Tri Suci Waisak; Tiga Momen Penting Bagi Umat Buddha

“Seluruh eksistensi diri kita sekarang adalah akibat dari apa yang telah kita pikirkan. Pembuat kejahatan menderita di dunia ini, ia juga menderita pada alam berikutnya; ia menderita di kedua alam ini. Ia menderita mengingat kejahatan yang telah dilakukannya. Ia bahkan lebih menderita lagi bilamana telah jauh menyusuri jalan kejahatan,”

(Buddha dalam Dhammapada 1.17)

Kemarin, Umat Budhha di Indonesia baru saja merayakan Peringatan Tri Suci Waisak. Peringatan ini sesungguhnya bertujuan untuk menghayati tiga peristiwa besar Sang Buddha. Pertama, Kelahiran Pangeran Siddharta Gautama. Kedua, Pangeran Siddharta Gautama mencapai “Pencerahan Sempurna” dan menjadi Buddha. Ketiga, Sang Buddha Gautama meninggal pada usia 80 tahun.

Buddhisme, tidak menuhankan Sang Buddha melainkan mengikuti jalannya. Sang Buddha (Siddharta Gautama) adalah pendiri ajaran Buddhisme. Dia lahir dan hidup di Timur Laut India pada abad ke 6 S.M. Sejarah pemikiran Timur mencatat abad 6 S.M sebagai masa di mana para tokoh besar lahir. Tak hanya Siddharta tapi juga Kong Hu Cu (pendiri Konfusianisme) dan Lao-Tzu (pendiri Taoisme) di Tiongkok.

Buddha Gautama dilahirkan pada tahun 563 S.M di desa Lumbini, India Utara. Dia merupakan keturunan Raja dari Suku Sakya. Ketika menikah dengan putri seorang raja dari kerajaan tetangga ia berusia 16 tahun. Suatu hari, ia izin keluar dari istana dan menemukan empat hal yang kemudian mengubah hidupnya. (Menurut sumber lain, Gautama sengaja dijauhkan sang ayah dari empat kenyataan tersebut karena ayahnya khawatir dia menjadi pertapa dan tidak ingin meneruskan tahtanya). Empat hal tersebut atau dikenal dengan The Four Sights diantaranya:

  1. Seorang tua yang beruban dengan gigi patah, wajah keriput dan bongkok.
  2. Orang sakit yang sedang sekarat.
  3. Acara kematian yang diiringi isak tangis orang yang berduka.
  4. Seorang pertapa dengan tubuh dan kepala penuh debu berkelana mencari pencerahan.

Pada usia 29 tahun sejak The Four Sights tiap malam menghantui pikirannya, Siddharta Gautama memutuskan untuk pergi dari istana dan menjadi seorang pertapa. Dia meninggalkan anak isteri, kekayaan dan tahta yang diturunkan kepadanya. Pengembaraannya selama enam tahun di sepanjang Sungai Gangga, mempelajari ajaran tradisional, berguru pada beberapa guru-guru terkenal dan bertapa di dalam hutan untuk mendapatkan pembebasan dari penderitaan masa tua, kesakitan dan kematian.

Namun, tujuan-tujuan tersebut tidak kunjung menghasilkan jawaban. Di akhir tahun keenam pertapaannya, Gautama menyadari bahwa asketisme ekstrem bukanlah jalan spiritual yang benar. Dengan itu, Gautama mencetuskan Jalan Tengah (the Middle Way) yang artinya; tidak secara esktrem memanjakan diri dalam kemewahan pun tidak mati raga sebagai jalan untuk mencapai pencerahan spiritual.

the Middle Way ini dimeditasikan oleh Gautama selama 49 hari di bawah pohon Bodhi di Bodhgaya. Pada akhirnya, dia pun “Mencapai Pencerahan Sempurna” di usia 35 tahun dan menjadi Buddha. Ia pun kembali ke tempat kelahirannya dan mengajarkan tentang Dharma dan “Pencerahan” selama 45 tahun. Buddha Gautama wafat atau mengalami Mahaparinibbana di Kusinara pada usia ke-80 tahun atau sekitar 483 S.M.

Disarikan dari:

Bab: Pokok-pokok Ajaran Buddhisme dalam buku Filsafat Timur Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme tahun 2013 karya Matius Ali.

This entry was posted in Journalistic, Resume. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s