#4 Sebuah Ruang Untuk Mengingat dan Melupakan

Cerita sebelumnya: Masalah sepele dalam rumah tangga akan selalu dijumpai Mira dan Amran. Keduanya sudah berprinsip untuk saling percaya dan mengevaluasi hari-hari. Tidak ada ruang bagi mereka untuk saling menaruh curiga. Kecuali, jika ruang untuk mengingat dan melupakan masih tersemai meski terlihat begitu tipis dan atau terdengar cukup klise.

Is it possible to say, we might love somebody as our friend but we never felt them closer enough rather than we thought?

We will find people at cafe, smiling, and–yes, charming. They are nice, completely strangers but give us space to take a breathe and enjoying our coffee. And those people, will never be appear in our real life. As long as we know, our body, our mind as a human being, we need a companion. Friend was not enough. They will never be forever. I never trust the adverb says, “friends are everything.” It sucks. 

“Aku nggak percaya bisa beli novel ini,” seru Rani, “Coba lihat deh, Kak Mira. Kemarin aku beli novel ini dan katanya ‘teman itu bukan segalanya, mereka nggak akan ada selamanya.’ Masa gitu sih? kan nggak seru!”

“Situ yang baca, sini yang diomelin,” tukas Mira sambil meraih novel yang disodor Rani. Setengah bergumam, Mira memperhatikan covernya, membaca sinopsis ringkas dan melihat nama penerbitnya. “Bagus nih,” tukasnya begitu saja. Lalu menempatkan novel itu baik-baik di atas meja.

Pada meja persegi itu, Mira berhadapan dengan Rani. Gadis paling muda di antara perempuan lain yang mengelilingi meja itu; Febry, Ayu, dan Afril. Kurang lebih, selama enam bulan Mira menjalani pernikahan, Mira lama tak bersua dengan kawan-kawan ‘mantan’ kost-nya. Sedikit memohon kepada Amran agar diantar ke Kafe Homey untuk bisa menjumpai teman lamanya itu, Mira juga berjanji tidak akan sampai larut.

“Tau nggak Lo, Mir.” Ayu memulai. A silly style behave, strong and confidence lady ever, “sejak Lo udah nggak di Kost-an, si Rani suka ngegalau sendiri gitu.”

“Gue tau, kok. Iya kan, Ran?”

Rani menjulurkan lidah, “Rasain Lo, Kak!” dipandangnya Ayu yang sudah membuang muka.

“Menurut gue ya, Ran,” Mira kembali menyentuh novel. “Ini buku nggak lebih dari ‘warning’ sekaligus curhatan si penulis bahwa dia pernah ngalamin yang namanya patah hati sama sahabat. Dan Lo harus terima gagasan itu. Kenapa gue bilang bagus? Karena nggak selamanya persahabatan itu…”

Last forever,” sahut Febry, “Kayak di film-film animasi princess ala Disney; Happily ever after. Itu nggak ada di dunia nyata, Rani. NEVA!”

“Makanya kawin!” Seru Afril. “Woooo!!!” yang lain berseru. Afril baru saja menjalani empat bulan pernikahan. Setelah Mira keluar dari kost kebanggaan mereka yang bernama PAEL’s Kost, Afril menyusul dua bulan kemudian. Perempuan itu dinikahi seorang tentara muda. Pria angkatan darat yang selama ini masih menjadi misteri bagi Mira karena belum sempat berbincang-bincang.

Kelima perempuan itu memesan beberapa menu. Sambil berbincang, melempar tisu, atau tertawa–ya terbahak-bahak dan memalukan. Mereka seperti rindu pada masa-masa sewaktu seluruh anggota kost masih berkumpul. Tidak ada yang lebih ramai dan lebih dirindukan selain para perempuan yang kini menjadi calon ibu muda.

“Udah isi, Mir?” Afril memberikan pandangan khusus. Lurus dan cepat.

“Isi makanan iye, isi apaan maksud Lo?”

“Berapa kali dalam seminggu?” Afril mendekat, hidungnya nyaris menabrak pipi Mira yang gembul, “heh?”

“Ih, najong nih mamah muda,”Mira bergidik. Ia mendorong temannya yang super jahil itu dan meletakkan secangkir teh di depannya. “Ngga ada isi-isian. Lo kira bakpao kali isi coklat, kacang ijo…”

“Lo belom jawab pertanyaan kedua. Berapa kali?”

“Harusnya berapa kali, deh?” Mira mengaduk-aduk tehnya yang sudah dingin.

“Kalau lagi subur-suburnya,” Afril bicara setengah berbisik. Ayu, Febry dan Rani spontan memasang telinga baik-baik dan mendekat, “harusnya dua sampai tiga kali seminggu.”

“Waaa!” pecah. Obrolan malam itu pecah. Afril selalu bisa memancing suasana. Padahal, di Kost-an dulu, dia termasuk perempuan yang anteng. Ada beberapa faktor kenapa dia jarang bicara sewaktu berada di Kost-an. Afril tidak suka memasak. Kedua, perempuan itu malas bersih-bersih rumah. Kini, Mira melihatnya seperti perempuan binal. Bicara ngawur, asal keluar. Seperti tenaga tak tertahankan yang muntah dan meletup-letup setelah dia menikah. Afril nampak bahagia. Pipinya juga sama membesarnya seperti Mira, pipinya merona meski dandanannya sudah luntur. Dia menceritakan pengalaman barunya dengan sang suami yang tentara gagah perkasa itu. Bagaimana dia harus beradaptasi pertama kali dengan ‘toa’, rumah dinas hijau pucat yang menjemukan, pohon sukun yang terus berbuah namun tak pernah dipanennya.

“Kayaknya seru nih kalau arisan di rumah Afril sambil makan sukun goreng,” gagasan itu tercetus begitu saja dari Mira. Yang lain langsung riuh, mereka sepakat kalau rumah dinas itu perlu sedikit ‘kreativitas’.

“Bener tuh, Mira. Sukun goreng sama es teh manis. itu modalnya dikit banget, kita bisa patungan murah.” Febry, ratunya diskon. “Lagi juga, komplek rumah dinas Lo pasti jadi seru deh kalo ada kita-kita. Jadi RUAMEE!”

“Iya, abis itu gue disemprot sama bini-bini tentara yang lain,” Afril menggeleng, “Nggak ah. Kalian aib.”

“Oke,” Ayu menengahi, “Lanjut lagi setelah makan ya. Nih makanan kita dateng.”

Para perempuan heboh itu memesan dua piring mie goreng spesial, satu porsi roti bakar selai blueberry dan sepiring nasi goreng. Semua terlihat lelah walaupun dengan sisa-sisa tenaga masih mampu mengeluarkan ide-ide dan obrolan yang mengganggu sistem kerja pencernaan Mira. Perempuan itu memperhatikan baik-baik sahabat lamanya, mereka semua sudah dewasa. Sangat dewasa. Dan mereka adalah perempuan yang gigih berkarir. Mira merasa sangat bersyukur bisa mengenal perempuan-perempuan tangguh ini. Bagi Mira yang masih menganggur, kesempatan untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang super sibuk sangat berharga. Ia bahkan belum sempat menceritakan pada mereka betapa pusingnya ia menata hati untuk bisa menerima kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan bekerja.

“Guru TK, Mir? Wow! Cucok dong!” Ayu selalu yang menjadi ‘the most enthusiast‘ dengan berita. Mira mengangguk. “Kapan-kapan deh gue ceritain, sekarang kayaknya di keep dulu ya.”

Malam itu tidak ada yang lebih istimewa selain gosip dan nyinyiran panjang lebar. Sebelum berpamitan, perempuan-perempuan tengil itu saling berpelukan. Memberi cium pipi, menepuk-nepuk lengan, dan sesekali mencubit pipi Rani. Baik Febry, Ayu, Afril dan Mira sangat mengharapkan gadis yang satu itu cepat sembuh dari penyakit ‘I hate my self‘-nya. Rani terlampau melihat dirinya kurang dari apa yang mestinya patut untuk ia peroleh.

Mira masih menunggu Amran untuk datang menjemput. Ia melangkah keluar Kafe dan berusaha menyebrangi jalan. Handphonenya berbunyi. Seseorang dengan nomor luar negeri menelfonnya. No name, no picture. Sedikit menimbang, apakah perlu dijawab panggilan itu atau tidak. Mira menengok ke arah jalanan. Sepi.

“Halo.”

“Mira?” Suara di seberang sana terdengar begitu lirih. Dan akrab.

Sekilas, Mira menahan napasnya. Tidak percaya suara yang baru saja dia dengar,

“Ras…?”

Da. Kak Dela?”¹

Mira segera menutup telefon. Tidak baik untuk dilanjutkan, pikirnya. Ia harus segera sampai di rumah. Amran harus segera menjemputnya.

catatan kaki:

¹ Iya. Apa kabar? (bahasa Rusia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s