the Haunting of Hill House; perjalanan spiritual manusia

the-haunting-of-hill-house-by-shirley-jackson-1

salah satu karya sastra genre horror terbaik di abad 20

Tidak membaca karya ini dalam bahasa aslinya, bahasa Inggris. Tapi cukup bersyukur karena penerbit Qanita menurut saya–dengan beberapa kekurangannya–mampu menyuguhkan cerita utuh yang membuat pembaca berpikir. Saya jatuh cinta ketika pertama kali membaca judul the Haunting of Hill House (dan sama sekali tidak suka covernya). Khayalan sudah berkelana; saya akan membaca arwah penasaran, misteri harta karun simpanan bangsawan, rumah kutukan, rumah pembantaian dan seterusnya. Tidak banyak yang benar dari khayalan itu. Setidaknya, setelah saya mengambil buku tersebut dari rak toko buku dan membaca bagian pertama.

Saya terus membaca (keasyikan) sampai pada bagian Dr. John Montague yang telah mengumpulkan beberapa data untuk orang-orang yang akan ia undang. Ya, the Haunting of Hill House secara garis besar menampilkan petualangan Dr. John Montague yang ahli dalam antropologi dan filsafat bersama tiga rekan lainnya dalam “pengawasan” terhadap Hill House. Bagian ini yang membuat saya memutuskan untuk membeli. Shirley Jackson–penulisnya, boleh jadi yang pertama di masanya dalam menyampur-adukkan horror dan sains. Tidak heran kalau novel ini menjadi yang terbaik, pada genre horror.

Pembuktian hipotesis Dr. Montague tentang Hill House yang “dihantui” adalah PR yang harus dijawab. Apakah menjadi iya atau tidak, semua tergantung pada pengamatan Dr. Montague dan ketiga asistennya yang berhasil ia kumpulkan. Pembuktian hipotesis ini-lah yang akhirnya harus ia catat sebagai hasil dari observasi dan sebagai antropolog, Dr. Montague harus mempublikasikannya.

Saat membaca syarat-syarat untuk bisa mendapatkan undangan Dr. Montague, saya jadi kepingin hidup di zaman itu. Masa kecil saya yang bersinggungan dengan makhluk halus akan saya banggakan di depan Dr. Montague dan saya akan berteriak, “Doktor! Pilihlah saya! Saya bisa melihat hantu, mereka mencintai saya, mereka suka suara saya, mereka senang menjahili saya. Saya juga suka menulis dan membaca! Saya bisa memasak, kau tidak akan kelaparan selama musim panas bersama saya di rumah sebesar itu! Kekurangan saya hanya satu; saya tidak suka bersih-bersih rumah!” atau mungkin saya akan berseru menambahkan, “saya jago pijit juga. Bisa mengatasi mual dengan makanan asam dan kuat diajak lek-lek-an!”

220px-HauntingOfHillHouse

saya lebih suka cover ini. doc google

Petualangan Eleanor, Theodora, Luke dan Dr. Montague lebih tepatnya disebut perjalanan spiritual. Di dalamnya, keberadaan manusia di muka bumi sesungguhnya dipertanyakan peranannya. Kalau di ajaran Islam, manusia diberi akal sebagai pembeda dengan makhluk lainnya dan diberi kewenangan di dalamnya untuk mengatur alam. Nah, di cerita Hill House, peran dan fungsi manusia untuk itu dipertanyakan.

Apakah manusia sudah menjalankan peran mereka dengan baik atau tertarik begitu rapuh oleh keadaan di sekitar mereka? Termasuk oleh apa-apa yang dikatakan sebagai “hantu” serta hal menakutkan lainnya. Perjalanan spiritual juga menggesek kehidupan secara humanitas; kerelaan menolong, kekuatan berpikir, kemampuan menguasai diri, serta poros-poros energi untuk menjadi bahan sorotan atau menimbun diri.

Bagaimanapun, the Haunting of Hill House berhasil menekuk dan bahkan memporak-porandakan seluruh praduga yang telah saya bangun. Saya tidak bisa menuliskannya di sini–tentu Anda harus membaca buku ini sebelum Anda mati atau Anda akan bingung ketika membuka mata dan ternyata tengah berada di Hill House!

Shirley Jackson dan the Haunting of Hill House

15624070_b85907ca-f27c-4d45-8fef-f6768532b39b_2048_0

versi terjemahan Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Qanita. dok: google

Shirley Jackson sudah terkenal dengan karya sebelumnya, the Lottery (1948).  Karya itu kemudian menjadikannya “the master of horror story”. Betapa tidak? Dia menerima kurang lebih 400 surat dari pembacanya yang memuat kritik terhadap sifat gelap manusia. Kritik positif itu berkembang cepat dan the Lottery akhirnya diadaptasikan dalam film pada tahun 1952. the Haunting of Hill House menyusul setelah itu. Menurut Stephen King, cerita tentang Hill House pantas disebut sebagai salah satu cerita horror terbaik yang pernah ditulis di abad 20.

Setelah membaca bagian pertama dan langsung jatuh cinta dengan Dr. Montague akan tekadnya membuka kedok Hill House, saya juga suka dengan Jackson. Pertama, nama depannya, Shirley mengingatkan saya pada Shirley Black Temple. Aktris Amerika. Sejak kecil saya mengagumi Shirley Temple dan sampai sekarang, nama Shirley terdengar manis di telinga. Jackson, juga mengingatkan saya pada penyanyi favorit yang sudah almarhum, Michael Jackson. King of Pop.

Mungkin Anda berpikir, “Apa sih, kok suka sama penulis novel hanya karena nama depan dan nama belakang?” Kita boleh jatuh cinta dengan apapun dengan syarat atau tidak sama sekali. Itu jawaban saya.

Shirley_Jackson_Portrait

Lagi pula, kesan pertama terhadap foto Shirley Jackson tidak terlalu jauh dari kenyataan hidupnya. Saya menerka dia sebagai penulis yang suka merokok, perenung, dan sedikit introvert. Nyatanya, dia ditemukan wafat saat tidur. Shirley Jackson wafat di usia yang masih muda dan produktif; 48 tahun. Kematiannya saat tidur itu disinyalir sebab gagal jantung. Pola hidupnya yang kurang sehat seperti merokok terlalu sering dan obesitas merupakan faktor utama kematiannya.

Faktor kematian Shirley Jackson membuat saya khawatir pada diri saya ketika sibuk menulis; konsumsi kopi dan teh manis serta kurang tidur. Kalau obesitas (tinggi saya 160 cm berat badan 64 kg) iya obesitas. Tapi nggak parah-parah amat. Itu udah turun kok dari 68 kg.

Selain itu, Shirley juga tidak mau diwawancarai oleh awak media. Menurutnya, orang akan bisa menilai dirinya dari karya yang ia buat. Jarang-jarang kan orang besar yang punya sifat rendah hati?

Film the Haunting of Hill House tahun 1963

Nonton film the Haunting of Hill House siang-siang itu nggak nikmat ternyata. Apalagi saya sudah tahu ceritanya. Jadi, ketika para tokohnya berdialog, saya seperti hafal line mereka di kepala (meski tidak sama persis).

Yang jadi perubahan adalah nama Dr. Montague menjadi Dr. John Markway. Alias Dr. Markway. Mungkinkah karena pengucapan MON-TA-GUE itu sulit? Walau begitu, konten cerita tetap mengikuti novel yang ditulis Shirley Jackson. Saya cuma kurang suka dengan tokoh ELENOR yang diperankan oleh Julie Harris. Meski prestasi aktris yang satu ini keren di US, tapi entah kenapa sosok Eleanor yang saya bangun di novel jauh berbeda dari karakter yang dimainkan Julie Harris.

The_Haunting_film

film the haunting of hill house versi 1999

Mungkin saya harus nonton yang versi tahun 1999. Dr. Montague juga berganti nama jadi Dr. Marrow yang diperankan Liam Neeson. Eleanor, diperankan oleh Lili Taylor. Kita tahu, dia main di the Conjuring dengan akting yang luar biasa. Apalagi aktor lainnya ada Catherine Zeta-Jones dan Owen Wilson. Jadi, saya sudah bisa bayangkan penampilan para aktor dan aktris di film ini setidaknya lebih keren. Tapi, entah untuk alur ceritanya. Saya baca sedikit review film tahun 1999 ini dan sepertinya banyak tambahan dari sutradara yang keluar dari naskah novel karangan Shirley Jackson.

Nah, sebelum kamu baca the Haunting of Hill House, apa imajinasimu?

This entry was posted in Journalistic, Review. Bookmark the permalink.

One Response to the Haunting of Hill House; perjalanan spiritual manusia

  1. Pingback: Review Buku Sejak Bulan Januari sampai Juli 2017 – mira world web

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s