#2 Sebuah Permintaan

cerita sebelumnya: Amran dan Mira yang sudah menikah sedang merencanakan blueprint baru untuk kehidupan mereka. Keduanya berusaha untuk menjalani rencana tak terduga dengan sebaik-baiknya. Ternyata, blueprint yang ada tidak terbatas pada rencana karir. Sesuatu menunggu sesudahnya yang akan dibahas dalam bagian ini; momongan.

Setiap harinya Pak Tua Hadi sudah berlari mengangon bebek-bebeknya. Melintasi pekarangan depan rumah, mengangguk jika sempat melirik ke arahku yang berdiri mematung karena takjub akan puluhan bebek berkowek-kowek. Dan pada hari istimewa, aku bisa melihat dua ekor ayam kalkun bercengkrama di teras rumah. Kedua ayam besar itu bersuara besar, serak dan sering batuk. Rumah tua ini terlalu banyak memberi kenangan nuansa pedesaan. Sesuatu yang segera akan kurindukan di Jakarta bersama Amran.

***

Ah ya, dunia nyata. Selamat datang pada kehidupan pernikahan muda.

Beberapa waktu sebelum keputusan kami untuk pindah ke Jakarta diisi dengan silaturahim berkepanjangan. Salah satu dari kerabat yang cukup dekat dan memberi pengaruh cukup signifikan dalam hubungan kami adalah Anggi dan suaminya. Keduanya juga baru menikah, tidak lama setelah pernikahanku dengan Amran berlangsung. Cerita tentang asmara mereka bisa jadi lebih melankolis dari pada seluruh rangkaian jatuh cintaku dan petualanganku menggapainya nun jauh dari Kyrgyzstan. Dan sepanjang hidupku berada di Solo, Anggi merupakan satu-satunya kerabat yang mengerti jalan panjang penuh liku. Kami bergerak bersama, bergandengan tangan.

Aku tidak pernah menyadari bahwa dua hal akan terjadi begitu pernikahan usai dihelat; pertama, orang akan menanyakan ke mana sepasang pengantin akan melangsungkan pernikahan. Dan kedua, kapan akan punya momongan?

Momongan.

“…kebetulan aku tidak pernah ditanya soal itu,” jelas Anggi suatu malam ketika aku main ke rumahnya. Kami sedang menyiapkan bahan masakan untuk sajian makan malam. Sebuah perayaan sederhana bagi dua keluarga muda yang belum dikaruniai gelak tawa anak kecil. Usia Anggi terpaut beberapa tahun di atasku, begitupun suaminya. Leganya, mereka tidak tampak terburu akan momok yang satu itu; kehamilan.

“Mungkinkah karena suamiku anak terakhir?” Anggi mengangkat bahunya. Sementara jemari lentiknya sibuk mengupas kulit bawang merah. Mataku tertuju padanya namun tidak merespon jawabannya sedikitpun. Anggi sedikit melirik meski akhirnya kembali fokus pada bawang merah. Tidak sampai dua menit dia mulai bicara, “Ah sudahlah. Amran kan anak pertama, Mir. Kupikir wajar jika mertuamu meminta agar kau segera hamil. Jawab saja ‘YA’ lalu anggap angin lalu.”

“Yeah,” akhirnya suaraku mengalir juga. Sulit rupanya menahan emosi ketika membahas perkara yang satu ini. “Salah satu temanku bahkan pernah berkata, mereka yang suka nanya-nanya kapan hamil itu nggak mikir ya. Mereka pikir punya anak itu kayak bikin kue apa? tinggal ngadon terus bunting?” begitu gayaku meniru ucapan teman. Kami berdua tergelak.

“Biarkan orang lain berharap dan menyampaikan harapan mereka. Kita bisa menyimpan ucapan mereka sebagai doa dan usaha. Lagipula, jika aku di posisimu, bisa jadi aku adu pendapat dengan mertuaku.” ujar Anggi. Dia selalu membuatku bangkit, menanamkan sesuatu yang dikatakan ahli psikis sebagai sugesti positif.

Sudah ada dua perempuan yang mengatakan bahwa, karena suami mereka anak terakhir maka ibu mertua mereka tidak menanyakan soal anak. Mereka bahkan diminta untuk fokus pada karir dan jangan terburu memiliki momongan. Kondisi ini, bisa dibilang karena sang mertua sudah kenyang dengan cucu-cucu dari anak pertama mereka. Sedangkan kondisiku, posisiku, harus menerima kebalikannya.

Kau tidak akan bisa membayangkan ketika ibu mertuamu suatu hari bertanya penuh selidik,

“Kamu lagi solat hari ini?” pertanyaan itu berusaha mencari jawaban atas pertanyaan lain yang sebenarnya ingin ia tanyakan namun tidak mampu berterus terang. Apakah kamu sedang menstruasi atau tidak sedang menstruasi?

Suatu malam aku pernah ditanya begitu dan responku cukup tenang.

“Hmm…kebetulan sedang menstruasi, Bu. Jadi, belum bisa solat. Baru dua hari ini, kok.”

Ibu mertuaku menarik senyum simpulnya dan memintaku duduk berhadapan dengannya. Sejurus kemudian, beliau sudah memberikan banyak sekali masukan tentang “tidak perlunya” menggunakan alat kontrasepsi, KB dan segala hal yang berujung pada satu pemahaman: jangan tunda kehamilan.

Saat itu darahku berdesir-desir dan degup jantungku tak karuan. Aku tidak pernah dinasehati seperti ini, bukan, bukan nasehat, aku lebih merasakannya sebagai: sebuah permintaan. Ibu kandungku bahkan mengatakan sebaliknya; jalani pernikahanmu dengan bahagia. Urusan anak adalah hak Tuhan, biarkan semua kebahagiaan datang pada masanya. Tidak ada istilah menunda atau tertunda, semua itu kembali pada “Apakah Tuhan mengizinkanmu memiliki keturunan dari rahimmu secepatnya, nanti atau tidak sama sekali.”

Segenap kekuatan kukumpulkan bukan untuk menjawab ucapan ibu dari suamiku yang amat kucintai. Melainkan untuk menghela napas, menahan air mata takut dan nervous. Aku terus mendengarkan apa yang ingin beliau sampaikan dan membiarkannya melalui kedua gendang telingaku dengan damai. Pada menit-menit mendebarkan kemudian, saat ibu mertuaku mengatakan, “jadi jangan tunda kehamilan. Dulu saya dinyatakan hamil Amran, tidak jauh dari hari pernikahan.”

Kugenapkan doa dalam jiwa, seakan-akan angin penuh cinta dari Kilimanjaro berhembus kuat namun lembut. Atau serpihan salju pegunungan Tibet yang dingin mencoba mencairkan amarah dalam sanubari. Pokoknya, segala sesuatu yang bisa memberikan efek tenang, kedamaian, kelapangan jiwa.

“Punya anak itu dari usia muda. Seperti saya, usia 21 sudah hamil, sekarang baru masuk usia empat puluhan, anak sudah besar-besar…”

Aku menangguk. Tersenyum. Lalu mengangguk lagi.

Bukan perkara ingin cepat atau tidak cepat. Tapi, Oh Yang Maha Pengasih. Mengapa pemikiran Ibu mertua selalu berbeda dengan ibu kandung?

This entry was posted in Cerita Bersambung, Literatures. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s