Pentingnya Menjaga Kebahagiaan pada Anak

Apakabar, Mommies?

Saat ini Lyubov masih berada pada titik unconscious mind. Antara nol sampai dua tahun kemungkinan dia mengingat suatu peristiwa sangat sedikit. Bahkan bisa jadi tidak ingat sama sekali. Tapi, bukan berarti tidak ingat betul.

Suami saya misalnya, dia ingat ketika usia dua tahun punya mainan mobil besar. Tidak ada anak lain di kampungnya yang punya mobil mainan sebesar miliknya. Ketika saya tanyakan pada mertua ternyata benar bahwa usia dua tahun suami saya sudah diberikan mainan mobil besar yang bisa dinaiki dan dikemudikan.

Suami saya mengaku, saat itu perasaannya bahagia sekali. Mobil itu memang tidak lama usianya karena sering dipakai tapi perasaan bahagia dan berbungah itu lama membekas di hatinya.

Dari pengalaman itu saya mulai memikirkan kondisi Lyubov. Sejak lahir dia mengalami perpindahan ke sana ke mari. Dari Jakarta, Cikarang, Bogor sampai Surakarta. Dan kini, posisi kami sekeluarga berada di Surakarta. Kemungkinan besar kami akan menetap di kota ini tiga atau empat tahun ke depan.

Dan itu tandanya saya harus mulai merancang sebuah pendidikan di rumah bagi Lyubov di usianya yang masih amat belia namun sangat subur untuk ditanami pendidikan moral dan rasa bahagia.

Jika suami saya saja masih ingat bagaimana senangnya dia menaiki mobil mainannya, tentu Lyubov bisa pula mengingat bagaimana dia berinteraksi dengan keluarga barunya di Surakarta. Tidak baru-baru amat memang, tapi terakhir dia berjumpa intens dengan keluarga mertua saya adalah saat Lyubov masih berusia empat bulan. Dia sudah lupa pada awalnya namun dia mulai mengenali satu persatu anggota keluarga.

Ini adalah tugas yang berat. Bagaimana bisa sebagai orangtua dewasa yang tinggal bersama mertua mampu menjaga hubungan baik tanpa merelakan kebahagiaan anak?

Namun, bukan berarti ini mustahil, kan?

Anak usia 0-2 atau bahkan 3 tahun belum ‘diwajibkan’ khatam ABC. Mereka hanya perlu ‘ditanami’ beragam kata dan ekspresi saat mengucapkannya. Pada tulisan Belajar Bersama Anak: Cerita Tentang Dongeng, saya menjabarkan beberapa poin kelebihan jika kita mendengarkan dongeng pada anak.

Usia unconscious mind memang usia yang rentan pada kekerasan verbal orangtua dan lingkungannya. Padahal di usia itu bayi, balita, menanam kata-kata dalam benak mereka. Ketika sampai usia mereka pada usia sadar atau conscious mind, mereka baru mulai mengucapkan apa yang mereka tanam di usia unconscious mind. Oleh karenanya, orangtua lebih baik berpikir sebelum berkata-kata. Termasuk menstimulus otak bayi dengan menyampaikan dongeng atau membacakan kalimat-kalimat dari buku dan dari barang-barang di sekitarnya.

Sebagai contoh putri saya, Lyubov.

Tidak hanya dongeng yang saya sampaikan padanya. Tapi juga kalimat-kalimat yang tertera pada barang-barang di sekitarnya. Instruksi menggunakan alat yang tertempel di belakang benda, manfaat dari sampo, cara penggunaan obat, dosis yang dianjurkan pada botol paracetamol tetes. Apapun benda yang ada di sekitar Lyubov, saya ambil, saya baca cara penggunaannya, komposisinya, termasuk bahasa-bahasa asing yang tertera pada benda tersebut. Saya ingin sebanyak mungkin Lyubov menabung kata-kata dan ekspresi sehingga kelak akan membantunya berbicara.

Ah, tapi tulisan saya bukan bermaksud fokus pada tips ini. Justru sebenarnya saya ingin menyampaikan bagaimana kita menyampaikan dongeng dan membacakan cerita pada anak tanpa beban sehingga dia merasa senang belajar dengan kita? Bagaimana membuat anak bahagia tanpa perlu merelakan uang keluar banyak? Bagaimana cara menjaga keteraturan pada emosi anak dengan melatihnnya menerima dan mensyukuri apa yang ada untuk tetap bahagia?

Tanamkan Bahagia

Ada dua peraturan yang saya terapkan pada Lyubov sejak dia lahir.

  1. Tidak ada mainan yang berlebihan. Mainan dibeli atau dirakit untuk kepentingan mengasah indra-indra Lyubov saja.
  2. Sedikit biaya keluar untuk menciptakan momen kebahagiaan.

Pelit? Tidak. Saya tidak terima dibilang orangtua pelit. Bagi saya kebahagiaan itu bisa diciptakan, dinikmati dan disyukuri. Jika kurang puas, kita ciptakan sendiri bagaimana caranya supaya bahagia. Jika anak sejak bayi sudah dibiasakan ‘menciptakan’ kebahagiaan dengan menguras banyak ongkos maka sampai besar dia akan melanjutkan kebiasaan itu. Kebiasaan konsumtif. Sebaliknya, jika kebahagiaan yang kita latih untuk dia ciptakan adalah berasal dari perilaku-perilaku positif maka sampai besar pun dia akan melanjutkan kebiasaan baik itu.

Kebiasaan positif yang saya terapkan pada Lyubov untuk menstimulus cara menciptakan bahagia dimulai dari berterima kasih. Pada siapapun. Pada apapun.

“Terima kasih, Oma. Oma sudah sayang sama Lyubov.”

“Terima kasih Ayah, ayah sudah bekerja keras untuk Lyubov.”

“Terima kasih ya Allah cuaca hari ini panas sekali tapi Lyubov diberi kesehatan sudah senang.”

Saya juga mengajak Lyubov berdoa dan mendoakan orang lain. Doa untuk ayahnya yang pergi kerja, untuk dirinya, untuk saya, untuk banyak orang untuk dunia.

Kebiasaan lainnya adalah memberi. Lyubov masih belum paham konsep ini, layaknya konsep berterima kasih tapi saya yakin suatu saat dia mengerti dia akan mengerti maknanya.

“Ini buat mami, ya. Lyubov kasih biskuit. Semoga mami suka.” Saya selalu bicara begitu sambil mengajak tangannya memasukkan biskuit ke mulut saya. Lalu saya mengucapkan terima kasih dan dia tersenyum.

Bukan perbincangan kita yang akan dikenang bayi, balita ataupun anak kecil. Tapi suasana perbincangan itu, bahagia atau tidak. Menekan atau mengancam. Menyakiti atau melukai.

Tanamkan bahagia untuk anak-anak kita, Mommies. Suatu saat dia akan tumbuh menjadi pribadi yang bersih dan mengasihi.

This entry was posted in Sleepless Mommy: A Parenting Stuff. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s