Sejarah Ringkas Perkembangan Pendidikan Berbasis Museum di Iran dan Aljazair

Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016

Untuk Semua Manusia

Tulisan kali ini tidak berangkat murni dari pemikiran saya. Hanya ringkasan dari risalah pendidikan yang termaktub dalam sebuah buku berjudul MUSEUM DAN ANAK-ANAK. Saya juga tidak berniat merangkum sebagian besar buku ini terlebih menulis ulasan. Saya hanya ingin memaparkan beberapa poin dari risalah negeri Iran  dan Aljazair tentang pendidikan berbasis museum yang sudah berjalan sejak era 1970-an. Beberapa poin yang saya paparkan di bawah ini merupakan comotan dari kumpulan risalah untuk kemudian menjadi sedikit perbandingan dalam perspektif saya dengan apa yang sudah dicapai Indonesia dewasa ini. Dua negara itu; Iran dan Aljazair saya pilih daripada negara Eropa lain seperti Belgia, UK, Irlandia Utara, Jerman, serta Amerika dan Amerika Latin tak lain sebab Iran dan Aljazair merupakan dua negara kategori Timur Tengah. Selanjutnya, selamat membaca dan merenung. Jika kita tidak bisa menunggu pemerintah untuk melakukan banyak gagasan tentang pendidikan untuk masyarakat, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Selamat hari Pendidikan Nasional!

***

Iran dikenal dengan kemajuan negaranya yang bertahap. Fasilitas-fasilitas pendidikan melalui museum sudah digalakan negara ini sejak  era 70-an (berdasarkan risalah yang ditulis di buku). Program museum ini disasarkan pada siswa-siswa tingkat kedelapan yakni kelompok usia 12 s.d 14 tahun dan secara khusus dikaitkan dengan pelajaran-pelajaran ilmu sosial (par 2 hlm 106). Konten museum yang didirikan kala itu diantaranya wisata terpimpin, ceramah (lecturing) yang bertahap dan menghendaki para siswa menulis esai-esai. Saat itu, koreksi dari PBB untuk meningkatkan kualitas pendidikan berbasis museum di Iran hanya Museum Mobil. Sebuah museum berjalan yang diambil dari laporan dua pengamat bernama Faranok Ghaffari Van Patten dan Phyllis Renee Macklin. Kemudian Museum Mobil ini berfungsi untuk membawa museum kepada anak-anak dalam berbagai bentuknya; slide, film, pita (dulu rekaman masih berbentuk kaset berisi pita hitam), dan artefak. 

Pada praktiknya, Museum Mobil menjelajah negeri Iran dengan sebuah tim yang terdiri dari enam orang, berpindah dari kampung ke kampung, kota ke kota dan menyelenggarakan pameran apapun yang dirasa memungkinkan. Desain tempat pameran dipenuhi dengan dekorasi poster dan foto-foto artefak hitam putih dari berbagai tempat berlainan di Iran. Adapun artefak yang dipajang di atas rak-rak berjumlah sekitar empat puluhan. Tempat pameran ini disusun sedemikian rupa seperti auditorium dengan kapasitas 500 kursi. 

Faranok dan Phyllis membuat beberapa laporan sebagai masukan untuk Museum Mobil yang bergerak kala itu. Menurut mereka, ada beberapa hal yang harus ditambah, ditingkatkan dan kemudian dilakukan sebagai perbaikan. Film, foto-foto berwarna disertai caption, brosur-brosur untuk sekolah tujuan, peta Iran berukuran besar, penulisan kronologis artefak adalah beberapa poin yang harus diperbaiki. Adapun pengawasan dari para guru kepada siswa-siswanya selama pameran Museum berlangsung serta dokumentasi merupakan saran yang harus diwujudkan. Mereka juga menyarankan agar selain ada evaluasi setiap tahunnya, Museum Mobil juga memiliki tema sehingga bisa diproyeksikan melalui film, pidato dan artefak-artefak (hlm 109). 

Adapun Aljazair, sejak takluk dengan Perancis mengalami pelapukan budaya. Proses itu berakhir dengan pertumpahan darah kemerdekaan dari tahun 1954 sampai 1962 membuat Aljazair tak cukup merawat dirinya yang penuh derita namun juga membangun masa depan termasuk di dalamnya pemerataan pendidikan. Dicatat oleh Statistik Kementerian Pendidikan bahwa sejuta anak lebih antara usia enam sampai empat belas tahun tidak masuk sekolah. Pada tahun 1977, 72 persen anak Aljazair masuk sekolah sedangkan tahun 1962 hanya sekitar 10 persen saja selagi anak-anak bangsa Eropa 100 persen sudah masuk sekolah (hlm 37). Pengadaan museum di Aljazair diharapkan mampu memperoleh kembali kebudayaan Islam Arab dan menemukan tempatnya sendiri di tengah dunia modern. Menurut risalah, terciptanya Museum Anak di Algiers terilhami dari sumbangan negara-negara sahabat Aljazair: ada boneka, koleksi busana, perangko, pesawat terbang model, cetakan dan lain-lain di tahun 1967. Berbagai usaha untuk merekrut pengajar di museum digalakan pemerintah Aljazair demi menciptakan fungsi pendidikan yang diemban museum disamping pelestarian, pameran dan juga penelitian ilmiah (hlm 40). Ketika mengalami berulang kali re-organisasi pemerintahan, pada tahun 1971, museum menjadi tanggung jawab Kementerian Penerangan dan Kebudayaan yang menyebabkan perkara prasarana serta administratif diperkuat. Metode dan karya pendidikan museum kemudian dipaparkan dengan jelas oleh M’Hamed (mungkin maksudnya Muhammad) Ait-Djafer dalam laporannya selama ia menjadi penanggung jawab dalam kurun waktu 1967 s.d 1970. Laporan itu diantaranya:

1. Didaktik. Metode ceramah (lecturing) dengan minat utama sejarah, kehidupan prasejarah, ilmu (khususnya ilmu alam) dan Seni Rupa. 

2. Hiburan. Hari kunjungan museum situs arkeologi dan monumen-monumen.

3. Pendidikan Estetika. Kunjungan ke galeri-galeri seni, museum, masjid-masjid yang memperlihatkan kekhasan zaman peradaban Islam-Arab (abad 10-18).

4. Kunjungan terpadu dan wisata kuliah ke situs dan monumen sebagai penataran bagi guru-guru. Kegiatan ini memiliki banyak sekali kunjungan diantaranya kunjungan ke masjid (seperti masjid Agung Zaman Omayad abad sebelas dan masjid bergaya Turki Ottoman asli abad ketujuh belas serta masjid Turki Modern abad 18). Kunjungan lainnya adalah kunjungan ke Kasbah sebuah kawasan tentang kehidupan perkotaan dan arsitektur.


Dari sekian upaya tersebut rupanya Dinas Pendidikan Museum Aljazair masih merasa kurang. Upaya lain yang ternyata diusung dan diterapkan adalah justru membuat masyarakat (kecuali wisatawan mancanegara) sadar dan peduli akan pentingnya pendidikan berbasis museum. Pertama-tama mereka mengumpulkan data museum yang ada, lalu membagikan dokumen dan berkas-berkas ke sekolah dan universitas-universitas, juga kursus-kursus untuk merangsang kesadaran khalayak. 

Laporan yang cukup padat dan kompleks itu melahirkan beberapa saran untuk kemajuan pendidikan berbasis museum di Aljazair. Gagasan Seribu Desa Revolusi Aljazair rupanya selain sudah ditetapkan oleh Presiden Boumedienne pada tahun 1972 dan sesuai catatan, pada tahun 1977 sudah ada sembilan desa yang terbentuk dan dihuni sementara 334 desa lainnya telah dibangun. (Mungkin kini sudah tercapai 1000 desa itu berikut penghuninya). Museum kesenian rakyat dan tradisi populer juga didirikan untuk mendukung pengembangan kekayaan arkeologi Islam-Arab seperti yang sudah disemangati sejak awal. Tak hanya itu, Aljazair (tadinya) diharapkan juga membangun museum Teknik dan Olah Raga. Di mana untuk museum Teknik bisa dibangun seperti museum minyak yang diselenggarakan setiap tahunnya di Pekan Raya Internasional Aljazair.

*** 

Ketika membaca buku Museum dan Anak-anak yang disunting oleh Ulla Keding Olofsson, saya hanya bertanya-tanya mengapa negara Indonesia tidak masuk di dalam pembahasannya. Lucunya, pada bagian prakata, dicantumkan bahwa gagasan menggarap karya tentang museum sebagai sarana pendidikan berasal dari rekomendasi Konferensi tentang Peranan Pendidikan Estetika dalam Pendidikan Umum yang salah satunya diselenggarakan selama kurun waktu 1970-an di Yogyakarta. Rekomendasi itu menekankan anjuran untuk mempererat kerjasama antara sekolah dan lembaga-lembaga kebudayaan; untuk menghubungkan isi kurikulum pengajaran dengan warisan budaya negeri yang bersangkutan dan memperluas pemakaian sumber pendidikan di museum (hlm 7). 

Selama era 70-an, Kementerian Budaya Indonesia bergabung dalam merekomendasikan hal tersebut. Namun, cerita mengenai perkembangan dan saran-saran kepadanya tak ditulis di dalam buku setebal 242 halaman itu. Bukankah saat itu Indonesia sudah merdeka? (proklamasi 17 Agustus 1945) dan jika dibandingkan dengan Aljazair mungkin berbeda cerita sebab negara Indonesia berabad-abad lamanya dijajah oleh kolonial Belanda tanpa dijejali pendidikan untuk masyarakat kecil. Bukan perkara mengapa tidak ada nama Indonesia di buku itu, hal ini hanya sebuah gelitik kecil dalam relung hati saya. Satu hal yang menurut saya penting untuk kita renungkan: betapa banyak generasi Indonesia melupakan pendidikan dengan begitu sederhananya.

Ribuan lulusan Universitas bukan jawaban yang mampu menjadi sanggahan atas pernyataan saya. Bukan kuantitas yang saya pertanyakan melainkan kualitas. Bukan juga sebuah tudingan sementara saya menyadari bahwa diri saya masih perlu mengembangkan lagi potensi-potensi yang saya punya. Lulus dengan gelar sarjana sastra, bekerja di dunia pendidikan dengan rutinitas pekerjaan membuat saya berpikir untuk melakukan sesuatu bagi pendidikan Indonesia. Tidak sedikit yang bisa kita banggakan dari generasi muda yang mau menjadi relawan pada program-program mengajar se-Indonesia. Namun tak sedikit pula yang menyadari bahwa pendidikan yang sebenarnya berangkat dari “mendidik diri sendiri.”

Rasanya akan menjadi sangat panjang jika saya memaparkan dari awal tentang konsep mendidik diri sendiri. Intinya, konsep ini perlu dipahami bahwa masing-masing generasi muda perlu mengoreksi apa yang selama ini sudah ia dapatkan di bangku pendidikan baik formal maupun informal. Mereka seyogyanya mempraktikkan keilmuan yang sudah mereka terima, minimal menulis beberapa catatan yang bisa mereka sampaikan kelak ke anak-anak mereka. Mendidik diri sendiri secara tidak langsung merupakan muhasabah, praktik sederhana yang filosofis. Dari sana bisa menjelma ke berbagai lini kehidupan: pendidikan dari hasil perguruan tinggi, pendidikan dari kedua orangtua/keluarga, pendidikan dari lembaga kursus, pendidikan agama, pendidikan organisasi, pendidikan etika dan seterusnya. 

Bisa kita bayangkan jika setiap generasi muda sadar untuk mendidik diri mereka sendiri dengan kekayaan khazanah ilmu yang luas sekali, akan ada berapa keajaiban di masa mendatang? Tentu hal ini akan mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan pastinya berimbas pada orang selain diri mereka. Akan ada banyak hal yang bisa dilakukan jika segala sesuatunya dimulai dari diri sendiri. Termasuk merencanakan masa depan, cita-cita, mewujudkan ini-itu dan seterusnya. Dengan menjalani konsep “mendidik diri sendiri” sudah pasti akan membantu pendidikan Indonesia menuju kemajuan, kemaslahatan dan yang utamanya; tidak melulu menyalahkan pemerintah, orangtua dan lembaga pendidikan.


Materi tentang Iran dan Aljazair disarikan dari:

Museum dan Anak-anak (risalah-risalah tentang pendidikan) penyunting Ulla Keding Olofsson. Terbit tahun 1979 oleh UNESCO, Paris, Perancis. 

Balai Pustaka, 1991.

This entry was posted in Feature, Journalistic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s