Bukan Katakan Tidak pada Valentine tapi Tidak Cukup Valentine!

966535_10201505544140571_951978303_o

Dokumentasi miraworldweb @AUCA Bishkek Kyrgyzstan

DUA tahun lalu, saya berkesempatan pergi ke Kyrgyzstan untuk melakukan sebuah kegiatan relawan pemuda. Bertepatan dengan bulan Februari, bulan yang sudah dikenal hampir seluruh penduduk dunia sebagai bulan kasih sayang. Selama awal tahun saya berada di Bishkek, saya kerap mengunjungi American University of Central Asia (AUCA) bersama rekan-rekan relawan lainnya. Menjelang tanggal 14 Februari 2014, saya menemui sebuah papan besar berjudul “The Wall of Love Confessions” di lobby kampus. Sembari menyesap rasa dingin musim salju, saya membaca setiap kertas berbentuk cupid yang ditempel di papan itu. Selain ucapan ‘aku mencintaimu’ saya juga menemukan ungkapan-ungkapan maaf yang didasari cinta dan rasa sayang yang mendalam. Ada kesan-kesan bahwa momen ‘roman’ bulan Februari tak sesederhana “I love you” atau kreatifitas seseorang dalam mencinta.

Berbagai polemik di Indonesia tentang setuju atau tidak setuju dalam merayakan Valentine bukanlah suatu hal yang baru. Namun, seiring perdebatan itu terjadi, seiring pula tulisan-tulisan tentang bagaimana sejarah perayaan Valentine bermunculan. Salah satu website yang baru-baru ini meluncurkan sejarah ringkas St. Valentine adalah history.com yang menjelaskan bahwa sosok Valentine merupakan salah satu legenda yang beredar sejak Paganisme kerajaan Roma hingga masuknya ajaran Kristen. Tokoh St. Valentine sendiri diceritakan oleh gereja Katolik memiliki setidaknya tiga nama berbeda yang dua diantaranya Valentine atau Valentinus. Kesemuanya dikenal sebagai martir. Salah satu dari tiga nama berbeda yang diimani gereja Katolik, ada legenda tentang St. Valentine. Seorang pendeta yang bertugas di abad ketiga kerajaan Roma di bawah pemerintahan Kaisar Claudius II. Secara diam-diam, St. Valentine menikahkan para prajurit muda yang kala itu dilarang oleh sang Kaisar. Claudius II melarang adanya pernikahan karena melihat para lelaki enggan maju berperang sebagai prajurit karena lebih memilih tinggal di rumah beserta istri dan anak-anak mereka. Perbuatan diam-diam St.Valentine didasari karena imannya bahwa tidak boleh ada perzinahan. Sayangnya, lambat laun perjuangan St. Valentine tercium oleh sang Kaisar dan oleh sebab itulah ia dihukum mati.

angel-1191667_960_720

anak kecil berpose ala saint valentine dokumentasi http://www.pixabay.com

Perayaan Valentine agaknya lebih tepat dikatakan kultur bangsa Eropa dan Amerika. Di Amerika, perayaan ini diperkirakan mulai pada awal 1700 masehi dan dimeriahkan dengan bertukar kerajinan tangan. Dikabarkan pula bahwa pada tahun 1840, Esther A. Howland menjual produk-produk bertema Valentine untuk pertama kalinya di Amerika hingga ia mendapat gelar “Mother of the Valentine”. Tidak hanya di Amerika, perayaan Valentine juga dilakukan di Inggris, Perancis, Kanada, Meksiko dan Australia.

Bahkan menurut history.com, perayaan Valentine sesungguhnya mulai diberlakukan setelah seorang penyair Inggris bernama Geoffrey Chaucer menulis sebuah puisi yang menceritakan perayaan romantis di hari Valentine yang pada tahun 1375 bahkan belum pernah ada yang merayakannya. Puisinya ditujukan pada bulan Februari tanggal 14 di mana menurut Chaucer orang-orang menemukan pasangan mereka. Ia menulis, “For this was sent on Seynt Valentyne’s day,  Whan every foul cometh ther to choose his mate.” Berdasarkan puisi ini, history.com memperkirakan bermulanya perayaan Valentine yang terus berkembang hingga hari ini.

Perayaan Valentine menjadi gembor di Indonesia dan semakin membludak ketika dikomersialisasikan. Kita akan dengan mudahnya menemukan bingkisan coklat, buket bunga dan kartu-kartu ucapan. Memang betul bahwa perayaan Valentine bukan budaya Indonesia, pengaruh Barat yang memang sudah lama berakar di masyarakat kita tak ayal membuat budaya ini pesat berkembang.

Budaya Valentine kemudian bisa dikatakan sebagai produk budaya Barat. Seperti produk budaya lainnya yang bertransformasi dalam bidang dan wujud apapun: kebiasaan makan malam dengan rangkaian table manner, mengadakan standing party, sekian banyak film produksi Hollywood dan dampak-dampak riil di atmosfer pergaulan manusia Indonesia. Semua jelas terlihat. Bahkan, kalau merujuk pada sejarah Valentine yang ditulis oleh beberapa orang Kristen, saya memahami bahwa Valentine sejatinya bukan suatu ajaran dari agama Kristen. Valentine, sesuai sejarah yang dipercaya, adalah produk dari suatu peristiwa atau fenomena di masa hidupnya Claudius II saat membunuh St. Valentine. Menjadi marak sebab puisi gubahan Chaucer dan menjadi budaya hampir seluruh dunia sebab komersialisasi. Jadi, ini bukan syariat suatu agama! Beberapa orang yang mengaitkannya dengan sejarah Paganisme pun tidak menjadikan Valentine sebagai suatu perayaan yang sudah pasti atau sudah valid berasal dari ajaran itu.

Beberapa Ulama Islam menyandarkan larangan merayakan Valentine pada sebuah nash hadits yang berbunyi “Every nation has its own Eid, and this is our Eid.” (Al-Bukhari, 952, Muslim 1892). Artinya, setiap bangsa memiliki hari besar masing-masing. Untuk itu, Valentine yang dinilai sebagai hari besar bangsa Roman, dinyatakan haram untuk dirayakan kaum muslim. Menurut saya, kesimpulan ini sangat janggal. Mengingat, hari besar tiap bangsa tidak menjadikan bangsa lainnya menutup diri. Kalau demikian, tentu kita tidak bisa hidup dalam harmonis dan toleransi. Lagi pula, jika memang benar Valentine ini lahir dari bangsa Roman dan sebab adanya kematian St. Valentine lalu diperingatilah hari itu sebagai suatu momentum kasih sayang, lantas menjadi suatu kesalahan?

Salah, jika perayaan itu dilakukan dengan hal-hal yang keluar dari ajaran Islam. Berkasih sayang bukanlah suatu kesalahan. Perayaan tanggal 14 februari itu hanya angka, nyatanya kita bisa berkasih sayang setiap hari setiap saat. Kasih sayang yang bagaimana yang diangkat dalam momen ini? Apakah benar kasih sayang sepasang kekasih yang belum menikah lalu bebas kumpul kebo?
Sebagai muslim kita tidak boleh terburu menyimpulkan bahwa momentum Valentine adalah kasih sayang yang sedemikian “kotor” itu hanya karena melihat fenomena anak muda demikian adanya. Itu sama saja dengan membiarkan non muslim mengatakan, “muslim itu teroris” sementara sebenarnya ajaran Islam tidak demikian bukan?

Apa sih bedanya peringatan hari sumpah pemuda, hari kemerdekaan, hari toleransi, hari ayah, hari ibu, hari pahlawan, dengan hari Valentine? Hello, semuanya sama-sama cuma tanggal dan bulan momentum. Bukan berarti kita hanya berkasih-kasihan di bulan atau tanggal itu saja. Sekali lagi, itu hanya momentum. Kita mengingat janji sumpah pemuda sebagai generasi muda Indonesia setiap harinya, kita merdeka setiap detik, kita wajib toleran setiap saat, kita wajib hormat ayah dan ibu seumur hidup dan kita wajib berkasih sayang sesama umat manusia. Sesama UMAT MANUSIA bukan sesama muslim saja. Kalau kita hanya berkasih sayang sesama umat muslim saja, berarti Islam bukan Rahmatan lil ‘Alamin dong? (dengan kasih sayang bagi seluruh alam berarti menghadirkan kedamaian, bukan perselisihan kan?)

global-1585383_960_720

Peace in Islam http://www.pixabay.com

Sedih rasanya membaca lembar demi lembar tulisan Muhammad Salih Al-Munajjid yang berjudul “al-ichtifaal bi ‘Eid el chub” atau yang artinya “Merayakan Valentine”. Ketika dia mengatakan “The purpose of Valentine’s Day in these times is to spread love between all people, believers and disbelievers alike. Undoubtedly it is haraam to love the kaafirs. Allah says: ‘You (O Muhammad) will not find any people who believe in Allah and the Last Day, making friendship with those who oppose Allah and His Messenger (Muhammad), even though they were their fathers or their sons or their brothers or their kindred (people)…’QS Mujadilah 58:22″

Bagaimana bisa seorang ilmuan Islam (Islam Scholar) mengatakan bahwa menebar kasih itu hanya untuk sesama orang Iman dengan menyandarkan alasan itu pada ayat Quran Surah Al-Mujadilah ayat 22? Bagaimana bisa kita dengan mudahnya mengatakan orang lain dengan label kafir hanya karena pola baca karbitan dan amatir terhadap Alquran?
Bagaimana Islam bisa dikenal sebagai rahmat bagi semesta alam jika dengan begitu mudahnya orang-orang yang mengaku dan diaku sebagai muslim scholar mengutip ayat Quran dan menafsirkan kata “benci” begitu saja? How come?! menurut saya, pemikiran seperti ini yang menyebabkan non-muslim beranggapan kalau selain muslim wajib diperangi dan dibenci. Padahal, penafsiran ini salah besar…

Ini bukti dari miskinnya pengetahuan kita umat Islam tentang istilah Kafir itu sendiri. Terlalu mudah mengutip, mudah latah, mudah menelan bulat-bulat informasi apapun. Tidak adanya sikap skeptis, minimnya minat membaca dan rendahnya budaya menghargai. Ini penyakit besar bangsa Indonesia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya.
Saya rasa penting di kesempatan ini untuk sedikit mengulas apa itu istilah kafir, dari mana asal kata itu dan makna yang bagaimana yang terkandung di dalamnya.
Untuk lebih mudah, saya merujuk pada pendapat Dr. Haidar Bagir. Di dalam kumpulan tulisannya di http://www.haidarbagir.com beliau menulis;

Di dalam Alquran, kekafiran identik dengan tindakan penyangkalan secara sadar, tanpa pengaruh tekanan dari luar. Iblis dan Fir’aun, misalnya, disebut kafir karena adanya penolakan dan penyangkalan terhadap kebenaran yang bahkan diyakini oleh keduanya (aba-wa-stakbara). Dengan demikian, kekafiran mengandaikan adanya penolakan dan pengingkaran seseorang atas sebuah kebenaran yang sampai kepadanya, yang telah ia pahami dan yakini sebagai sebuah kebenaran.”

Pendapat Dr. Bagir bersumber dari Alquran Surah Al-Baqarah ayat 89 yang berarti “Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya maka laknat Allah atas orang yang ingkar itu.”
Dengan keterangan tersebut, bukankah sudah jelas bahwa berkawan dengan orang Kafir adalah orang yang jelas-jelas memusuhi kita karena agama kita, orang yang jelas-jelas menolak Islam padahal ia sadar sepenuhnya bahwa Islam itu benar. Contohnya siapa? ya Fir’aun. Demikian kita bisa jelas mengatakan bahwa Fir’aun itu kafir. Ia menolak, mengingkari dan bahkan memerangi umat Islam, orang yang beriman kepada Allah Swt karena ia sebenarnya mengakui betapa kecil dirinya, betapa benar ajaran Islam yang disampaikan Musa a.s kepadanya.

Selanjutnya Dr. Bagir menerangkan bahwa Imam Ghazali berkata: “Orang-orang yang sampai dakwah kepada mereka, namun kabar-kabar yang mereka terima adalah kabar-kabar yang tidak benar–membuat citra Islam menjadi buruk–atau yang mengalami pemalsuan sedemikian rupa, maka orang-orang seperti ini masih diharapkan bisa masuk surga.”


Dan seterusnya bisa Anda simak di http://haidarbagir.com/non-muslim-identik-dengan-kafir/. Sebab bukan wewenang saya untuk mengelaborasikan lebih dalam mengenai hal ini. Saya masih banyak belajar. Hanya saja, saya rasa kita masih perlu mengerti perbedaan kafir dengan belum meyakini. Sungguh suatu perbedaan yang nyata. Dan kita tidak bisa mengambil kesimpulan sembarangan bahwa non muslim adalah kafir, maka kafir adalah musuh dan barang siapa berkawan dengan kafir ini maka ia juga termasuk kafir. Sungguh suatu kesimpulan yang teramat terburu-buru. Bukankah buru-buru adalah perbuatan setan?

Ah, membahas kelumit Valentine senantiasa berakar pada agama. Menyentuh bagian terkecilnya bahkan. Akan menjadi menarik dan bermanfaat jika diulas dalam kajian akademis, namun sayang banyak orang yang berpikir kerdil dan tertutup. Saran saya, hati-hatilah dengan menutup diri cepat-cepat, sebab selain terburu-buru adalah perbuatan setan, menutup diri tak ayal pun sama dengan istilah Kafir. Konon bahasa Arab melahirkan kata Kafir dengan rujukan Kuffar (maksudnya para petani yang menutupi kepala mereka dengan tudung). Kata Kafir kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi to cover yang artinya juga menutupi. Waspadalah jika kita sudah menutup diri dari berbagai ilmu, keterangan dan wawasan. Bisa jadi, istilah kafir itu malah balik ke diri kita sendiri.

Begitulah.

10301171_10206168675395938_426763847995190702_n

salah seorang murid, Beknur Sulaymanov memberikan saya kejutan Valentine, Februari 2014 di Sekolah Number 2, Bishkek Kyrgyzstan. *abaikan wajah saya yang gelap dan bulat, fokus pada coklat dan murid ganteng saya*

Kembali pada kenangan saya di Kyrgyzstan, suatu ketika seusai pelajaran, salah seorang murid menghampiri saya. Ia mengeluarkan sebatang coklat putih yang dikemas cantik. Dengan senyum ia meminta saya menerima pemberian itu. Saya menerimanya dengan sukacita. Saya memang tidak pernah merayakan Valentine sebelumnya, tapi tidak ada larangan dalam menerima pemberian penuh cinta. Meski sebenarnya kita tak harus menunggu hari Valentine untuk berkasih sayang, setidaknya kultur perayaan Valentine bisa diterjemahkan postif; menjadi pengingat kemanusiaan terlepas dari latar belakang sejarah dan kepercayaan agama masing-masing manusia. Adapun jika ada manusia yang merayakan Valentine ini dengan kenistaan (perzinaan, kumpul kebo, minum-minuman keras, atau hal-hal larangan agama lainnya) percayalah mereka itu sudah terbiasa bahkan sejak belum mereka merayakan Valentine. Saya memiliki banyak keluarga, sahabat dan teman yang merayakan Valentine baik muslim maupun non-muslim dan mereka sekedar memperingati hari itu sebagai suatu momen tepat untuk istirahat bersama keluarga, bersama suami/istri mereka dalam naungan kasih, kehalalan dan saling mengatakan rasa cinta di tengah-tengah keluarga. Masalah setuju atau tidak setuju dengan perayaan ini sudah sepantasnya disikapi dengan toleransi. Semuanya kembali kepada keyakinan masing-masing dalam menyikapi setiap perbedaan karena perbedaan sendiri adalah Rahmat yang dalam bahasa Arab artinya ‘kasih sayang’.

Catatan:

Tulisan ini saya buat pada tanggal 18 Februari 2016.

This entry was posted in Feature, Journal, Journalistic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s