Review Buku Sejak Bulan Januari sampai Juli 2017

Tidak banyak buku yang kubaca dari awal tahun 2017 sampai sekarang. Selain karena Tsundoku, aku lebih sering baca artikel website. Maklum, tangan keranjingan smartphone, mata keasikan sos-med. Oleh karenanya, sejak Juli 2017 ini aku berhenti facebook-an. Kuharap, untuk selama-lamanya meski challange yang kubikin baru sebatas 6 bulan ke depan.

Buku yang tidak banyak kubaca itu akan ku-review di sini. Satu tayangan judul untuk beberapa buku. Lumayan, irit ngetik, hehehe.

Langsung saja, buku-buku yang kubaca sejak Januari s.d Juli 2017 adalah:

  1. P_20170707_203106[1]“SAHABAT LAMA, ERA BARU” karya Tomi Lebang. Penerbit Grasindo. Buku ini memaparkan 60 tahun pasang-surut hubungan diplomatik Rusia dan Indonesia. Sudah kubeli sejak tahun 2015 akhir tapi baru sempat kubaca di bulan Januari 2017. Isinya sangat informatif. Bahasanya lugas, tidak banyak bertele-tele. Sumbernya cukup banyak dan valid. Covernya bagus, putih sebagai background dan lukisan kereta berbendera merah putih disandingkan dengan bendera Rusia. Tomi Lebang adalah seorang jurnalis, jadi kalimatnya sangat mengalir seperti orang bertutur padahal memuat konten informasi. Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto (hitam-putih) dan caption. Berisi pula peristiwa-peristiwa hubungan RI-Rusia pada tiap pemerintahan presiden RI yang berbeda. Secara umum, buku ini baik. Sayangnya, kertas yang digunakan adalah HVS, jadi kurang romantis di tanganku hehe. Kenapa ya, kertas HVS itu sepertinya nggak cocok aja kalau dibuat jadi buku-buku selain buku pelajaran. Kertas HVS itu entah kenapa mengingatkanku pada tugas sekolah, kuliah, dan….(kenapa jadi bahas HVS). Well, selama baca buku ini, aku dengerin lagu Indonesia “Rayuan Pulau Kelapa” yang digubah liriknya ke bahasa Rusia menjadi “Ostrova Palm” dan dinyanyikan Maia Golovnya. Buku ini kubeli karena saat itu masih kursus tingkat II Bahasa Rusia di Pusat Kebudayaan Rusia.
  2. P_20170707_203022[1]“FILSAFAT TIMUR” (Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme) karya Matius Ali. Nah, ini buku menurut penulisnya terinspirasi dari tugasnya sebagai dosen pengajar Filsafat Asia-Selatan di STF Driyarkara. Ia menyusun buku setebal 294 halaman ini dengan dua kategori besar yang mana pembaca awam seperti saya pun akan mudah membacanya; Bagian I HINDUISME dan bagian II BUDHISME. Selain daftar pustaka, buku “pemikiran” yang menggunakan kertas standar novel ini juga dilengkapi dengan indeks. Jadi, mudah mencari sesuai keywords yang dikehendaki. Jujur, aku merasa ikut duduk di bangku kuliah ketika membaca buku ini. Asyiknya, buku ini dipecah ke dalam sub-bab kecil dan aku bebas untuk memulai dari manapun meski sebenarnya sedikit berkaitan antara satu bab dengan bab selanjutnya. Tapi, aku nggak merasa bingung. Penjelasan tiap sub-bab nya sudah sangat fokus sehingga pembaca bakal mudah untuk menyerna. Warna sampulnya bagus; peach. Warna yang lagi nge-hits sekarang ini. Buku ini sebenarnya punya suami. Beliau beli di Perpustakaan ISI Surakarta karena ditawari pustakawannya. Aku nggak sengaja menemukan buku ciamik ini di perpustakaan kami dan masih bersegel. Suamiku kaget ketika menemukan buku ini sudah tidak bersegel dan berjejak warna stabilo pink. Dia cuma memandangku dan aku membalas pandangannya itu dengan nyengir kuda. Selama baca buku ini, aku mendengarkan lagu Coldplay yang berjudul “Hymne for The Weekend”. Mungkin karena Coldplay ambil setting India di video klip itu dan memasukkan unsur lonceng khas Hindu, sehingga nuansa Hinduisme cukup hidup sambil baca buku ini.
  3. “BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA” karya Hanum Salsabiela Rais dan Suaminya. Sebuah cerita yang mengagumkan. Mengalir seperti aliran sungai yang sejuk, mendaki terjal seperti tubuh pegunungan dan…pokoknya tokoh-tokoh yang ada terasa begitu hidup dan keren. Aku nggak sampai nangis baca novel ini, tapi cukup penasaran dengan tokoh fiksi bernama Philippus Brown. Ketika aku cek di google, ternyata banyak juga yang review dan penasaran dengan Mr. Brown. Dari semua tokoh ciptaan itu, aku suka sama sepasang suami isteri yang (ga usah kusebut namanya deh biar surprise). Suaminya kok romantis banget ya sampe dibela-belain berjuang demi hidup yang layak (jarang-jarang lho ada suami begitu). Tapi kekurangan dari novel ini justru kelebihan penokohan tokoh-tokoh tersebut. Mereka terlalu NYATA, nilai-nilai kebaikan dan keburukan yang diangkat terlalu KONTRAS sehingga melupakan kenyataan di hidup ini yang penuh kegetiran….(bahasa gue). Nyatanya, hidup ini kan tidak selamanya HITAM dan PUTIH. Novel ini cukup menegangkan, misterius, menghibur, tapi juga terlalu naif (lugu dan kontras tadi itu). Well, aku ngga setel musik apapun. Uniknya, selama membaca novel ini, aku sama sekali lupa wajah Acha Septriasa dan Abimana. Melainkan wajah Hanum Salsabiela dan Suaminya. Menurutku, novel ini adalah yang terbaik dari apa yang sebelumnya telah mereka tulis bersama.
  4. P_20170707_203054[1]“ALIAS” karya Ruwi Meita. Salah satu penulis horror yang cukup baik di Indonesia. Novel Alias sebenarnya kubelikan untuk adikku, tapi dia memilih aku yang menyimpannya. Mungkin dia sedikit ketakutan setelah membaca Alias. Sejujurnya, menurutku, tidak seseram itu. Novel Alias cukup membosankan bahkan di bagian awal dan akhir. Bagian pertengahan novel ini yang membuatnya sedikit bernyawa. Beberapa tokoh mudah kutebak sejak awal. Tapi goal dari si penulis tentang liontin sama sekali tidak terbayang olehku. Itu kesuksesannya. Sedikit memaksa di bagian “munculnya” si hantu, tapi kupikir itu masih bisa dinikmati. Over all, Ruwi Meita bagus kok nulis horror dan thriller. Kenapa bagus? Karena berhasil menulis dengan gagasan baru dan terlihat banget usahanya untuk menggali kesegaran-kesegaran. Mulai dari nama tokoh novelnya, Jeruk Marsala sampai ke plotnya. Novel alias ini seru dibaca sambil mendengarkan instrument musik horror di youtube. Aku pilih akun Derek & Brandon Fiechter. Tapi, karena aku baca sendirian malem-malem sambil nunggu suamiku pulang kerja, aku ngga berani setel instrument itu kelamaan. Begitu magrib berlalu, aku mematikan instrument dan hanya fokus membaca dengan lampu menyala di seluruh penjuru ruangan.
  5. P_20170707_203113[1]“MAKNA HARI KIAMAT DALAM ALQURAN” karya Abdullah Jawadi Amuli. Salah satu syaikh dan filsuf di Iran, khususnya pada sekte Syiah Imamiyah. Sejak 2014 aku menulis skripsi bertema Syiah, sejak itu pula aku cukup aktif membaca buku-buku terbitan Iran dan buku-buku Syiah Imamiyah (yang origin dari Iran). Kenapa? Karena aku tahu, kebanyakan muslim sekte Sunni di Indonesia sudah banyak salah kaprah. Mereka membaca yang buruk-buruk yang ditulis ulama mereka tentang Syiah Imamiyah. Maka, penting bagiku untuk membaca segala sesuatu asli dari sumbernya. Selama aku menulis skripsi tentang Syiah Imamiyah, aku belum menemukan penghinaan yang dilontarkan non Syiah kepada Syiah. Memang, aku masih perlu banyak mengkaji baik Sunni maupun Syiah karena aku seorang muslimah. Tapi ujung-ujungnya, only God can judge us, right? Nah, kembali ke buku. Makna Hari Kiamat dalam Alquran dipaparkan Syaikh Jawadi Amuli dengan kekhasan metode pemikiran Ulama Syiah yaitu filosofis. Mungkin itu ya yang aku suka dari pendekatan mereka. Filsafat. Jadi, ketika membahas definisi APA SIH HARI KIAMAT ITU? Syaikh Amuli tidak hanya menunjukkan dalil naqli tapi juga mengajak pembaca berpikir. Kenapa harus ada hari kiamat, kenapa muslim itu wajib mengimaninya, dan bagaimana bisa mencapai ke sana dan adakah kehidupan sesudahnya? Buku ini tepat sekali bagiku karena sebelumnya aku sudah baca Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat. Makna Hari Kiamat dalam Alquran sesungguhnya adalah kumpulan ceramah Syaikh Amuli di Iran. Melalui pendekatan agama, falsafah dan Irfan, Syaikh Amuli menurutku sudah berhasil mengajak pembaca kumpulan ceramahnya untuk memahami dimensi hidup manusia dan pergerakannya. Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa aslinya, Persia (farsi). Buku ini juga aku baca ulang di bulan Ramadhan kemarin karena isinya menyejukkan jiwa (hatiku berasa disentor–bukan diguyur lagi). Penerjemahan Arab-Indonesianya juga ngga kaku, malah terasa seakan-akan duduk di majelis dan dengerin Syaikh-nya ceramah langsung. Covernya standar sih. Andaikan covernya pakai pola lukisan Persia pasti lebih eye-catchie. Selama membaca buku ini di awal tahun aku tidak mendengar musik apapun. Tapi sewaktu bulan puasa kemarin, aku nyetel surat Al-Kahfi. Mungkin musik sufi tradisional juga cocok. Coba saja, guys!
  6. P_20170707_203012[1]“THE BLACK CAT”oleh Edgar Allan Poe. Kumpulan cerpen Poe bikin bulu bergidik, meski ngga semuanya sih. Yang paling nggak bisa aku lupakan itu justru yang judulnya; JANTUNG YANG MENGADUH. Ketika baca cerpen dia yang lain, aku merasa biasa-biasa saja. Hanya cerpen dengan judul JANTUNG YANG MENGADUH itu yang menurutku dapet banget feel-nya. Aku tidak mendengar musik apapun selama membaca kumpulan cerpen ini, kecuali debaran jantungku sendiri (ceileh!).
  7. “THE HAUNTING OF HILL HOUSE” karya Shirley Jackson. Aku sudah nulis review tentang ini plus adaptasi filmnya. Kalian bisa baca di sini.
  8. P_20170707_202937[1]“ITOKO INGIN DIET’ karya Miku Ito dan ilustratornya Makiko Sato. Adalah bacaan anak pertama yang kubaca di tahun ini. Terbitan Bentang Belia dan diterjemahkan dari bahasa aslinya, Jepang. Jujur, aku kurang suka. Aku adalah pecinta bacaan anak, mungkin selama ini terbiasa dengan bacaan anak dari penulis-penulis Inggris. Aku kurang suka dengan dialog antar tokoh yang ada di buku ini. Gagasan yang diangkat terlalu sederhana, tapi dikelola dengan kalimat yang bertele-tele. Mungkinkah jika dibaca dengan bahasa aslinya akan lebih menarik? entahlah, aku tidak bisa bahasa Jepang hahaha. Aku tertarik membeli buku ini karena covernya yang  bagus. Ilustrasi di dalamnya juga tidak menipu. Semua ilustrasinya bermakna. Aku bahkan sudah bisa menguntai menggunakan kalimatku sendiri ketika melihat ilustrasinya. Jika tidak ada ilustrasi, aku tidak tahu apakah masih mau menyimpan buku ini atau tidak. Anak SD mungkin akan lebih menikmatinya.
  9. P_20170707_202923[1]“VEGETARIAN” karya Han Kang. Novel pemberian adik tingkatku, Umi Kultsum, dua hari lalu ini merupakan novel pemenang Man Booker International Prize. Kalau menurut Eka, ini novel yang mencekam tapi mengasyikan, menurutku ini novel mistis yang tidak ditunjukkan mistisnya. Hampir sama dengan novel THE BOY WHO DREW THE MONSTERS (akan ku-review besok-besok karena baru separo jalan) novel VEGETARIAN seperti memberi pandangan pada pembaca tentang makna batas dari REALITA DAN IMAJI. Bagiku, itu mistis. Sedikit mual ketika membaca adegan persenggamaan, membayangkan penis yang berkerut (padahal aku sudah menikah) tapi jujur aku mual dan bisa muntah kalau membayangkan itu. Mungkin karena yang kubayangkan bukan suamiku? (loh malah dilanjut). Intinya, novel ini sangat seru. Seru binggooo. Aku baca kemarin di kereta, dan bagian akhir buku kuselesaikan tadi sore. Aku nggak nyangka bakal suka novel ini secara keseluruhan. Jarang-jarang aku suka novel dari awal sampai akhir. Kalian wajib baca ini, guys! Bisa dibilang, ini buku terbaik sejauh ini di tahun ini.

Nah, sudah 9 buku aku review buat kalian, pembaca yang budiman. Kuharap mulai akhir Juli ini aku bisa cicil review buku lain yang aku baca. Karena, ternyata nge-review borongan kayak gini bikin encok. Sudah dulu, ya!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s