Buku Diskonan, Jangan Ditolak!

Persiapan!

Sepertinya doa kedua orang tua kami mulai terlihat jelas. Doa agar kami bisa bertualang di sebuah kota sesak dan belajar banyak di sana. Saya harus kembali lagi ke Jakarta di pertengahan Februari besok sementara Suami menyusul di akhir Februari. Kami akan menemukan sisa-sisa kekuatan untuk bisa dihimpun kembali. Keluarga menjadi tenaga terkuat untuk menghalau keresahan hati akan polemik kehidupan di Ibukota; panas polusi, macet, kepadatan penduduk, harga-harga kebutuhan pokok hidup yang tinggi serta pergesekan ambisi manusia. Jujur memilih saya tidak mau kembali ke Jakarta. Itu target saya sejak kuliah semester akhir. Namun dua kondisi membuat saya harus ke sana: pekerjaan suami dan keluarga. Saya bukan siapa-siapa dan belum jadi apa-apa. Keluarga tidak membutuhkan saya, namun saya yang butuh dekat dengan mereka. Kedekatan ini harus bisa membuahkan hasil untuk masa depan adik-adik saya yang masih sekolah dan kuliah. Bagaimanapun, jika semua perjuangan ini sudah dikerjakan rapi dan sabar, Tuhan pasti memberi saya celah untuk meraih mimpi saya yang lain; stay out of comfort zone.

Tidak berbeda dengan pasangan suami isteri yang lain, yang hendak pindah rumah, saya mulai mengemasi buku-buku saya untuk pertama kali. Ya, buku adalah barang-barang yang pertama kali mesti dikeluarkan dari rak, dibersihkan, dan disusun rapi ke dalam kardus kering supaya tidak jamuran. Kalau urusan yang satu ini sudah beres, baru pindah ke pakaian, dan terakhir peralatan rumah.

Mengemasi buku berarti membuka kenangan pula sewaktu membacanya. Seperti roll film, bayangan ketika membaca buku-buku tersebut mulai berseliweran. Ada buku yang saya baca sewaktu merasa kesepian. Tidak sedikit buku yang menjadi teman belajar untuk merampungkan tugas kuliah (beberapa bahkan masih ada di teman, hilang atau saya lupa siapa yang meminjam). Makin lama saya makin larut dalam kenangan sewaktu kuliah. Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa saya memborong buku-buku kuliah ke rumah kontrakan di Solo? Kenapa tidak dibiarkan di Jakarta begitu lulus?

Oh, pembaca yang budiman, saya lulus dari UNS Solo tahun 2015. Semester akhir hidup kala itu saya habiskan di sebuah rumah khas Jawa Tengah milik calon mertua (kini alhamdulillah sudah menjadi mertua). Kedua orangtua saya yang murah hati itulah yang mengizinkan saya ‘mengontrak’ gratisan. Listrikpun dibayari. Mereka bilang, “Tinggalah di rumah ini dengan damai. Bapak sama Ibuk malah seneng ada yang ngurus rumah warisan ini. Ndak usah mikir biaya, kuliah aja yang bener, ndang lulus, ndang nikah sama Angga. Nanti kalian boleh tinggal di sini sementara. Barang-barangmu ndak usah dibawa pulang ke Jakarta kalau sudah lulus, taruh di sini saja.”

Begitu kurang lebih ceritanya, hehehe. What a lucky girl I am!

Jadi, buku-buku kuliah saya, pakaian-pakaian zaman kuliah, foto-foto, sertifikat-sertifikat itu malah lengkap di sini, di rumah warisan milik mertua ini. Kini sudah saatnya bagi saya mengemasi barang-barang pribadi saya. Mengingat, kasur, kulkas, beberapa piring makan, dan peralatan rumah lain milik mertua, jadi sepertinya hanya buku, pakaian dan beberapa alat masak yang diborong ke Jakarta.

Well, kembali ke buku.

Buku-buku yang dibeli semasa kuliah tidak melulu buku baru. Kalau Gramedia Bookstore atau Togamas (keduanya di Jl. Slamet Riyadi) sedang ada pameran buku obralan saya suka belanja juga. Nah, waktu itu blog saya masih di blogspot. Belum tahu kalau pakai wordpress ternyata (menurut saya) lebih nyaman. Saya tulis beberapa resume buku yang sudah dibaca ke blogspot. Kini, sudah saya hapus karena mau fokus ke wordpress saja.

Ketika berbenah, saya menemukan buku-buku diskonan. Apa pemirsaaah?? Ya, buku diskonan!

p_20170112_104837
Buku Cerita Anak dan Remaja Balai Pustaka serial Sejarah Perang dan Dongeng, dokumentasi pribadi

Kebetulan sekali dengan posisi seorang istri yang sedang menyiapkan diri menjadi ibu yang baik (baca: saya). Dulu saya sudah baca-baca buku macam itu lho. Alasannya simple. Saya bandel, saya tahu betul pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Meskipun sudah berdoa semoga kelak anak turunan saya tidak “keras kepala” kayak saya, tidak “mudah emosi” dan tidak-tidak yang lain, saya tetap merasa, riset itu perlu. Ada beberapa buku lagi tentang “cara mendidik anak” tapi disimpan di Jakarta. Buku-buku tersebut saya dapatkan dengan harga cukup murah dan murah banget. Ada yang diskonan ada yang bener-bener asli (misal terbitan periplus yang sudah diterjemahkan, tahu lah ya harganya. cukup merogoh dompet).

Tiga buah buku yang jadi foto di muka adalah seni bagi orang tua dalam menghadapi anak. Anak yang sulitlah, anak yang bersikap wajar, anak yang bersikap luar biasa dan sebagainya. Pada kesempatan ini saya belum bisa memberi resume dan review. Baru bisa memposting foto bukunya saja.

Selain itu, beberapa buku bacaan untuk anak dan remaja juga saya dapatkan dengan harga miring. Membeli buku bacaan untuk anak dan remaja juga salah satu upaya untuk mendidik anak-anak kelak (jika Allah mengizinkan). Semuanya kebanyakan terbitan Balai Pustaka. Kenapa? Balai Pustaka menurut saya paling konsisten menerbitkan buku era perjuangan, hikayat dan mengangkat kenusantaraan. Jadi, bukan cuma Indonesia saja. Buku-buku ini saya beli di Toko Buku Rindang milik sahabat saya, Soetanto Ari Wibowo. Beliau juga penulis dan perhatian terhadap pendidikan anak-anak melalui buku-buku yang ia jual.

Buku Cerita Anak!

Sedikit cerita saya tentang ambisi mendidik anak kelak dengan buku-buku lawas. Pada saat itu, saya duduk di bangku SD kelas 4. Murid pindahan dari Jakarta Barat ke sebuah kota yang tidak terkenal dan saat itu masih kering, bersawah dan ber-rawa (tulisannya gimana ya, berawa apa ber-rawa), bernama kota CIKARANG. Saya langsung merasa jaim karena di Jakarta Barat saya terbiasa dengan mall, kedai-kedai dan bahkan cafe deket rumah yang digandrungi remaja dan anak-anak. Sementara saya akhirnya pindah ke Cikarang, kota panas, jauh dari Jakarta, nggak ada cafe gaul sama sekali saat itu. Di sekolah saya suka menyendiri, sempat juga jadi korban bullying karena dulu innocent. Tempat pelarian saya dari gundah dan ketidakbetahan di sekolah baru saya adalah Perpustakaan.

Perpustakaan SD Al-Azhar 12 Cikarang masa itu tidak besar. Mungil. Dengan dua buah ruangan yang berbeda fungsi dan hanya disekat oleh papan kayu yang dicat kuning gading. Ruangan yang satu lebih besar karena difungsikan agar murid-murid bisa menonton tayangan dari VCD ilmu pengetahuan. Saat itu yang sering diputar ya VCD nya Harun Yahya dan tutorial bahasa Inggris yang didapat dari pembelian buku TOEFL.

Pustakawannya bernama Bapak Syamsi Atorida. Namanya aneh, batin saya. Atorida itu nama orang mana ya? Saya tanya ke papi, beliau bilang nama Atorida itu kalau tidak salah nama orang Batak. Lalu saya berkelit, “Orang Batak kok dikit-dikit ngomong Sunda? Logatnya juga Sunda?” tanya saya lagi. Maklum, saya ini JANDA (Jawa-Sunda). Papi menjawab lagi, “Bisa aja karena kelamaan di Cikarang, kakak.” yeah pokoknya begitu.

Pustakawan yang orang Batak dan berlogat Sunda ini mulanya hanya menebar senyum. Beliau memang murah senyum. Siapapun murid yang duduk di perpustakaan meskipun tidak membaca tidak bakalan diusirnya. Sebaliknya, kalau beliau melihat ada murid yang khusyuk membaca, malah disodorkan buku-buku lain.

p_20170112_104536
Buku Cerita Anak dan Remaja Balai Pustaka serial pahlawan, cerpen, novel, roman dan novel komedi.

Pustakawan yang tidak bawel, tenang dan murah senyum. Didukung AC ruangan, sempurnalah sudah perpustakaan yang dulu bernama PSB (Pusat Sumber Belajar) bagi saya.

Berkali-kali saya mampir ke PSB. Pak Syamsi hanya menjawab salam, mengangguk dan tentunya mengulas senyum. Beliau kemudian menulis lagi. Merapikan buku ke dalam rak, dan keluar-masuk PSB entah menemui siapa. Meskipun di Jakarta saya merasakan benar kemajuan sosialnya, tapi di SD negeri tidak saya jumpai perpustakaan. Seingat saya hanya sebuah ruangan laboratorium yang campur aduk dan berdebu. Lebih sering dibuat kelas drama atau musikalisasi daripada membaca. Justeru di Al-Azhar ini saya melihat bentuk lahiriah dari Perpustakaan yang selama ini hanya didongengkan mami melalui buku cerita.

“Miranti, pinjam saja bukunya. Boleh kok.” tiba-tiba Pak Syamsi menyapa saya. Mungkin tidak sengaja melihat saya yang kecewa karena baru asyik membaca tahu-tahu sudah bel masuk kelas. “Boleh dipinjam,Pak?”

“Iya. Bawa sini.” Beliau memanggil. Saya menghampirinya yang sedang duduk menghadap tumpukan buku di atas meja. “Ini buku-buku yang dipinjam anak-anak lain. Kamu belum pernah pinjam ya?” tanya Pak Syamsi. Saya menggeleng. Beliau meminta buku yang akan saya pinjam dan membuka halaman sampul belakang bagian dalam. Wow, di situ tertera nama murid-murid yang meminjam, tanggal peminjaman dan kapan harus dikembalikan. Akhirnya saya segera membawa buku tersebut dan kembali ke kelas. Belum sempat ngacir ke kelas, Pak Syamsi mengamanatkan sesuatu yang sejujurnya saya langgar kemudian, “Ingat ya, jangan baca buku pas pelajaran berlangsung.” Padahal baru saja saya semangat akan membaca buku ini saat pelajaran matematika. Saya menelan ludah dan mengangguk di depan pintu kaca PSB, “iya Pak.”

Melalui Pak Syamsi, saya mengenal buku-buku terbitan Balai Pustaka. Buku yang tipis tapi sarat kata dan sarat makna. Setiap pergantian bab terdapat goresan sketsa ilustrasi cerita
. Semua masih hitam putih. Memberikan saya kesempatan untuk berkhayal seperti apa sebenarnya tokoh ini, tokoh itu. Sejak itu saya menyukai sastra. Sesuatu yang diujar berkali-kali oleh Chairil Anwar. PSB dan buku-buku terbitan Balai Pustaka pula yang menginspirasi saya menulis puisi. Sampai-sampai saya memenangkan juara I mengarang puisi tingkat SD Al-Azhar 12 Cikarang dalam rangka Bulan Bahasa. Mengalahkan “pujangga” tahun sebelumnya yang juga kakak kelas saya waktu itu, Irgantara Pratama.

Kalau diceritakan sebenarnya masih panjang, tapi intinya buku-buku bacaan anak dan remaja terbitan BP (Balai Pustaka) are the best. Itulah mengapa saya pingin menularkan kenangan sekaligus keasyikan ini kepada anak-anak saya kelak.

Buku cerita anak dan remaja BP saya beli dari teman saya dengan harga sangat murah. Kalau beli satu buah harganya lima ribu. Kalau beli banyak, lebih dari selusin, harganya tiga ribu saja. Jadi, dengan sangat berbahagia waktu itu saya borong beberapa judul pilihan. Beberapa bertema perjuangan pahlawan masa kolonial dan perang kemerdekaan. Beberapa tentang kehidupan putra-putri bangsa Indonesia dari berbagai etnis dan agama.

Yeah, jadi sambil mengemasi barang pindahan, sembari mengenang masa-masa Indah kanak-kanak tidak apa-apa kan?

Tunggu review saya tentang buku-buku ini ya. Semoga bermanfaat untuk referensi Anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s