Bagaimana dengan memasak?

Memasak, bukankah ide bagus untuk menulis?

Dua pekan berlalu. Berharap situasi, proses dan semua usaha ini membantuku melancarkan sedikit, ya, sedikit saja mampet di kepala. Bagaimana bisa menulis lagi? Novel? Berkali-kali menulis novel, melahirkan ragam judul, tidak satupun selesai kecuali ada deadline yang menghantuiku.

Kupikir, selama bulan agustus ini aku bisa membuat sedikit peraturan ketat. Diselingi kegiatan memasak, berbenah, tidur, nonton saluran program masak di youtube. (Ya, youtube sudah mengalahkan Televisi). Dan, peraturan ketat itu sudah mulai terlihat polanya. Muncul beberapa ide kuat untuk menggali sebuah tema besar tentang memasak. Sebuah dunia yang….

kacau.

Bagaimana bisa aku menulis sementara isi kepalaku masih mampet? kekacauan sesungguhnya berada di dalam kepalaku. Apakah itu yang harus kutulis?

aku tidak yakin jika menulis tentang gagasan besar memasak mampu mendongkrak perasaan juri dan bergairah membaca novel yang kubuat. Layaknya mereka berhadapan dengan sepiring steak yang menggugah, medium-rare, juicy. Atau jangan-jangan mereka vegetarian?

Astaga! darimana aku bisa tahu mereka vegetarian?!

Ini masalahnya. kepalaku mampet karena aku terlalu banyak berpikir; bagaimana caranya agar para juri itu mampu menikmati sajian tulisanku seperti menikmati sehidang pasta karbonara terlezat di dunia. (katakanlah mereka makan pasta). Itu suatu kesalahan, kan? Aku tahu dan kepalaku masih saja berkutat di sana. kepalaku berkutat di sana, lho. Percaya nggak?

Apa yang membuatmu merasa nyaman setelah memasak? masakannya? prosesnya? atau bahan-bahannya? atau malah piranti masaknya? yang berdentang-dentang itu karena terbuat dari stainless steel? atau yang berbunyi tak-tok-tak karena terbuat dari kayu yang beradu dengan….stainless steel?

aku sudah gila.

Posted in Journal | 2 Comments

Cooking Challenge For A Better Soul

Yesterday, my best friend Demi Lee had a chat with me via WeChat. Cause she’s in China and I am in Jakarta. We know each other since 2015. We shared stories of foods, recipes, books, and movies. She asked me what is my activities recently so I replied, I did cooking for months! since I got married on September 2016 and it’s almost a year, I spent my time more cooking than before. I left my job as secretary to director just because I wanna chillin’ at home and cooking for my husband. I enjoy being a housewife and cooking helps me a lot, I told her that.

So, she remembered that a day before she was watching a movie named Julia and Julie. Which was very exciting and she thinks I supposed to watch the movie also. I told her I know and read the movie review. It’s one of Meryl Streep’s great movie. I love her since the Devil wears Prada. But then, I never realize that Meryl Streep very enchanted as Julia Child!

5

my simply chicken broth

Demi Lee always telling me that someday I would be an artist. Can you imagine, honorable readers? An artist! She said I have good talent in writing, I could move a mountain in her mind just writing some words. She kept saying someday I will have a bright future career as author, best selling books, having a great blue house, amazing kitchen and recipes. She will be the first admirer. No, she already is!

So I told her I’m gonna watch the movie and consider her words. She said, what happened to me now is happened also to Julie’s character in that movie. She needs to find a way to fill her boring life. That is why she cook! Demi probably thinks the truth of this philosophy. She wants me to watch the movie and feel the soul, at the end–write a story of mine, of all this cooking stuff. Cooking is really make people feel better. Better, yes, better like having butter in our toast!

I did it. I watched the movie and then what I wanna do is….WRITING. Yup! I posted some pics on instagram before I watched the movie. all pictures of my food. I cooked everyday, every morning, every evening. Plus, my little sister come and live along with me and husband. she’s just a high school student and needs some energy. If I’m not too tired I keep cooking at evening for her breakfast tomorrow morning.

9

I made a vegetable soup with some sliced meat balls and chicken broth

Julia and Julie’s movie was a great movie ever. It has soul. maybe because I felt the same with Julie’s. Somehow I speak to my self while cooking and imagining a great chef standing in front of me. A really nice chef, charming and friendly.

Then, I realize what I did was completely marvelous. I must keep cooking and posting the pics, the recipes (with my own style) and maybe I should write down all of it in English and Russian. It would be more interesting, isn’t it?

I don’t wanna say that since watching Julia and Julie’s movie I am practically having a new cooking challenge like Julie did on the screen. I prefer to continue my work on Instagram (even my cousin suggests me to put the recipes on cookpad). Instagram is not a bad choice to have a good new move. I love writing, singing, studying culture and philosophy so what’s wrong with adding another one, cooking?

4

my simply indonesian food. rice, sambal, fried tempe and spicy stir oncom with lemon basil

Perhaps, I will not gain that much for money. But at least I can share with you all my Indonesian food recipes (in my version) and feeding my man happily ever after!

P.S: If you guys have some suggestions you may send me by email. I will appreciate that, thank you!

Mira

Posted in Journal | Tagged | Leave a comment

Menangkap Duka, Mengalir Duka

Siapapun pernah berharap

dan berduka.

Kedukaan itu hakikatnya,

bukan keabadian.

dia hanyalah mula,

dari semua yang kau harap itu.

Biar kau tangkap,

jerit, gesek, lembutnya…

saat kau bertemu muka dengan lautan.

bukankah,

laut telah membuktikan?

seluruh kedukaan

mengalir, menderu ke arahnya dan berpusar.

Laut tak pernah menegurmu,

ataupun aku–tuk berhenti mengalir kedukaan.

dari sana dia melumat semua,

yang kau tangkap senja itu.

dengan lensa kameramu,

yang tak satupun dari temanku sanggup membeli.

kau berduka bertemu muka,

sedang laut mengecipak bahagia!

tangkap! tangkaplah itu, perempuan!

kuingin tahu,

seberapa besar jerih payah manusia

mampu memeluk kesaksian cinta tak bersyarat!

Posted in Literatures | Leave a comment

Bagaimana Cara Menulis Fiksi Eksperimental?

Fiksi eksperimental bukan barang baru. Dia telah terbit dari ragam bentuk. Cerita yang dimulai tanpa “dahulu kala”, tidak mesti bermula dari “matahari menyemburatkan sinarnya” atau “suatu sore yang sejuk.” Fiksi eksperimental telah hadir bahkan sebelum penulis Indonesia mulai menggunakannya. Semua ‘kebiasaan’ dilawan. Sastra yang bernapaskan eksperimental melawan segala bentuk kemapanan. Meski kemudian, dia akan membentuk kemapanan baru di suatu massa. Di mana banyak sastrawan, penulis, dan orang-orang awam mulai menggaungkan kemapanan yang baru itu. Kelak, kemapanan demi kemapanan akan dibentuk dan dihancurkan oleh manusia sendiri.

Mudahnya, Hejinian memaparkan konsep tentang teks tertutup dan teks terbuka sebagai pengantar untuk memahami jenis fiksi eksperimental dan atau sastra bernapaskan eksperimental.

Pada teks tertutup (closed text), cerita berangkat dari latar tempat dan waktu yang jelas. Kisah dituturkan dengan menyebut di mana suatu peristiwa jelas terjadi. Pada waktu hujan, terik, di suatu tempat yang lembab seperti di pegunungan, laut dengan ombak yang bergelora, di atas kapal, mabuk di dek, menunggu kekasih di lobby parkir sebuah mall dan seterusnya. Dengan demikian, tokoh yang dihadirkan pun kuat. Tokoh utama maupun figuran akan dideskripsikan detil, rupa mereka, perawakannya, sikap-sikap yang mewakili sifat mereka (baik tersirat maupun tersurat). Sehingga situasi yang dihadapi setiap tokoh mudah dicerna, mudah diinterpretasikan. Jenis cerita menggunakan teks tertutup mudah didapati dan itulah yang ingin dilawan oleh para penulis eksperimental. Sebuah kemapanan (we can say) kebosanan yang sudah menjamur dan berulang-ulang.

Hejinian melanjutkan penjelasan kedua tentang teks terbuka (opened text) yang tentunya menjadi lawan dari semua kriteria teks tertutup. Keunikannya, opened text memiliki daya tarik maksimal (mulai dari abstraknya kalimat, kata per kata, situasi). Ruang lingkup ambiguitas relatif luas, artinya, interpretasi yang dihasilkan tidak bisa dikatakan mudah ataupun bahkan–sulit. Mungkin bisa diterjemahkan sebagai, interpretasi yang mengasyikan bagi peminatnya sekaligus menjenuhkan bagi mereka yang tidak merasa tertantang.

Jika tipe teks tertutup biasa menggunakan istilah Aristoteles tentang permulaan, tengah dan akhir cerita, maka Fiksi Eksperimental tidak mesti demikian. Dia bebas namun bukan berarti tidak memiliki karakteristik untuk dikenali. Tulisan eksperimental setidaknya memiliki dua unsur yang saling berikatan. Sebuah tali yang terhubung antara pengalaman penulis dan pengalaman pembaca.

Seorang penulis fiksi eksperimental sekalipun kemungkinan tidak ingin disebut sebagai penulis eksperimental. Kenapa? Tidak ada jawaban yang benar atau salah tentang ini. Sebab, seorang penulis bisa saja berjuang untuk menjadi seorang sastrawan yang melebihi batas-batas seorang penulis eksperimental. Ben Marcus misalnya mengatakan, “Author prefer to say that they are writing badass literature!

Sementara itu, penulis fiksi eksperimental (baik disadari atau tidak) akan selalu berhadapan dengan pembaca yang berkebalikan dari semua gagasan itu. Pembaca akan selalu melabel apa yang dia baca, bahkan dari sebelum sebuah buku dibaca! Pembaca sudah mengritik atau memuji suatu cover, sinopsis, isi cerita, preface sebuah novel atau ending dari suatu cerita detektif eksperimental. Pembaca selalu punya strategi yang berbeda dari penulis cerita yang dibacanya. Mereka akan segera tahu apakah cerita yang dibaca berhaluan pada closed atau opened text (berdasarkan Hejinian, dan diketahui atau tidak). Karena pada dasarnya, sekalipun seorang pembaca belum mengerti konsep closed dan opened text secara teori, mereka sudah bisa membedakan antara kedua konsep tersebut.

Fiksi atau Sastra yang berhaluan eksperimental jika dilihat dari segi elemen dasar, memiliki keutamaan dalam hal inovasi. Hal terkuat yang disajikan sastra bernapaskan eksperimental adalah teknik menulis ceritanya. Dengan demikian, lebih luas dari apa yang dijelaskan Hejinian tentang sekedar teks terbuka atau tertutup, Eksperimental Fiction dan Literature kemungkinan akan menyebabkan beberapa ‘efek samping’ bagi pembacanya. Misal, kurang merasa nyaman dengan diksi yang digunakan, kurang menarik (mudah jenuh karena tidak memahami diksi), kurang mampu dibayangkan atau dipercaya dan sederhananya; kurang bisa dinikmati.

Padahal, tantangan fiksi atau sastra eksperimental cukup berat. Penulisnya harus mampu menerjang berbagai kesulitan, meredefinisikan apa yang sudah ada dan juga menyajikan cerita yang lebih imajinatif dibanding sebelumnya. Untuk itulah, diksi yang variatif harus digunakan (disesuaikan dengan gagasan cerita dan teknik menulis). Bahasa pun menjadi salah satu tolok ukur untuk menjabarkan fenomena di dalam tubuh cerita.

Dengan tantangan itu, penulis eksperimental setidaknya adalah orang-orang yang berani keluar dari kebiasaan. Senang mengambil resiko, dan gemar menciptakan hal-hal baru. Selalu memiliki semangat untuk menciptakan hal baru, memberikan sesuatu yang berbeda dan keluar dari segala-gala batas yang membuatnya terkungkung. Penulis eksperimental mengingat bahwa misi yang mereka emban memiliki beberapa manfaat dibalik ‘efek samping’ yang ada.

Tulisan eksperimental bisa dikatakan sebagai pengingat bahwa semesta atau alam tidak atau belum sepenuhnya digelontorkan dalam setiap cerita dengan metode teks tertutup. Semesta yang amat luas ini, yang memiliki denyut kehidupan dirasakan punya kesenangan yang meruah, menarik, yang membikin penasaran untuk dilahirkan.

Ted Pelton mengatakan, “there is no one way to write experimental fiction, and that’s the point. SURPRISE ME!” Kejutkan aku! Begitu ujarnya. Cerita yang tidak terduga baik pada elemen apapun. Mulai dari judul sampai kata terakhir yang ditulis. Kejutan adalah keinginan dari setiap peminat Sastra dan fiksi eskperimental. Menulis cerita fiksi eksperimental bukanlah terjebak dari sebuah susunan aturan, tidak pula dimulai dengan mengikuti tips yang ada. Menulis cerita fiksi eksperimental bisa diibaratkan dengan seorang musafir yang tiba di suatu perkampungan dan tidak mengenal etika sosial di kampung tersebut. Episode selanjutnya, kejutan di dalamnya, semua itu tidak pernah dirumuskan.

Siapapun bisa menulis fiksi eksperimental. Siapapun berhak mencoba mengeluarkan hal-hal menarik di alam ini, yang menggairahkan, menyenangkan, dan menantang dan belum diketahui banyak khalayak. Siapapun bisa menjadi musafir itu. Siapapun bisa merangkainya bahkan tanpa memberi embel-embel diri mereka sebagai seorang penulis eksperimental.

Coz we are badass artists!!

Sumber bacaan:

Experimental Literature by Christopher Higgs @htmlgiant.com

Experimental Fiction @Map Literary: A journal of contemporary writing and art

The Rejection of Closure by Lyn Hejinian

Posted in Feature, Journalistic | Leave a comment

MELODY GROUP : The Early Soul of Spirituality 2017

The Early Soul of Spirituality adalah tajuk untuk setiap musikalisasi yang terdapat dalam kompilasi album berjudul Cinta Sufistik, Cinta Platonik. Musikalisasi Puisi pertama yang kami luncurkan berjudul UNCONDITIONAL LOVE (Mendalam Merasuk Suksma). Sebuah puisi sufistik yang ditulis oleh salah satu penyair di Surakarta, Suksmawan Yant Mujiyanto. Musikalisasi Puisi ini sudah kami tampilkan sejak tahun 2012 beriringan dengan dibentuknya Grup Musik kami pada tanggal 11 Maret di tahun yang sama. Kami pernah membawakannya di FKIP UNS, bersama PTPN Radio secara live di Car Free Day Solo, dan acara-acara lainnya.

The Early Soul of Spirituality is a header for every musicalization of poetry which occured in album compilation titled: Cinta Sufistik, Cinta Platonik. Our first musicalization of poetry was launching under title, “UNCONDITIONAL LOVE (Mendalam Merasuk Suksma)”. A poetry which written by a poet in Surakarta City named Suksmawan Yant Mujiyanto. This musicalization had been performed since 2012 along with the born of our Group Music, MELODY GROUP on March 11 in a same year. We have been performing in FKIP UNS, with PTPN Radio Solo City, Live in Car Free Day Event and others.

Unconditional Love menyampaikan keinginan seorang manusia untuk memadu kasih hanya kepada Penciptanya. Sebuah doa, harapan dan kepercayaan yang utuh dan kuat. Unconditional Love, cinta tak bersyarat, yang hanya dipersembahkan seorang manusia kepada satu-satunya Zat Maha Hidup.

Unconditional Love conveys the desire of a man who needs to love only the Creator. A prayer, whisper, and faith that complete and strong. Unconditional Love, only presented for The Almighty.

Musikalisasi puisi Unconditional Love kami harapkan mampu memberi warna baru bagi penikmat musikalisasi puisi religi dan spiritual di Indonesia. Sekaligus menjadi debut pertama kami untuk terus berproses dan belajar di dalamnya. Unconditional Love bisa didengar secara gratis melalui SoundCloud atau Youtube.

Selamat berlirih Sufi, Salam Cinta Sufistik!

Unconditional Love is expected to be able to give a new atmosphere for poetry musicalization, religion and spiritual music lovers in Indonesia. Also become our first debut to process and learn within. Unconditional Love can be enjoyed through SoundCloud or Youtube.

♥Melody Group♥

 

Posted in Journal, Pengumuman | Tagged | Leave a comment

Review Buku Sejak Bulan Januari sampai Juli 2017

Tidak banyak buku yang kubaca dari awal tahun 2017 sampai sekarang. Selain karena Tsundoku, aku lebih sering baca artikel website. Maklum, tangan keranjingan smartphone, mata keasikan sos-med. Oleh karenanya, sejak Juli 2017 ini aku berhenti facebook-an. Kuharap, untuk selama-lamanya meski challange yang kubikin baru sebatas 6 bulan ke depan.

Buku yang tidak banyak kubaca itu akan ku-review di sini. Satu tayangan judul untuk beberapa buku. Lumayan, irit ngetik, hehehe.

Langsung saja, buku-buku yang kubaca sejak Januari s.d Juli 2017 adalah:

  1. P_20170707_203106[1]“SAHABAT LAMA, ERA BARU” karya Tomi Lebang. Penerbit Grasindo. Buku ini memaparkan 60 tahun pasang-surut hubungan diplomatik Rusia dan Indonesia. Sudah kubeli sejak tahun 2015 akhir tapi baru sempat kubaca di bulan Januari 2017. Isinya sangat informatif. Bahasanya lugas, tidak banyak bertele-tele. Sumbernya cukup banyak dan valid. Covernya bagus, putih sebagai background dan lukisan kereta berbendera merah putih disandingkan dengan bendera Rusia. Tomi Lebang adalah seorang jurnalis, jadi kalimatnya sangat mengalir seperti orang bertutur padahal memuat konten informasi. Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto (hitam-putih) dan caption. Berisi pula peristiwa-peristiwa hubungan RI-Rusia pada tiap pemerintahan presiden RI yang berbeda. Secara umum, buku ini baik. Sayangnya, kertas yang digunakan adalah HVS, jadi kurang romantis di tanganku hehe. Kenapa ya, kertas HVS itu sepertinya nggak cocok aja kalau dibuat jadi buku-buku selain buku pelajaran. Kertas HVS itu entah kenapa mengingatkanku pada tugas sekolah, kuliah, dan….(kenapa jadi bahas HVS). Well, selama baca buku ini, aku dengerin lagu Indonesia “Rayuan Pulau Kelapa” yang digubah liriknya ke bahasa Rusia menjadi “Ostrova Palm” dan dinyanyikan Maia Golovnya. Buku ini kubeli karena saat itu masih kursus tingkat II Bahasa Rusia di Pusat Kebudayaan Rusia.
  2. P_20170707_203022[1]“FILSAFAT TIMUR” (Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme) karya Matius Ali. Nah, ini buku menurut penulisnya terinspirasi dari tugasnya sebagai dosen pengajar Filsafat Asia-Selatan di STF Driyarkara. Ia menyusun buku setebal 294 halaman ini dengan dua kategori besar yang mana pembaca awam seperti saya pun akan mudah membacanya; Bagian I HINDUISME dan bagian II BUDHISME. Selain daftar pustaka, buku “pemikiran” yang menggunakan kertas standar novel ini juga dilengkapi dengan indeks. Jadi, mudah mencari sesuai keywords yang dikehendaki. Jujur, aku merasa ikut duduk di bangku kuliah ketika membaca buku ini. Asyiknya, buku ini dipecah ke dalam sub-bab kecil dan aku bebas untuk memulai dari manapun meski sebenarnya sedikit berkaitan antara satu bab dengan bab selanjutnya. Tapi, aku nggak merasa bingung. Penjelasan tiap sub-bab nya sudah sangat fokus sehingga pembaca bakal mudah untuk menyerna. Warna sampulnya bagus; peach. Warna yang lagi nge-hits sekarang ini. Buku ini sebenarnya punya suami. Beliau beli di Perpustakaan ISI Surakarta karena ditawari pustakawannya. Aku nggak sengaja menemukan buku ciamik ini di perpustakaan kami dan masih bersegel. Suamiku kaget ketika menemukan buku ini sudah tidak bersegel dan berjejak warna stabilo pink. Dia cuma memandangku dan aku membalas pandangannya itu dengan nyengir kuda. Selama baca buku ini, aku mendengarkan lagu Coldplay yang berjudul “Hymne for The Weekend”. Mungkin karena Coldplay ambil setting India di video klip itu dan memasukkan unsur lonceng khas Hindu, sehingga nuansa Hinduisme cukup hidup sambil baca buku ini.
  3. “BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA” karya Hanum Salsabiela Rais dan Suaminya. Sebuah cerita yang mengagumkan. Mengalir seperti aliran sungai yang sejuk, mendaki terjal seperti tubuh pegunungan dan…pokoknya tokoh-tokoh yang ada terasa begitu hidup dan keren. Aku nggak sampai nangis baca novel ini, tapi cukup penasaran dengan tokoh fiksi bernama Philippus Brown. Ketika aku cek di google, ternyata banyak juga yang review dan penasaran dengan Mr. Brown. Dari semua tokoh ciptaan itu, aku suka sama sepasang suami isteri yang (ga usah kusebut namanya deh biar surprise). Suaminya kok romantis banget ya sampe dibela-belain berjuang demi hidup yang layak (jarang-jarang lho ada suami begitu). Tapi kekurangan dari novel ini justru kelebihan penokohan tokoh-tokoh tersebut. Mereka terlalu NYATA, nilai-nilai kebaikan dan keburukan yang diangkat terlalu KONTRAS sehingga melupakan kenyataan di hidup ini yang penuh kegetiran….(bahasa gue). Nyatanya, hidup ini kan tidak selamanya HITAM dan PUTIH. Novel ini cukup menegangkan, misterius, menghibur, tapi juga terlalu naif (lugu dan kontras tadi itu). Well, aku ngga setel musik apapun. Uniknya, selama membaca novel ini, aku sama sekali lupa wajah Acha Septriasa dan Abimana. Melainkan wajah Hanum Salsabiela dan Suaminya. Menurutku, novel ini adalah yang terbaik dari apa yang sebelumnya telah mereka tulis bersama.
  4. P_20170707_203054[1]“ALIAS” karya Ruwi Meita. Salah satu penulis horror yang cukup baik di Indonesia. Novel Alias sebenarnya kubelikan untuk adikku, tapi dia memilih aku yang menyimpannya. Mungkin dia sedikit ketakutan setelah membaca Alias. Sejujurnya, menurutku, tidak seseram itu. Novel Alias cukup membosankan bahkan di bagian awal dan akhir. Bagian pertengahan novel ini yang membuatnya sedikit bernyawa. Beberapa tokoh mudah kutebak sejak awal. Tapi goal dari si penulis tentang liontin sama sekali tidak terbayang olehku. Itu kesuksesannya. Sedikit memaksa di bagian “munculnya” si hantu, tapi kupikir itu masih bisa dinikmati. Over all, Ruwi Meita bagus kok nulis horror dan thriller. Kenapa bagus? Karena berhasil menulis dengan gagasan baru dan terlihat banget usahanya untuk menggali kesegaran-kesegaran. Mulai dari nama tokoh novelnya, Jeruk Marsala sampai ke plotnya. Novel alias ini seru dibaca sambil mendengarkan instrument musik horror di youtube. Aku pilih akun Derek & Brandon Fiechter. Tapi, karena aku baca sendirian malem-malem sambil nunggu suamiku pulang kerja, aku ngga berani setel instrument itu kelamaan. Begitu magrib berlalu, aku mematikan instrument dan hanya fokus membaca dengan lampu menyala di seluruh penjuru ruangan.
  5. P_20170707_203113[1]“MAKNA HARI KIAMAT DALAM ALQURAN” karya Abdullah Jawadi Amuli. Salah satu syaikh dan filsuf di Iran, khususnya pada sekte Syiah Imamiyah. Sejak 2014 aku menulis skripsi bertema Syiah, sejak itu pula aku cukup aktif membaca buku-buku terbitan Iran dan buku-buku Syiah Imamiyah (yang origin dari Iran). Kenapa? Karena aku tahu, kebanyakan muslim sekte Sunni di Indonesia sudah banyak salah kaprah. Mereka membaca yang buruk-buruk yang ditulis ulama mereka tentang Syiah Imamiyah. Maka, penting bagiku untuk membaca segala sesuatu asli dari sumbernya. Selama aku menulis skripsi tentang Syiah Imamiyah, aku belum menemukan penghinaan yang dilontarkan non Syiah kepada Syiah. Memang, aku masih perlu banyak mengkaji baik Sunni maupun Syiah karena aku seorang muslimah. Tapi ujung-ujungnya, only God can judge us, right? Nah, kembali ke buku. Makna Hari Kiamat dalam Alquran dipaparkan Syaikh Jawadi Amuli dengan kekhasan metode pemikiran Ulama Syiah yaitu filosofis. Mungkin itu ya yang aku suka dari pendekatan mereka. Filsafat. Jadi, ketika membahas definisi APA SIH HARI KIAMAT ITU? Syaikh Amuli tidak hanya menunjukkan dalil naqli tapi juga mengajak pembaca berpikir. Kenapa harus ada hari kiamat, kenapa muslim itu wajib mengimaninya, dan bagaimana bisa mencapai ke sana dan adakah kehidupan sesudahnya? Buku ini tepat sekali bagiku karena sebelumnya aku sudah baca Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat. Makna Hari Kiamat dalam Alquran sesungguhnya adalah kumpulan ceramah Syaikh Amuli di Iran. Melalui pendekatan agama, falsafah dan Irfan, Syaikh Amuli menurutku sudah berhasil mengajak pembaca kumpulan ceramahnya untuk memahami dimensi hidup manusia dan pergerakannya. Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa aslinya, Persia (farsi). Buku ini juga aku baca ulang di bulan Ramadhan kemarin karena isinya menyejukkan jiwa (hatiku berasa disentor–bukan diguyur lagi). Penerjemahan Arab-Indonesianya juga ngga kaku, malah terasa seakan-akan duduk di majelis dan dengerin Syaikh-nya ceramah langsung. Covernya standar sih. Andaikan covernya pakai pola lukisan Persia pasti lebih eye-catchie. Selama membaca buku ini di awal tahun aku tidak mendengar musik apapun. Tapi sewaktu bulan puasa kemarin, aku nyetel surat Al-Kahfi. Mungkin musik sufi tradisional juga cocok. Coba saja, guys!
  6. P_20170707_203012[1]“THE BLACK CAT”oleh Edgar Allan Poe. Kumpulan cerpen Poe bikin bulu bergidik, meski ngga semuanya sih. Yang paling nggak bisa aku lupakan itu justru yang judulnya; JANTUNG YANG MENGADUH. Ketika baca cerpen dia yang lain, aku merasa biasa-biasa saja. Hanya cerpen dengan judul JANTUNG YANG MENGADUH itu yang menurutku dapet banget feel-nya. Aku tidak mendengar musik apapun selama membaca kumpulan cerpen ini, kecuali debaran jantungku sendiri (ceileh!).
  7. “THE HAUNTING OF HILL HOUSE” karya Shirley Jackson. Aku sudah nulis review tentang ini plus adaptasi filmnya. Kalian bisa baca di sini.
  8. P_20170707_202937[1]“ITOKO INGIN DIET’ karya Miku Ito dan ilustratornya Makiko Sato. Adalah bacaan anak pertama yang kubaca di tahun ini. Terbitan Bentang Belia dan diterjemahkan dari bahasa aslinya, Jepang. Jujur, aku kurang suka. Aku adalah pecinta bacaan anak, mungkin selama ini terbiasa dengan bacaan anak dari penulis-penulis Inggris. Aku kurang suka dengan dialog antar tokoh yang ada di buku ini. Gagasan yang diangkat terlalu sederhana, tapi dikelola dengan kalimat yang bertele-tele. Mungkinkah jika dibaca dengan bahasa aslinya akan lebih menarik? entahlah, aku tidak bisa bahasa Jepang hahaha. Aku tertarik membeli buku ini karena covernya yang  bagus. Ilustrasi di dalamnya juga tidak menipu. Semua ilustrasinya bermakna. Aku bahkan sudah bisa menguntai menggunakan kalimatku sendiri ketika melihat ilustrasinya. Jika tidak ada ilustrasi, aku tidak tahu apakah masih mau menyimpan buku ini atau tidak. Anak SD mungkin akan lebih menikmatinya.
  9. P_20170707_202923[1]“VEGETARIAN” karya Han Kang. Novel pemberian adik tingkatku, Umi Kultsum, dua hari lalu ini merupakan novel pemenang Man Booker International Prize. Kalau menurut Eka, ini novel yang mencekam tapi mengasyikan, menurutku ini novel mistis yang tidak ditunjukkan mistisnya. Hampir sama dengan novel THE BOY WHO DREW THE MONSTERS (akan ku-review besok-besok karena baru separo jalan) novel VEGETARIAN seperti memberi pandangan pada pembaca tentang makna batas dari REALITA DAN IMAJI. Bagiku, itu mistis. Sedikit mual ketika membaca adegan persenggamaan, membayangkan penis yang berkerut (padahal aku sudah menikah) tapi jujur aku mual dan bisa muntah kalau membayangkan itu. Mungkin karena yang kubayangkan bukan suamiku? (loh malah dilanjut). Intinya, novel ini sangat seru. Seru binggooo. Aku baca kemarin di kereta, dan bagian akhir buku kuselesaikan tadi sore. Aku nggak nyangka bakal suka novel ini secara keseluruhan. Jarang-jarang aku suka novel dari awal sampai akhir. Kalian wajib baca ini, guys! Bisa dibilang, ini buku terbaik sejauh ini di tahun ini.

Nah, sudah 9 buku aku review buat kalian, pembaca yang budiman. Kuharap mulai akhir Juli ini aku bisa cicil review buku lain yang aku baca. Karena, ternyata nge-review borongan kayak gini bikin encok. Sudah dulu, ya!

 

Posted in Journalistic, Review | Leave a comment

Rencana di Pertengahan Tahun 2017!

Juni bulan spesial karena Presiden Jokowi dan Jakarta berulang tahun. Oya? masa sih karena itu?

Nggak begitu juga sih. Tulisan kali ini terasa spesial bukan hanya karena ulang tahun orang nomor satu dan ibukota Indonesia. Tapi, aku mau nulis ide-ide yang mencuat beberapa hari ini. Karena memang sebelum-sebelumnya aku cukup pasif. Sedikit membaca, menulis, mencatat. Pokoknya lagi males tingkat Dewa. Jadi mumpung masih pertengahan tahun, aku mau buru-buru memperbaiki kualitas diri. Salah satu caranya adalah menulis beberapa rancangan yang akan kutampilkan di blog mulai bulan JULI. Tentunya, aku harap bisa ikut memotivasi kalian para pembaca setia blog ini hehe. (Kali aja bukan aku doang yang malesan ye kan?).

So, beberapa ide alias rencana itu di antaranya:

  1. Daripada ribet satu-satu review buku yang udah aku baca dari Januari 2017 sampai Juni 2017 mending dijadiin satu. Bersiaplah, aku mau share sedikit buku yang aku baca selama 6 bulan lalu. Aku juga bakal posting bacaan apa yang bakal aku selesaikan sampai akhir Desember 2017. Tahun ini bacaanku masih sedikit walau terhitung ada peningkatan dibanding tahun 2016. Entah kenapa artikel di sos-med itu lebih mudah diakses padahal aku udah numpuk buku loh. Apakah kalian juga pernah mengalami fenomena TSUNDOKU alias selalu beli buku tiap bulan tapi belum tentu dibaca semua? Share di komentar ya!
  2. Aku mau fokus nulis cerpen lagi dan kalau bisa essay juga. Terakhir essayku dimuat di Palembang Ekspres. Semoga kali ini bisa dimuat juga di media lain. Dan seperti biasa, aku akan posting di sini setelah terbit. Nah, yang membedakan adalah; biasanya aku bikin cerpen genre sufistik, religius, nature dan drama. Mulai pertengahan tahun ini aku mau coba nulis cerpen mistis dan horror. Kamu suka nggak baca cerpen horror?
  3. AKU MAU BELI BUKU AGENDA YANG LAYAK. Loh, emang selama ini buku agendaku nggak layak? Bukan, bukan. Buku agendaku sekarang layak tapi lebih condong ke agenda harian buat curhat (diary). Itu aku pake karena dikado sama temen dari Thailand. Namanya Palm. Dia so sweet banget ngasih aku diary yang lucu, ada tulisan-tulisan Thai gitu dan namaku juga ditulis pakai huruf Thailand. Jadi, libur lebaran besok aku mau cari buku agenda yang layak buat dijadikan target rancangan menulis.
  4. Sepertinya aku perlu menambahkan satu kategori lagi di Blog ini yaitu SKIN, HAIR and BODY CARE UPDATE AND REVIEW. Yup! 2017 ini aku update beberapa skin care products yang alhamdulillahnya cocok di wajah dan tubuhku. Akan menyenangkan kalau bisa share sama kalian, bukan?

Rencana-rencanaku banyak sebenernya. Tapi 4 rencana yang udah aku sebutin di atas adalah rencana utama dan memuat ide yang berbeda dari tulisanku sebelumnya. Semoga aja aku nggak ngecewain kalian dan diriku sendiri. Semoga rasa males ini bisa luntur seluntur-lunturnya!

 

Posted in Journal | 2 Comments

Eksotisme Sastra dan Lagu Indonesia di Rusia

Esai ini dimuat di Rubrik Literasi Sastra Palembang Ekspres pada Senin, 12 Juni 2017

Peringatan Hari Kesusasteraan Rusia setiap tahunnya dikenal juga dengan Pushkinski Dyen Rossi atau Pushkin Day diselenggarakan setiap tanggal 6 Juni. Tanggal kelahiran Aleksandr Sergeyevich Pushkin yang dikenal sebagai Bapak Literatur Rusia itu menjadi bukti bahwa bangsa Rusia memang kaya akan warisan kesusasteraannya. Kajian para sastrawan Rusia tidak terbatas pada kultur negaranya namun juga negara lain termasuk Indonesia. Menurut Vladimir Braginsky, para penulis Rusia tidak mengenali bahasa dan sastra Indonesia sampai setidaknya tahun 1950-an. Para sarjana Soviet menaruh simpati besar terhadap kesusasteraan Indonesia pasca Perang Dunia II. Hal itu dikarenakan, Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa sebuah negara yang baru merdeka diiringi munculnya gerakan pembebasan nasional di wilayah Asia Tenggara (Tomi Lebang, 2010:106-107).

Beberapa karya sastra Indonesia yang mulanya diterjemahkan ke bahasa Rusia adalah dongeng terbitan Balai Pustaka. Kemudian menyusul tulisan-tulisan dari sastrawan angkatan 50-an seperti Pramoedya Ananta Toer, Abdul Muis, Marah Rusli dan kumpulan puisi penyair seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang dan lainnya pada tahun yang sama. Karya-karya tersebut diterjemahkan ke bahasa Rusia dengan semangat revolusi pro-rakyat yang seirama. Bahkan, saking kuat tekad untuk menjembatani ideologi dan kesusasteraan kedua negara, mata kuliah Bahasa Indonesia sudah diajarkan di Moscow Institute of Orientology pada masa awal perang Dunia II berakhir. Proses ini terus berlanjut dengan gigih semasa Soviet bersemayam di Rusia dan sempat mati suri ketika G30S PKI melanda bumi Indonesia serta Orde Baru berkuasa.

Sebelum itu semua, masyarakat Rusia sudah mengenal Indonesia secara mistis sebagai negara kepulauan yang dipercaya layaknya Taman Surga. Lagu Rayuan Pulau Kelapa gubahan Ismail Marzuki diterjemahkan sebagai Strana Rodnaya Indoneziya dan dinyanyikan oleh Maya Golovnya, penyanyi terkenal di masa Soviet. Sebab lagu itu, Indonesia juga dikenal dengan julukan Ostrova Palm (Pulau Nyiur). Sungguh, Indonesia telah dikenang masyarakat Rusia dengan segenap keeksotisan serta kekayaan revolusi sastranya.

Posted in Journalistic | 2 Comments

Misteri Langit

Dari sekian banyak ciptaan Tuhan, Langit menempati salah satu posisi misterius dan masih perlu banyak dikaji dari zaman ke zaman. Langit sudah menginspirasi banyak pemikir tentang hakikat hidup dan peran mereka sebagai manusia. Termasuk, dari mana mereka berasal hanya sebab perenungan-perenungan mereka tentang langit dan elemen-elemen di dalamnya.

The Golden Age of Islam atau lazim disebut dengan Zaman Keemasan Islam mengenal filsuf muslim yang fokus pada kajian ilmu astronomi seperti Al Biruni, Al-Haytam, Al-Farghani, Abdurrahman As-Sufi sampai Al-Battani. Masing-masing memiliki kontribusi dalam mengembangkan ilmu astronomi dan bumi sehingga hari ini kita bisa menikmati salah satunya, penanggalan yang sahih.

Pergerakan di langit dikatakan oleh Abdullah Jawadi Amuli, seorang Filsuf dan Mufassir dari Iran, sebagai salah satu gerakan yang dicatat Alquran. Pergerakan benda-benda di langit; bintang, planet, dan perjalanan tata surya dinisbatkan Allah kepada diri-Nya sendiri. Juga gerakan yang tidak hanya berada di langit, tapi berasal dari langit dan turun ke bumi seperti hujan dan salju. Langit sungguh mendapat keistimewaan. Langit menyimpan segenap misteri.

Zat Abadi Tidak Akan Pernah Lenyap Walau Sedetik

Kisah Nabi Ibrahim a.s misalnya, tentang pencarian kebenaran akan Tuhan dicatat di dalam Alquran surah Al-An’am sepanjang ayat 74-79. Salah satu petikan ayatnya bermakna,

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku”. Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am ayat 76)

Nabi Ibrahim a.s mulanya memandang ke arah bintang-bintang di langit dan menganggap mereka sebagai Tuhan. Namun, ketika bintang-bintang itu lenyap, sang Nabi mematahkan asumsi pertamanya. Itulah kenapa ia berkata, “aku tidak suka pada yang terbenam.” Begitupun dengan ayat selanjutnya yang menjelaskan bagaimana beliau juga menganggap bulan dan matahari sebagai Tuhan namun kemudian menyadari bahwa kesemuanya; bintang, bulan dan matahari hanyalah ciptaan Tuhan. Semuanya sekejap muncul lalu sekejap kemudian pergi.

Prof. Quraish Shihab juga menjelaskan dalam Al-Lubab, bahwa dengan demikian, Nabi Ibrahim a.s menyerukan kepada umat saat itu bahwa ia tidak menyekutukan Tuhan Yang Maha Esa dengan apapun dan siapapun. Ibrahim a.s menyatakan bahwa dirinya, seluruh jiwa raganya, ia hadapkan kepada Yang Menciptakan Langit dan Bumi beserta segala isinya. Termasuk di dalamnya pula; matahari, bintang, dan rembulan. Ibrahim a.s menyatakan bahwa ia menghadapkan dirinya dalam keadaan hanif yaitu situasi yang condong kepada keyakinan agama yang benar dan tidak menyekutukan Tuhan Yang Esa.

Hal tersebut juga sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan Filsuf Abdullah Jawadi Amuli bahwa manusia yang berpikir pasti akan mengetahui di balik setiap perubahan ada yang mengubah. Sesuai apa yang dicatat Quran bahwa pergerakan di langit termasuk ke dalam gerakan yang disebut dan terkandung di dalam kitab mulia itu. Maka setiap gerakan pastilah membutuhkan Pengubah atau Penggerak untuk menggerakkannya ke tujuan tertentu. Nabi Ibrahim memahami konsep ini ketika melihat pergerakan benda-benda langit. Konsep yang kita ketahui juga dalam ilmu Fisika sebagai Gaya.

Gaya dalam ilmu Fisika, yakni sebuah interaksi apapun yang dapat menyebabkan sebuah benda yang bermassa mengalami perubahan gerak, baik dalam bentuk arah maupun konstruksi geometrisnya. (wikipedia)

Sumber bacaan:

Abdullah Jawadi Amuli, Makna Hari Kiamat dalam Alquran

M. Quraish Shihab, Al-Lubab: Makna, Tujuan, dan Pelajaran Dari Surah Alquran

Posted in Feature, Islamic Studies, Journalistic, Middle Eastern Studies, Tasawuf | Leave a comment

Jiwa Manusia dan Cinta

Abdullah Jawadi Amuli, seorang Filsuf dan Mufassir dari Iran mencatat lima gerakan yang terkandung di dalam Alquran. Pertama, gerakan benda-benda di langit. Kedua, gerakan yang turun dari langit ke bumi. Ketiga, gerakan yang keluar dari bumi. Keempat, gerakan dan perubahan yang ada di dalam perut bumi. Dan kelima, gerakan yang terjadi pada ruh manusia. Gerakan terakhir ini dikenal juga dengan istilah ma’rifah an-nafs (pengenalan tentang jiwa).

Dari gerakan tersebut, jiwa manusia dan perjalanannya menjadi salah satu fokus penting. Perjalanan jiwa manusia bermula pada mabda’ (sumber yaitu Tuhan) dan telah melampaui sekian masa dan tempat. Quran mencatat perjalanan jiwa manusia sejak dari sulbi dan rahim sampai berpindah ke masyarakat (dunia). Seperti yang kita tahu tentang konsep perjalanan, ada permulaan dan ada akhir. Demikian itu umat Islam harus mengimani hari akhir. Konsep ini pula yang kemudian menurut Filsuf Amuli menegaskan manusia sebagai makhluk dua dimensi. Selalu memiliki proses, bergerak, menuju arah dan tujuan tertentu.

Perbedaan Pendapat Tak Berarti Condong Pada Kebencian

no-hate-2019922_960_720

sumber pixabay

Di Jakarta saat ini, kasus persekusi marak terjadi. Entah melalui kehidupan nyata maupun sosial media maya. Setiap kubu yang memihak siapapun berpotensi untuk melakukan persekusi. Bisa sebagai oknum maupun benar-benar anggota asli. Kasus persekusi selama dan pasca Pilkada DKI di Jakarta tak luput dari kurangnya kesadaran masyarakat berpikir. Masyarakat dua dimensi yang salah menempatkan kecondongan jiwa mereka.

Konsep manusia sebagai makhluk dua dimensi memperlihatkan perjalanan jiwa manusia yang membutuhkan kecondongan. Dengan kenyataan bahwa manusia memiliki dua unsur; tawalli (cinta) dan tabarri (melepas diri dari sesuatu yang dibenci) memang tidak menutup kemungkinan bagi manusia untuk mencintai kesalahan dan malah menjauhi kebenaran. Namun dalam penciptaan manusia, hati menjadi organ penting yang berperan baik dari segi fisik maupun batin. Di dalam hati itu, jiwa manusia menyimpan pelbagai masalah ruhani.

red-631349_960_720

sumber pixabay

Amuli mengatakan bahwa hati memberikan tempat bagi cinta, cinta memiliki tempat di hati para pecinta dan ruh sendiri adalah wadahnya cinta. Dan manusia tidak sekalipun pernah diciptakan lebih dari satu hati dalam rongga tubuhnya. Untuk itulah manusia semestinya menempatkan kecondongannya pada cinta kebenaran dan bukan pada cinta kebencian. Begitupun pada kondisi masyarakat Jakarta saat ini, pada mereka yang melakukan tindakan persekusi. Semestinya, kecondongan manusia menuju kepada cinta kebenaran dan bukan pada kebencian. Hal ini berlaku sama untuk elemen masyarakat lain yang tidak terlibat persekusi. Sebab, mudah sekali bagi kita untuk mengetahui sesuatu itu baik dan buruk dalam perspektif yang kita pakai namun tidak bijak ketika menerapkannya untuk orang lain. Apapun yang kita pandang saat ini adalah perspektif kita, dan apa yang kita pandang pada orang lain–sejauh dan berseberangan seperti apapun itu tetaplah kacamata yang berasal dari apa yang kita yakini. Dengan demikian, tidak berhak bagi kita untuk menghukumi apa yang kita pandang. Termasuk memberikan kecondongan benci pada manusia yang berbuat salah; dalam hal ini berbuat persekusi. Kita harus mencegah perbuatan itu meluas, kita harus membenci pada perilaku itu agar tidak terjadi pada diri kita namun pelakunya bukanlah kewajiban kita untuk membencinya.

Sebuah wadah yang penuh akan cinta tidak akan pernah memberikan sedikitpun tempat bagi kebencian. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya manusia diciptakan untuk condong pada cinta kebenaran, keadilan dan kedamaian.

Sumber bacaan: Ilmu dan Makrifat adalah Lahan Kecintaan (Tawalli) dan Kebencian (Tabarri) Abdullah Jawadi Amuli; Makna Hari Kiamat dalam Alquran, Sadra Press, 2012.

Posted in Feature, Islamic Studies, Journalistic, Middle Eastern Studies, Tasawuf | Leave a comment