Surga di Dunia, Surga di Akhirat

Undangan pernikahan yang datang ke rumah kita tentu membuat kita memanjatkan doa, “semoga pernikahan si Fulan dengan si Fulan menjadi pernikahan yang sakinah mawaddah warahmah.” Begitu banyak orang mengucapkan doa tersebut namun tidak sedikit yang tidak memahami artinya. Buku “Surga di Dunia, Surga di Akhirat” menjelaskan sejak mula pembahasan mengenai 3 kata yang sering diucapkan orang-orang ini. Berikut ini sedikit kutipannya:

Sakana memiliki beberapa arti. Diantaranya; diam sesudah bergerak, tetap, menetap, bertempat tinggal, tak ada rasa takut, tenang, dan tentram. Dari semua arti tersebut, memberikan makna bahwa pernikahan yang sakinah adalah pernikahan yang dibangun dengan kondisi orang di dalamnya terlindungi, lalu sebab karenanya kemudian merasa damai, tenang dan tentram serta tidak ingin keluar darinya.

Mawaddah, menurut Prof. Dr. Quraish Shihab bermakna kelapangan dan kekosongan. Menurutnya, seseorang dalam pernikahan terkadang merasa kesal atau marah kepada orang yang dicintainya karena satu dan lain hal. Rasa kesal itu berpotensi untuk memudarkan rasa cinta atau bahkan membuat hubungan menjadi putus. Tetapi dengan adanya mawaddah,hal itu bisa dihindarkan. Sebab, hati orang tersebut sudah lapang dan kosong (mawaddah) dari keburukan terhadap orang yang dicintainya. Dengan kata lain, orang tersebut bisa dengan lapang dada menerima segala hal yang ada pada diri kekasihnya itu.

Sementara Rahmah, memiliki makna yang lebih dalam.Yaitu cinta yang bersifat batin atau hati, sebagaimana kecintaan yang terjalin di antara orangtua dan anak atau diantara anggota-anggota keluarga yang saling mengasihi.

Cinta yang terakhir ini, tidak akan luntur meskipun raga sang kekasih sudah tidak semuda, sekuat dan secantik/setampan di masa muda. Karena, usia melahap segalanya yang bersifat jasmaniah.

Buku ini merupakan nasihat bijak dari Dr. Haidar Bagir kepada anaknya. Maka, pembaca akan merasakan kesan hubungan yang mendalam antara seorang ayah kepada anaknya ketika membaca buku ini. Kalimatnya tidak menggurui bahkan malah menguak hakikat perkawinan secara filosofis namun mudah dicerna. Buku ini hanya berisi dua bab besar. Masing-masing babnya merincikan segala sesuatu yang dirasa perlu dan esensi dalam perkawinan. Dibandingkan buku-buku anjuran merawat pernikahan lain, kiat-kiat praktis yang diberikan penulis di dalam buku ini saya rasa lebih efektif. Buku ini saya dapatkan langsung dari penulisnya Juni 2016 kemarin, dan pada September 2016 saya menikah. Hingga kini, jika saya merasa perlu kembali merenungkan pernikahan saya, saya tidak segan membuka lagi dan lagi buku ini. Sungguh saya amat bersyukur kepada Allah diperkenankan berjumpa Dr. Haidar Bagir dan bahkan dihadiahi beliau karyanya serta doa untuk pernikahan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s