Misteri Langit

Dari sekian banyak ciptaan Tuhan, Langit menempati salah satu posisi misterius dan masih perlu banyak dikaji dari zaman ke zaman. Langit sudah menginspirasi banyak pemikir tentang hakikat hidup dan peran mereka sebagai manusia. Termasuk, dari mana mereka berasal hanya sebab perenungan-perenungan mereka tentang langit dan elemen-elemen di dalamnya.

The Golden Age of Islam atau lazim disebut dengan Zaman Keemasan Islam mengenal filsuf muslim yang fokus pada kajian ilmu astronomi seperti Al Biruni, Al-Haytam, Al-Farghani, Abdurrahman As-Sufi sampai Al-Battani. Masing-masing memiliki kontribusi dalam mengembangkan ilmu astronomi dan bumi sehingga hari ini kita bisa menikmati salah satunya, penanggalan yang sahih.

Pergerakan di langit dikatakan oleh Abdullah Jawadi Amuli, seorang Filsuf dan Mufassir dari Iran, sebagai salah satu gerakan yang dicatat Alquran. Pergerakan benda-benda di langit; bintang, planet, dan perjalanan tata surya dinisbatkan Allah kepada diri-Nya sendiri. Juga gerakan yang tidak hanya berada di langit, tapi berasal dari langit dan turun ke bumi seperti hujan dan salju. Langit sungguh mendapat keistimewaan. Langit menyimpan segenap misteri.

Zat Abadi Tidak Akan Pernah Lenyap Walau Sedetik

Kisah Nabi Ibrahim a.s misalnya, tentang pencarian kebenaran akan Tuhan dicatat di dalam Alquran surah Al-An’am sepanjang ayat 74-79. Salah satu petikan ayatnya bermakna,

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku”. Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am ayat 76)

Nabi Ibrahim a.s mulanya memandang ke arah bintang-bintang di langit dan menganggap mereka sebagai Tuhan. Namun, ketika bintang-bintang itu lenyap, sang Nabi mematahkan asumsi pertamanya. Itulah kenapa ia berkata, “aku tidak suka pada yang terbenam.” Begitupun dengan ayat selanjutnya yang menjelaskan bagaimana beliau juga menganggap bulan dan matahari sebagai Tuhan namun kemudian menyadari bahwa kesemuanya; bintang, bulan dan matahari hanyalah ciptaan Tuhan. Semuanya sekejap muncul lalu sekejap kemudian pergi.

Prof. Quraish Shihab juga menjelaskan dalam Al-Lubab, bahwa dengan demikian, Nabi Ibrahim a.s menyerukan kepada umat saat itu bahwa ia tidak menyekutukan Tuhan Yang Maha Esa dengan apapun dan siapapun. Ibrahim a.s menyatakan bahwa dirinya, seluruh jiwa raganya, ia hadapkan kepada Yang Menciptakan Langit dan Bumi beserta segala isinya. Termasuk di dalamnya pula; matahari, bintang, dan rembulan. Ibrahim a.s menyatakan bahwa ia menghadapkan dirinya dalam keadaan hanif yaitu situasi yang condong kepada keyakinan agama yang benar dan tidak menyekutukan Tuhan Yang Esa.

Hal tersebut juga sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan Filsuf Abdullah Jawadi Amuli bahwa manusia yang berpikir pasti akan mengetahui di balik setiap perubahan ada yang mengubah. Sesuai apa yang dicatat Quran bahwa pergerakan di langit termasuk ke dalam gerakan yang disebut dan terkandung di dalam kitab mulia itu. Maka setiap gerakan pastilah membutuhkan Pengubah atau Penggerak untuk menggerakkannya ke tujuan tertentu. Nabi Ibrahim memahami konsep ini ketika melihat pergerakan benda-benda langit. Konsep yang kita ketahui juga dalam ilmu Fisika sebagai Gaya.

Gaya dalam ilmu Fisika, yakni sebuah interaksi apapun yang dapat menyebabkan sebuah benda yang bermassa mengalami perubahan gerak, baik dalam bentuk arah maupun konstruksi geometrisnya. (wikipedia)

Sumber bacaan:

Abdullah Jawadi Amuli, Makna Hari Kiamat dalam Alquran

M. Quraish Shihab, Al-Lubab: Makna, Tujuan, dan Pelajaran Dari Surah Alquran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s