BAHASA

BAHASA SEBAGAI UNSUR FIKSI
Bahasa merupakan sarana pengungkapan sastra. Namun, di sisi lain sastra lebih dari sekedar bahasa, deretan kata, dan unsur kelebihannya hanya dapat diungkap dan ditafsirkan melalui bahasa. Jika sastra dikatakan ingin menyampaikan sesuatu, mendialogkan sesuatu, sesuatu tersebut hanya dapat dikomunikasikan lewat sarana bahasa. Bahasa dalam sastra pun mengemban fungsi utamanya: fungsi komunikatif (Nurgiyantoro,1993:1). Untuk memperoleh efektivitas pengungkapan, bahasa dalam sastra disiasati, dimanipulasi, dan didayagunakan secermat mungkin sehingga tampil dengan sosok yang berbeda dengan bahasa nonsastra.
a.     Bahasa Sastra: Sebuah Fenomena
Orang beranggapan bahwa bahasa sastra berbeda dengan bahasa nonsastra, bahasa yang dipergunakan bukan dalam tujuan pengucapan sastra. Namun perbedaan itu tidak bersifat mutlak bahkan sulit diidentifikasikan. Bahasa sastra mungkin dicirikan sebagai bahasa yang mengandung unsur emotif dan bersifat konotatif sebagai kebalikan bahasa nonsastra. Khususnya bahasa ilmiah yang rasional dan denotatif. Namun, untuk pencirian itu kiranya masih memerlukan penjelasan (lihat Wellek dan Warren,1956:22-3). Ciri adanya unsur pikiran bukan hanya monopoli bahasa non sastra tapi bahasa sastra pun memilikinya. Sebaliknya, ciri unsure motif pun bukan hanya monopoli bahasa sastra. Unsur pikiran dan perasaan akan sama-sama terlihat dalam berbagai ragam penggunaan bahasa. Bahasa sastra menurut kaum Formalis Rusia adalah bahasa yang mempunyai ciri dedeotomatisasi, penyimpangan dari cara penuturan yang telah bersifat otomatis, rutin, biasa dan wajar. Penuturan dalam sastra selalu diusahakan dengan cara lain, cara baru, cara yang belum pernah dipergunakan orang. Sastra mengutamakan keaslian pengucapan, dan untuk memperoleh cara itu mungkin sampai pada penggunaan berbagai bentuk penyimpangan, deviasi kebahasaan. Unsur kebaruan dan keaslian merupakan suatu hal yang menentukan nilai sebuah karya. Kaum Formalis berpendapat bahwa adanya penyimpangan dari sesuatu yang wajar itu merupakan proses sastra yang mendasar (Teeuw,1984:131).
Penyimpangan dalam bahasa sastra dapat dilihat secara sinkronik, yang berupa penyimpangan dari bahasa sehari-hari, dan secara diakronik yang berupa penyimpangan dari karya sastra sebelumnya. Unsur kebahasaan yang disimpangi itu sendiri dapat bermacam-macam. Penyimpangan ini misalnya penyimpangan makna, leksikal, struktur, dialek, grafologi dan lain-lain (lihat Leech,1967 A Linguistik Guide to English Poetry). Pengarang melakukan penyimpangan kebahasaan, tentunya bukan semata-mata bertujuan ingin aneh, lain daripada yang lain, melainkan dimaksudkan untuk memperoleh efek keindahan yang lain di samping juga ingin mengedepankan, mengaktualkan (foreground) sesuatu yang dituturkan.
Kebebasan menyimpang bahasa sastra bukannya tak terbatas. Bahasa adalah sebuah sistem tanda yang telah mengkovensi. Penyimpangan secara ekstrem terhadap bahasa yang bersangkutan akan berakibat tak dapat dipahaminya karya yang bersangkutan, sesuatu yang akan dikomunikasikan. Fungsi komunikatif bahasa hanya akan efektif jika sebuah penuturan masih tunduk dan memanfaatkan konvensi bahasa itu betapapun kadarnya. Namun, perlu dicatat bahwa yang membedakan sebuah karya itu menjadi sastra, fiksi atau puisi dengan yang bukan sastra, pertama-tama tidak dicirikan oleh unsur kebahasaannya. Pembedaan itu lebih ditentukan oleh konvensi (konvensi kesastraan), konteks, dan bahkan harapan pembaca. Hal itu berarti bahwa sebenarnya hal-hal tersebutlah yang menciri apakah sebuah (penuturan) bahasa dapat digolongkan ke dalam sastra atau bukan.
Pratt (1977, lewat Teeuw, 1984:82-3) mengemukakan bahwa masalah keliterean tidak ditentukan oleh ciri khas pemakaian bahasa, melainkan oleh ciri khas situasi pemakaian bahasa tersebut.
b.     Stile dan Stilistika
Stile (Style, gaya bahasa) adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Abrams, 1981:190-1). Stile ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk bahasa figurative, penggunaan kohesi dan lain-lain.
Menurut Leech & Short (!981:10) Stile adalah suatu hal yang pada umumnya tidak lagi mengandung sifat kontroversial, menyaran pada pengertian cara penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, oleh pengarang tertentu, untuk tujuan tertentu dan sebagainya. Stile bisa bermacam-maca sifatnya, tergantung konteks di mana dipergunakan selera pengarang, namun juga tergantung apa tujuan penuturan itu sendiri.
Stilistika menyaran pada pengertian studi tentang stile (Leech and Short, 1981:13) kajian terhadap wujud performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat di dalam karya sastra. Kajian stilistika itu sendiri sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai ragam penggunaan bahasa, tak terbatas pada sastra saja (Chapman,1973:13). Namun biasanya stilistika lebih sering dikaitkan dengan bahasa sastra. Analisis stilistika biasanya dimaksudkan untuk menerangkan sesuatu, yang pada umumnya dalam dunia kesastraan untuk menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistic dan maknanya (Leech & Short,1981:13; Wellek & Warren,1956:180). Selain itu ia dapat juga bertujuan untuk menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa bahasa yang dipergunakan itu memperlihatkan penyimpangan, dan bagaimana pengarang mempergunakan tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus (Chapman,1973:15).
c. Stile dan Nada
Pemilihan bentuk ungkapan tertentu dalam suasana cerita yang tertentu akan membangkitkan nada yang tertentu pula. Nada (tone), nada pengarang (authorial tone), dalam pengertian yang luas diartikan sebagai pendirian atau sikap yang diambil pengarang (tersirat, implied author) terhadap pembaca dan terhadap (sebagian) masalah yang dikemukakan (Leech & Short, 1981: 280). Kenny (1996: 69) juga telah mengemukakan bahwa nada merupakan ekspresi sikap, sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan terhadap pembaca. Dalam bahasa lisan, nada dapat dikenali melalui intonasi ucapan, misalnya nada rendah dan lemah lembut, santai, meninggi dan sengit, dan sebagainya. Dalam bahasa tulis, di pihak lain, nada akan sangat ditentukan oleh kualitas stile. Oleh karena itu, Kenny mengemukakan bahwa stile adalah sarana, sedangkan nada adalah tujuan. Salah satu konstribusi penting dari stile adalah untuk membangkitkan nada (Kenny, 1966: 57). Ungkapan kebahsaan yang mempergunakan pola-pola intonasi tertentu dalam bentuk kalimat-kalaimat tertentu akan sanggup membangkitkan kesan nada yang tertentu pula (Fowler, 1977: 63).
2.  UNSUR STILE
Leech dan Short (1981: 75-80) mengemukakan bahwa unsur stile (ia memakai istilah stylistic categories) terdiri dari unsur (kategori) leksikal, gramatikal, figures of specch, dan konteks dan kohesi. Analisis unsur stile, misalnya dilakukan dengan mengidentifikasi masing-masing unsur dengan tanpa mengabaikan konteks, menghitung frekuensi kemunculannya, menjumlahkan, dan kemudian menafsirkan dan mendeskripsikan kontribusinya bagi stile karya fiksi secara keseluruhan.
a. Unsur Leksikal
Unsur leksikal yang dimaksud sama pengertiannya dengan diksi, yaitu mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang. Masalah pemilihan kata, menurut Chapman (1973:61) dapat melalui pertimbangan-pertimbangan formal tertentu, yaitu:
1. Pertimbangan fonologis, misalnya untuk kepentingan alitrasi, irama, dan efek bunyi tertentu, khusunya dalam karya puisi.
2. Pertimbangan dari segi mode, bentuk, dan makna yang dipergunakan sebagai sarana mengkonsentrasikan gagasan.
Pilihan kata juga berhubungan dengan masalah sintagmatik dan paradigmatik. Sintagmatik berkaitan dengan hubungan antarkata secara linier untuk membentuk sebuah kalimat. Sedangkan paradigmatik berkaitan dengan pilihan kata diantara sejumlah kata yang berhubungan secara makna.
b.     Unsur Gramatikal
Unsur gramatikal yang dimaksud menyaran pada pengertian struktur kalimat. Dalam kegiatan komunikasi bahasa, juga jika dilihat dari kepentingan stile, kalimat lebih penting dan bermakna daripada sekedar kata walaukegayaan kalimat dalam banyak hal juga banyak dipengaruhi oleh pilihan katanya. Sebuah gagasan, pesan dapat diungkapkan ke dalam berbagai bentuk kalimat yang berbeda-beda struktur dan kosa katanya. Dalam kalimat, kata-kata berhubungan dan berurutan secara linier yang kemudian dikenal dengan sebutan sintagmatik. Untuk menjadi sebuah kalimat, hubungan sintagmatik kata-kata haruslah gramatikal, sesuai dengan sistem kaidah yang berlaku dalam bahasa yang bersangkutan. Secara teoretis, jumlah kata yang berhubungan secara sintagmatik dalam sebuah kalimat tak terbatas, dapat berapa saja sehingga dapat panjang sekali. Secara formal, memang tidak ada batas berapa jumlah kata yang seharusnya dalam sebuah kalimat (Chapman, 1973:45).
Menentukan apakah sebuah kalimat itu menyimpang atau tidak kadang-kadang tidak mudah dilakukan, atau paling tidak orang bisa berbeda pendapat. Penentuan ada tidaknya bentuk deviasi tidak selamanya dapat diukur dari penyimpangannya terhadap aturan yang baku dalam bahasa Indonesia berupa kalimat baku atau tata bahasa baku. Ada tidaknya penyimpangan struktur kalimat merupakan salah satu unsur yang dapat dikaji jika bermaksud menganalisis insur gramatikal. Dari kerja analisis maka akan didapat berbagai kategori bentuk penyimpangan struktur, frekuensi, bentuk yang dominan, dan akhirnya akan dapat diinterpretasikan apa fungsi dan sumbangannya terhadap estetis penuturan. Kegiatan analisis kalimat antara lain, (1) kompleksitas kalimat, (2) jenis kalimat, dan (3) jenis klausa dan frasa.
Penggunaan bentuk struktur kalimat tertentu apakah mempunyai efek tertentu bagi karya yang bersangkutan, baik efek yang bersifat estetis maupun dalam hal penyampaian pesan. Apakah struktur kalimat itu lebih memperjelas makna yang ingin disampaikan, adakah penekanan terhadap makna tertentu, dan sebagainya.
c.     Retorika
Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis. Ia dapat diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa, yaitu bagaimana pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya. Pengungkapan bahasa dalam sastra mencerminkan sikap dan perasaan pengarang, namun sekaligus dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap dan perasaan pembaca yang tercermin dalam nada.
Retorika berkaitan dengan pendayagunaan semua unsur bahasa, baik yang menyangkut masalah pilihan kata dan ungkapan, struktur kalimat, segmentasi, penyusunan dan penggunaan bahasa kias, pemanfaatan bentuk citraan, dan lain-lain yang semuanya disesuaikan dengan situasi dan tujuan penuturan.
Unsur stile yang berwujud retorika, seperti yang dikemukakan Abrams (1981:193) meliputi penggunaan bahasa figuratif (figurative language) dan wujud pencitraan (imagery). Bahasa figuratif menurut Abrams (1981:63) dapat dibedakan ke dalam (1) figures of thought atau tropes, dan (2) figures of speech, rhetorical figures, atau schemes. Yang pertama menyaran pada penggunaan unsur kebahasaan yang menyimpang dari makna yang harfiah dan lebih menyaran pada makna literal (literal meaning). Jadi pada pembahasan ini lebih mempersoalkan pengungkapan dengan cara kias (pemajasan). Yang kedua lebih menunujuk pada masalah pengurutan kata, masalah permainan struktur. Jadi pada pembahasan ini lebih mempersoalkan cara penstrukturan (penyiasatan struktur).
Pembacaan unsurretorika berikut akan meliputi bentuk-bentuk yang berupa pemajasan, penyiasatan struktur, dan pencitraan, dengan memasukkan contoh-contoh antara lain Keraf.
1.     Pemajasan
Pemajasan (figure of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang ,maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yag mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat.
Gorys Keraf (1981) membedakan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna ke dalam dua kelompok, gaya bahasa retoris dan kiasan. Gaya retoris adalah gaya babahsa yang maknanya harus diartikan menurut nilai lahirnya. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang mengandung unsur kelangsungan makna. sedangkan gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang maknanya tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan makna kata-kata yang membentuknya. Bentuk-bentuk pemajasan yang sering digunakan pengarang adalah bentuk perbandingan, yaitu membandingkan sesuatu dengan yang lain melalui ciri-ciri kesamaan antara keduanya, misalnya berupa ciri fisik, sifat, sikap, keadaan, suasana, tingkah laku, dan sebagainya. Bentuk-bentuk perbandingan tersebut dapat dilihat dari sikap kelangsungan pembandingan persamaannya dapat dibedakan ke dalam bentuk simile, metafora, dan personifikasi.
Simile menyaran pada adanya perbandingan yang langsung dan ekplisit, dengan mempergunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda keeksplisitan seperti, seperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip, dan sebagainya. Metafora merupakan gaya perbandingan yang bersifat tidak langsung dan implisit. Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan yang kedua hanya bersifat sugestif, tidak ada kata-kata penunjuk perbandingan eksplisit. Personifikasi merupakan gaya bahasa yang memberi sifat-sifat benda mati dengan sifat-sifat yang dimiliki manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkah laku sebagaimana halnya manusia.
2.     Penyiasatan Strukur
Kefektifan sebuah wacana sangat dipengaruhi oleh struktur kalimat secara keseluruhan. Dari situ terdapat bangunan tertentu yang menonjol, yang mampu memberikan kesan dan efek – efek tertentu kepada pembaca atau pendengar. Pendayagunaan struktur kalimat akan menghasilkan satu bentuk style yang lain. Sehingga muncul dua cara yaitu penyiasatan makna dan penyiasatan struktur.
Penyiasatan Struktur melalui berbagai cara yaitu :
a.     Bentuk pengulangan kata
ð Pengulangan kata atau kelompok kata dalam satu kalimat atau lebih
ð Contoh : “Rasus dalam hati, menyayangkanSrintil, menyayangkan warga Dukuh Paruk, puaknya, menyayangkansikap mereka yang memandang moral hanya dari dunianya sendiri yang sempit.”
b.     Paralelisme
ð Penggunaan bagian kalimat yang mempunyai kesamaan struktur gramatikal secara berurutan. Penggunaan bangunan struktur yang paralel dalam kalimat penuturan akan menghasilkan bentuk-bentuk pengungkapan yang retoris dan melodis.
ð Contoh : “Diantara sejumlah warga itu terpaksa ada yang dipilih, dibatasi, bahkan ada kalanya ditolak untuk diterima sebagai anggota.”
c.     Antitesis
ð Mempergunakan unsur paralelisme, namun justru dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan yang bertentangan
d.     Polisindenton dan Asindenton
ð Polisindenton : Pengulangan dalam penggunaan kata tugas tertentu, misal kata “dan”
ð Asindenton : Pengulangan berupa penggunaan pungtuasi, misal “tanda koma”
e.     Aliterasi
ð Penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih  karena memiliki kesamaan fonem konsunan
f.      Gaya Tanya retoris
ð Sebuah pertanyaan yang dikemukakan yang telah dilandasi oleh asumsi bahwa pembaca telah mengetahui jawabannya.
3.     Pencitraan
Dalam dunia sastra dikenal adanya istilah citra (image) dan pencitraan (imagery) yang keduanya menyarankan pada adanya reproduksi mental. Macam pencintraan itu sendiri meliputi kelima jenis indera manusia : citraan penglinghatan, pendengaran, gerakan, rabaan, dan penciuman.
Manfaat pencitraan :
a)     Dipergunakan untuk mengkonkretkan pengungkapan gagasan-gagasan yang sebenarnya abstra melalui kata-kata dan ungkapan yang mudah membangkitkan tanggapan imajinasi
b)    Pembaca akan mudah membayangkan, merasakan, dan menangkap pesan yang ingin disampaikan pengarang.
c)     Sarana untuk memahami karya sekaligus merupakan gaya untuk memperindah tuturan
Contoh :
“Hatinya patah arang” 
ð Menggambarkan keadaan hati yang bagaikan “arang patah” yang tak mungkin disambung lagi. Keadaan “arang yang patah” dapat dengan mudah dibayangkan, tetapi sulit membayangkan “hati yang patah.”
d.      Kohesi / Keutuhan
ð  Yaitu hubungan antar bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain atau kalimat yang satu dengan yang lain. Sehingga dalam satu teks terdapat hubungan esensial yang mengaitkan makna-makna. Hubungan eksplisit yang ditandai dengan kata penghubung dan hubungan implisit yang ditandai dengan simpulan dari pembaca.
ð  Penanda kohesi
a.       Kata =>  “dan, kemudian, sedang, tetapi, namun, melainkan, bahwa, sebab, jika, maka”
b.      Kelompok kata => “dengan demikian, akan tetapi, oleh karena, di samping itu”
ð   Kohesi juga mengenal prinsip ruductionyaitu memungkinkan kita untuk menyingkat apa yang aan disebut kembali atau untuk menghindari pengulangan bentuk yang sama.
C.  PERCAKAPAN DALAM NOVEL
Narasi dan dialog
Sebuah karya fiksi dikembangkan dalam dua bentuk penuturan, yaitu narasi dan dialog. Kedua bentuk tersebut dhadirkan secara bergantian. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya rasa bosan dan monoton bagi pembaca. Pengungkapan bahasa dengan gaya narasi sering dapat menyampaikan sesuatu secara lebih singkat dan langsung. Dengan narasi, pengarang dapat mengisahkan ceritanya secara langsung, pengungkapannya bersifat telling (menceritakan). Narasi dapat berupa pelukisan latar belakang, tokoh, hubunan antra tokoh, konflik, dan lain-lain. Pengaranga cenderung memilih bentuk narasi untuk menceritakan perjalanan hidup tokoh. Sebaliknya, pengungkapan bahasa dengan dialog dimaksudkan pengarang agar pembaca melihat dan mendengar kata-kata seorang tokoh, percakapan antar tokoh, wujud kata-katanya, dan isi percakapannya.
Dialog dapat memberikan kesan realistis dan memberikan tekanan pada sebuah kejadian yang dituturkan oleh gaya narasi. Sebaliknya, narasi dapat akan membuat dialog terasa hidup dengan pengisahan berbentuk narasi. Oleh karenanya, keberadaan narasi dan dialog adalah untuk saling melengkapi. Sebuah percakapan atau dialog yang terdapat di awal cerita atau novel tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh pembaca sebelum mengetahui konteksnya, dimana konteks tersebut akan dipaparkan dalam kalimat-kalimat berbentuk narasi setelahnya. Dengan mengetahui konteks situasi, pembaca dapat mempertimbangkan apakah sebuah percakapan tersebut efektif, segar, atau sebaliknya, dalam hal ini unsur pragmatik memegang peranan penting.
 
b.     Unsur pragmatik dalam percakapan
Percakapan yang hidup dan wajar merupakan percakapan yang sesuai dengan konteks pemakaiannya dan percakapan yang mirip dengan situasi nyata penggunaannya. Seseorang yang menggunakan bahasa tidak cukup dengan mempertimbangkan unsur bahasa, akan tetapi juga unsur luar bahasa. Konteks atau unsur luar bahasa inilah yang merupakan faktor penentu sebuah percakapan. Faktor-faktor tersebut diantaranya situasi, orang yang terlibat, masalah, tempat, dan lain sebagainya. Ketepatan bahasa akan terjadi jika penyempaian tuturan disesuaikan dengan konteks pembicaraan. Untuk memahami sebuah percakapan yang memiliki konteks tertenu, kita tidak hanya mengandalkan pengetahuan leksikal dan sintaksis saja, melainkan harus pula disertai dengan interpretasi pragmatik (Leech&Short, 1982: 290).
Sebagian besar makna percakapan lebih ditentukan oleh konteks pragmatiknya. Hal tersebut tidak diungkapkan langsung dengan unsur bahasa, melainkan hanya lewat kode-kode tertentu (budaya) yang seharusnya telah menjadi milik pembaca.
Pemahaman terhadap percakapan tersebut dalam pragmatik disebut dengan Implikatur, dimana implikatur memberikan penafsiran pragmatis yang mampu melewati dan menembus batas-batas struktural linguistik. Kontribusi adanya Nosi Implikatur  dalam kegiatan berbahasa adalah ia mampu memberikan makna secara lebih dari sekedar apa yang dikatakan pembicara. Orang yang mampu memahami implikatur sebuah percakapan hanya orang yang menguasai bahasa, kebiasaan, konvensi budaya, dan mengetahui konteks percakapan tersebut.
Misalnya, ucapan “O, Ya’ tidak memiliki unsur kelengkapan sebagai kalimat lengkap, namun ia berwujud kalimat Tanya (ilokusi) dan mungkin menyaran pada makna minta penjelasan lebih lanjut, terkejut, atau bahkan mungkin mengejek (perlokusi). Tindak ujar ilokusi membedakan bentuk ujaran berdasarkan intonasi kalimat, sebuah kalimat ujaran dapat saja dimasukkan ke dalam jenis-jenis tertentu tindak ilokusi yang berbeda walau secara makna kurang lebih sama. Atau sebaliknya, jenis tindak ilokusinya sama, namun maknanya dapat berbeda. Ucapan: “datanglah kemari” dengan “maukah kamu datang kemari?” menyaran pada makna yang sama namun dengan tindakan ilokusi yang berbeda (perintah dan tanya), sedangkan ucapan “O Ya?” bertindak ilokusi sama (tanya) namun makna yang disarankan dapat berbeda-beda.
Tindak bahasa perlokusi (perlocutionary speech acts) melihat pada adanya suatu bentuk pengucapan yang menyaran pada makna yang lebih dalam, yang tersembunyi di balik ucapan itu sendiri. Tindak perlokusi lebih mengandalkan kemampuan penafsiran pembaca. Persepsi, kepekaan, dan kekritisan perasaan dan pikiran pembaca dalam memahami konteks wacana itu, sangat menentukan penafsiran makna secara perlokutif, dan antara pembaca yang satu dengan yang lain mungkin sekali terjadi perbedaan.
Tindak Ujar

Konsep yang menghubungkan antara makna percakapan dengan konteks adalah konsep tindak ujar (speech acts). Wujud penampilan tindak ujar para pelaku percakapan ditentukan oleh konteks percakapan itu sendiri yang tentunya tergantung pada keperluan. Misalnya, ucapan “datanglah kemari” ditegaskan menjadi “saya mengharapmu datang kemari”. Contoh tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kalimat dengan makna yang kurang lebih sama, dapat dituturkan secara lain yang menyaran pada tindak ujar yang berbeda. Ucapan “datanglah kemari” berupa kalimat perintah, “maukah kau datang kemari?” kalimat tanya, sedangkan “saya mengharap kau datang kemari” merupakan kalimat pernyataan. Bentuk-bentuk penampilan yang berupa perintah, tanya, dan pernyataan inilah antara lain yang disebut tindak ujar.

Kesimpulan

Bahasa dalam unsur fiksi merupakan upaya untuk mengefektifitaskan kata dan kalimat untuk membuat ungkapan yang berbeda dengan bahasa nonsastra. Leech dan Short (1981: 75-80) mengemukakan bahwa unsur stile (ia memakai istilah stylistic categories) terdiri dari unsur (kategori) leksikal, gramatikal, figures of specch, dan konteks dan kohesi.

a. Unsur leksikal yang dimaksud sama pengertiannya dengan diksi, yaitu mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang.

b. Unsur gramatikal yang dimaksud menyaran pada pengertian struktur kalimat.

c. Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis.Unsur retorika meliputi pemajasan, penyiasatan struktur, dan pencitraan. Adapun penyiasatan struktur melalui gaya repetisi, paralelisme, aliterasi, dan pertanyaan retoris sangat menentukan dan merupakan faktor penting dalam memunculkan efek estetis

d. Kohesi / Keutuhan yaitu hubungan antar bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain atau kalimat yang satu dengan yang lain.

Dalam sebuah novel atau cerita, bentuk tuturan terdiri dari dua bentuk yaitu narasi dan dialog, dimana keduanya ditampilkan secara variasi agar tidak monoton. Keberadaan narasi dan dialog adalah saling melengkapi, karena suatu dialog tidak dapat dimaknai secara jelas sebelum mengetahui konteks yang dipaparkan di dalam narasi. Sebuah percakapan dapat bernilai jika sesuai dengan konteksnya. Untuk memahami sebuah percakapan diperlukan pemahaman konteks yang tidak lain aalah unsur-unsur pragmatik seperti situasi, partisipan, isi, dan tempat.

Sebuah tindak ujar terdiri atas tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur yaitu tindak Lokusi (menyatakan sesuatu), Ilokusi (menyatakan informasi dan untuk melakukan sebuah tindakan), dan Perlokusi (mengutarakan sesuatu untuk mempengaruhi lawan tutur).

This entry was posted in Journalistic, Literatures, Resume. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s