Depan Avalokiteśvara

Cerpen ini saya tulis di semester awal kuliah S1 tahun 2011. Beberapa tokoh yang saya gunakan meminjam nama beberapa kawan di kelas.

depan-alokitesvara
illustrator: Om Empo

KETIKA itu hari sudah sore. Segerombolan becak berhamburan, keluar dari barisan parkiran mereka hendak pulang menuju rumah. Lampu-lampu mulai dinyalakan, magrib menjelang. Membuat suasana Pasar Gede menjadi terang. Orang-orang masih banyak yang berseliweran keluar masuk pasar, mengangkat barang belanjaan.

Kuli angkut barang yang hitam dan sudah berusia lanjut, tergopoh-gopoh membawakan belanjaan seorang wanita gemuk berpakaian necis. Rupanya wanita itu membeli banyak sekali peralatan akuarium. Di tangannya ia menjinjing sekotak kecil akuarium yang terbuat dari plastik. Berisi kura-kura Brazil, berwarna hijau kuning dan merah menjadi satu corak. Mereka masih kecil-kecil, berenang-renang dalam kubangan air yang sangat sedikit.

“Besok subuh Piranha pesanan Anda bisa diambil,” kata si penjual toko pada wanita itu. Dengan senyum mengembang, wanita tersebut mengangguk. Wanita gemuk berpakaian necis itu masuk ke dalam mobil sedannya ketika ia sudah memastikan semua barang tersimpan baik di bagasi. Mengeluarkan selembar uang bergambar Imam Bonjol dan menyerahkannya pada si kuli angkut barang. Bapak kuli itu mengangguk-angguk, berpaling dari sedan hitam tersebut dan tidak melihat ketika mobil itu bergerak maju meninggalkan parkiran Pasar Gede.

Tidak jauh dari situ, seorang anak berusia delapan tahun berjalan dengan sedihnya. Tatapan matanya sendu, sayu tidak bergairah. Seakan-akan hari itu kiamat hanya menimpa pada dirinya seorang. Langkahnya terus menapak dan membawanya pada keramaian orang-orang di dalam pasar hewan, masih di sekitar Pasar Gede yang pusatnya menjual sayur mayur dan makanan khas Jawa Tengah.

Tiba-tiba pandangannya berubah; sedikit bercahaya. Matanya menangkap gerakan ikan berenang di dalam akuarium. Banyak sekali ikan hias yang ada di kotak kaca itu. Anak itu berjalan terus mendekati akuarium paling besar di pasar tersebut. Memandangnya lekat-lekat dan hidungnya menempel pada tepian kaca. Ikan bendera berwarna hitam bergerak-gerak, mengibarkan sirip panjang di tubuhnya. Anak itu tersenyum. Sungguh pemandangan yang memukau.

“Khalil!” sapa Hasan. Seorang anak kecil seumuran anak lelaki yang ternyata bernama Khalil. Yang disapa menoleh, memandang Hasan dengan senyuman paling indah yang pernah dilihat sahabatnya itu. “Tadi sedih, sekarang kok kamu senyum-senyum?”

Khalil tidak menjawab. Ia berpaling ke arah ikan-ikan di dalam akuarium. Hasan ikut melihat. Sayang tubuhnya tidak setinggi Khalil, ia berjinjit dan berpegangan pada alas akuarium tersebut. Keduanya asyik dalam imajinasi, membayangkan andai mereka memiliki sirip, ekor dan insang. Mereka bisa asyik berenang di dalam akuarium. Semua mata memandang mereka berenang dengan lincah dan anggun. Mengagumi keindahan warna mereka, keelokan dan kejelian mata mereka yang seakan-akan tidak pernah berkedip di dalam air. Pastinya, mereka tidak perlu susah-susah mencari makan. Penjualnya akan memberikannya makan tiap waktu, mengganti air akuariumnya agar senantiasa bersih dan sehat. Ketika mereka sudah punya majikan, tentu majikannya akan melakukan hal yang serupa saat mereka belum laku dijual. Itu khayalan mereka. Benar-benar keluar dari pigura dunia yang ada. Namun, keasyikan itu berubah menjadi malapetaka ketika…

            Gubrak! Craaaanggg!!!

Akuarium besar itu jatuh.

Ambles seiring jatuhnya alas kayu yang ditekan Hasan sebagai penopang tubuhnya agar bisa melihat ikan. Kedua anak itu bersimbah air akuarium. Ikan-ikan hias berserakan, bergejolak, menggeliat-geliat di atas lantai yang basah, bercampur dengan pecahan kaca. Sedikit banyak kaca yang berpencar ke arah dua anak pengamen itu menggores kulit mereka yang gelap dan kusam. Menyebabkan luka lecet yang cukup perih. Kedua anak itu mematung, memandang orang-orang yang tiba-tiba saja berhenti memelototi mereka.

“Biadab!” pemilik akuarium itu seorang lelaki berpostur tinggi dan garang. Mantan preman pasar yang sudah sukses dengan usaha perikanan hiasnya dengan seorang pengusaha luar kota. Ia menarik kedua anak itu ke sisinya, menempeleng satu persatu. “Lihat ulah Lu berdua! Boro-boro ganti ikannya! Beli batu hiasnya aja ngga mampu kan Lu!”

Khalil dan Hasan merasa takut. Bagi Khalil, lebih menyedihkan kali ini. Ketika semua orang di luar sana hanya mampu melihat mereka dimarahi. Khalil tidak berani berkomentar, bergerak se-senti pun ia ragu. Sudut matanya melirik Hasan yang juga merinding gemetaran. Gigi gemeletuk terdengar di kuping Khalil.

Kebiasaan sekali si Hasan, batin anak itu. Semua pengamen tahu, Gupron adalah mantan preman yang terkenal di Pasar Gede. Tidak ada yang berani menyela ucapannya terlebih melawan lelaki itu. Menyela berarti melawan, melawan berarti menandatangani surat kematian.

Hasan tidak tahu harus berbuat apa. Ia berpikir satu-satunya jalan adalah lari. Mungkin untuk kesekian kalinya mereka minggat dari satu bahaya yang tentunya menyebabkan bahaya yang lainnya. Sementara itu, si Gupron terus mengomel. Mengeluhkan ikan-ikan hiasnya yang nyaris mati tidak bisa bernapas, menyebutkan harga akuarium kaca yang mahal, bagaimana nanti ia akan laporan pada atasannya yang keturunan Tionghoa dan segala macam keluhan termasuk ia takut miskin lagi.

Gupron turun dari kursi besarnya dan memunguti ikan hias itu satu persatu. Terpaksa memasukkannya sementara ke dalam kolam kura-kura leher panjang yang berada dalam ember plastik berwarna hitam. Hasan tidak kuat lagi, ia bisa kencing di celana. Maka, dengan tekad yang bulat ia mengambil ancang-ancang untuk lari. Menarik lengan Khalil dan keduanya kabur dari situ.

“Woi, maling! Balik Lu! Kejar, Din! Kejar tuh Bocah!” seru Gupron memanggil Udin, orang keturunan Jawa yang menjadi asistennya. Mas Udin bergegas lari. Ia mengenali dua anak itu dan sebetulnya tidak tega menyidang dua anak kecil yang tidak sengaja berbuat kesalahan. Terlebih mereka orang Solo, satu asal dengan Mas Udin. Tapi bagaimana lagi? Nasib Mas Udin ada di tangan Bos Gupron. Ia terus berlari sampai akhirnya menangkap dua anak itu persis di depan Kelenteng. Gupron masih terus berteriak dan lengkingannya itu bisa terdengar bermeter-meter jauhnya. Semua antek-antek Gupron, termasuk yang suka cari muka supaya dapat pekerjaan honorer dari mantan preman itu bergegas menyusul Mas Udin.

Sampai akhirnya Khalil dan Hasan yang sudah dipegang oleh Mas Udin tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih ketika pasukan antek-antek Gupron datang dan langsung menghakimi membabi buta. Mereka tidak berhenti memukuli kedua anak itu sampai seorang lelaki datang. Antek-antek itu berhenti. Melihat lelaki muda yang datang. Memandang remeh pada orang itu.“Jangan cari masalah, Mas. Mundur! Anak-anak ini milik kami!” hardik mereka dengan lantang.

“Salah!” seru lelaki muda itu. Tubuhnya tidak besar, tidak tinggi juga tidak pendek. Garis wajahnya melukiskan kebijaksanaan. Jaket yang ia kenakan bersimbol Universitas tempat ia menimba ilmu. “Mereka milik negara.”

“Halah! Sebodo amat Lu mau ngomong apa! Selangkah lagi, Lu urusan sama kita semua! Ya ngga? Ya ngga?” kata salah satu dari antek-antek si Gupron sambil meminta persetujuan semua anggotanya. Yang lain, yang ikut menghakimi kedua anak itu bersahutan “Iya, Iya” sambil manggut-manggut tanpa dosa. Tidak mereka duga, lelaki muda itu malah melangkah maju. Menatap lawan bicaranya dengan tegas dan tajam. Sorot matanya menunjukkan keseriusan.

“Berapa uang yang harus saya ganti?” tanya lelaki itu, “Saya akan bayar kerugian yang dialami kedua anak ini dengan satu syarat; tidak ada lagi yang namanya main hakim sendiri. Mereka masih anak-anak. Tidak sengaja berbuat kesalahan dan tidak tahu kalau perbuatan itu fatal.”

Seperti disihir, semua preman di situ melongo. Sangat tidak rasional jika melihat situasinya. Mungkin inilah yang dinamakan dakwah, pikir Khalil. Ia menatap lelaki muda yang membelanya itu dengan takjub.

Khalil banyak melihat Kyai-kyai berceramah di dalam masjid, di siaran televisi dan radio yang terpampang dan terdengar  di toko-toko sepanjang Jalan Slamet Riyadi bahkan suara ceramah mereka menggema sampai ke jalan-jalan besar saat Khutbah Solat Jumat. Namun, berbeda dengan Kyai yang satu ini, batin Khalil. Dalam pandangannya itu, lelaki muda tersebut bagaikan ksatria sungguhan yang memberantas kejahatan tepat pada sasaran. Meskipun taruhannya nyawa.

“Bunuh mereka dan saya sekarang tapi itu tidak menutupi apa yang telah dirugikan oleh mereka soal akuarium Gupron.” Tambah si lelaki muda. “Bilang pada Gupron, saya Arif. Toko saya ada di ujung pasar, sederet dengan toko Tjihang yang dikelola dia. Biar besok saya bayar di muka!”

Lelaki muda bernama Arif maju melewati kerumunan preman yang berdiri mematung. Sementara itu salah satu dari antek-antek Gupron lari melaporkan apa yang dibilang Arif. Gupron hanya geleng-geleng kepala. Baginya, semua yang sudah terjadi mungkin bisa diselesaikan dengan uang, tapi belum sempurna tanpa pembalasan. Ia menolak saran itu meski akhirnya ia tetap mengiyakan kesanggupan Arif mengganti akuarium yang pecah.

Tangan Arif menjulur ke arah Khalil. Anak itu meraihnya dengan malu-malu. Tanpa ia sadari air matanya meleleh. Ia menggosok perlahan matanya dengan lengan kiri yang tidak terlalu sakit. Tidak seperti tangan kanannya yang lebam dan sedang dipegang Arif. Saat lelaki muda itu mengajaknya pergi dari situ, Khalil baru sadar bahwa ia bersama Hasan. Ia menoleh, celingukan mencari sosok sahabatnya.

Hasan kabur lagi.

ð

Lelaki bernama Arif itu rupanya memiliki toko kecil di ujung jalan daerah Pasar Gede. Toko itu berisi perlengkapan kue milik ibunya. Tiap sore setelah kembali dari kampus, Arif mampir ke tokonya dan membantu ibunya disitu. Seperti yang Khalil duga, Arif bukanlah orang berada. Tapi  tidak bebas berkeliaran seperti dirinya.

Khalil masuk ke dalam toko bersama Arif. Tangan kanannya dibalut perban. Sedikit luka sayatan dan lecetan bekas cipratan kaca akuarium. Arif mengurusnya semalam sampai membawanya ke klinik terdekat. Bahkan Arif baru bisa tidur setelah membereskan kamarnya dan menyuruh Khalil tidur disitu bersamanya.

Mereka tidak lama disitu. Hanya duduk-duduk sebentar setelah Khalil dikenalkan Arif pada ibunya. Arif mengambil kursi kecil seukuran kursi yang diduduki Khalil dan berbincang-bincang dengan anak itu. “Rumahmu di mana, Lil?” tanya Arif. Khalil hanya menatap mata Arif, terdiam dan akhirnya menunduk. Arif menganggukkan kepala, “Ndak usah dijawab Dik,”

Khalil sedikit tersenyum. Dalam hatinya ia lega sekali. Apa yang harus dia katakana soal rumah? Khalil tidak punya siapa-siapa, tidak punya apa-apa. Dari dalam toko, Ibunya Arif keluar sambil membawa sepiring roti selai. Meletakkannya di atas paha Khalil dan mengelus kepala anak itu dengan lembut.

“Nanti malam ada pengajian anak-anak seusiamu, Dik. Mas pinginnya kamu ikut. Dik Khalil sudah bisa mengaji?”

“Belum,” jawab Khalil dengan mulut masih penuh dengan roti. Ia mengunyah dengan cepat, menelannya meski belum sempurna dilumat dalam mulut. Khalil sangat lapar sore itu. Arif memandangnya dengan tatapan penuh prihatin.

Ia berjanji dalam hati akan merawat anak itu. Tidak peduli dengan keadaan ekonominya, ia merencanakan agar Khalil bisa ikut bersamanya. Kalau perlu, Khalil akan ia sekolahkan. Begitu pikir Arif.

“Kalau begitu nanti malam ikut ngaji ya, Dik.”

Inggih, Mas.” Jawab Khalil sambil malu-malu. Ia tidak sadar—wajahnya terlihat konyol dengan selai strawberry belepotan di sekitar bibir dan pipinya. Khalil menjilati jari-jarinya, bahkan sampai ke piring roti hingga licin tandas. Arif terkekeh melihat perilaku anak itu.

“Temanmu yang satu lagi itu kemana ya?” tanya Arif sambil menoleh ke arah depan Pasar Gede, sudut matanya melirik ke lokasi kemarin malam saat Khalil dan Hasan digebuki antek-antek Gupron. Khalil menggeleng, “Ndak tahu, Mas. Hasan suka lari kalau ada masalah. Dia selalu kabur.”

“Oh jadi namanya Hasan?”

Inggih, Mas.”

“Sebelum kejadian kemarin, apa saja yang Dik Khalil lakukan?”

Khalil merenung sebentar, mengingat-ingat peristiwa sebelum ia melihat akuarium pembawa sial itu.

Ah! Dia ingat saat itu ia sedang bermuram durja.

“Uang hasil ngamen saya dicuri Toton, Mas.”

 “Siapa?”

 “Toton. Yang kemarin gebukin saya depan Kelenteng.”

Arif manggut-manggut. Gupron dan antek-anteknya memang keparat, batin pemuda itu. Mungkin kasus Khalil ini merupakan salah satu dari sekian banyak permasalahan dan keonaran yang diperbuat para preman pasar. Arif menyebutnya preman sebab baginya adat Gupron masih sama—sekalipun ia sudah tidak terlihat berseliweran di jalan. Nyatanya, Gupron punya anak buah, marah-marah soal sepele, main hakim sendiri, apa namanya kalau bukan preman? Rajanya preman barangkali. Arif hanya mampu berdebat monolog dalam batin.

Keduanya masih berbincang-bincang hingga akhirnya magrib menjelang. Arif mengajak Khalil kembali ke rumahnya dan bersiap-siap pergi ke Langgar milik seorang Kyai di desa Arif tinggal. Khalil diajarkannya berwudhu, diajarkannya membaca Iqra. Khalil memulai semuanya dari nol.

Arif punya keponakan yang setahun di atas Khalil, keponakannya itu memberikan Khalil pakaian muslim. Baju koko yang masih layak pakai, bersih dan berwarna putih. Dengan peci putih yang nyempluk di kepala, Khalil keluar bersama Arif menuju Langgar.

ð

Assalamualaikum, Ustadz!” seru murid-murid di Langgar At-Taubah ketika melihat Arif masuk. Murid-murid Langgar disitu sangat banyak. Usia mereka berkisar antara tujuh sampai sembilan tahun. Tidak jauh berbeda dengan usia Khalil. Tinggi badan mereka pun sama, hanya saja mereka terlihat lebih bersih dan terurus dibanding Khalil meskipun anak itu sudah mandi.

Waalaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh,” Jawab Arif dengan senyum mengembang. “Kaifa haalukum[1]?” Arif selalu memulai pengajian itu dengan tanya jawab berbahasa Arab. Ia senang jika adik-adik santrinya bisa berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Dari awal ia mengajar, Arif berusaha untuk komitmen dengan perkuliahan yang ia ambil dengan cara mengaplikasikannya melalui pengajaran.

Bikhoir walhamdulillah[2], Ya Ustadz.”

“Hari ini Adik-adik punya teman baru, saya akan mengenalkan seseorang pada Adik-adik. Penasaran siapa orangnya, bukan? Baiklah, ini dia kawan baru kita, Khalil!”

Khalil yang sedari tadi berdiri di pinggiran pintu terperangah. Wajahnya bersemu merah. Ia mulai melangkah maju. Namun  agak ragu. Semua santri di situ menoleh melihatnya. Khalil merasa menjadi pusat perhatian dan ia kurang nyaman. Akan tetapi, Arif menatapnya lembut dan dalam, “Ayo, Khalil. Kita berkenalan dulu,”

Khalil melangkah maju dengan lebih percaya diri. Berdiri di sisi Arif dan menyentuh lengan pemuda itu. Sedikit bersembunyi dalam bayang-bayang tubuh Arif.

Sesi perkenalan itu berlangsung dengan baik. Semua santri pada akhirnya tersenyum, mencairkan suasana dan memberikan peluang bagi Khalil untuk ikut berbaur di dalamnya. Khalil duduk di tengah-tengah santri. Mereka menanyakan Khalil berbagai macam pertanyaan, Khalil menjawab sebisanya, kadang ia hanya bisa tersenyum dan mengalihkan pandangan. Menatap Arif yang sedang mengajar santri lain dan membiarkan santri lainnya berbincang-bincang dengan Khalil.

Di mata anak itu, Langgar adalah surga. Ia berjanji dalam hatinya jika sesuatu yang buruk terjadi pada Arif, maka itu pun harus terjadi pada dirinya. Arif bagaikan malaikat yang mengangkatnya dari kubangan lumpur dan sampah. Menyucikannya dengan air wudhu dan menempatkannya di tempat terbaik, Langgar. Jika ia benar-benar berada di surga dan Arif tidak ada di sisinya, ia akan terjun dari surga dan pergi bersama Arif. Kemanapun lelaki itu membawanya pergi. Tidak ia sadari, senyumnya mengembang penuh haru dan tulus. Arif sudah menjadi bagian dari perjalanannya. Arif adalah penyelamat.

ð

Petang menjelang. Sinar mentari yang hendak terbenam masih menyisakan sedikit semburatnya di balik Avalokiteìvara. Membuat Kelenteng itu terlihat makin dingin dan beraura. Sepanjang jalan Ketandan, Khalil berdiri. Melihat orang-orang lalu lalang. Mengingat terakhir kali ia nyaris mati disana. Persis di momen seperti itu, petang yang dingin dan menyeramkan.

Makin lama orang-orang makin beringsut pergi. Suasana Pasar Gede makin sepi dan berdiri angkuh di depan Khalil. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Dalam bayang petang menjelang magrib matanya dengan samar menangkap bayangan orang berjalan menuju dirinya. Khalil tidak berani bergerak lagi, langkahnya sudah jauh dari Kelenteng. Dalam hatinya ia berdzikir mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Arif.

Allahu, Allah…” bisiknya dalam hati. Orang yang ada dihadapannya makin jelas. Berjalan dengan penuh angkuh dan tamaknya. Sesuatu digenggam di tangan orang itu. Hati Khalil kian berkecamuk, ingin kabur, jalanan sudah dicekam gelap. Tiada seorang pun yang melihatnya di situ, di tikungan jalan.

Allahu, Allah…” gumamnya lagi. Ia celingak-celinguk. Sendiri.

Orang itu kian dekat. Khalil bisa melihat kumis orang itu dengan jelas, mata hitam yang menyalak seperti anjing kudisan di tempat pembantaian. Itu Gupron. Dengan wajah menyeringai licik, tangannya yang memegang belati mengayun tinggi di udara. Kaki Khalil bagai terpasung di dalam bumi. Ia tidak berdaya. Dengan mata terpejam ia memasrahkan diri pada sang Khalik.

Allahu Allah, Allahu Akbar!”

Tepat ketika belati itu menancap di dadanya. Khalil menahan sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh. Melihat darah yang mengalir deras, membanjiri baju koko putihnya yang bersih. Pandangannya kabur, kunang-kunang. Khalil ambruk ke tanah. Ia tidak bergerak. Sama sekali.

ç

Subuh hari, orang-orang sibuk berseliweran di luar pasar. Para pengendara becak memarkir becak-becak mereka sejajar dan rapi. Asap-asap rokok mengebul dari mulut mereka, mengempaskan kepulan putih ke langit biru. Para kuli angkut barang mondar-mandir mencari pelanggan. Berlomba-lomba membawakan barang bawaan seorang wanita gemuk berpakaian necis ke dalam mobil sedannya. Khalil membuka mata; ia tergeletak di depan Avalokiteìvara. Tubuhnya biru lebam. Pecahan kaca akuarium masih menempel di sisi-sisi lengan dan betisnya. Pakaiannya sudah mengering, tapi bau amis ikan hias tercium keras sampai ke dalam otak.

Khalil melihat seseorang di sisinya, Hasan. Anak lelaki itu tidak bergeming sekalipun Khalil menggoyang-goyang dengan keras dan kasar. Khalil berteriak-teriak. Memanggil-manggil nama Arif, mencari-cari sosok Arif.

            Sosok yang semalaman itu hanya menjadi mimpinya.

*0*

[1] Apa kabar semuanya?

[2] Kabar baik, Segala puji bagi Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s