Fita Nafisa; Seumur Hidup Menjadi Seorang Pembelajar

Portret diambil dari bahasa Rusia yang berarti Gambar atau Image seseorang. Portret merupakan rubrik khusus di dalam blog ini dan memuat berita inspiratif tentang seseorang. Siapapun bisa menjadi inspirator dan setiap inspirator akan senang membagi kisahnya. Penulis percaya, dengan belajar dari banyak orang, kita akan menghargai arti kehidupan bersama. Kritik dan saran tentang penulisan rubrik Portret bisa dikirim melalui email di sini.

“Why do you stay in prison, when the door is so wide open?”

WhatsApp Image 2017-03-27 at 17.56.58

Fita Nafisa berpose di depan Masjid Muhammad Ali (Turki Utsmani) di Kairo, menurutnya, terasa seakan-akan berada di Turki. (dok FN)

Ungkapan dari Rumi itu terngiang selintas ketika saya baru saja merampungkan wawancara eksklusif dengan Fita Nafisa via hangout. Saya begitu menghargai orang-orang yang dengan berbagai pengalaman mereka, entah muda maupun tua, dengan kesibukan mereka yang menanti, tetap menyempatkan waktunya kepada saya. Meski waktu yang mereka korbankan sebenarnya mungkin tidak berpengaruh besar pada rutinitas mereka. Apalagi memberikan dampak-dampak yang worth it. Justeru saya yang mendapatkan nilai-nilai berharga. Sungguh saya begitu mensyukurinya.

Perbincangan saya dengan seorang kawan, Fita Nafisa–nama belakangnya sama seperti Sayyidah Nafisah, entah mengapa saya begitu mengaguminya. Padahal, usia kami bisa dibilang sepantaran. Bahkan sejujurnya, lebih tua saya dua bulan daripada dia (nangis kejer sambil ngucek baju). Namun saya paham, usia bukan ukuran bagi seorang manusia untuk dapat menjadi matang, bijak dan atau sebaliknya; kufur, nelangsa dengan kehidupan.

Gadis yang baru pulang dari Mesir bulan lalu ini masih seperti yang dulu. Dia masih humble, penuh percaya diri namun rendah hati, dan asyik diajak ngobrol. Di sela-sela aktifitasnya menyelesaikan tesis S2 di Program Studi Kajian Timur Tengah UGM, Fita masih sempat meluangkan waktu untuk ‘wawancara’. Saya bilang sama dia, “ini wawancara bukan diterbitkan yang bagaimana, hanya saya tampilkan di rubrik Portret blog pribadi saya,” dan seperti yang sudah saya duga, kawan saya ini mengiyakan.

Well, usut punya usut, ternyata Fita Nafisa juga masih aktif mengajar kursus Bahasa Arab untuk anak-anak. Dulu, waktu kuliah S1 barengan saya di Sastra Arab UNS, Fita memang sudah fokus dengan dunia anak. Dari Fita juga saya belajar teks cerita anak berbahasa Arab dan mulai curious dengan Sastra Anak. Di angkatan kami sewaktu S1 dulu, Fita bisa dibilang simbol mahasiswi teladan; cerdas, rajin, rapi, disiplin, plus berparas ayu. Nah yang terakhir itu yang tidak mungkin bisa saya tiru, hehe.

Biasanya, sosok karismatik seperti Fita Nafisa punya beberapa ‘resep’ yang mampu membuatnya selalu merona. Fita memulainya dari hal paling sederhana; RUTINITAS dan BELAJAR. Dua kata kunci itu yang ternyata selama ini menjadi inti dari keberhasilan prestasi seorang Fita Nafisa. Misalnya saja untuk merasa bahagia, Fita mengatakan hal itu harus diusahakan. “Bahagia itu harus diusahakan, yaitu dengan menikmati aktifitas yang ada,” ujarnya.

Setidaknya, ada tiga aspek menurut Fita untuk bisa menunjang seseorang agar mampu untuk deal with their routine days. Aspek pertama menurutnya, adalah bersikap terhadap diri sendiri. Pengelolaan hati, pikiran, menjaga pola makan, olah raga dan mengatur istirahat merupakan basisnya. Aspek kedua; menjaga interaksi dengan orang lain juga lingkungan ternyata harus dimulai dari menjaga hubungan baik dengan orangtua. Dan ketiga, Fita mengatakan bahwa aspek ini yang paling penting, “kita harus menjalin hubungan baik dengan Yang Maha Memberi Kehidupan.”

WhatsApp Image 2017-03-27 at 17.56.49

Fita dan Dr. Muhammad Sayyid Abdel Tawwab, Direktur Penerbitan Pusat Terjemah Nasional Mesir (dok FN)

Selain punya resep tiga aspek penyeimbang rutinitas, Fita juga punya resep tentang belajar. Gadis asal Boyolali ini memberi beberapa catatan primer tentang hakikat belajar. “Belajar bukan soal usia, belajar adalah niat. Ilmu Allah (Tuhan) itu luas. Kita tinggal memilih untuk mempelajari yang mana dulu. Tidak ada batasan usia untuk belajar, yang penting adalah kemauan, perjuangan dan manfaat apa yang akan kita tebar setelah proses pembelajaran.” Menurutnya, belajar juga tidak selalu berkaitan dengan bangku sekolah. Proses belajar diterjemahkannya sebagai jalan untuk meng-upgrade kemampuan, sebuah aktualisasi diri, juga untuk memberi manfaat kepada orang lain. Nilai-nilai seperti itu yang ia yakini untuk dapat ditanam dalam setiap diri manusia. “Meskipun demikian, kesempatan untuk belajar melalui lembaga formal juga dapat diusahakan untuk menyesuaikan diri dengan tantangan dunia.”

Dengan tips dasar tentang esensi belajar itu, Fita sudah sering mendapatkan prestasi. Kebanyakan, prestasinya berkutat di dunia Budaya dan Sastra. Seperti yang saya katakan di awal, Fita baru saja kembali dari Mesir. Keberangkatannya ke Mesir itu merupakan beasiswa yang ia terima. Namanya, beasiswa sandwich program UGM-Banha University 2016-2017. Terkait beasiswa itu sendiri, Fita menegaskan bahwa itu salah satu wujud aplikasi dari “bermanfaat bagi orang lain.”

Menurutku, esensi beasiswa adalah menginspirasi dan menebar manfaat. Beasiswa itu sarana untuk selalu memberi manfaat untuk orang lain dan lingkungan sekitar.”

Minatnya yang begitu tinggi terhadap Budaya dan Sastra menuntunnya untuk terus menggali lebih dalam kajian-kajian seputar itu. Belajar budaya termasuk juga belajar berbagai bahasa merupakan suatu keasyikan bagi gadis yang mahir berbahasa Arab ini. Belajar budaya misalnya, berarti membuka wawasan terhadap dunia luar. Fita mengatakannya sebagai ‘bentuk penglihatan kita terhadap dimensi kehidupan lain’. Hal itu menurutnya mampu melatih kepekaan seorang manusia untuk bisa memahami orang lain dan bahkan memiliki titik balik; makin cinta dan mengarifi kebudayaan manusia itu sendiri.

Ternyata, dalam perjalanan belajarnya, Fita pernah mengalami masa-masa di luar ekspektasi. Gadis yang mengaku dirinya ambisius dan perfeksionis ini rupanya pernah bimbang ketika harus memilih antara ilmu dan orangtua. “Orang tua mengarahkan untuk belajar bahasa Arab, padahal aku maunya minat studi lain.” Bukan dengan senang pada mulanya, Fita harus menjalani pilihan orangtuanya itu dengan berat hati. Namun, kesadarannya untuk berjiwa besar menuntunnya untuk menata hati dan menjalani proses belajar di jurusan Sastra Arab. “Alhamdulillah, justeru di bidang ini Allah memberiku karunia yang tidak disangka. Impianku untuk belajar di luar negeri bermula dari sini.” Proses itu yang dinamakannya dengan legowo, “bukan menyerah, hanya memang beberapa keadaan kadang tidak sesuai ekspektasi meskipun sudah kita perjuangkan dengan semampu kita,” paparnya.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 17.56.59

Fita bersama Mahasiswa Studi Indonesia di Universitas Suez Kanal, Ismailia, Mesir

Pengalamannya menuntut ilmu di Negeri Piramida tidak hanya membuka wawasannya. Fita juga mencatat beberapa poin yang menurutnya perlu untuk dievaluasi oleh para pelajar di Indonesia. Saya mencatatnya sebagai sari kreatif ala Fita. Menurutnya, mahasiswa Indonesia mestinya mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Tugas dari dosen seharusnya bukan menjadi momok. Padahal dengan tugas tersebut, seorang mahasiswa bisa mengeksplor kreativitas sebanyak-banyaknya.

Fita juga menyayangkan, dengan fasilitas belajar yang sudah lengkap dan ibaratnya ‘mau apa saja bisa’ ini masih sering kali diabaikan oleh generasi muda dalam hal positif. “Kesadaran untuk bangga jadi pemuda-pemudi Indonesia dengan mengembangkan diri mereka seringkali kalah dengan kesadaran untuk bikin caption apa di mana dalam media sosial,” ujarnya sembari terkekeh. Dia berpikir, semestinya seluruh fasilitas yang dapat diakses dapat dimanfaatkan, “…harusnya bisa menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang positif.”

WhatsApp Image 2017-03-27 at 18.12.39

Fita menikmati sore di Kanal Suez bersama Shaima Tarek, Staff Penerjemah di Otoritas Kanal Suez yang pernah berkunjung ke Indonesia

Obrolan kami terus ngalor-ngidul dan kami sampai pada perbincangan akhir sore itu. Saya iseng menanyakan Fita, jika dia diberi kesempatan untuk lahir kembali yang kedua kalinya, kira-kira apa yang dia inginkan.

Sembari tertawa dia menjawab, “Menyenangkan sekali ya kalau ada (kesempatan itu), barangkali aku akan memilih untuk diberi kekuatan, keluasan hati, dan kelihaian berpikir untuk menjalani hidup yang akan diberikan. Kehidupan biarlah tetap menjadi misteri, itu yang menantang. Tapi kekuatan serta ketetapan hati dan pikiran ibarat roda yang menjalankan kehidupan itu.”

Nah, apa yang saya lihat dan rasakan dari Fita Nafisa bisa jadi juga dilihat dan dirasakan oleh Anda sebagai seorang kawan yang juga mengenalnya, atau Anda yang baru saja menjadi pembaca. Wawancara saya tadi bisa dibilang suatu obrolan hangat dan kerinduan antara kami untuk bisa berjumpa namun masih belum diizinkan. Obrolan yang kemudian saya rangkum menjadi sebuah “wawancara sederhana” ini saya harap memiliki hikmah yang bisa kita pelajari bersama.
Oia, ngomong-ngomong, dengan prestasi keren dan kepribadian sekece itu, Fita masih jomblo lho… wah, untuk jomblo kece yang nge-fan Fita Nafisa setelah baca artikel ini selamat berjuang ya! Hihihi…
This entry was posted in Journalistic, Portret. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s