The Return (Возвращение)

“The film is a mythological look at human life,” and that “if you watch this movie from the standpoint of everyday life, it’s a mistake, because it’s much broader, and the mystery of the film won’t reveal itself to you” (Abeel 2004).

Seorang ayah mengajak kedua putranya untuk pergi memancing di laut. Andrey dan Ivan (Vanya) mengikuti ajakan ayahnya itu. Sekilas, cerita tentang seorang ayah yang mengajak libur anaknya merupakan hal normatif. Namun tidak untuk The Return.

Satu hal yang membedakan ayah Andrey dan Ivan dari pada ayah lainnya adalah kehadirannya setelah pergi meninggalkan mereka selama 12 tahun. Selama itu, Andrey dan Ivan hanya tinggal bersama sang mama dan nenek yang tidak banyak bicara.

Tidak seperti film hollywood, The Return lebih mengedepankan semiotika. Karakter tokoh-tokohnya tampak mulai dari elemen paling sederhana; gestur. Kemudian, para tokoh itu mulai menegaskan masing-masing penokohan mereka melalui dialog.

Menurut Meghan Vicks, film The Return menunjukkan masa transisi pemerintahan Rusia dari zaman Soviet menuju Pasca Soviet. Pada masa-masa itu, terdapat banyak dekonstruksi mitologi-mitologi yang telah lama mengakar dalam budaya Rusia. Sutradara The Return, Andrei Zviagintsev menampilkan salah satu mitologi tersebut melalui tulisan (catatan harian yang ditulis bergantian oleh Vanya dan Andrey) dan foto-foto perjalanan mereka yang diambil dari kamera Vanya.

Nyatanya, Zviagintsev lebih memilih menampilkan semiotika melalui foto-foto ketimbang tulisan-tulisan. Anda akan lihat bagaimana kedua kakak beradik itu saling menulis dalam satu buku harian secara bergantian setiap hari tapi tulisan mereka tidak tersorot kamera. Zviagintsev sengaja melakukan hal itu, “mulanya, kami ingin menunjukkan teks tulisan dari buku harian di dalam scene, tapi hal itu bisa mengurangi daya imajinasi penonton,” paparnya.

Pertemuan Andrey dan Vanya dengan sosok ayah yang muncul misterius merupakan inti dari imajinasi. Penonton akan diajak sedikit berpikir, apakah kemunculan itu yang menjadi sebuah hal dramatis ataukah proses perjalanan mereka sampai akhir? Penonton akan menerka-nerka kemudian melalui foto-foto hitam putih yang mereka ambil selama perjalanan berlangsung. Akhirnya, penonton pula yang menentukan apakah perjalanan itu sesuatu yang riil atau tidak atau bagaimana? Menurut saya, terkadang, jawaban tidak mesti iya atau tidak.  Dan ternyata, film ini memang mengharapkan jawaban lain.

Sejak awal kemunculan misterius sang ayah, The Return menyuguhkan potret pria dewasa itu sedang tidur pulas. Terbaring telanjang dada di kasur yang hanya berselimutkan sampai perut. sementara kepalanya menoleh ke kiri dan kedua tangannya lurus. Potret ini yang kemudian menjadi awal dari mitologi yang diangkat sang sutradara. The Return adalah hasil pembacaan Zviagintsev terhadap kematian Yesus Kristus.

Pembacaan sutradara akan kematian kristus masih berlanjut ketika adegan hidangan makan. Terdapat wine di meja itu. Sang ayah duduk di kursinya, membagikan wine, memimpin doa dan membagi potongan ayam dengan tangannya kepada anggota keluarga. Bahkan, anak-anaknya yang masih kecil itu dimintanya untuk juga mengicipi wine.

thereturn2

adegan di meja makan

Uniknya, film ini tidak seluruhnya mengadaptasi peristiwa kematian kristus. Pada akhir cerita, jasad sang ayah tenggelam ke bawah air danau. Bukan ditanam di pulau atau di dataran utama. Adegan itu rupanya mencerminkan masa non-kristen dan kristen pada zaman soviet menuju setelah soviet. Lebih menarik lagi, saya kaget ketika tidak ada potret sang ayah di dalam foto hitam putih yang mereka ambil selama perjalanan. Nihil. Termasuk, foto yang awalnya disimpan Vanya sebagai potret lengkap keluarganya. Di akhir film ini, sosok ayah tidak ditemukan.

Apakah yang lebih penting dari sebuah proses menonton? Tentu, berpikir itulah. Anda bisa mengiranya sebagai bentuk pembacaan terhadap mitologi, adaptasi sejarah, atau sekedar karya yang ingin menyuguhkan sisi lain dari potret hitam putih. Tidak ada aturan yang memaksa dan membuat anda diam untuk memilih salah satu secara mutlak. Kebenaran dalam keyakinan menonton adalah sikap yakin itu sendiri. Saya pribadi berkesimpulan bahwa secara visi, sutradara Andrey Zviagintsev mungkin hendak memotret mitologi dan peradaban budaya Rusia yang luas itu dalam potret dan potongan adegan beruntun dan memiliki antiklimaks. Tapi jauh dari pada itu, saya selalu menemukan bahwa gambar hitam putih adalah realitas manusia mencitrakan diri mereka. Entah sesuatu yang baik diyakini atau sebaliknya, keburukan yang tertutupi. Seperti dalam film ini, ayah yang seperti apa yang dibayangkan kedua putera mereka? Ayah yang bagaimanapun itu, adalah sosok yang sebenarnya mereka rindukan namun tertutup oleh realitas. Ego manusia.

This entry was posted in Journalistic, Review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s