KUBUR

Cerpen ini dimuat di Harian Joglo Semar Minggu, 8 Januari 2017

MASUK pada jalan panjang terjal. Kujumpai lumut-lumut hijau, menghitam saking lembabnya. Padahal, panas pagi sudah menyebar cukup rata. Aku biasa menikmati punggung seorang lelaki dibalik celah rumput-rumput pohon tebu. Bahkan sampai ia giring kerbau bodoh milik pak Wo ke aliran sungai Bengawan dan memandikannya di sana.

            Adalah Kardi. Pewaris tunggal kerbau bodoh tadi. Ia tak punya siapa-siapa, pun tak diberi warisan lain dari orangtuanya. Hanya kerbau bodoh milik pak Wo yang terus menerus diberinya makan. Seakan-akan tak bosan ia mencari makan untuk binatang itu—demikian pula si kerbau, tak lelah ia melumat dan buang tahik di mana-mana. Mungkin sebab ketulusannya, memberi pakan buat si Bodoh dan efek tahik kering bercampur lumut berbaur dalam langkah yang kupijak, menjadikanku tergila-gila padanya. Meski kata orang, rasa cintaku takkan mungkin berbalas. Kardi tak suka pada orang gila. Siapapun di sini tak suka, kurasa begitu.

            Kupikir, bagaimanapun aku, tetaplah lebih menarik dari pada kerbau itu. Sepasang susu milik kerbau mungkin bisa menghasilkan susu namun tak mampu menarik birahi. Makanku pun hanya nasi kering yang biasa dijemur warga di atap rumah mereka. Jadi, Kardi tak perlu mencari rumput di hutan buat hidangan sehari-hari. Semua orang akan berbondong-bondong memberi nasi basi buatku, menaruh di depan rumahku kelak (jika aku bersanding dengan Kardi).

            Ini kali lain kesempatan, aku terbangun saat gerombolan penjaga hutan yang dilepas tuannya menyergap wajahku dengan liur mereka. Bisul-bisul matangku pecah. Mereka keasikan menyeruput. Ya, kubiarkan saja. Ingat dulu kecil, nasehat para wali, kita mesti jadi rahmat bagi semesta. Maka, dengan helai goni kasar yang menjadi alas tidurku, kuusir mereka sebelum dilumat pula hidungku! Kukibas kain gatal berdebu ini pada moncong mereka dan pergilah akhirnya.

            Seperti biasa aku akan berjalan lagi. Menempuh bebatuan terjal penuh lumut dan ya, lagi-lagi tahik kering si Bodoh. Semua demi memenuhi hasratku menjumpai Kardi. Menikmati sentuhanku sendiri saat kubayangkan tubuh gagahnya menjamah tepat di depanku. Aku sudah pasang posisi, di balik rerumputan pohon tebu, menggesek-gesek pada salah satu batang favoritku. Ah, Kardi. Semampai. Namun jauh. Makin jauh Kardi, makin kurasa haus tuk mengintip. Ia takkan membosankan. Selalu nikmat kurasai, meski jarakku bertepi. Lalu, tangan Kardi akan gemulai menggosok kulit si Bodoh dengan pelepah Honje[1] yang ia dapatkan di hutan.

            Tentu aku hanya bisa menikmati Kardi diam-diam dan mungkin akan selamanya begini. Di desa, Kardi terkenal sebagai pemuda gigih. Pendidikannya tidak tinggi namun ia kekar dan bertenaga. Ia kuat mengangkat tebangan pohon kelapa sendirian. Perempuan desa lainnya suka menaksir Kardi. Melirik lelaki itu saat memandikan si Bodoh atau berpura-pura membenahi tudung kepala ketika berlalu di hadapan Kardi. Dari semua perempuan itu, tiada yang disukai Kardi kecuali seorang gadis  yang awalnya bahkan tak mau melirik lelaki itu sebab status sosial Kardi yang tak mampu membahagiakannya di masa depan. Gadis itu salah satu kemenakan kepala desa dan Kardi jatuh cinta padanya. Hampir tiap hari kulihat Kardi berusaha menunggu si gadis di samping balai desa. Ia sudah mengumpulkan bunga-bunga dandelion yang menyebar di hamparan bukit dan merajutnya menjadi bandana cantik untuk si gadis. Ketika perempuan itu keluar dengan mengayuh sepedanya, Kardi akan mencegat di jalan. Mereka akan terkesan berpapasan tiada disengaja dan perempuan yang mulanya memicingkan mata itu, sebab kegigihan Kardi memberinya dandelion dan mencegatnya di jalan menjadikannya jatuh hati pada pemuda itu. Lantas mereka terlihat beriringan suatu sore, kemudian sore berikutnya dan begitu seterusnya sampai kupingku hampir tuli mendengar gosip tetangga tentang Kardi. Mereka membicarakan dari kekurangajaran Kardi, bagaimana seorang pemuda desa tak berpunya berkhayal memiliki Suroya si kemenakan kepala desa.

            Meski pada dasarnya Kardi tahu betul, Suroya bakal dikawinkan dengan seorang pengusaha. Yang kemudian pengusaha tersebut menjarah banyak sekali hasil perkebunan masyarakat. Menjadikan para pemuda—salah satunya Kardi sebagai buruh. Maka dimulailah hari-hari Kardi sebagai buruh kasar seorang pengusaha yang juga sebagai calon suami dari Suroya.

            Tidak ada yang bisa mengerti perasaan Kardi kecuali aku. Kudengar ia bersiul-siul tiap pulang dari ladang menuju gubuknya yang ditata rapi bahkan semakin rapi jika hendak membawa Suroya bermesraan di dalamnya. Aku akan mencari celah di mana dengan leluasa bisa kupastikan Kardi-ku berbahagia di dalamnya bersama Suroya ataukah gadis itu mempermainkan lelakiku, memberinya harapan dan lantas meninggalkannya. Kenyataannya, Kardi masih merasa menang sebab Suroya belum menikah dan masih ingin bermain ke gubuknya.

            Suroya dan Kardi selalu mencari waktu-waktu yang sempurna bagi mereka untuk berjumpa. Sisi kantor balai desa sudah tidak menjanjikan. Banyak mata-mata dari pengusaha besar. Maka Kardi-ku tak kehabisan akal. Ia menanti Suroya di balik bukit penuh dandelion, jauh, jauh sekali dari pepohonan jati dekat proyek besar si pengusaha dijalankan. Di sana mereka akan memadu kasih. Aku bisa mendengar Suroya mendesah-desah dan Kardi merayu-rayu. Aku bisa menatap jemari Kardi yang besar dan kasar, (yang semestinya menjamah tubuhku) menelusuri kemolekan Suroya. Aku memastikan dan membayangkan bahwa yang disentuhnya adalah aku, terus begitu sampai pada pertemuan selanjutnya aku tak mendapati Suroya menemui Kardi di balik bukit.

            Kardi-ku sudah menanti Suroya selama berjam-jam. Apa boleh buat, Suroya tidak datang dan Kardi kembali lemas ke gubuknya. Dia kembali menunggu Suroya keesokan hari dan hasilnya masih sama. Selama berhari-hari hingga berpekan-pekan Kardi menanti, Suroya tidak datang. Ia pergi ke tempat pekerjaan proyek besar si pengusaha dan mendapati Suroya sedang duduk di sana, di sebelah si pengusaha dengan raut muka penuh kemalangan. Kardi menjadi tahu, lepas ia tak berjumpa sekian lama rupanya Suroya sudah dipersunting orang.

            Selanjutnya aku yang kelimpungan. Aku tak menemui Kardi di Bengawan. Si Bodoh pun tak nampak batang hidungnya. Kardi juga tak menanti Suroya di balik bukit dandelion. Ia tidak berada di proyek besar si pengusaha. Maka dengan memberanikan diri, aku mampir ke gubuknya. Dari celah biasa ku mengintipnya, Kardi sedang bertelungkup di atas jerami, tak bergerak sesenti pun. Aku membuka pintu gubuk reyot berbunyi itu, membuatnya terkesiap dan mengerjapkan mata.

            “Mau apa kamu, Marlem?”

            “Aku mau memastikanmu masih hidup.” jawabku. Itu yang ada di dalam pikiranku. Dan entahlah, patut dibilang apa, ia tidak mengusirku seperti kebanyakan orang. Ia duduk terhenyak memandangku dengan pasrah. Ia melihat susuku yang menggantung tak berbalut sebenangpun, sehelai daunpun. Bola matanya menyusur keningku hingga ubun-ubun yang hampir pitak dan kutuan di sana-sini. Kardi bangkit dari tumpukan jerami, merengkuh sosorong[2] dan mengisinya dengan air lalu memberikannya padaku. Setelah melihatku menegak air, ia menutup tubuhku dengan sarungnya. Lalu menyuruhku pergi.

            Begitu saja. Mulai hari itu, Kardi resmi menjadi belahan jiwaku dengan paten (dalam persepsiku) dan aku berbahagia menerima anggapan itu. Tak peduli apa kata Kardi sendiri dan mungkin orang lain. Ia memperlakukanku dengan baik dan sangat manusiawi. Namun, hari-hari berikutnya aku kembali bergumul sendiri dengan tanaman tebu tanpa melihat sosok Kardi dan punggung bidangnya. Aku tak berani mengetuk gubuknya, sampai kupaksakan diri untuk melakukannya. Kardi tidak menjawab. Kali ini aku lancang sekali—masuk melangkahkan kakiku ke dalam gubuk dan mendapatinya tersungkur dengan muka membiru. Kardi-ku yang malang, Kardi-ku sakit keras.

            Kardi tidak bisa bergerak sama sekali. Aku yang menggotongnya dengan sekuatku dan mencoba tak menodai wajahnya yang tampan dengan bisul-bisul pecahku yang menetes. Berhari-hari ia kurawat, aku menikmatinya sebagai hari-hari terbaikku dan mungkin hanya bisa kulalui sampai beberapa saat lagi. Aneh, aku sedih melihatnya menderita namun aku berbahagia bisa menjadi yang seorang di sisinya.

            Kebahagiaanku runyam ketika Suroya dengan perut buncitnya datang menemui Kardi dan mereka berbincang panjang lebar. Kardi-ku hidup kembali setelah itu. Mereka mulai masyuk dan berjumpa di waktu-waktu tertentu. Kardi tak mengingatku, ia sudah sembuh, menikmati dengan lega bersama Suroya.

            Maka aku kembali pada posisi pertamaku sebagai seorang pemerhati. Pengintip. Suroya sudah dua hari tidak kembali ke rumah dan orang-orang di balai desa mulai mencarinya. Suaminya, si pengusaha itu mengerahkan tenaga buruh—para teman Kardi. Mereka menelusuri hutan, melampaui bukit dandelion, menerjang malam dengan obor-obor menyala di tangan sambil menyeru-nyeru nama Suroya. Aku bisa merasakan kekhawatiran kedua insan dimabuk asmara itu di dalam gubuk reyot milik Kardi. Aku pun turut khawatir, menjadi takut sejadi-jadinya hingga aku berani keluar saat kerumunan orang berobor itu hendak membakar gubuk Kardi. Oh Kardi-ku yang malang. Orang-orang itu hendak membakar gubuknya jika Suroya tidak kembali pada suaminya.

            Mereka lebih memilih untuk mati berdua. Saat gubuk itu akan dibakar, aku berlari hendak menghadang. Namun orang-orang itu tidak mendengarkan. Mereka terus mengancam, terus berteriak seperti tak menggunakan akal mereka untuk berpikir—sekedar mempertimbangkan. Gubuk yang terbakar itu menyala-nyala di kegelapan malam dan hutan. Hanya dengusan si Bodoh yang terdengar, seperti hendak melolong—si Bodoh ngacir meninggalkan Kardi. Pemiliknya yang selama ini setia memandikannya.

            Puas membakar gubuk itu. Puas menghukum istrinya yang berselingkuh. Puas melenyapkan jejak-jejak bisu romansa dua insan terlilit percintaan terlarang. Para buruh si pengusaha itu kembali ke rumah mereka masing-masing. Hingga asap pembakaran sudah tak begitu menyengat dan serpihan kayu serta jerami-jerami mengering, embun malam pun menyesapkan api. Hanya aku yang masih berdiri di sana. Berharap Kardi masih bisa keluar dengan selamat. Aku tak mampu mengintipnya kali ini.

***

SAMBIL merengkuh pusara Kardi, Marlem mendesah lirih penuh sukacita, “Ke mari sayangku. Kuburmu adalah tempat sejatinya hidup. Dengan begitu, tiada lagi yang mampu menghalangi Kasihku padamu. Hanya kamu, aku dan rumah baru kita ini.”

[1] Sejenis tanaman dikotil yang buahnya biasa dijadikan bahan untuk membuat kuah sayur asam dan pelepahnya digunakan untuk mandi di sungai.

[2] Gelas yang terbuat dari bambu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s