Bagaimana Cara Menulis Fiksi Eksperimental?

Fiksi eksperimental bukan barang baru. Dia telah terbit dari ragam bentuk. Cerita yang dimulai tanpa “dahulu kala”, tidak mesti bermula dari “matahari menyemburatkan sinarnya” atau “suatu sore yang sejuk.” Fiksi eksperimental telah hadir bahkan sebelum penulis Indonesia mulai menggunakannya. Semua ‘kebiasaan’ dilawan. Sastra yang bernapaskan eksperimental melawan segala bentuk kemapanan. Meski kemudian, dia akan membentuk kemapanan baru di suatu massa. Di mana banyak sastrawan, penulis, dan orang-orang awam mulai menggaungkan kemapanan yang baru itu. Kelak, kemapanan demi kemapanan akan dibentuk dan dihancurkan oleh manusia sendiri.

Mudahnya, Hejinian memaparkan konsep tentang teks tertutup dan teks terbuka sebagai pengantar untuk memahami jenis fiksi eksperimental dan atau sastra bernapaskan eksperimental.

Pada teks tertutup (closed text), cerita berangkat dari latar tempat dan waktu yang jelas. Kisah dituturkan dengan menyebut di mana suatu peristiwa jelas terjadi. Pada waktu hujan, terik, di suatu tempat yang lembab seperti di pegunungan, laut dengan ombak yang bergelora, di atas kapal, mabuk di dek, menunggu kekasih di lobby parkir sebuah mall dan seterusnya. Dengan demikian, tokoh yang dihadirkan pun kuat. Tokoh utama maupun figuran akan dideskripsikan detil, rupa mereka, perawakannya, sikap-sikap yang mewakili sifat mereka (baik tersirat maupun tersurat). Sehingga situasi yang dihadapi setiap tokoh mudah dicerna, mudah diinterpretasikan. Jenis cerita menggunakan teks tertutup mudah didapati dan itulah yang ingin dilawan oleh para penulis eksperimental. Sebuah kemapanan (we can say) kebosanan yang sudah menjamur dan berulang-ulang.

Hejinian melanjutkan penjelasan kedua tentang teks terbuka (opened text) yang tentunya menjadi lawan dari semua kriteria teks tertutup. Keunikannya, opened text memiliki daya tarik maksimal (mulai dari abstraknya kalimat, kata per kata, situasi). Ruang lingkup ambiguitas relatif luas, artinya, interpretasi yang dihasilkan tidak bisa dikatakan mudah ataupun bahkan–sulit. Mungkin bisa diterjemahkan sebagai, interpretasi yang mengasyikan bagi peminatnya sekaligus menjenuhkan bagi mereka yang tidak merasa tertantang.

Jika tipe teks tertutup biasa menggunakan istilah Aristoteles tentang permulaan, tengah dan akhir cerita, maka Fiksi Eksperimental tidak mesti demikian. Dia bebas namun bukan berarti tidak memiliki karakteristik untuk dikenali. Tulisan eksperimental setidaknya memiliki dua unsur yang saling berikatan. Sebuah tali yang terhubung antara pengalaman penulis dan pengalaman pembaca.

Seorang penulis fiksi eksperimental sekalipun kemungkinan tidak ingin disebut sebagai penulis eksperimental. Kenapa? Tidak ada jawaban yang benar atau salah tentang ini. Sebab, seorang penulis bisa saja berjuang untuk menjadi seorang sastrawan yang melebihi batas-batas seorang penulis eksperimental. Ben Marcus misalnya mengatakan, “Author prefer to say that they are writing badass literature!

Sementara itu, penulis fiksi eksperimental (baik disadari atau tidak) akan selalu berhadapan dengan pembaca yang berkebalikan dari semua gagasan itu. Pembaca akan selalu melabel apa yang dia baca, bahkan dari sebelum sebuah buku dibaca! Pembaca sudah mengritik atau memuji suatu cover, sinopsis, isi cerita, preface sebuah novel atau ending dari suatu cerita detektif eksperimental. Pembaca selalu punya strategi yang berbeda dari penulis cerita yang dibacanya. Mereka akan segera tahu apakah cerita yang dibaca berhaluan pada closed atau opened text (berdasarkan Hejinian, dan diketahui atau tidak). Karena pada dasarnya, sekalipun seorang pembaca belum mengerti konsep closed dan opened text secara teori, mereka sudah bisa membedakan antara kedua konsep tersebut.

Fiksi atau Sastra yang berhaluan eksperimental jika dilihat dari segi elemen dasar, memiliki keutamaan dalam hal inovasi. Hal terkuat yang disajikan sastra bernapaskan eksperimental adalah teknik menulis ceritanya. Dengan demikian, lebih luas dari apa yang dijelaskan Hejinian tentang sekedar teks terbuka atau tertutup, Eksperimental Fiction dan Literature kemungkinan akan menyebabkan beberapa ‘efek samping’ bagi pembacanya. Misal, kurang merasa nyaman dengan diksi yang digunakan, kurang menarik (mudah jenuh karena tidak memahami diksi), kurang mampu dibayangkan atau dipercaya dan sederhananya; kurang bisa dinikmati.

Padahal, tantangan fiksi atau sastra eksperimental cukup berat. Penulisnya harus mampu menerjang berbagai kesulitan, meredefinisikan apa yang sudah ada dan juga menyajikan cerita yang lebih imajinatif dibanding sebelumnya. Untuk itulah, diksi yang variatif harus digunakan (disesuaikan dengan gagasan cerita dan teknik menulis). Bahasa pun menjadi salah satu tolok ukur untuk menjabarkan fenomena di dalam tubuh cerita.

Dengan tantangan itu, penulis eksperimental setidaknya adalah orang-orang yang berani keluar dari kebiasaan. Senang mengambil resiko, dan gemar menciptakan hal-hal baru. Selalu memiliki semangat untuk menciptakan hal baru, memberikan sesuatu yang berbeda dan keluar dari segala-gala batas yang membuatnya terkungkung. Penulis eksperimental mengingat bahwa misi yang mereka emban memiliki beberapa manfaat dibalik ‘efek samping’ yang ada.

Tulisan eksperimental bisa dikatakan sebagai pengingat bahwa semesta atau alam tidak atau belum sepenuhnya digelontorkan dalam setiap cerita dengan metode teks tertutup. Semesta yang amat luas ini, yang memiliki denyut kehidupan dirasakan punya kesenangan yang meruah, menarik, yang membikin penasaran untuk dilahirkan.

Ted Pelton mengatakan, “there is no one way to write experimental fiction, and that’s the point. SURPRISE ME!” Kejutkan aku! Begitu ujarnya. Cerita yang tidak terduga baik pada elemen apapun. Mulai dari judul sampai kata terakhir yang ditulis. Kejutan adalah keinginan dari setiap peminat Sastra dan fiksi eskperimental. Menulis cerita fiksi eksperimental bukanlah terjebak dari sebuah susunan aturan, tidak pula dimulai dengan mengikuti tips yang ada. Menulis cerita fiksi eksperimental bisa diibaratkan dengan seorang musafir yang tiba di suatu perkampungan dan tidak mengenal etika sosial di kampung tersebut. Episode selanjutnya, kejutan di dalamnya, semua itu tidak pernah dirumuskan.

Siapapun bisa menulis fiksi eksperimental. Siapapun berhak mencoba mengeluarkan hal-hal menarik di alam ini, yang menggairahkan, menyenangkan, dan menantang dan belum diketahui banyak khalayak. Siapapun bisa menjadi musafir itu. Siapapun bisa merangkainya bahkan tanpa memberi embel-embel diri mereka sebagai seorang penulis eksperimental.

Coz we are badass artists!!

Sumber bacaan:

Experimental Literature by Christopher Higgs @htmlgiant.com

Experimental Fiction @Map Literary: A journal of contemporary writing and art

The Rejection of Closure by Lyn Hejinian

This entry was posted in Feature, Journalistic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s