Novel Karpinski Street: Kenapa Saya Memutuskan Untuk Self Publishing

WhatsApp Image 2017-05-06 at 13.57.52 (1)
Novel Karpinski Street oleh MK. Wirawan

Sebelum saya cuap-cuap panjang lebar, saya mau mengajak Anda semua untuk membeli dan membaca karya saya; KARPINSKI STREET yang bisa Anda pesan di link ini. Insha Allah di akhir tahun saya mau mengadakan lomba review novel saya dan berhadiah jalan-jalan asyik lho! Jadi, beli dari sekarang ya!

Siap membaca ulasan di bawah ini? Yang sabar ya bacanya, kalau nggak sabar gimana mau baca novel? Hghghghghg….

Apa itu self publishing?

Singkatnya; menerbitkan buku karya kita secara mandiri melalui percetakan suatu penerbit dan mengikuti regulasinya. Self Publishing berarti kita yang nulis, kita yang edit, kita yang bikin ilustrasi cover dan kita juga yang bertindak sebagai penerbitnya. Adapun percetakan dan penjualannya dibantu dan didistribusikan oleh penerbit yang menyelenggarakan program Self Publishing (dalam hal ini Mizanstore).

Bagaimana jika kita mau di-edit-in sama editor dan dibikinin cover juga? Jawabnya, bisa. Mizan menawarkan jasa editing dan ilustrasi. Kalau editing, harga terakhir Rp 12.500 per halaman. Kalau ilustrasi cover, Rp 500.000.

Novel Karpinski Street tidak menggunakan kedua jasa itu. Semuanya saya kerjakan sendiri dengan review dari  teman yang saya percaya mampu untuk memberi arahan dan pendapat. Kecuali ilustrasi, saya minta bantuan ke sahabat dekat, mas Bayu Wicaksono yang baiknya ngga ketulungan.

Kenapa Self Publishing bisa menjadi alternatif?

Bukan satu-satunya alternatif, sebenarnya. Mau bersabar nembus penerbit Mayor? Silakan. Ada yang bilang, “kalau tidak tembus penerbit mayor berarti tulisan kita jelek.” JANGAN PERCAYA. Asli, jangan percaya! Tidak selamanya begitu. Awalnya saya juga berpikir demikian. Tapi beberapa pengalaman mengajarkan saya suatu kebajikan: tidak selamanya yang umum dikenal itu yang benar adanya.

Sedikit cerita ya. Sebelum naskah Karpinski Street ini, saya juga punya naskah perjalanan lain yang saya kirim ke penerbit (waktu itu saya kirim ke Gagas Media). Naskah non-fiksi tentang bagaimana caranya kita bisa traveling ke suatu tempat, berapa budgetnya dan seterusnya. Satu bulan kemudian saya dapat naskah saya balik disertai penolakan dan kritik yang konstruktif.

Saya kasih jempol buat Gagas Media, karena sarannya konstruktif dan bahkan membantu saya memperbaiki naskah saya yang ditolak itu. Di situ editornya menulis, “tidak ada tulisan yang buruk, kamu hanya perlu banyak berlatih. Kami sudah memberi list mana saja yang menjadi kelebihan dan kekuranganmu, selanjutnya kamu bisa perbaiki dan jika berkenan bisa kirim lagi ke kami. Selamat berproses.”

Nah, sayangnya saya ngga fokus nulis hasil evaluasinya. Jadinya, boro-boro saya kirim balik. Yang ada naskah (print-out) saya hilang kena banjir. Data di laptop juga ngga ada karena waktu itu saya simpan di disket. (Lama banget zaman disket? Iya, saya nulis sekitar tahun 2006). Disket udah kena virus, berdebu dan tamat riwayatnya.

So, setidaknya ada beberapa keunggulan kalau kamu terbitkan buku melalui Self Publishing:

  1. Royalti. Di layanan Self Publishing Mizan, Sistem pembagian keuntungan antara penulis dan mizanstore adalah  60 : 40 dengan rincian 60% untuk penulis dan 40% untuk mizanstore dari keuntungan setiap buku yang terjual. Keuntungan ini akan diberikan kepada penulis dengan sistem transfer setiap 6 bulan sekali. Keuntungan itu, adalah keuntungan dari setiap penjualan buku (bukan harga jual karena dari harga jual terdapat ongkos yang harus dibayar untuk cetak buku).
  2. Layanan Self Publishing tidak berlarut-larut, jadi cocok buat kamu yang sibuk atau kamu yang desperate kayak saya.
  3. Kamu belajar dari nol. Kamu belajar menerbitkan karya dan bertanggung jawab dengan apa yang kamu tulis. Kamu tidak hanya belajar menjadi penulis tapi juga jadi tukang jualan buku, kalau kamu mau incomenya banyak.
  4. Untuk layanan Self Publishing, lengkapnya bisa cek di website Mizan di link ini.

Ada alasan lain juga kenapa saya mau Self Publishing di Mizan. Karena, saya salah satu fans tulisan-tulisan Dr. Haidar Bagir. Tulisan beliau sangat sangat sangat menyelamatkan hidup saya dari keterpurukan. Saya juga sudah langganan Mizan dari kecil. Beda dari yang orang-orang bilang bahwa Dr. Haidar Bagir itu sesat dan lain sebagainya, saya yang menikmati tulisan-tulisan beliau dan buku-buku terbitan Mizan justru mendapat banyak manfaat dalam menyikapi hidup. Orang-orang yang boikot Haidar Bagir dan Mizan adalah W-E-I-R-D-O-S. That’s my word!

Apakah penulis besar ada yang menjual bukunya secara Self Publishing?

Nama-nama seperti Stephen King, J.K Rowling, Barry Eisler, dan Joe Konrath mulai beralih ke Self-publishing dengan ragam alasan. Kamu bisa baca lengkap di sini.

Sejarah dan Harapan dibalik Self Publishing Novel Karpinski Street

Novel Karpinski Street, sejak menempati Juara 2 Nasional untuk Lomba Penulisan Novel tahun 2014 belum saya terbitkan di manapun. Ditolak salah satu penerbit mayor karena menurutnya, ide yang disampaikan tidak “kekinian”. Sempat diterima oleh salah satu penerbit indie namun “digantung” hampir dua tahun tidak ada jawaban kapan mau diterbitkan, tiba-tiba muncul editor baru yang memporak-porandakan “jalinan komunikasi” sebelumnya. Editor baru itu bilang, cerita yang saya angkat tidak masuk akal. Katanya, “bagaimana mungkin dia seorang relawan? Anda bilang dia janda. Kok bisa dia jadi relawan?”

Jujur, saya pingin sekali bawa guci dari rumah terus lempar ke muka editor itu. Kok bisa-bisanya dia jadi editor? Pertanyaan dia aja ngga mewakili kemampuannya jadi editor. Emangnya ngga ada gitu janda muda yang jadi relawan? Saya ngga mungkin menulis cerita seperti itu kalau tidak sesuai kenyataan. Dia pikir, tidak masuk akal seorang janda muda tapi masih sekolah dan jadi relawan. Dari situ saya tahu, dia bukan saja kurang baik membaca dan kurang piknik, tapi juga kurang jalan-jalan dan ngobrol sama masyarakat di sekitarnya!

Jika saja tidak menunggu selama itu, dan jika saja tidak fokus dengan Skripsi, saya sudah menerbitkannya di tahun 2014 atau 2015.

Self Publishing adalah harapan terakhir. Kenapa?

Saya bersikukuh untuk menerbitkan karya ini karena saya ingat, Yudhi Herwibowo, salah satu penulis produktif pernah berkata, “kalau kamu merasa jengah saat membaca karyamu, berarti kamu tidak perlu melanjutkannya.” Saat itu, saya pernah ikut beberapa kali kelas Pawon Sastra di Solo dan bertemu Yudhi. Saya konsultasi sedikit tentang naskah novel saya yang berjudul La Nina dan El Nino. Yudhi betul, setidaknya saat itu saya memang jengah dengan tulisan saya tersebut. “Jangan diteruskan kalau begitu,” saran Yudhi, “kalau kita saja jengah, bagaimana pembaca?”

Ya, saya kubur novel La Nina dan El Nino hanya karena pernah masuk 100 undangan di malam anugerah Sayembara Novel DKJ 2008. Itu novel kedua saya, sewaktu berusia 15 tahun. Masih SMA, kinyis-kinyis dan baru kenalan dunia sastra. Ngga menang, iya. Tapi diundang hadir, ketemu Linda Christanty, dan melihat euforianya Anindhyta S. Thayf karena Tanah Tabunya menang itu seperti menampar saya untuk “ayo, kamu harus banyak baca. Harus banyak nulis. Harus banyak belajar.”

Sampai akhirnya, lahirlah Karpinski Street ini. Novel perjalanan yang saya tulis berdasarkan pengalaman saya sebagai relawan di Kyrgyzstan. Perjalanan itu cukup jauh dari Tanah Air. Tiga hari luntang-lantung naik pesawat, nunggu di lounge, nyaris kehabisan uang, mikir keras supaya bisa bayar ini dan itu. Tapi saya memutuskan untuk lebih mengangkat kisah cinta saya dengan kondisi-kondisi yang sebenarnya umum tapi terselubung. Maksudnya?

Umum tapi terselubung itu saya tulis dalam novel Karpinski Street dengan kisah perjalanan seorang Mira, berstatus janda muda (usia 20 tahunan) yang berjuang melawan krisis kepercayaan dirinya. Status janda, masih muda, itu bukan cuma si Mira lho. Itu kenyataan umum yang ditemui Mira; baik itu di Kyrgyzstan atau bahkan di tanah airnya sendiri. Salah satu penerbit mayor ada yang bilang kalau tema ini tidak kekinian. Saya pribadi, (tidak bermaksud angkuh), justru menyayangkan pendapat itu. Justru menurut saya, tema-tema kekinian itu adalah tema-tema yang mengikis pemikiran manusia untuk berpikir, merenung, berfilsafat tentang jati dirinya, perannya dan hidupnya bersama manusia dan makhluk-makhluk lain. Dan hey, kalau ada yang bilang bahwa kasus perceraian di usia muda yang menyebabkan perempuan yang dicerai/menceraikan itu punya krisis kepercayaan diri adalah tema yang ketinggalan zaman; berarti dia sudah keracunan materialisme. Setidaknya, itu yang saya pikirkan setelah ditolak dengan alasan tersebut.

Saya berjuang benar selama 1 bulan saat menulis novel Karpinski Street. Berjuang bagaimana menuliskan ide-ide yang cukup dalam, signifikan dan sebenarnya mau bawa-bawa teori, tapi harus dikemas dalam bahasa yang sederhana. Mudah dicerna dan nge-pop supaya anak sekarang mau baca. Itu sulit. Saya tidak mahir bikin tulisan begitu. Tapi beruntungnya, saya suka baca apa saja yang mendukung saya untuk ke sana. Jadi, merupakan tantangan buat saya untuk menulis selain dikejar deadline juga menyisipkan makna-makna tersirat. Sampai-sampai seorang pembaca pernah ada yang ngomong, “novel ini alurnya kayak FTV tapi gagasan yang diusung sebenarnya dalam sekali, dan sensitif.”

Dan, alasan lain kenapa saya bersikukuh menerbitkan ini melalui Self Publishing adalah pendapat teman saya, Adiwena Zabda. Dia itu termasuk penulis yang sejauh ini jujur dalam bercerita dan berpendapat. Dia bilang ke saya, “terbitkan saja.” Ya, dua kata itu. Pendapat dia tentang naskah Karpinski Street bisa disimak di halaman awal Novel. Menurutnya, “Karpinski Street secara tidak langsung telah mengampanyekan cross-culture understanding di zaman globalisasi sekarang ini, di mana batas-batas budaya dan etnisitas mulai kabur.”

Ya, saya ingin tulisan saya dibaca. Saya tidak peduli berapa besar royalti yang saya dapatkan, berapa kecilnya pun! Saya mau perempuan-perempuan muda yang sudah janda di Indonesia bangkit dari krisis kepercayaan dirinya. Saya mau berbagi semua kisah yang saya punya dari tokoh Mira yang saya tulis.

Tokoh yang tidak lain adalah diri saya sendiri.

P.S:

Sebagian Royalti Novel Karpinski Street akan saya salurkan sebagai Santunan Pendidikan Bagi Yang Kurang Mampu, sebagai wujud syukur saya terhadap pembaca yang berkenan membeli. Santunan itu akan terus saya kabarkan melalui blog saya ini. Jangan khawatir, semua akan dilaporkan dengan jelas dan transparan. Terima kasih semua!

 

 

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s