Aktif di PRAMUKA, Ardilla Islamiyah: “Punya Banyak Kawan, Kalau Untung bahkan bisa ketemu Pasangan Hidup!” #eh

Portret diambil dari bahasa Rusia yang berarti Gambar atau Image seseorang. Portret merupakan rubrik khusus di dalam blog ini dan memuat berita inspiratif tentang seseorang. Siapapun bisa menjadi inspirator dan setiap inspirator akan senang membagi kisahnya. Penulis percaya, dengan belajar dari banyak orang, kita akan menghargai arti kehidupan bersama. Kritik dan saran tentang penulisan rubrik Portret bisa dikirim melalui email di sini.

PRAMUKA di Tanah Air memiliki sejarah yang cukup panjang. Bermula dari berkembangnya organisasi Kepanduan atau lebih dikenal dengan istilah Scouting di Inggris menjadi Gerakan PRAMUKA di Indonesia. Padahal, awalnya Lord Baden Powell yang bergabung dengan Militer Inggris dan telah pergi ke beberapa wilayah di dunia lalu kembali pulang ke negaranya, mendapati kaum muda Inggris yang terlibat kekerasan dan tindak kriminal. Dengan pengalamannya sebagai Militer sebelumnya, Baden Powell berusaha menerapkan Scouting kepada 21 pemuda dengan berkemah di Pulau Brownsea selama 8 hari pada tahun 1907 (lihat: pramuka.or.id/sejarah-pramuka-indonesia). Dari peristiwa itu, Baden Powell kemudian menulis sebuah buku berjudul Scouting for boys.

Presiden Soekarno kemudian membuat keputusan presiden Nomor 238 tahun 1961 tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan PRAMUKA untuk menjadi kepanduan bagi pemuda pemudi Indonesia dengan lambang Tunas Kelapa. Akan tetapi, meski sudah diputuskan pada tanggal tersebut, Gerakan PRAMUKA baru disebarkan kepada masyarakat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 setelah Presiden Soekarno menganugerahkan Panji Gerakan PRAMUKA dengan Keppres RI Nomor 448 Tahun 1961. Untuk itu, setiap tahunnya pada tanggal 14 Agustus dikenal sebagai hari lahirnya Gerakan PRAMUKA di Indonesia.

 

Bicara PRAMUKA, apakah masih relevan saat ini? Mungkin Anda bertanya-tanya, hari gini bahas PRAMUKA? Memangnya masih ada anak zaman sekarang yang doyan PRAMUKA? Bahkan, ada juga lho yang beranggapan kalau PRAMUKA itu hanya salah satu pelajaran ekstra di sekolah.

Nah, mau tahu, salah satu generasi muda di Indonesia yang doyan PRAMUKA? Edisi PORTRET kali ini berkesempatan ngobrol dengan salah satu aktivis PRAMUKA, Ardilla Islamiyah. Yuk disimak obrolannya!

Q: Hai Dila! Boleh dong ceritakan awal mula kamu berkecimpung di dunia PRAMUKA?
A: Sebagaimana anak yang lain, saya mulai mengenal pramuka ketika duduk di sekolah dasar, waktu itu saya sudah dipercaya menjadi pimpinan barung (nama regu untuk siaga). Waktu itu pramuka yang saya tahu adalah tentang belajar sambil bermain. Dan memang benar konsep kepramukaan untuk usia siaga adalah seperti itu adanya. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak suka pramuka.
Saat masuk SMP saya masih suka mengikuti kegiataan pramuka, kali ini materi yang didapat lebih berat, artiya tidak lebih banyak bermain seperti SD dulu, namun sejujurnya hal kecil yang membuat saya tertarik kembali untuk mengikuti pramuka pada saat itu adalah kesempatan menggunakan bahasa Indonesia (maklum anak pondok yang punya kewajiban menggunakan bahasa Arab dan Inggris untuk bahasa sehari-hari), selain itu banyak kegiatan menantang seperti hiking, wide game  dan juga seringnya perintah membuat yel-yel yang melatih kreativitas kita dlm menciptakan lagu.
WhatsApp Image 2017-05-16 at 20.20.29
Dila dalam Gladi Instruktur Muda di Jepara bersama PRAMUKA UNS
Berlanjut ke SMA ternyata ketertarikan itu masih ada, bermula dari regu saya yang mendapat juara pertama dalam perkemahan tahunan sekolah bakti taruna serta saya dinobatkan sebagai salah satu di antara dua peserta favorit. Hal baru yang saya dapatkan di SMA adalah keterlibatan kami dalam mengikuti perlombaan-perlombaan yang diadakan oleh Perguruan Tinggi di surakarta. Alhamdulillah, saya dan teman-teman penegak lain mampu menyumbangkan beberapa piala untuk sekolah.
Di Perguruan Tinggi sejujurnya saya ragu-ragu mengikuti pramuka, saya mengajak beberapa teman, namun tidak ada satupun yang mau. Namun dengan keinginan yang lebih besar untuk menambah wawasan mengenai pramuka, lagi dan lagi saya berkecimpung di dalamnya.
Q: Saya pernah menemukan fenomena PRAMUKA yang keluar dari “jalurnya”. Fenomena itu ialah, kegiatan PRAMUKA yang diadakan oleh beberapa sekolah swasta di Indonesia yang melibatkan peran orang tua. Orang tua ikut dalam mengatur jalannya PRAMUKA yang sebenarnya sudah dikelola oleh pembina PRAMUKA. Mereka seperti mengawasi jika anaknya kelelahan, kepanasan, dan bertindak berlebihan. Bahkan, pernah ada kasus, orang tua menyediakan KFC untuk makanan anak-anaknya selama camping. Nah, seperti apa sih esensi PRAMUKA bagi kamu dan bagaimana pendapatmu jika menemui fenomena itu?
A: Pertanyaan yang menarik, saya akan berusaha menjawabnya secara ringkas. Kalau saya pribadi, simple saja, Scout is Fun, pramuka itu menyenangkan, pramuka itu salah satu solusi dari sistem pendidikan formal yang terkadang membosankan. Pramuka memberi ruang kita belajar di alam bebas dan alam adalah unsur yang tak pernah berhenti memberikan kita pelajaran. Nah, sebagai seorang pramuka kita juga harus berbakti dan bertanggung jawab kepada masyarakat. Hal ini adalah nilai yang ditanamkan dan telah termaktub dalam kode kehormatan pramuka. 
Untuk fenomena tersebut, saya sangat prihatin. Pramuka itu mendidik kita menjadi seorang yang mandiri. Sejatinya, hal itu mungkin dianggap sepele oleh beberapa orang tua yang tidak tega melihat anaknya terlihat ‘susah’. Seharusnya orang tua memberikan kepercayaan penuh terrhadap anaknya dan juga pembina pramuka. Dan anaknya pun juga harus berperan menunjukkan nilai-nilai positif pramuka kepada orang tuanya sehingga orang tua dapat memahami.
WhatsApp Image 2017-05-16 at 20.18.37
(Dila memegang bendera) Latihan Gabungan Daerah di IAIN Kudus
Q: PRAMUKA dan multikultur masyarakat Indonesia. Apakah menurutmu berkaitan dan bersimbiosis?
A: Ya. keduanya berkaitan dan bersimbiosis mutualisme. Pramuka tidak akan terlepas dari budaya, hal ini dapat secara jelas kita lihat dari struktur keorganisasian pramuka yang didalamnya terdapat “pemangku adat” yang scra umum menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur yang ada dalam sebuah pangkalan. Tak jarang pula, pramuka mengadakan seminar yang mengangkat tema budaya. Secara umum, kegiatan pramuka baik dalam skala nasional maupun internasional secara tidak sengaja telah berperan untuk mempertemukan serta memperkenalkan budaya-budaya yang ada di Indonesia.  
Q: Apakah saat ini PRAMUKA masih relevan dengan kondisi generasi muda? Sementara kita tahu, banyak generasi muda yang tidak berminat dengan PRAMUKA. Menurutmu, selain jawaban relevan atau tidak, apakah ada yang salah dengan nilai-nilai PRAMUKA sehingga generasi muda banyak yang meninggalkannya?
A: Pramuka dan pemuda adalah dua hal yang seiring dan sejalan. Pramuka adalah wadah membentuk generasi muda yang cerdas, cakap dan berjiwa nasionalis. Memang bukan lagi rahasia jika banyak pemuda yang tidak suka dengan pramuka. Saya kira hal ini bukan kesalahan dari nilai-nilai pramuka, karena pramuka tidak mengandung nilai negatif sedikitpun hanya saja kembali kepada penerimaan nilai-nilai tersebut yang sering disalahartikan. Hal ini mungkin terjadi akibat era modern yang memfasilitasi segalanya menjadi mudah, sehingga terkesan “dimanja”. Semestinya pramuka berperan penting untuk menerapkan kode kehormatannya.

 Q: Berdasarkan jawabanmu dari nomor 4, tidak ada yang salah dengan PRAMUKA. Tapi, menurutmu, bagaimanakah caranya supaya PRAMUKA itu bisa diterima dan diminati oleh generasi muda saat ini di tengah euforia kemajuan teknologi, cross culture dan globalisasi? Apakah kamu pernah memikirkan cara-cara jitu akan hal itu?
 
A: Karena tantangan kita saat ini adalah teknologi, maka hal tersebut juga harus dilawan dengan teknologi. Contoh kecil, jika sekarang banyak orang yang menggunakan instragram, maka jadikanlah instragram sebagai wasilah pula untuk memashyhurkan pramuka. Berbagi postingan seputar pengetahuan, kegiatan, nilai-nilai positif yang didapatkan, penemuan-penemuan karya anak pramuka dsb. Lebih canggih lagi membuat aplikasi permainan sandi, morse, atau permainan yang lain. Ini menurut saya, tapi maaf belum mampu juga kalau disuruh buat aplikasi, hehe.
Q: Dari sekian banyak pengalaman dan ajaran-ajaran budi yang kamu terima dari KEPRAMUKAAN, bisakah kamu jelaskan kontribusi proses itu dalam kehidupanmu?
A: Kedisiplinan, hal ini saya dapatkan di pramuka Perguruan Tinggi dan benar-benar saya dapatkan dan saya rasakan manfaatnya hingga sekarang. Hal sederhana ini telah mengubah diri saya untuk lebih menghargai waktu, tidak menunda pekerjaan dan belajar menentukan skala prioritas. Sebuah nilai sederhana yang berarti luar biasa bagi diri saya.
WhatsApp Image 2017-05-17 at 09.54.56
Dila tidak sengaja bertemu aktivis Pramuka di Mesir pada acara Penghargaan Atlet di Maktabah Al-‘Ammah Ismailiyah
Q: Pertanyaan terakhir nih, sampai kapan kamu akan menggeluti KEPRAMUKAAN? dan, boleh dong kasih pesan untuk generasi muda lainnya tentang seruan untuk ikut PRAMUKA!
 
A: Sampai rambut hitam berubah jadi putih. Mungkin tidak secara formal, namun saya berusaha semaksimal mungkin untuk membawa ajaran-ajaran pramuka dalam kehidupan saya.  Siapa bilang pramuka itu ndeso? Justru pramuka itu membuka jendela dunia bahkan mendunia. Siapa bilang pramuka itu cupu? Justru pramuka adalah kesempatan punya banyak kawan atau bahkan kalau kita beruntung, dapat teman hidup! Hehehe… Pesan untuk teman-teman, jangan pernah benci sampai kamu merasakan asyiknya pramuka! Pemuda itu, ya harus ikut pramuka!
WhatsApp Image 2017-05-16 at 20.22.41
Keterangan Narasumber: Ardilla Islamiyah, Gadis kelahiran Pasuruan, 3 Desember 1995 saat ini berdomisili di Solo. Mahasiswa tingkat akhir Sastra Arab FIB UNS dan pernah mendapatkan Beasiswa Sandwich Program 2016 ke Mesir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s