuan itu mengecup Lyubina, mengayunnya sejenak dalam buaian sebelum akhirnya merebahkan lembut tubuh mungil bayi mungil itu dengan penuh cinta. Aleksandra kembali berdiri dan memperhatikan satu persatu hiasan dinding yang menempel. Sebagaimana hiasan dinding di seluruh dunia. Ragam lukisan tanaman bawang terjungkir ke bawah juga puisi-puisi yang tertuang dan Aleksandra mendesis tiap mengeja kalimat;

Vkursye vasyevo tsveta, nye raskrhivayet[1]

Tidak hanya lukisan tanaman bawang, tapi juga Thyme, Rosemary, Dill. Semuanya terbalik, semua menghala ke bumi.

*

Di balik ilalang tinggi, tampak taman kecil berisi ragam bebungaan. Aleksandra membiarkan bayinya terlelap sementara kulitnya merasakan embusan angin yang membawa wewangian bunga taman. Pori-porinya menegang, ia menyadari sepenuhnya, aku masih manusia, pikirnya. Perempuan itu hanyut dalam nyanyian bunga di taman kecil. Lily Paskah, Daphne, Opium,… bulu kuduknya bernyanyi, aroma yang masuk ke dalam kulit. Namun, salah satu pori kulitnya berdenyut. Seperti ada getaran sakit yang terhantar.

Aleksandra menyadari semua bunga di taman. Rupanya, warna biru Belladona yang menyakitiku, rupanya warna biru Belladona melekat di dinding dan mengundang arwah untuk berpesta, rupanya, hanya Lily Paskah yang bisa kupetik sebagai penghias jambangan di kamarku, bisik Aleksandra, “kamu tidak mematikan, bukan?” ujarnya. Lily Paskah itu bergerak tertiup angin—kulitnya meremang lagi.

Aku akan tidur sebentar, Andrey akan tiba ketika aku bangun, pikir perempuan itu. Sebelum pulas tertidur, kulitnya meremang lagi. Aleksandra tergelitik untuk hanyut dan terpesona pada taman di balik ilalang, ia mendesis lirih, “Selamat tidur.”

*

Zdravstvuitye,”[2]

Suara perempuan memanggil, bisik Aleksandra pada dirinya sendiri. Ia melangkah pelan, mencari. Tidak ada siapapun. Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Zdravstvuitye,” ulang suara itu lagi. Seorang wanita berambut pirang emas bersanggul sedang berdiri di ambangnya.

Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangan, “Bagaimana sentuhan biru di taman kematian?”

“Tempat ini terlalu banyak tanaman, bunga, semak dan kini rumput kapas,” Aleksandra menggerutu lagi. “Sewaktu aku memesan lingkungan ini, aku bahkan tidak menyadari kalau ada rumput yang hendak menjangkau kediamanku.”

Perempuan berambut emas bersanggul duduk di antara rumput kapas. Kedua betisnya yang begitu mulus menggantung. Rumput kapas yang meninggi dan terus meninggi membuatnya nampak anggun menyilangkan kedua kaki.

“Apakah suamimu sudah sampai?” tanya perempuan bersanggul.

“Dia tahu diri, pasti akan kembali.” Aleksandra menjawab sekenanya. Ia bangkit dari hamparan pasir halus dan menyisir helai rambut dengan jemarinya. Pasir-pasir berjatuhan dan menangis. “Mungkin terlalu lama aku tertidur. Pasir-pasir ini menangis karena terlalu lama tertindih olehku.”

“Masa bodoh dengan itu. Aku akan kembali lagi. Setelah suamimu pulang. Aku akan mengambil ketika tiba waktunya,” lalu rumput kapas bergoyang dan perempuan bersanggul lenyap bersama asap-asap yang berputar.

*

Andrey sudah rebah di sisinya.

“Kapan kamu tiba, Andrey?” bisik Aleksandra di telinga suaminya. Ia mencium; cinnamon, lemon, cardamom.

Pori-pori Andrey terjaga dan menyesap kembali aroma tubuh yang keluar. “Hanya sekilas berbelanja bahan-bahan herbal. Dan, aku meninggalkannya di taman.”

“Dapur ada di belakang ruangan ini, Andrey. Kamu bisa menyimpan herbal di sana. Kita punya ruang yang namanya dapur.”

Suaminya kembali tidur dan sulur putri malu bergerak dari bawah ilalang, menyelubunginya. “Jangan tidur, Andrey. Di dalam mimpiku, seorang perempuan pirang bersanggul di taman. Dia duduk di atas rumput kapas yang kian meninggi. Kedua kakinya jenjang dan parasnya begitu eksotis. Apakah kau bertemu dengannya di taman?”

“Tidak,” jawab Andrey dengan bibir setengah terkatup. Aleksandra mendesah lirih, resah. Ia bangun dan memandang taman kematian. Apa iya cinnamon, lemon dan cardamom bisa tumbuh di taman itu?

Dia bergegas pergi menuju dinding besar yang terpatri banyak sekali pigura tanaman. Memandang warna biru dinding itu penuh benci. Aleksandra menurunkan seluruh pigura dan mulai menggosok dinding dengan ampas. Warna biru terkikis tipis tergantikan warna merah dibaliknya.

“Ini warna yang tepat,” ujarnya sambil terus menggosok. Lyubina akan tumbuh dengan keceriaan. Semua impiannya untuk menempati lingkungan baru dengan keluarga kecilnya akan baik-baik saja. “Andrey akan memangkas taman kematian itu besok. Kecuali Lily Paskah, aku akan memasangnya di jambangan kamar.”

*

“Inikah balasanmu padaku setelah semua yang kuberi?” desis Aleksandra. “Kau ambil kehidupanku, kau letakkan semua dibalik dunia ini.”

“Warna biru dari Belladona itu sengaja kusiram pada dinding-dinding untuk kemudian kauhapus sendiri. Bodoh sekali kau melakukannya.”

*

“Sayang, tidak ada siapapun di taman ini.” Suami Aleksandra sudah berdiri dengan menggenggam gunting pangkas. “Potong, potong semua tanaman itu. Biarkan mati kecuali Lily Paskah.” Tukas Aleksandra bersikeras.

Andrey memangkas sesuai perintah. Dan tiap batang tanaman yang terpangkas mengeluarkan asap. Beberapa berderit seperti pintu, dan Belladona, lenyap seperti perempuan pirang bersanggul.

“Tidak ada taman kematian lagi. Kita sudah membasminya.”

“Dengan begitu, tidak ada kematian yang menghantui kita lagi,” Aleksandra menangis bahagia. Berhambur pada pelukan Andrey. Perempuan itu sudah tidak mencium aroma apapun pada tubuh suaminya. Di taman itu, semua tanaman sudah lenyap kecuali segenggam Lily Paskah yang cantik dan hendak ia simpan baik-baik di dalam jambangan.

*

“Kematian sudah tidak mampu menembusmu, Aleksandra. Apakah benar, kematian itu yang menghantuimu? Ataukah kau, yang setiap harinya mencari kematianmu sendiri?” Perempuan pirang bersanggul muncul lagi di atas rumput kapas. Kali ini, sulur-sulur berbagai tanaman ikut menopang. Perempuan itu melipat kedua betis jenjangnya ke kanan dan mulai mengisap batang Belladona yang dipangkas Andrey.

“Ataukah sebenarnya, jauh di lubuk hatimu, kau juga sudah ma-ti?”

*

Lyubina terbangun. Ibunya sudah lama merenung di hadapannya—menangisi mimpi yang kurang dari sehari itu. Lyubina menangis. Seperti tahu kegelisahan ibunya.

Dan Andrey, suami yang mestinya ada sejak tadi kembali menghilang. Bagaimana bisa seorang pria tidur begitu pulas diselimuti sulur putri malu lantas raib tidak berbekas.

*

“Aku sudah beli Cinnamon, Lemon dan Cardamom,” ucap Andrey sambil meletakkan herbal-herbal itu di dapur. Dipandangnya Dasha sibuk mengaduk minuman, ia tersenyum. “Terima kasih, Sayang. Kau tahu, campuran ketiga herbal itu bisa mengabulkan permintaan?”

Andrey menggeleng, dengan lembut ia lingkarkan pelukannya di pinggang perempuan itu. “Kenapa rambutmu selalu kau sanggul?”

“Jika kugerai, istrimu bisa memanjat dan masuk ke kediamanku ini.”

*

“Kita akan selalu menunggu ayah, Lyubina. Tenanglah, Anakku. Ayahmu akan pulang. Dia sudah pernah tidur di sana dan tidak akan pernah lupa jalan kembali.” Aleksandra menghalau semburat sinar mentari tenggelam yang menembus dari balik ilalang dengan sayapnya yang rapuh. Semburat sinar yang mampu menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan Lyubina ketika dewasa. Semburat sinar yang harus ia halau sejak dini. Sayap Aleksandra tumbuh dari pori-porinya. Sayap yang mengantarkannya pergi melamun ke manapun, sementara kedua kakinya terpasung, hatinya terjungkal. Sama seperti pigura-pigura itu.

Menghala ke bumi.

***

catatan kaki:

[1] Jadilah apa adanya warna dirimu, tidak akan ada seorangpun muncul.

[2] Halo!

Posted in Literatures, Short Stories | Tagged | 1 Comment

Kucing dan Kemampuan ‘Healing’

Tiga bulan berlalu sejak kematian salah satu kucing peliharaanku bernama Shiro. Saat itu, tumbuh sebuah gagasan untuk menulis tentang kucing, tentang bagaimana prosesku berinteraksi sampai-sampai mampu mengubah perspektif benci kucing menjadi sayang kucing.

Tapi kemudian tulisan ini tidak aku garap sebagai suatu hal yang menunjukkan tanggung jawab sebagai cat-lover atau bahkan aktivis lingkungan dan satwa. Suami dan keluarga besar sudah jauh hari melarangku memelihara kucing dan membiarkannya di rumah. “Mereka punya tokso, lagipula mereka itu suka bandel dan gerogoti barang-barang di rumah. Belum lagi cakarnya merusak sofa.” Jadi, kucing peliharaanku itu terpaksa bobo dan makan di luar, sebagai jalan tengah. Padahal, sudah tujuh bulan ini mereka membuatku bahagia, bahkan percaya atau tidak, mereka punya kekuatan semacam ‘healing’ untuk hati yang kosong atau pribadi yang sukar menangis.

Oleh karenanya, tulisan ini bisa dianggap suatu refleksi dan catatan rasa dari sebuah pengalaman empirisku yang sempat memiliki beberapa ekor kucing di rumah. Kini, aku hanya memelihara satu ekor saja, namanya Kuro yang fotonya kupajang di feature artikel ini. Itupun, keluarga mengizinkan dengan satu syarat: Kuro tidak boleh tidur di dalam rumah saat malam hari. Jadi, kalau siang hari Kuro akan tidur di bawah kursi rotan seperti sebelum-sebelumnya dan malamnya dia tidur di depan pintu rumah. Awalnya dia rewel dan aku menangis mendengarnya mengeong-ngeong di luar. Lambat laun Kuro terbiasa dan dia hanya masuk saat siang hari atau makan saja.

Kematian Shiro

Shiro dan Kuro adalah anak kucing kembar yang menurutku spesial sekali. Ibunya adalah kucing jenis Japanese Bob-tail yang artinya, memiliki ekor pendek atau bengkok. Shiro berekor panjang seperti bapaknya dan Kuro berekor separuh dengan ujung meliuk ke dalam seperti sulur tanaman pakis. Sayangnya ketika berumur dua bulan, Shiro mati. Penyakitnya sederhana; cacingan. Aku dan saudara-saudaraku yang belum pernah memelihara kucing sebelumnya merasa sangat bersalah atas kurang tahunya kami akan gejala cacingan pada kucing. Shiro bisa dibilang kucing pertama yang kugendong dalam hidupku. Bahkan muntahannya isi cacing pun kubersihkan. Shiro kami kubur di depan rumah kami, di bawah pohon mangga yang sudah ditebang dan mulai tumbuh lagi dedaunannya. Kematian Shiro entah kenapa sangat menggangguku. Dia kaku, terbujur di kamar mandi. Sepupuku menggendongnya dari kamar mandi sambil menjerit, kami semua termasuk nenekku menangis (ya, mereka yang bahkan memintaku untuk tidak mengasuhnya di dalam rumah juga ikut menangis). Kejadian itu membayangiku berhari-hari, sampai seminggu lebih. Setiap aku duduk, membersihkan sudut rumah pasti teringat Shiro dan bagaimana kucing mungil itu begitu lincah berlompatan seakan-akan tidak punya masalah kesehatan lalu tiba-tiba muntah cacing dan mati di pagi harinya. Sejak itu aku berjanji akan menjaga kebersihan makan Kuro dengan menyuruhnya makan di dalam rumah, di atas piring khusus dan air minum matang yang selalu kuganti setiap pagi. Tubuh Kuro kini sudah sangat panjang dan makannya normal. Tidak seperti kucing lain yang kurang ajar kalau dikasih makan. Kuro makan sehari tiga kali dan cukup disiplin. Satu hal yang kusukai dari Kuro, dia cukup manja jika hendak tidur. Sukanya nempel dan minta dielus. Kepalanya sudah biasa tidur di atas bantal sewaktu bayi. Kini dia harus membiasakan diri tidur di atas kain biasa tanpa bantal atau topangan apapun kecuali kedua kakinya.

Kuro tukang ngorok, meski aku tahu bahwa kucing memang tidur banyak dalam sehari. Tapi dia itu benar-benar pelor (sekali nempel langsung molor). Hal ini memudahkannya tidur di manapun dalam kondisi apapun.

Yang jelas, memiliki Shiro dan Kuro secara tidak sengaja (karena awalnya induk mereka datang dalam keadaan hamil dan ingin melahirkan lalu kami menyediakan gudang kami sebagai tempat persalinannya) adalah berkah. Bagiku, Shiro dan Kuro sudah menghadirkan rasa cinta dalam hatiku terhadap binatang. Aku jadi berani menyentuh kucing, menimang bahkan menggendong mereka (meski masih takut mandiin). Aku sudah kuat menahan cakaran atau cengkraman mereka yang kadang bikin berdarah tapi keberadaan mereka benar-benar membuatku bahagia.

Kucing dan Dengkuran Yang Menyembuhkan

Menurut sebuah artikel tentang hewan peliharaan, memiliki kucing yang duduk di pangkuan dan mendengkur ternyata punya efek yang baik dan menenangkan. Itulah kenapa aku sering bertanya-tanya kenapa Shiro dan Kuro suka mendengkur. Ternyata, dengkuran kucing antara 25 dan 50 HZ mampu menghilangkan stres pada manusia. Tidak hanya itu, kucing dengan dengkuran mereka mampu meningkatkan kepadatan tulang dan bahkan menyembuhkan patah tulang. Frekuensi dengkuran rendah juga membantu meredakan nyeri dan nyeri otot. Dengkuran yang menyembuhkan ini sangat membantu meringankan rasa sakit dan nyeri yang berkaitan dengan stres pada manusia. Mungkin ini yang kemudian sangat membantuku mengurangi stres atau pikiran-pikiran yang kadang hinggap tidak menentu.

Sekarang, aku masih bermain dengan Kuro. Dia sangat aktif apalagi kalau lihat lalat, kecoa atau cicak dan kadal. Dia pernah bawa kadal yang sudah digigit di tenggorokkan atau cicak dan menjadikan mereka mainannya. Kuro mungkin kucing terakhir yang akan kurawat sampai ajal memisahkan kami. Dari kucing, aku belajar banyak hal termasuk belajar kesabaran dan kesetiaan. Semoga ke depannya aku bisa melakukan suatu hal positif seperti aktivis-aktivis hewan dan lingkungan di dunia. Dan yang terpenting, semoga aku bisa membuat Kuro bahagia dan nyaman di sisiku.

Terima kasih Shiro dan Kuro.

Posted in Journal | Tagged | Leave a comment

Pulau Tiga Teluk Banten Indonesia

This slideshow requires JavaScript.

all what we can see is future

which created by the past

and will written as history!

 

Pulau Tiga, Banten Bay, Indonesia

Posted in Journal | Tagged | Leave a comment

#3 Kue Amparan Tatak

Edisi Kemerdekaan yang tidak sempat kutulis. Bukan karena kesibukan, tapi karena malas meluangkan waktu di sela-sela istirahat. Semestinya sudah tayang di bulan Agustus kemarin, tapi baru sekarang nongol.

Kue Amparan Tatak menjadi kuliner nusantara nomor tiga yang kutayangkan di instagram. Ada dua alasan: 1) bahan-bahannya tersedia di rumah karena sisa bikin kue dan juga stok di lemari, 2) bisa dikreasikan warnanya jadi merah putih dari warna asli kue yang cuma putih santan. Cocok buat tema kemerdekaan!

Posted in Indonesia Nusantara Recipe, Journal | Tagged | Leave a comment

#2 Nasi Liwet Sunda

Tantangan Rasa Nusantara di Instagram sungguh mengasah otak. Kupikir, kalau sekedar beli makanan, difoto lalu posting di Instagram dengan caption sederhana sudah kelar urusan. Tapi, apakah itu yang dibutuhkan para pembaca caption instagram dewasa ini? Mereka sudah lelah menjumpai postingan yang begitu-gitu saja. Bukankah tantangan ini memecut nyali kita untuk menyajikan sesuatu yang berbeda dari sesuatu yang biasa kita temui?

Nasi Liwet Sunda lahir begitu saja ketika mata saya melirik dompet belanja. Tinggal beberapa ribu rupiah untuk jatah hari itu. Gara-gara kepotong urusan lain (yang bahkan sampai ngorek dompet belanja saking perlunya). Suami sudah bekerja keras, waktunya istri menyuguhkan kejutan dari kondisi yang apa adanya.

8_b

Beras di rumah masih cukup, dan sisa ikan teri medan yang tidak terlalu banyak. Lalu, ada sedikit daun salam dan lengkuas kering di kulkas. Tinggal beli sedikit teri medan lagi, sedikit rawit merah dan daun kemangi. Nasi Liwet Sunda tidak memerlukan santan seperti liwet khas Jawa Tengah. Menu ini begitu mudah, cepat dan lezat bahkan hanya menyantapnya tanpa lauk apapun.

Satu hal yang kupelajari dari menu ini jika memasaknya dengan magic jar. Minyak goreng diperlukan dalam ukuran cukup. Jika terlalu sedikit, nasi tetap menempel dan menjadi kerak (kecuali magic jar Anda yang harganya di atas lima ratus ribu rupiah). Namun, jika minyak goreng terlalu banyak, nasi akan mudah basi.

Posted in Indonesia Nusantara Recipe, Journal | Tagged | 2 Comments

#1 Kue Cubit

Kue Cubit Rasa Anggur

Kue Cubit menjadi pilihan untuk dipajang pertama kali di Instagram. Saat PMS kemarin hari, kepingin benar bikin kue ini lalu memakannya dengan puas. Resepnya kudapatkan cuma-cuma dari Blue Band dan Kokiku TV. Adonan pertama tidak bisa dibilang gagal. Hanya terlalu padat dan lembut. Kubawa kue cubit bikinanku ke rumah tante yang tidak jauh dari rumah. Beliau suka bikin kue basah dan menjualnya.

7_d

aku bikin yang rasa jeruk keprok juga. Perisa dan pewarna makanan dari brand koepoe-koepoe. Aku sangat merekomendasikan. Nggak bikin eneg.

Menurutnya, adonanku sudah lezat tapi kurang manis dan teksturnya terlalu padat. Ia menambahkan, harus diberi sedikit air. Kurang lebih 10 sampai 20 ml. Jadi, aku bikin adonan kedua di malam hari saat kedua orangtuaku datang berkunjung. Setelah itu, semua keluarga ikut menikmati. Menurut mereka, rasanya sudah pas. Berikut ini evaluasi yang kulakukan berdasarkan resep yang kudapatkan dari Blue Band dan Kokiku TV:

  • Aku menambahkan 10 ml air untuk konsistensi tekstur kue agar tidak terlalu padat.
  • Menambahkan 20 gram gula halus untuk rasa lebih manis. Resep normal hanya 100 gram dan sebenarnya itu sudah cocok di lidahku. Tapi keluargaku suka yang manis-manis.
  • Mengurangi lelehan margarin Blue Band Cake and Cookie menjadi 90 gram untuk tekstur tidak terlalu lembut.
  • Hanya mengolesi margarin sesekali pada loyang.
7_a

Bahan-bahan yang kugunakan itu sudah cukup baik untuk membuat Kue Cubit yang lezat.

Beberapa kelebihan dan kekurangan adonan Kue Cubit dengan Margarin Blue Band Cake and Cookie:

  • Meski sudah dingin, kue tetap lembut dan tidak terlalu kempes. Bahkan masih enak meski sudah semalaman dengan suhu ruangan. Kue tetap lembut dan tidak keras.
  • Rasa gurih asin margarin tidak terlalu terasa tapi memberi aroma khas kue yang nikmat.
  • Jika terlalu banyak sedikit saja akan membuat kue terlampau lembut dan itu memberi efek ‘padat’ walau tidak seret di tenggorokan. Jadi, harus tepat sekali perhitungannya. Tapi, kembali lagi, itu semua soal selera!

Sayangnya, aku lupa menghitung ada berapa kue yang jadi untuk 200 gram tepung terigu. Sebab, baru saja diangkat dari loyang, sudah dimakan panas-panas sama adik-adik. Kami semua kegirangan. Terutama aku yang selama ini cukup bahlul untuk membuat kue. Adik-adikku sekarang sedikit menaruh hormat hanya karena aku mampu mengocok telur dengan gula halus sampai pucat dan mengembang. Mereka pikir, aku akan menyerah di pertengahan jalan.

Kalian tahu kan, mereka salah. Ya, aku berhasil membuat Kue Cubit. Apakah kalian pernah membuat kue ini juga? Aku tidak keberatan dengan berbagai saran dan cerita-cerita! Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar atau kirim ceritamu ke emailku. Aku akan senang membacanya!

Jangan lupa kunjungi dan follow akun instagramku ya, @dawami.foundation (at dawami dot foundation). Terima kasih sudah mampir!

Posted in Indonesia Nusantara Recipe, Journal | Tagged , , , , | Leave a comment

Agustus (lagi)

I marry a philosopher 🙂 and it’s cool!

AK. Dawami

Menunggu itu tidak pernah menyenangkan. Mereka yang terus menerus menunggu hanya akan mendapati dirinya akan semakin bosan dengan kehidupan yang tidak pernah berujung pada pengharapan. Setidaknya cobalah walaupun kau tau itu gagal. Agustus selalu membawa cerita untuk terus membaca, bahwa bangsa ini pernah berjuang dan terus memperjuangkan kehidupan sampai titik darah penghabisannya. Bukankah kita hanya sekedar rakyat yang hanya dapat berharap bahwa pemerintah akan memberikan kita sebuah hal yang dinamakan kesejahteraan.

Di Agustus ini, banyak orang berharap negeri ini semakin menjadi maju. Dan doa saya, semoga semua harapan itu terwujud. Tanpa adanya paksaan dari Tuhan untuk mengabulkannya, dan tanpa ada tendensi untuk mementingkan dirinya sendiri. Mari kita berucap, dan berdoa, agar kelak bangsa ini menjadi bangsa yang besar.

View original post

Posted in Uncategorized | Leave a comment