#1 Blueprint

Jiwa boleh memilih. Sama halnya ketika aku memutuskan untuk meninggalkan zona nyaman. Memilihmu, menjabat erat tanganmu dan kita berlari. Jiwa boleh menampik. Boleh menyusun prioritas mana untuk diperankan. Jiwa adalah akibat dari ruh yang menyesap masuk ke dalam raga. Jiwa adalah suatu tindakan, sikap. Dia tidak sakral seperti yang dianggap kebanyakan orang. Jiwa bisa menjadi termangu dan beku. Namun Jiwa bisa merasa hangat dan mampu mencair jika berpaling pada kesejatian Ruh. Jiwa dan Ruh begitu berbeda. Suatu keniscayaan bagi Jiwa untuk terus mempertimbangkan lalu memutuskan. Hendak menaati fitrah Ruh atau sedikit berkompromi dengan kehendak raga. Kehendak, sesuatu yang tiada terperi. Tiada berbatas kemasyukannya. Jiwa, Ruh dan Raga mungkin terus bergejolak. Jiwa selalu terombang-ambing. Di antara tempaan Ruh dan godaan Raga. Namun ia bisa menjadi sangat stabil, saat godaan itu dengan mudah ditolaknya. Jiwa yang ikhlas. Jiwa yang mengalir dalam cinta tak bersyarat.

***

Jadi,

“Kita nggak punya banyak pilihan, Ay.” jawab Amran. “Terserah kamu deh mau gimana.” jawaban itu. Sudah dua kali dia bilang ‘terserah’. Itu artinya batas sabar Amran mulai tersentil. Kalau boleh disamakan dengan ‘warning light’ yang ada di Audio Mixer, mungkin warna merahnya sudah kedip-kedip. Amran tidak bisa marah besar. Pacaran tiga tahun cukup mengajarkanku tentang kesabaran yang dimilikinya. Kecuali kata ‘terserah’ yang jika sudah dua kali terdengar maka, “Maaf, Ay. Aku cuma stres kok.” itu andalanku. Amran angkat bahu. “Stres kok dipelihara,”

Amran akan berkeliling di dalam rumah sebentar sambil memainkan HayDay. Begitu emosinya sudah menurun, dia mulai mendekatiku. “Mau cerita stresnya kenapa?”

Nggak kenapa-kenapa. Cuma nggak habis pikir aja. Aku nggak pernah berharap lho bisa tinggal di Jakarta, lagi. Aku bosen, Ay. Dari lahir aku di Jakarta, lho. Kita kan mestinya bisa tinggal di luar pulau Jawa.”

“Kamu nggak pernah berharap punya karir di Jakarta atau tinggal di Jakarta. Sama seperti kamu tidak pernah berharap punya suami orang Solo. Nyatanya, kamu jodoh sama aku yang Solo tulen dan jadi dosen di Jakarta. Terus kamu mau berbuat apa, Sayang?”

Intonasi Amran sudah agak tinggi.

Belum ada yang berubah dari perpindahan ini. Blueprint yang dibuat sebelumnya harus bergeser, kami membuat blueprint lain. Tema besarnya: aku harus mendapat pekerjaan baru dan Amran harus mencari pekerjaan sambilan. Pada hari dan jam tertentu, Amran harus menyiapkan diri mengajar. Perpindahan ini setidaknya membuat perseteruan awal kami menjadi pembuka yang klasik. Masalah kecil, masalah sepele, sesuatu yang kerap diungkit dan disesali. Meski sesudahnya kami membiarkan masalah klasik itu terlupakan. Kami berdua sudah sepakat menjalani blueprint yang lebih meradang.

“Oke.” ujarku pada akhirnya. “Blueprint terbaru adalah komitmen. Aku berusaha banget nih supaya bisa ngejalanin sesuai rencana.” Amran mengangguk, jemarinya membentuk huruf O di antara telunjuk dan ibu jari. Matanya masih terpaku pada layar smartphone. Mencoba fokus pada permainan tanam menanam dan penjualan barang-barang pertanian padahal sudut matanya jelas-jelas mengharapkanku mendekati tubuhnya.

“Aku bangga sama kamu, Ay.” ucapku dengan mendaratkan kecupan di pipi Amran. “Mungkin aku suka ngeluh, tapi aku cuma mau melegakan perasaanku aja. Semoga kita betah di Jakarta. well, aku maunya milih Anies-Ahok tapi pilihan pasangan itu nggak ada.”

“Kok jadi pilkada, Ay?” Amran mengernyitkan dahi.

“Biar kamu nggak ngambek lagi, Bos.”

Seulas senyum di wajahnya. Ia dan HayDay semakin menggila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s