Pangeran Aradan dari Negeri Bayangan

PERNAHKAH kamu melihat Negeri Bayangan? Tiada seorang pun yang bisa membayangkannya, menyentuhnya ataupun melihatnya secara langsung. Ya, kenyataannya begitu. Jadi sudah pasti jawabanmu adalah tidak. Negeri Bayangan berada di sebuah atmosfer hidup yang lain. Kamu akan kesulitan untuk mencarinya. Bahkan ia tidak tertera di peta dunia!

Percayalah saja kawan, Negeri Bayangan adalah negeri kebaikan. Suatu waktu kisah ini bergulir padaku dan sejak itu aku meyakini betul bahwa Negeri ini ada dan hikayatnya harus kita kenang bersama. Kamu akan kuperkenalkan dengan tokoh utama Negeri Bayangan. Seorang anak muda, seperti kita. Ia bertubuh cukup tinggi, senyumnya jenaka, pakaiannya sederhana dan rapi serta memiliki banyak gagasan. Apakah ia tidak suka bermain di lapangan hingga jauh dari kotor? Tidak, tentu saja tidak, Kawan. Dia seorang anak lelaki yang cinta kebersihan meski suka bermain di lapangan atau sekedar memanjat pohon.

Pangeran Aradan.  Semua penduduk Negeri Bayangan memanggilnya demikian. Ia sedang termenung di balik meja kerja Ayahnya, Papa Borneo di sore hari. Sebelumnya, ia melihat seluruh wilayah Negeri Bayangan menggunakan teropong kerajaan dan bingung hendak pergi ke mana lagi. Hendak bertualang ke mana lagi. Semua sudah ia jelajahi. Aradan merasa bosan. Pikirannya berkecamuk kacau. Melihat wajah kusut putranya, sang Ayah bertanya penuh bijak,

“Aradan yang cerdas, adakah sesuatu yang mengganggumu?”

Aradan memicingkan mata memandang Papa Borneo. Dua detik kemudian ia hanya menggeleng.

“Tidakkah kamu hendak menceritakannya pada papamu?” desak papanya lagi. Aradan menggeser badannya keluar dari bawah meja dan berdiri menghadap papanya. Dengan hati mendung dan wajah teduh ia mengaku,

“Tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Seluruh Negeri Bayangan sudah kujelajahi. Aku hanya diam di sini. Tidak melakukan apa-apa!” ujarnya sambil memangku wajah dengan kedua tangan.

“Apakah melakukan sesuatu haruslah menjelajah?” tanya Papa Borneo yang hafal sekali dengan tabiat putranya.

“Tidak, Papa.” Jawab Aradan sambil merunduk. “Aku hanya tidak punya ide hendak melakukan apa.”

“Terkadang, Pangeran kecilku, diam dan tidak melakukan apa-apa adalah dua hal yang berbeda.” Papa Borneo beranjak dari kursi kerjanya. Ia menggamit tangan Aradan dan mengajak putranya duduk pada balkon besar. Dari sana, mereka bisa leluasa memandang wilayah Negeri Bayangan dari pada menggunakan teropong kerajaan. “Kita dianugerahi penglihatan oleh Yang Maha Kuasa. Dengan ini kita bisa memandang semua yang hidup, yang bernafas dan bergerak di Negeri Bayangan. Nah, dari penglihatan ini kita harus bisa mengolah pikiran untuk melakukan sesuatu. Menanggapi apa yang kita lihat. Sekarang, apa yang kamu lihat, Nak? Ceritakan padaku.”

Aradan memandang seantero Negeri Bayangan. Rasa bosannya masih besar. Baginya, nyiur yang melambai terlalu monoton, gumpalan awan putih terlihat pucat, tembok-tembok rumah penduduk yang terlalu rapi berjejer dan tiangnya! Oh, tiang listrik yang tidak menarik. Berwarna hitam, kaku berdiri menjulang. Terkadang menghalangi pemandangan.

“Aku benci dengan warna tiang listrik itu, Papa. Tinggi dan hitam. Seakan-akan memecah keindahan biru pegunungan, menembus awan-awan kecil yang sedang beristirahat agak rendah.”

“Lalu, apa tanggapanmu akan penglihatanmu terhadap tiang itu?”

“Bingo!” Seru Aradan menjentikkan jari. Ia lompat dari pangkuan sang Ayah dan berkata penuh semangat, “Aku akan mengajak anak-anak Negeri Bayangan melakukan sesuatu! Mewarnai tiang listrik di seluruh Negeri Bayangan! Jika warna mereka seperti pelangi, kita tak perlu menanti hujan untuk bisa menikmati warna-warna hebat di dunia!”

Papa Borneo tersenyum dan menganggukkan kepala. “Akan selalu ada jalan keluar jika kita mencarinya. Nah, sekarang pergilah! Lakukan sesuatu yang menakjubkan untuk Negerimu! Kejutkan anak-anak Negeri Bayangan, kejutkan dirimu sendiri!”

Pangeran Aradan berlari dan tertawa riang. Di tangannya menggenggam kuas dan mulai menyiapkan cat berwarna-warni pelangi untuk ia sebar pada seluruh anak-anak Negeri Bayangan. Sambil mengecat tiang listrik mereka bernyanyi, penuh suka cita! (*)

Surakarta, 18 Januari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s