Majid Fakhry: Sejarah Filsafat Islam; an Introduction

Buku ini diawali dengan pengantar yang begitu padat berisi informasi umum tentang pembahasan pada bab selanjutnya. Berikut ini beberapa poin yang dapat diambil diantaranya:

  • Filsafat Islam tidak dapat dipungkiri merupakan proses intelektual yang kompleks dari orang-orang Suriah, Arab, Persia, Turki, Berber dan lainnya yang ikut andil secara aktif.
  • Namun peran orang Arab memang paling diakui. Tanpa pencerahan orang-orang Arab di masa kuno, sungguh sulit perkembangan intelektual dibentuk.
  • Orang Arab bahkan berkontribusi besar terhadap elemen universal dalam kompleks keseluruhan budaya Muslim yakni Agama Islam.
  • Poros utama kehidupan Muslim merupakan Alquran. Kitab ini dilengkapi pula dengan banyaknya ungkapan-ungkapan tentang perilaku dan ucapan Nabi Muhammad Saw yang kemudian disebut Sunnah (the prophetic ways).
  • Intelektual Muslim mendedikasikan diri mereka untuk mempelajari kedua tuntunan hidup tersebut; Alquran dan Sunnah. Sebab dedikasi tersebut, beberapa ilmu-ilmu baru seperti ilmu pengetahuan membaca atau qira’at, tafsir, dan fikih ada. Fungsinya untuk berasimiliasi atau hidup berdasarkan peraturan Alquran.
  • Ilmu-ilmu pengetahuan tersebut kemudian membendung cabang ilmu disiplin. Sebagaimana halnya Linguistik atau ilmu-ilmu tradisional yang berbeda dari rasionalitas atau pengetahuan-pengetahuan filsafat. Gramatika , retorika, dan kajian-kajian terkait sudah berkembang selama dua abad pertama di Era Muslim. Kajian sastra dan terutama puisi-puisi pra-Islam muncul untuk merangsang keinginan untuk menemukan basis yang patut dimuliakan dalam menggunakan beberapa terminologi yang tidak familliar atau idiom di dalam Alquran dan Sunnah.
  • Hukum-hukum yang termaktub di dalam Alquran disempurnakan selama pemerintahan Khalifah Utsman ibn Affan dan untuk menghormatinya disebut sebagai Mushaf Utsmani.
  • Pada pertengahan abad ke-9, hukum-hukum pada Sunnah dengan perkembangan kompilasi bunyi dibuat oleh Al-Bukhari.
  • Permasalahan Linguistik dan tekstual akhirnya memunculkan gagasan para intelektual yang mengizinkan untuk menggunakan analogi (qiyas) atau ijtihad untuk menangani hal-hal yang meragukan.
  • Dari empat sekolah resmi; sekolah Abu Hanifah dan sekolah Asy-Syafi’i lebih liberal dari pada dua sekolah Islam saingan mereka yaitu sekolah Malik ibn Anas dan sekolah Ahmad ibn Hanbal.
  • Mazhab Maliki dan Hanbali dijuluki “the conservative people of traditions” cenderung menghindari penggunaan metode deduktif.
  • Usaha untuk bergulat dengan masalah-masalah yang kompleks merupakan dasar dari muncul dan berkembangnya teologi pengetahuan Islam.
  • Teologi pengetahuan Islam mulai mempertanyakan tentang keadilan dan tanggung jawab manusia. Teologi ini yang kemudian memberikan orang Islam sebagaimana telah didapati oleh orang Kristen di Mesir dan Suriah beberapa abad sebelumnya. Yakni dorongan untuk mempelajari filsafat Yunani.
  • Periode Umayyah (661-750) pada awal pemerintahan mereka hanya fokus pada kekuatan konsolidasi partai mereka, pertumbuhan ekonomi dan masalah-masalah administratif. Pangeran Khalid ibn Walid menggagas dan mewujudkan terjemahan penelitian pertama yang mencakup (medis, astrologi dan Kimia) ke bahasa Arab sebagai bentuk kritiknya terhadap pemerintahan yang saat itu belum sadar akan keilmuan.
  • Pertengahan abad ke-8, filsafat dan teologi Islam berkembang di zaman Dinasti Abbasiyah. Negara Islam masa itu mengambil peran akhit dalam perkembangan filsafat. Khalifahnya bahkan menegakkan suatu pandangan teologis untuk melawan pandangan lain dan menuntut kesetiaan akan pandangan tersebut (kepentingan politik). Kemudian filsafat menjadi bentukan dari politik. Penyebab paling fundamen akan perkembangan tersebut adalah kedekatan Islam di antara prinsip dan hukum, alam fana dan alam spiritual.

GREEK IDEAS

Gagasan-gagasan dari Filsafat Yunani berdampak pada banyak hal. Pengaruh gagasan Yunani dalam filsafat adalah pemikiran tentang sebuah perkembangan filsafat yang membutuhkan tantangan gagasan asing atau luar dan terlepas dari kungkungan dogma. Gagasan Yunani akhirnya menghasilkan reaksi dua kutub berbeda pada hal terpenting dalam pemahaman Islam. Dua hal tersebut di antaranya:

  1. elemen progresif yaitu usaha pencarian subjek terhadap data wahyu dengan menggunakan filsafat.
  2. elemen konservatif yaitu tidak mau berurusan dengan filsafat karena menganggap hal tersebut sebuah ketidak-imanan, suatu keyakinan asing yang mencurigakan. Elemen ini melahirkan gerakan pembaharuan. Pertama, Al-Ash’ari pada abad ke-10, Ibn Taimiyah pada abad ke-14 dan Muhammad ‘Abduh pada abad ke-19. Dengan misi mereka dalam mempertahankan ajaran terdahulu, konsep sunnah, serta asumsi-asumsipelaku utama dogma muslim. Mereka disebut dengan istilah “Salafussalih”.

Pada bagian Introduction juga diperkenalkan secara umum mengenai definisi Mysticism atau Sufism. Serta apa saja yang akan di bahas pada bab selanjutnya. Mistisisme dikatakan berakar dari pengalaman relijius seseorang yang menjelma ketidak-adaan seseorang tanpa Tuhan. Pengalaman mistis berbeda dengan rasionalitas atau filsafat dan bahkan berlawanan. Beberapa tokoh “master” Sufi yang akan dibahas adalah Ibn Arabi, Ibn Bajjah dan Ibn Tufayl. Hadirnya Mistisisme dan Sufisme juga melahirkan Islamic Philosophical School yang dimulai dari penerjemahan pertama karya-karya ahli Yunani ke Bahasa Arab. Filsafat abstrak dipopulerkan sejak masa Dinasti Umayyah oleh Khalid ibn Yazid, Khalifah Abbasiyah Al-Ma’mun dan Menteri Persia Ja’far The Barmakid.

Buku ini juga akan membahas penerjemah handal beragama Kristen yang berbahasa Suriah seperti Hunain dan Yahia. Hunain fokus pada terjemahan medis dan ilmu sains sementara Yahia lebih suka pada teologi dan pertanyaan-pertanyaan filsafat. Yahia juga memiliki seorang murid yaitu Ibn Al-Khammar dengan karyanya Agreement of the Opinions of the Philosophers and The Christians di mana persis dengan pemikiran filosof Muslim Ibn Rushd. Sebab kedua penerjemah ini menerjemahkan dalam bahasa Syiriac, maka Al-Kindi merupakan filsuf pertama yang menerjemahkan teks filsafat ke dalam bahasa Arab. Hal ini juga menunjukkan adanya kecenderungan para filosof untuk menulis karya atau menerjemahkan karyanya sesuai dengan bahasa ibu mereka sebab rasa nasionalis yang cukup kuat.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s