Kumpulan Cerpen “Pertemuan” karya John Galsworthy

shoe-682712_960_720
dokumentasi pixabay

Buku seri fiksi klasik seperti ini hanya akan bisa kita jumpai di toko buku lawas. Kalau sekarang ini mudah ditemui di toko buku deretan dekat Taman Pintar Jogja. Kebetulan sekali saya membelinya secara online. Salah satu toko buku di dekat Taman Pintar itu ada yang punya akun instagram (mungkin semua toko di sana punya akun instagram, saya saja yang tidak tahu). Saya mendapatkan kumpulan cerpen klasik ini dengan amat membahagiakan di bulan Juni.

Hanya terdapat empat cerpen di dalam buku setipis 80 halaman ini:

  1. MUTU
  2. KUMPULAN
  3. PERTEMUAN
  4. KEBAJIKAN

Satu hal yang membuat saya ingin membeli buku ini adalah pengarangnya. John Galsworthy adalah peraih nobel sastra tahun 1932 berkebangsaan Inggris. Ketidakpuasannya terhadap keilmuan yang ia ambil membuatnya berkelana sampai ke Rusia. Meskipun kumpulan cerpen ini mengisahkan sebagian besar kritik Galsworthy terhadap situasi sosial di negaranya, saya merasakan atmosfer Rusia yang cukup kuat.

Dari empat cerpen itu, saya paling suka dengan MUTU, KUMPULAN dan KEBAJIKAN. Sedangkan PERTEMUAN sendiri yang menjadi judul kumcer ini tidak terlalu saya sukai namun memiliki tempat pula di hati saya.

MUTU menceritakan toko sepatu milik penyamak kulit dan pembuat sepatu asal Jerman, Gessler Bersaudara yang dulunya menjadi toko khusus pesanan kerajaan Inggris namun tergerus zaman populer. Bermunculannya toko-toko sepatu lain yang modelnya lebih beragam, pembuatannya lebih cepat, harga lebih murah dan gayanya lebih dinamis namun kualitasnya kurang bagus membuat toko sepatu Gessler bersaudara terlupakan. Tagline dari cerpen ini sangat mengritik kehidupan masyarakat masa kini, “Apakah mutu lebih penting daripada jumlah?”

Membaca kisah MUTU mengingatkan saya pada mami saya sendiri. Beliau bertanya-tanya, mengapa produk rajutan yang dijual di pasaran dengan bahan asal dan kasar malah laku daripada rajutan tangan beliau yang padat, kuat, benang katun asli dan warnanya tidak pudar?

businessman-336621_960_720
dokumentasi pixabay

Cerita kedua adalah KUMPULAN. Tokoh Chalkcroft dalam cerita ini mengingatkan saya pada salah satu sahabat sewaktu SD. Sosok yang nyentrik, warna pakaian tidak nyambung, tetapi amat santun dan pandai. Sayangnya, dari dulu hingga sekarang, manusia mudah menyepelekan kebijaksanaan dari orang yang nampaknya ‘aneh’ dan pantas di-bully. Jika saya berkesempatan memiliki teman seperti Chalkcroft lagi, saya ingin sekali menghabiskan waktu saya belajar dengannya. Cerita KUMPULAN cukup membuat saya mengerti bahwa kebijaksanaan tidak datang dari si mulut besar. Dan, sesuatu yang tampak tak berguna biasanya mengandung mutiara yang tidak pernah dimiliki siapapun sebelumnya. Kejadian dan perlakuan manusia sombong dan banyak bicara pada manusia lain yang dianggap patut diusik justru akan membuatnya makin bercahaya! cerita KUMPULAN sebenarnya tidak hanya mengritik para lelaki yang gemar kongkow, tapi bagus juga untuk mengritik perempuan yang suka nge-gosip. Tagline favorit saya dari cerita ini justru berada di awal paragraf,

“Ketika kaum lelaki bergerombol dalam sebuah kumpulan,” kata H., “mereka kehilangan nalar atas benar dan salah. Setidaknya itulah yang ditunjukkan oleh kehidupan padaku. seorang lelaki saat sendirian sebenarnya lebih dekat pada kebaikan daripada keburukan. saat sendirian, ia jarang berbuat kejam. Ia menyandarkan diri pada perilaku seorang lelaki terhormat.”

Selanjutnya adalah PERTEMUAN. Cerita ini tidak lain menyuguhkan bagaimana tokoh AKU disimbolkan sebagai sikap manusia yang selalu ingin MENILAI.Manusia tidak akan pernah berhenti menilai. Pandangan mereka akan dijejali pikiran-pikiran yang melalang buana. Manusia akan terus mereka-reka sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi dalam benaknya. Itulah inti yang kutangkap dari PERTEMUAN. Meskipun teramat singkat, cerita ini meninggalkan restan mendalam yang cukup humanis. Bagaimanapun seorang manusia menilai, menduga dan memainkan imajinasinya, kenyataan tetaplah kenyataan. Manusia hanya lakon di dunia ini, faktor eksternal-lah yang menjadikan penilaiannya optimis atau pesimis. Bagian yang kusukai dari cerita ini terdapat pada kalimat terakhir cerita,

hands-437968_960_720
dokumentasi pixabay

“…itu semua terlintas di benakku seperti adegan sebuah film. Namun, di bawah meja aku melihat tangan mereka bertaut. Gambaran masa depan dalam bayanganku lenyap. Kebijaksanaan, pengetahuan dan segala sisanya–betapa lembut sentuhan mereka!

Aku bangkit berdiri, meninggalkan mereka di sana. Aku berjalan di bawah pepohonan diiringi suara jeritan burung Merak.”

Terakhir berjudul KEBAJIKAN. Menceritakan Mellesh, seorang pegawai asuransi yang tidak kaya dan membantu seorang wanita lacur yang hampir dijebloskan ke penjara hanya karena tidak sanggup bayar denda.Padahal uang itu harus diberikan Mellesh pada istrinya sebagai liburan mereka bersama sang buah hati. Saya suka dialog klimaks mereka pada bagian ini,

“Kurasa itu adalah sebuah lingkaran yang besar.” Lalu ia menambahkan, “satu dua orang diantara mereka berwajah cantik.”

Istrinya tersenyum. Senyuman yang tampak melecehkan.

“Mereka memperlakukan yang cantik dengan lebih baik, bukan?”

Lalu ia membeberkannya. “salah seorang gadis itu masih amat muda. Dia belum pernah disidang sebelumnya. Mereka akan menjebloskannya ke penjara hanya karena dia tak punya uang. Aku tak tega. Aku membayar dendanya.”

man-390587_960_720
dokumentasi pixabay

O MY GOD! Man! yes, a man! Seorang pria selalu takluk pada kemolekan, pada kecantikan. Pria memang mudah mencair hanya karena perempuan jelita di hadapannya. Berani taruhan ucapan saya tidak benar? Oh, kau salah bertaruh,pembaca yang budiman. Saya  sudah menikah dua kali dan membuktikan bahwa itu benar!

Cerita terakhir Galsworthy di dalam buku ini menunjukkan sisi kerapuhan lelaki yang dianggap oleh seluruh lelaki di jagad alam raya ini sebagai suatu KEBAJIKAN. Kemudian, jika mereka melakukan hal demikian dan mendapat semprot dari pacar atau istrinya, mereka malah menyalahkan pasangannya yang merasa, “tidak menghargai perbuatan baik.” Lelaki seperti ini berpikir istrinya adalah perempuan yang rumit. Padahal sang istri berpikir lebih logis dan sederhana dari pada si suami, “masalah wanita lacur cantik itu bukan urusanmu. dia dipenjara atau tidak, bukan urusanmu. urusanmu adalah berlibur bersama istri dan anakmu dengan uang yang telah kau bayar untuk menebus pelacur itu! Apakah kebebasan pelacur itu lebih membahagiakanmu dari pada melihat anak istrimu berlibur bersamamu?”

Kisah terakhir ini memang membuat saya naik pitam. Mungkin karena saya pernah mengalami hal serupa yang dialami istri Mellesh. Tapi,kembali pada karya Galsworthy, beliau memang pantas mendapat nobel sastra. Dari kisah hidup Galsworthy saya belajar sesuatu sekaligus membenarkan apa yang dikatakan Maman S Mahayana, “Sastrawan yang hanya mengandalkan bakat alam, di zaman modern ini hanya akan mengantarkan dirinya sebatas menjadi sastrawan kacangan. karya-karyanya hanya akan mengangkat masalah-masalah yang dangkal dan tidak bermutu. Ia juga kelak akan kehabisan ide cerita.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s