Perfect

Perfect means: having all the required or desirable elements, qualities, or characteristics; as good as it is possible to be.

Sempurna itu sendiri masih memerlukan perjuangan untuk mencapainya, ‘as good as it is possible to be.’ Di mana logika manusia menangkap adanya kata mungkin bisa didefinisikan juga menjadi iya atau tidak. Manusia secara fitrahnya mengerti mana yang bisa menjadi affirmasi mana yang bisa menjadi negasi.Semua itu kembali pada usaha dan hasilnya tidak dapat dikonklusikan terlalu akurat meski sifat yang dituju adalah keakuratan, keabsolutan, dan manusia pada akhirnya sering melabuhkan pengertian itu pada istilah kesempurnaan.

***

Sekitar dua tahun lalu, saya hanya bisa memandang sepasang suami-isteri keluar dari mobil ‘manten’ di sekitar Burana Tower, Bishkek. Musim salju mempercantik suasana hari pernikahan mereka. Gaun putih for the bride yang selaras dengan hamparan salju padang rumput Burana Tower. Mereka bahkan saling lepas merpati dalam suka cita.

Kala itu saya yang masih nge-jomblo tapi sudah bersahabat dengan Angga (suami saya sekarang) cuma bisa gigit jari. Kepinginnya sih naik mobil manten, tapi sama siapa? Apa iya Angga memiliki perasaan yang sama dengan saya? Nah, lebih lengkapnya saya pernah ‘mengenang’ peristiwa ini ke dalam novel saya yang menang juara 2 se-nasional.

Singkat cerita, sepulang dari Bishkek, Angga melamar saya. Meminta jadi istrinya, bukan jadi pacarnya. Wah saya sangat tidak menyangka kalau ternyata Angga juga punya perasaan yang sama. Setelah itu, momen-momen pacaran saya buanyak banget dan kami hiasi dengan perjalanan-perjalanan seru yang notabene ke masyarakat desa, jelajah alam, lintas alam,pokoknya selain back to nature juga ada sapa menyapa dengan penduduk lokal.

Sayangnya, momen-momen itu terlalu banyak dan kami terlalu happy dengan obrolan sepanjang jalan: ngobrol seneng, ngobrol sebel, ngobrol lucu sampe marahan. Akhirnya, kami cuma bisa dokumentasi foto tanpa sempat mempostingnya di blog. Beberapa sudah dilakukan Angga di tumblr,tapi saya mengurungkan niat untuk menulisnya kala itu. (Saya masih percaya ‘pamali’ kalau sudah mengumbar kisah cinta sebelum janji suci pernikahan diucapkan).

dsc_4326

So hari demi hari berlalu. Cobaan buat kami bukan satu atau dua melainkan buanyak banget. Apalagi setelah kami bertunangan di akhir tahun 2014, cobaan-cobaan itu kayak bertubi-tubi. Tapi, ini yang menguatkan kami sampai akhirnya pada tanggal 9 September 2016 kemarin, tepatnya pukul tujuh pagi, di hadapan penghulu dari KUA Makassar yakni Bapak Abidin, kami berdua alhamdulillah sah menjadi suami-istri!

img_0163

Begitu banyak pihak yang sudah membantu kami untuk mewujudkan pernikahan ini. Saking banyaknya,kalau disebutkan kayaknya nggak cukup tempat dan nggak cukup waktu. Tapi, kalau boleh sedikit saya kabarkan, ada dua hal yang sangat saya syukuri terjadi di hari pernikahan saya. Pertama, cateringnya. Kenapa saya pakai Catering Nurmayasari yang dikelola oleh bu Yoyoh? Karena bu Yoyoh melayani pemesanan catering dengan jumlah minim sementara banyak pengusaha catering lainnya mencatok jumlah minimum order yang cukup tinggi. Tamu saya cuma 150 orang lho, bukan 150 undangan. Dan semua itu keluarga dekat dan kerabat saja di Jakarta. Tapi dasar mami saya pingin membahagiakan tamu, jadi kami pesan untuk 300 orang alias double. Dan, Catering Nurmayasari ini memberikan kemudahan bagi kami untuk order minimum 300 porsi sementara catering lain minimal harus 500 porsi.

Selain easy going dan harganya terjangkau, tentu aja rasa makanannya enak. Hampir semua tamu yang datang memuji masakan catering bu Yoyoh ini. Menurut mereka, nggak banyak lho catering yang berhasil memikat para tamu undangan untuk nambah dan nambah terus karena rasanya itu enak dan bumbunya terasa.

Saya juga bersyukur dengan kehadiran make up expert saya, Abang Emil Mirza dari Sanggar Rias Penganten Emil Mirza banyak membantu saya tampil memukau di acara pesta. Tidak banyak make up expert yang tahu caranya komunikasi sama pelanggan, tapi Bang Emil tahu banget caranya dan beliau sangat ramah. Padahal, sanggar bang Emil kecil dan numplek banget barang-barang. Tapi hasil make up dan kostumnya memuaskan. Kostum yang saya pakai di resepsi adalah jahitan tangan bang Emil sendiri dan yang bikin saya respect, baju itu di-laundry bersih. Kenapa saya bahas ini? Karena waktu di Solo, pas acara ngunduh mantu, sanggarnya kurang telaten mengurus barang-barang dan kostum yang dipakai pengantin.

Dengan catatan saya ini, saya berharap bisa membantu siapapun yang saat ini sedang mempersiapkan pernikahan mereka. Saya tahu persis apa rasanya menyiapkan pernikahan dalam tempo waktu singkat dan bagaimana kerumitan di dalamnya. Apalagi pernikahan yang diinginkan hanya pernikahan sederhana yang tidak perlu diurus oleh WO (Wedding Organizer) dengan budget yang sederhana. Untuk detilnya, kamu bisa cek tentang catering Nurmayasari langsung dengan bu Yoyoh di nomor WA 0888-1881-434 dan Bang Emil Mirza untuk make up pengantin di WA 0813-1599-1267. Atau kalau kamu mau tanya-tanya ke saya juga boleh, kali aja suatu saat saya bisa jadi wedding consultant :D, well apapun itu, silakan kirim ke kontak saya di laman blog ini ya!

Begitulah kiranya sekilas perjalanan asmara saya sampai berlabuh di pernikahan bersama suami tercinta. Yang kami harapkan tidak lain hanya Ridho Allah Swt. Sebab kami sadar, sebagaimanapun kami berusaha untuk menjadi sempurna, sesungguhnya sempurna dan kesempurnaan hanya milik Allah. Lagi pula, sempurna yang kami cari itu sendiri masih belum mencapai kesempurnaan milik-Nya, ia masih berproses untuk menjadi dirinya yang utuh. Sungguh, suatu pembelajaran untuk kami berdua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s