Apakah Kamu Islamofobia? Check this out!

Belakangan ini gejolak Islamofobia berdengung santer di Amerika dan Eropa. Beberapa kasus berisi pelanggaran HAM bagi yang beragama Islam marak. Salah satunya, kutemukan di twitter hari ini (paling update) tentang pelarangan muslimah berhijab untuk mengunjungi pantai, kamu bisa baca di sini.

islam-1299211_960_720
muslim in sujud (praying sholah) http://www.pixabay.com

Jujur, aku males banget ngikutin perkembangan politik di AS yang lagi heboh sama Trump. Bagiku, nontonin atau dengerin apa yang dia ucapin itu buang-buang waktu. Mendingan aku baca buku, nulis cerpen atau nerjemahin artikel. Tapi, akibat-akibat dari berbagai isu negatif yang dilancarkan Trump dan antek-anteknya banyak berseliweran di medsos. Banyak ahli ilmu tertentu (dari luar Indonesia) yang mengkaji fenomena ini. Salah satu diantaranya Dr. Craig Considine yang tweet-nya selalu aku tunggu dan kubaca karena helpful banget. Suatu hari, Dr. Considine nulis dan ngajak followers-nya untuk mendefinisikan “Islamofobia”. Beberapa dari definisi itu diantaranya:

Islamophobe (noun) – a person who says “America is great because of its freedom,” but who also says “we should monitor all Muslims in the United States.”

Islamofobia merupakan kondisi di mana seseorang berkata, “Amerika hebat karena prinsip kemerdekaannya,” tapi juga mengatakan, “Kita harus memonitor seluruh muslim di Amerika Serikat,”

Islamophobe (noun) – a person who thinks ISIS is a “terrorist” organization, but the Ku Klux Klan isn’t.

Islamofobia merupakan kondisi di mana seseorang berpikir bahwa ISIS merupakan organisasi teroris, tetapi Ku Klux Klan bukan.

Islamophobe (noun) – a person who refuses to accept the notion that jihad has multiple non-violent components, choosing instead to say “jihad is violence.”

Islamofobia merupakan kondisi di mana seseorang menolak gagasan tentang jihad yang memiliki banyak macamnya dan jihad itu sendiri tidak memiliki unsur kekerasan, dan malah mengatakan, “Jihad adalah kekerasan”

Islamophobe (noun) – a person who refers to killers like Dylan Roof as “mentally deranged”, but also refers to killers with “Muslim sounding names” as jihadists.

Islamofobia adalah kondisi di mana seseorang mengatakan Pembunuh macam Dylan Roof sebagai “orang gila”, namun juga merujuk pada “orang yang bernama berbau Islam” sebagai jihadis.

Islamophobe (noun) a person who argues that every Quranic verse is “abrogated” and then falsely concludes “Islam is the worst thing ever.”

Islamofobia merupakan orang yang beranggapan bahwa setiap ayat Quran diubah dan palsu sehingga menyimpulkan bahwa “Islam adalah hal paling buruk yang pernah ada,”

Islamophobe (noun) – a person who condemns Islam for allegedly “spreading by the sword” while totally ignoring the fact that Christianity can be said to have spread the same way.

Islamofobia merupakan kondisi di mana seseorang mengutuk Islam dengan dugaan “penyebaran dakwah dengan pedang” namun mengabaikan kenyataan bahwa dakwah Kristen juga melakukan hal serupa. (Untuk hal ini jelas salah total, sementara aku masih dalam proses me-resume dan menerjemahkan artikelnya, kamu bisa baca kalau Islam tidak pernah berdakwah dengan kekerasan. Kamu bisa baca di sini.)

Nah, setelah kupikir-pikir ternyata banyak banget ‘kengerian’ dari kata Islamofobia. Pertanyaanku, kenapa harus takut atau parno akan sesuatu yang jelas-jelas dia sendiri juga selalu jadi korban dan orang-orang yang menganutnya banyak dibunuh, diasingkan di negara lain. Sebut saja kasus lama, Palestina, Irak, Afganistan, Rohingya dan kasus-kasus lainnya. Mereka semua diasingkan karena beragama Islam. Aku juga yakin, di belahan bumi lain, siapapun itu dan apapun agama mereka, kalau minoritas, kebanyakan, kebanyakan lho ya, mengalami marjinalisasi dan kekerasan. So, kenapa cuma Islam yang jadi kambing hitam?

Di Indonesia aja, negaraku sendiri yang menurut data statistik (ngga perlu pake data juga udah pada tahu semua) memiliki masyarakat muslim paling banyak, aku ngalamin kok Islamofobia (–maksudku, aku korban dari orang-orang yang fobia sama Islam). Awal tahun 2016 kemarin tepatnya sekitar Januari-Februari (aku lupa exactly kapannya), aku yang fresh graduate mencoba ngelamar di salah satu RS terkenal di Indonesia dan baru berdiri di Cikarang. Well, singkat kata aku diwawancara. You know? Aku ditolak bukan karena aku gak lulus tes, atau aku jelek atau aku ngga modis. Aku ditolak karena aku BERHIJAB. Dokternya dengan jelas bilang kalau dia menyayangkan potensiku yang besar dan nggak bisa nge-hire aku hanya karena jilbab yang aku pakai. Dia juga bilang, seandainya aku mau lepas jilbab aku, kesempatan menjadi sekretaris dokter bisa aku dapatkan. What the hell…

wall-1230505_960_720
woman in hijab (www.pixabay.com)

Uhm, cerita panjangnya ada di facebook aku, dan entah masih ada atau udah aku hapus karena banyak orang menyarankan untuk RELA dan NGALAH. Sebenarnya aku pernah posting nama rumah sakitnya di situ. Bukan apa-apa, menuntut pun aku tahu aku bakal kalah karena WHO AM I? Duit gajian aja cuman numpang lewat kok berlagak nuntut RS hanya karena ngga diterima jadi karyawan?

Tunggu, bukan curhat yang mau aku sampaikan ke kamu. Tapi coba kamu pikir deh, apa iya aku bakal kepeleset kerudungku pas kerja jadi sekretaris dokter? Apa iya kerudung yang kupakai bikin si dokter jadi alergi kulit misalnya, atau pilek mendadak atau kena stroke? Apa udah pasti kalau aku berjilbab/berkerudung/berhijab berarti aku muslimah ekstremis, radikalis, militan, teroris dan seterusnya? Seperti yang ada di timeline Dr. Craig Considine, orang-orang banyak yang mudah nge-judge kalau orang Islam dengan identitas keislamannya (misal: nama, hijab) adalah teroris/jihadis sementara pembunuh macam Dylan Roof hanyalah terganggu mentalnya. Hello, what the world is going on?

Aku jadi inget lirik lagu Anggun C Sasmi,

Nothing wrong with dress I wear 

Nothing wrong with this smile I dare 

Nothing wrong with my long black hair 

it’s all in your mind, in your mind

From anywhere the only thing wrong
Is your irritating mind  

(In Your Mind, Anggun C Sasmi)

Lagu itu ingin menyampaikan bahwa pikiran orang (laki-laki dalam konteks ini) kalau lihat cewek cantik sedikit, seksi sedikit biasanya langsung ‘greng‘. Tapi, kalau disalahin nggak mau, dan malah nyalahin cewek balik (disalahin karena pake baju kependekan lah, rambut kepanjangan lah, terlalu seksi lah dlsb). Padahal, nggak ada yang salah lho dengan cewek pake baju seksi dan jalan keluar rumah. Bagiku, itu hak dia. Dia mungkin mau ngerasain angin berdesir melewati pahanya, dia mungkin mau menikmati cerahnya mentari di luar sana. Kenapa harus dikategorikan sebagai cewek nggak bener atau memancing birahi lelaki? Semua kembali ke pikiran lelaki itu sendiri! Kalau pikirannya sehat dan nggak mesum, biarpun ada cewek telanjang di depan dia, dia nggak akan menyalahkan ‘kodrat’nya. Dia akan santai dan kalau pun dia ngerasa cewek itu udah melanggar asusila, ya dia cuma perlu negur baik-baik cewek itu dan kasih penjelasan logis, bukan diperkosa!

Sama halnya dengan cewek berjilbab/berkerudung/berhijab. Kalau cewek nggak pake jilbab bebas pamer rambut, kami yang berhijab juga bebas dong mau pake berapa meter kain kek di kepala kami, di badan kami dst. Kenapa harus dikategorikan ekstremis? kenapa harus dibilang teroris? jihadis?

Jadi…(napas dulu)

Islamofobia bukan hanya terjadi pada negara-negara dengan Islam minoritas. Islamofobia itu NYATA dan bisa terjadi di mana aja termasuk Indonesia dengan total penduduk muslim terbesar di Asia Tenggara. Melalui artikel ini, aku cuma mau ngajak kamu untuk MEMBUKA CAKRAWALA PIKIRAN dengan banyak membaca literature, sejarah dan sumber-sumber valid dari para ahli yang valid juga dan coba deh untuk berpikir dulu sebelum bertindak. Intinya, don’t say a word kalau kamu nggak tahu hal itu in detail. Bukan bermaksud ceramah, tapi Rasulullah Muhammad Saw pernah bersabda, “Ask the learned, speak with the wise, associate with the poor” yang artinya: belajarlah dari orang yang berilmu, berdiskusilah dengan orang bijak dan bergaul-lah dengan orang miskin.

peace-1125843_960_720
just be peace, please! www.pixabay.com

Coba deh kamu bayangkan kalau orang-orang yang suka adu domba dan saling fitnah itu kita cuekin dan kita hidup dalam kebersamaan dan damai. Pasti nyaman banget kan? Aku nggak peduli, kamu yang baca artikel ini beragama Islam atau bukan atau ATHEIS sekalipun atau beragama lebih dari 1, aku cuma berharap semoga kita bisa Living in Peace and Harmony!

Source:

Definitions of “Islamophobe”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s