#3 Chrysanthemum

cerita sebelumnya: Mira mulai belajar untuk menerima apa yang ada di luar ekspektasinya. Sebagai perempuan yang sudah menikah, ia harus menghadapi komitmen; bahwa kini keluarganya bertambah. Dengan begitu, bertambah pula budaya yang ada, pemikiran yang ada dan seterusnya. Kini, Mira mulai merintis hari-hari barunya di Ibukota Indonesia, Jakarta. Amran adalah kekuatannya untuk bisa merangkai harapan baru. Seperti Bunga Chrysant yang merekah di manapun, harapan akan hidup sendirinya. Ia tak akan lunglai, selama tempat di mana ia bersandar mampu memberikannya kesempatan untuk melanjutkan impian dan doa-doa.

Satu pot teh berisi dua buah bunga Chrysant kering mulai kuseduh. Perlahan, air panas mendidih itu mengeluarkan aroma nikmat. Air bening menjadi kuning dan makin lama berubah sedikit oranye. Kuperhatikan betul-betul perubahan air itu dari pot teh yang transparan. Sahabatku, Ling, mengirimkan dua paket teh Chrysant kering dari Tiongkok. Entah apa yang membuatnya berpikir bahwa mungkin aku merindukan teh yang nikmat ini. Dan, dalam beberapa hal, untungnya dia selalu tepat. Rasa rinduku mungkin sudah hampir meledakkan ubun-ubun. Wangi teh Chrysant, warnanya, dan tentu rasanya entah mengapa bisa membuatku senang dan sedikit agresif. Pipiku bisa merona, pancaran wajahku terlihat cerah. Semacam simtom-simtom yang unik. Aku sungguh beruntung pernah dan selalu jatuh hati pada teh ini.

Teh Chrysant mungkin bisa membuat seseorang merasa lebih baik, seperti yang ia lakukan padaku. Namun, seperti yang para Sufi bilang; dalamnya laut sudah dapat diukur oleh kecerdasan manusia. Dan meski sudah sehebat apapun manusia itu, tidak akan pernah bisa mengukur dalamnya hati. Aku mulai mencari tahu, kapan aku bisa mengerti hatiku sendiri dan menjadi tuan rumah bagi kedalamannya. Setelah berjuang untuk menerima apa yang berada di luar ekspektasiku. Setelah memugar kembali harapan-harapan baru. Amran–bisa dibilang satu-satunya harapan yang kuyakini. Meski sekali lagi, orang bijak menyarankan untuk tidak menaruh harapan pada manusia.

Aku percaya pada Amran. Aku menaruh harapan padanya.

Hari-hariku baru saja dimulai. Di sebuah kota yang sebelumnya sudah pernah kujelaskan betapa tidak inginnya aku berada, mengolah napas, tidur dan buang hajat di sana untuk beberapa waktu. Terima kasih, Amran, kau memberikanku tantangan dengan mengajakku tinggal di Jakarta, aku sering berbisik sendiri begitu. Jadi, aku mulai berhenti mengeluh dan mencari-cari lowongan kerja. Apalagi kalau bukan untuk membantu kehidupan kami? Setidaknya, secara praktis, aku bisa membelanjakan buku dengan uangku sendiri. Tidak perlu meminta Amran.

“Uangmu?” tanya Amran. Dia mulai mengernyit. Itu tandanya sebentar lagi dia mulai menyampaikan kritik, “siapa ya yang waktu pacaran bilang, nggak ada uang aku nggak ada uang kamu, adanya uang kita berdua.” Lalu pria tampan itu masuk ke kamar mandi. Aku mengikutinya dan berdiri depan pintu kamar mandi. Sebelumnya, kuhela napas panjang dan mulai menjelaskan,

“Itu bener, Ay. Dan akan terus begitu. Maksudku, aku nggak mau kamu repot-repot nyisihin uang per bulan buat belanja buku aku. Sementara aku tahu, kamu juga perlu beli buku, kan? Kamu perlu saving money juga buat perjalanan mendadak kamu.”

Perjalanan mendadak. Amran tahu apa artinya itu. Selain mengajar di universitas, Amran memang sejak dulu aktif di dunia penerjemahan bahasa Isyarat. Bahkan bisa dibilang, melalui Organisasi relawan itu, kami berdua jadi saling mencintai.

“Kamu nggak suka, kalau aku jadi penerjemah bahasa Isyarat?”

“Siapa sih yang bilang nggak suka?” aku mendengus kesal. “Gini lho, pengeluaran kamu banyak. Oh, pengeluaran itu bahkan bukan literally pe-nge-lu-a-ran kamu, sebagian atau mungkin hampir dominan dari pengeluaran itu adalah kebutuhanku dan harian kita. Karena itulah, aku niat nyari kerja lagi supaya bisa punya pegangan juga. Nggak ada maksud buat misah-misahin ini duit aku, itu duit kamu. Nggak, Suam!”

Amran gebyar-gebyur di kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar dan mendapatiku masih berdiri mematung.

“Kamu mau ngelamar jadi apa? Aku dukung, kok. Aku cuma ngga suka aja kalau kamu bahas belanja buku harus pake uangmu-lah, keperluanmu harus pake uangmu-lah. Apa salah gitu kalo aku berusaha untuk memfasilitasi kamu meskipun pengeluaranku juga banyak?”

Kami saling bertatap. Perbincangan selanjutnya berlangsung sejurus kemudian di dalam hati kami masing-masing. Perbincangan yang dalam, dan tentunya tiada sesiapapun mengetahui kecuali Hyang Gusti.

Aroma tubuh Amran tidak senikmat Chrysant, bahkan setelah dia mandi. Tapi, maafkan aku, Ling. Aku tidak akan pernah menolak aroma tubuh ini meski kau ganti dengan ribuan bunga Chrysant. Dan yang terpenting, aku masih meyakini keputusan prinsipil: aku percaya pada Amran. Dan akan selalu percaya padanya dalam batas-batas yang jelas, yang menamakan kami sebagai manusia.

This entry was posted in Cerita Bersambung, Literatures. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s