Menulis Feature? Asyik kok!

Artikel ini sudah saya simpan sangat lama sejak saya duduk di bangku kuliah semester 7 mata kuliah Jurnalistik dengan dosen pengampu Dr. Sidqon Maesur. Saya membiarkannya “jamuran” di salah satu blog jurnalistik amatir saya. Hari ini saya mencoba untuk menelaah dan memperbaiki artikel ini dengan tujuan membantu siapa saja yang ingin mengetahui ‘feature’ dalam term yang sederhana. Semoga bisa bermanfaat. 

Let’s back to two years ago when I was being an undergraduate student…

***

Banyak teman mahasiswa di semester tujuh yang mengambil mata kuliah Jurnalistik sempat bertanya-tanya. Jika feature merupakan salah satu jenis berita (soft news) dengan gaya bahasa yang rileks dan beralur seperti cerita, lantas apa bedanya dengan cerpen?

home-office-336378_960_720
dokumentasi http://www.pixabay.com

Pembahasan mengenai feature sudah banyak sekali diungkap oleh para jurnalis Indonesia. Kita akan mudah menemukan definisi feature, cara penulisannya dan juga apa perbedaan mencolok antara feature dengan cerpen, straight news, opini maupun esai. Soal tulis menulis ini dirasakan complicated. Pembatasan mengenai peran masing-masing kategori tulisan ini dipikir kasat mata nyerempet satu sama lain. Hasilnya, teman-teman yang tidak terbiasa membaca, menulis terlebih menyelami tulisan dari kategori-kategori tersebut mengalami kebuntuan yang menghasilkan salah jalan hehehe..

Bagi mahasiswa yang hobinya kebut semalam akan browsing internet dengan cepat. Kemudian secara ajaib, mereka bisa menerbitkan sebuah karya entah itu feature, esai dan sebagainya. Saya bilang, SETOP! SETOP sampai di sini untuk plagiat karya orang lain. Sekalipun Anda cuma copy paste satu dua kalimat. Nasehat untuk membaca buku pada mahasiswa yang terbudaya macam ini sulit namun mesti diterapkan dengan sabar.  Tapi alangkah baiknya jika mahasiswa yang hobi baca mau kasih ringkasan semampunya untuk berbagi. (Mahasiswa yang hobi copy paste langsung nyengir deh hahaha…)

Kini saya coba untuk sedikit meringkas definisi mengenai feature yang saya kumpulkan dari beberapa sumber buku bacaan. Semoga bermanfaat untuk Anda para pembaca yang budiman.

1. Pengertian Feature

Jika Anda berbicara feature, maka Anda harus tahu dari mana si feature ini berasal? Siapakah ibunya? Siapakah saudaranya? Seperti apakah wajah-wajah feature? Bagaimana sikapnya? Dan bagaimana caranya supaya kita bisa melahirkan feature? 

Singkatnya, Feature merupakan cerita atau karangan khas yang berpijak pada fakta dan data yang diperoleh melalui proses Jurnalistik. Tujuannya untuk menginformasikan juga menghibur khalayak. Dalam Feature Writting for Newspaper (Daniel R. Williamson:1975) mengisahkan bahwa sosok feature adalah artikel yang kreatif. Kadang-kadang subjektif yang dirancang terutama untuk menghibur dan memberitahu pembaca tentang peristiwa, situasi atau aspek kehidupan (Mappatoto 1999:2-3).

Lantas, dari mana sih feature ini berasal?

menulis
dokumentasi google
 Pokok utama dalam jurnalistik adalah NEWS. Tiada arti seorang wartawan tanpa berita.

I am not important: the story is!“. Ternyata eh ternyata, News memiliki dua anak kakak beradik. Si sulung bernama straight news sedangkan yang bontot bernama feature. Meski lucunya, terkadang si adik bisa juga merambah ke dalam kehidupan kakaknya. Umumnya orang memanggil mereka dengan julukan si berita lugas dan si berita halus.

Luwi Ishwara mengungkapkan bahwa, berita-berita rutin yang bila dilihat sepintas tidak menarik ini terkadang ada yang penting, atau setidaknya bisa dikembangkan menjadi cerita yang menarik. Hal ini tergantung dari ketajaman penglihatan atau penciuman berita seorang wartawan atau editor. misalnya, penandatanganan perjanjian perdagangan antara dua negara. Kejadian formal yang berlangsung hanya beberapa menit ini mungkin tidak menarik. Tetapi bagi wartawan yang kreatif dan skeptis, ia bisa melihat, misalnya, bahwa di belakang upacara formal tersebut ada berbagai permasalahan yang terkait dengan hubungan perdagangan antara kedua negara tersebut. Dia akan menggali hal-hal menarik yang bisa disajikan kepada pembacanya.” (Jurnalisme Dasar.2011:83-84).

Lebih lengkapnya, Luwi (2005:60) menjelaskan bahwa feature yang baik adalah karya seni yang kreatif, namun faktual. Feature bukan fiksi. Ia menggali suatu peristiwa atau situasi dan menata informasi ke dalam suatu cerita yang menarik dan logis. Feature akan membuat pembacanya tertawa atau terharu, geram atau menarik napas panjang. 

Berita seperti itulah yang kemudian dinamakan feature. Sentuhannya halus dalam bentuk cerita bagaikan cerpen namun dilandasi dengan fakta. Dari asal-usul feature ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa dasarnya, feature merupakan hasil subjektivisme wartawan atau editor atau penulis akan sebuah fenomena yang terjadi, yang dirasakan, dialami. 
Pada pertengahan tahun 1960-an di Amerika terjadi perkembangan menulis feature. Feature kemudian menjadi sebuah jembatan bagi lahirnya genre baru dalam jurnalisme yaitu jurnalisme sastra. Wolfe (dalam Kurnia, 2002:230) mengatakan bahwa feature mengandung nilai human interest dan warna cerita (color story) yang sangat kaya, itulah sebabnya jurnalisme sastra memulainya lewat feature. Hal ini bisa kita temukan di Indonesia, di era 1970-an, majalah Tempo adalah majalah pertama yang menggunakan jurnalisme sastra dalam menyajikan berita-beritanya hingga sekarang.

 

2. Jenis-jenis Feature

Pertanyaan selanjutnya, fenomena seperti apa yang bisa dijadikan pemberitaan bergaya feature?

 
Kita sebagai makhluk sosial (ucapan begini udah sering banget dilontarkan), sangat memerlukan satu sama lain. Kita akan bersentuhan, bersitegang, beramah-tamah, bercanda, bermarah-marah dan bermaaf-maafan. Proses itu melahirkan banyak sekali fenomena di atmosfer kehidupan. Ada orang lahiran, ada orang mati. Ada si kaya ada si miskin. Ada yang baru beli mobil, ada yang kemalingan. Ada yang benar-benar intelek juga ada yang berusaha intelek. Semua pokoknya bisa dijadikan objek untuk membuat berita bergaya feature. Untuk lebih jelas dan memiliki gambaran tentang objek apa saja yang bisa dijadikan feature, kita harus lebih dulu mengerti jenis-jenis feature.


Menurut Wolseley dan Campbell dalam Exploring Journalism (Assegaf, 1983:56) terdapat enam jenis feature:


a. Feature minat insani (human interest feature)

feature ini bermuatan akan motivasi untuk menyentuh rasa prikemanusiaan kepada pembaca, adanya rasa gembira, jengkel dan benci. Misalnya kisah anak jalanan, wanita tuna susila, perjuangan guru di kampung terpencil yang jauh dari fasilitas mapan, sampai pada kisah pembunuh atau penjahat atau psikopat dalam melancarkan aksi-aksi kejahatannya yang mampu memicu rasa kesal dan jengkel si pembaca.


b. Feature sejarah (historical feature)

feature yang menyajikan peristiwa masa lalu namun masih menarik untuk dibincangkan di masa kini. Misalnya dalam sejarah Timur Tengah, feature yang diangkat adalah momen perjanjian Amani yang berisi tentang pengakuan seluruh umat Islam sedunia bahwa Madzhab Syiah merupakan juga bagian dari agama Islam. Jika ditelisik saat ini, ramai orang memiliki paham awam tentang Syiah namun sok tahu mengkafirkan dan mengatakan bahwa Syiah itu bukan bagian dari Islam maka feature tentang peristiwa perjanjian Amani sangat relevan.

c. Feature biografi (biographycal feature)

52634978-e1427858474477
Muhammad Ali sewaktumuda dokumentasi google

feature biografi atau dikenal juga dengan profil tokoh adalah feature yang mengisahkan sisi hidup publik figur atau tokoh yang berpengaruh, memiliki rekam jejak atau berprestasi. Bisa juga mengangkat kehidupan organisasi dan sebuah komunitas. Misalnya, feature tentang Muhammad Ali, bagaimana beliau lahir, berjuang menjadi petinju dan seterusnya.

d. Feature perjalanan (travelogue feature)

man-1454744_960_720
sambil jalan-jalan sambil nyatet feature perjalanan seru lho! Dokumentasi http://www.pixabay.com

feature yang berisi tentang perjalanan seseorang di sebuah tempat, lokasi atau destinasi wisata dan negara. Bisa berupa oleh-oleh dari budaya suatu negara yang belum pernah didengar, atau tidak lazim. Contoh untuk penulisan ini bisa dengan mudah Anda temukan di majalah-majalah metropolitan dengan rubrik perjalanan. Feature yang ditulis biasanya sudah dikembangkan menjadi artikel. Misalnya saja feature perjalanan yang pernah saya buat tahun 2014 dan dimuat di majalah Femina edisi Oktober dan Femina online edisi November. Saya menulis tentang perjalanan pribadi saya ke Kyrgyzstan selama dua bulan sebagai relawan pemuda dan di dalamnya saya mengupas cerita bagaimana bertualang di kota Bishkek Kyrgyzstan. 
Lebih lengkapnya Anda bisa cek di link ini: 

http://www.femina.co.id/article/mengembara-di-kota-legenda-bishkek


e. Feature yang mengajarkan keahlian (how-to-do feature)

feature tips atau petunjuk praktis juga banyak ditemukan di majalah-majalah, khususnya majalah perempuan dan remaja. Untuk Anda yang gemar baca majalah audio, mobil dan alat-alat rumah tangga juga bisa dengan mudah menemukan jenis feature ini. Feature how-to-do menjelaskan bagaimana suatu perbuatan atau aktifitas bisa dilakukan. Feature ini lebih banyak mengupas seputar hobi dan minat pembaca dalam bidang apapun. Jangan salah, beberapa orang menjelaskan bahwa cara mendapatkan hati calon mertua juga termasuk ke dalam jenis feature ini.


f. Feature ilmiah (scientific feature)

feature ilmiah tentu sesuai dengan namanya berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan kedalaman bahasan serta objektivitas yang dipaparkan. Informasi dan data yang diberikan juga harus memadai. Feature ini lazim ditemukan di berbagai majalah teknik, komputer, dan kesehatan. Tidak sedikit juga surat kabar yang memberi kolom Science Feature berisi tentang feature ilmiah.


Sebenarnya masih banyak jenis-jenis feature yang dikemukakan oleh beberapa ahli jurnalistik. Setidaknya enam feature di atas adalah jenis yang paling banyak ditemukan dan ditulis di berbagai media. Kembali pada pertanyaan pertama, jika feature seringan dan serileks ini lantas apa bedanya dengan cerpen?
Setidaknya ada tiga karakteristik utama dari feature yang bisa dijadikan pembeda dari cerpen atau karya sastra lainnya:

1. Feature tidak tunduk pada teknik penulisan dan penyajian fakta-fakta seperti penulisan straight news.

2. Feature bersifat ringan dan memberi hiburan.

3. Feature menekankan unsur kreativitas, informatif dan menghibur.


Dari ketiga karakteristik utama itu, kita mengetahui bahwa feature harus informatif meskipun fakta-fakta yang disajikan tidak ditulis berdasarkan teknik menulis straight news dengan 5W+1H (kalau kata jurnalis senior saya: plus So what?). Beda dengan cerpen yang mungkin mengandung unsur 5W+1H dalam unsur intrinsik sastranya namun data-data yang disajikan adalah fiktif imajinasi (khayal).  Maka, feature termasuk ke dalam kategori karya tulis non-fiksi adapun cerpen adalah karya tulis fiksi.


Sumber bacaan:

Ishwara, Luwi. 2005. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Jakarta. Penerbit Buku Kompas

Assegaf, Djafar. 1983. Jurnalistik Masa Kini. Jakarta. PT Ghalia

http://www.jurnalrozak.web.id/2014/11/feature-bukan-sekadar-fakta.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s