REKA DIAN UTAMI: Karekaku Fashion Project, “Era Baru Kreativitas”

Portret diambil dari bahasa Rusia yang berarti Gambar atau Image seseorang. Portret merupakan rubrik khusus di dalam blog ini dan memuat berita inspiratif tentang seseorang. Siapapun bisa menjadi inspirator dan setiap inspirator akan senang membagi kisahnya. Penulis percaya, dengan belajar dari banyak orang, kita akan menghargai arti kehidupan bersama. Kritik dan saran tentang penulisan rubrik Portret bisa dikirim melalui email di sini.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 09.26.13

At Grand Opening Indonesia Fashion Week 2017 dokumentasi Reka Dian Utami

Sebuah pepatah yang berbunyi, “Pekerjaan paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar” rasanya tepat untuk gadis asal Jambi, REKA DIAN UTAMI. Usianya baru seperempat abad lebih, tapi kemampuannya di bidang fashion bisa dikatakan sudah tidak diragukan lagi. Dara yang sudah menamatkan studi Kriya Tekstil di Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS ini menjadikan hobinya di dunia fashion sebagai pekerjaan sehari-hari, “…pekerjaan ini adalah bagian dari kepuasan batin,” ujarnya.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 09.37.19

REKA DIAN UTAMI Fashion Project

Dara yang murah senyum dan punya beberapa nama panggilan seperti Rere, Reka, dan Karekaku ini, mengaku sudah mulai tampak bakat berkecimpung di dunia desainnya sejak kecil. “Menurut cerita Mama, sewaktu aku berusia lima tahun, aku sudah bisa bikin karet rambut dan bahkan tas sederhana yang kujahit pakai tangan,” papar Rere saat menceritakan masa kecilnya. Kegemaran utak-atik barang menjadi produk yang cantik dan siap pakai ternyata bermula dari sana. Ketika Rere duduk di bangku TK, menggambar menjadi hobi yang kemudian mengantarnya menjadi juara. “Oia, di masa Taman Kanak-kanak, aku sempat meraih juara 2 menggambar tingkat nasional,” jelas Rere.

Kini, selain berwirausaha sebagai Fashion Designer, Rere juga aktif mengikuti serangkaian aktifitas pameran, pelatihan dan lomba-lomba. Beberapa penghargaan terkini yang dicapainya antara lain:

  1. Juara I Lomba Desain Motif Batik Jambi tingkat Provinsi Jambi tahun 2015
  2. Juara I Lomba Instruktur Tata Busana Se-Kota Jambi tahun 2016
  3. Juara II Lomba Desain Busana Muslim dan Juara Harapan I Lomba Desain Motif Jambi pada acara “Ramadhan Fashion Festival” tahun 2016
WhatsApp Image 2017-03-27 at 10.05.17

Kids Collection Spring-Summer 2016 di Paris Perancis dokumentasi Reka Dian Utami

WhatsApp Image 2017-03-27 at 10.04.32

Seorang WNI yang memakai busana brand Reka Dian Utami di Perancis dokumentasi Reka Dian Utami

Walaupun prestasi desain Rere sejauh ini baru di Provinsi Jambi, namun Rere sudah pernah berkontribusi dalam acara Kids Collection for Paris Spring-Summer tahun 2016. Karya-karya Rere lainnya juga diminati kawula muda. Banyak dari mereka bahkan meminta Rere untuk menjadi perancang busana pengantin. Mulai dari merancang tempat seserahan, sepasang busana pengantin, busana orang tua dan keluarga pengantin, serta hal-hal detil lainnya yang berkaitan dengan pernikahan.

This slideshow requires JavaScript.

“Semangat kekinian dan inovasi yang selalu diperbaharui adalah motivasiku dalam berkarya. Harapanku, setiap karya yang lahir bisa mencitrakan karakter atau ciri dari prosesku. Tentunya, aku juga kepingin karyaku ini semakin dikenal luas, dari berbagai kalangan sampai tingkat Nasional dan Internasional.” Cita-cita yang begitu besar itu diakui Rere memerlukan proses matang dalam pencapaiannya. Rere menilai karirnya sebagai Fashion Designer masih perlu diasah dan dikembangkan. “Kalau sukses banget belum ya, tapi aku sangat menghargai proses dan perolehan ini. Sangat bersyukur dan menikmati,” terang Rere.

Proses yang amat dihargai Rere diantaranya mengenal banyak karakter dan watak manusia. Selain itu, semakin banyak kegiatan merancang busana membuat Rere menemukan teknik-teknik baru dalam menjahit dan memperluas idenya dalam berkarya. “Banyak orang baru yang kutemui, pendapat yang berbeda-beda, serta latar belakang berbeda seakan-akan membentuk kepribadianku yang fleksibel tapi juga prinsipil dengan apa yang aku miliki dalam diriku,” tegas Rere.

Era baru dalam desain dan fashion menuntut penggiat seni untuk pandai berkreasi. “Kreativitas itu penting ya. Meskipun memang setiap desainer punya selera masing-masing, tapi faktor kreativitas itu besar pengaruhnya,” tutur Rere. Sebagai seorang yang berjiwa kreatif dan berideologi dare to be different, Rere menurunkan sifat-sifat idealis dan into detail pada setiap karyanya. “Aku berani bereksperimen dengan cutting-an yang berbeda dari pada kebanyakan orang pada bahan busana yang kugunakan. Gaya berbusana yang nggak biasa namun masih logis dan pokoknya aku melakukan hal-hal di luar kebiasaan yang sudah dilakukan banyak orang,” ungkap Rere. Dia mengaku juga bahwa teknik memotong atau cutting pada koleksinya selama ini berkiblat kepada fashion Jepang.

“Tahun ini misalnya, kuberi nama anyam-anyaman. Kenapa? Karena aku mengombinasikan anyaman handmade di setiap koleksiku.” Anyaman asli bikinan tangan Rere ini dipadukannya dengan amat baik dan mencerminkan sikapnya yang berani mencoba hal baru serta into detail. Anyaman ini sebenarnya lembaran kain biasa yang bermotif garis-garis dan diolah dalam bentuk anyaman dengan memanfaatkan permainan arah garis motif bahan.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 10.08.22

Reka Dian Utami bersama Aditya Surya Pratama, artis Indonesia, Selebgram dan penyanyi. Aditya mengenakan salah satu koleksi Reka Dian Utami, “anyaman series”

Tapi sayangnya, Rere berpendapat bahwa kreativitas yang penting dan berpengaruh itu terkadang mudah sekali disepelekan. Menurutnya, tidak sedikit orang yang kurang apresiatif terhadap nilai seni sebuah karya. “Contohnya, mau bagus banget, sesuai keinginan dan tetek bengeknya tapi minta harga terlampau murah dan bahkan banyak juga yang menganggap sepele.” Hal-hal semacam itu yang menurut Rere masih melekat di beberapa masyarakat Indonesia. Meskipun demikian, bukan berarti setiap yang bagus selalu mahal. Rere pun berkeyakinan bahwa segala sesuatu ada kurang dan lebihnya, tinggal bagaimana seseorang menempatkan pandangannya dalam porsi yang sesuai.
“Sangat disayangkan kalau anak muda kurang menghargai dan menjaga tradisi kebudayaan daerah masing-masing. Padahal kalau bukan kita (generasi muda) siapa lagi?” ujar desainer yang selalu memberi sentuhan etnik pada karyanya ini.
Kecintaan Rere pada etnik Indonesia dan desain dipengaruhi dari beberapa tokoh seperti Texaverio, Mel Ahyar, Danjyo Hiyoji, Lulu Lutfi Labibi, dan sederet nama desainer mancanegara seperti Mqueen, Natsumi Zama, dan Eli Saab. Tidak cukup di situ, role mode Rere dalam berkarya juga merujuk pada salah satu dosen di Kriya Tekstil. “Beliau Bapak Setyawan, S.Sn., MA, adalah dosen yang easy going. Beliau juga salah satu role mode aku dalam berpikir dan berkarya; santai, fleksibel tapi pasti.”
WhatsApp Image 2017-03-27 at 09.24.46

Reka Dian Utami bersama Ivan Gunawan di Indonesia Fashion Week JCC 2017 (dokumentasi Reka Dian Utami)

Rere terus berusaha untuk selalu bersemangat melahirkan karya baru. Ia merasa apa yang dibawanya merupakan nilai penting untuk dikenalkan ke dunia luar. “Dunia perlu tahu bahwa generasi muda Indonesia insya Allah akan selalu melahirkan orang-orang yang potensial dan terbukti mampu mengembangkan fashion sampai internasional dengan tidak meninggalkan etnik dari mana ia berasal. Dengan begitu, kita tidak perlu khawatir untuk bersaing di masa yang akan datang.”
Kepada pembaca Portret, Rere menitipkan beberapa pesan persaudaraan, katanya, “Jangan takut untuk mencoba, menerima hal baru di sekitar kita. Jangan sepelekan hal kecil dan terus berusaha dalam bidang yang kita geluti adalah kunci keberhasilan.”
WhatsApp Image 2017-03-27 at 10.19.57

Reka Dian Utami dan “kenarsisan bersama koleksinya” (dokumentasi Reka Dian Utami)

Bagi Rere, hidup adalah misteri. Jika dia diberi kesempatan untuk lahir kembali dan bebas untuk memilih jalan hidup, Rere tetap akan memilih dunianya saat ini. “Bahkan, seandainya aku ngeh bakat aku sejak kecil, aku mungkin nggak akan mau belajar di sekolah umum. Aku bakal memilih sekolah khusus seni yang bakal mengasah bakatku sejak dini. Tapi over all, aku akan terus mensyukuri dengan menikmati perjalanan ini, terus mengeksplorasi dengan bakat yang kupunya semaksimal mungkin. Sampai titik terakhir yang aku bisa,” tandas Rere.
This entry was posted in Journalistic, Portret. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s