Tidak ada Patriarki di dalam Islam

Seorang kawan mengabarkan pada saya bahwa temannya menulis beberapa kalimat tentang feminisme begini:

“Kartini bukan memperjuangkan emansipasi wanita layaknya para feminis. Beliau memperjuangkan nilai-nilai agamanya ISLAM yang menjunjung tinggi kehormatan dan hak para wanitanya.”

Jujur, dua kalimat yang ditulis oleh perempuan itu membuat saya geli sekaligus mual. Bagaimana bisa seorang perempuan, muslimah, dengan sedangkal itu mengatakan Kartini bukan seorang feminis? Saya berani menyebutnya dangkal dengan keyakinan penuh bahwa si penulis itu tidak memahami lahirnya feminisme dan latar belakangnya (paling tidak in general). Saya pribadi bukan seorang yang ahli dalam berbagai -isme di dunia tapi geli juga ketika ada orang yang mengatakan bahwa Kartini memperjuangkan emansipasi bukan seperti feminis. Hello? Kamu pikir Kartini bukan feminis? Justru dia-lah ikon Feminis di Indonesia! Selain itu, dengan mengatakan bahwa Kartini bukan memperjuangkan emansipasi wanita layaknya para feminis juga merupakan suatu kesalahan besar. Pemikiran seperti itu justru mengindikasikan feminisme yang tidak bergerak sesuai nama dan fungsinya. Berikut ini pemaparan saya:

Selepas mendengar kabar dan membaca tulisan itu saya bergidik. Bisa jadi, ini yang memang ada di pikiran sebagian besar para gadis Indonesia saat ini. Bisa jadi, perempuan Indonesia memang benar-benar tidak pernah membaca sejarah. Dan bisa jadi-bisa jadi lainnya.

Untuk itu di hari Jumat ini, selain memohon maaf kepada Allah Swt karena saya sadar bahwa tulisan ini tercuat sebab sulutan kesal dan keprihatinan–saya pun ingin mengarahkan pada temannya teman saya itu tentang feminisme. Feminisme secara mudah dan general. Karena dari riwayat yang saya terima, sangat disayangkan bahwa beberapa aktivis perempuan muslimah berkoar-koar tentang feminisme dengan penerjemahan yang ngotot (ngawur total) plus dipadu padankan dengan Islam tanpa melalui analisis yang mumpuni.

Feminisme

Feminisme lahir di Eropa sekitar abad 16 sampai 18 dengan asal muasal ketidak sepakatan kaum filsuf terhadap dogma gereja bahwa perempuan diibaratkan jelmaan iblis sebab sudah terpengaruh oleh bujukan iblis untuk memakan buah terlarang dan bahkan merayu Adam untuk memakannya. Sejak itu, persengketaan mengenai diskriminasi yang dilakukan gereja Eropa mengundang kritik tajam dari kalangan filsuf Eropa. Hadirnya revolusi Perancis dan revolusi industri membagi peran lelaki dan perempuan dengan bidang berbeda yang masing-masing stuck pada bagiannya. Laki-laki ditempatkan lebih pada sektor industri dan perempuan diplotkan pada sektor domestik. Struktur patriarki tentu menjadi landasan di dalamnya sehingga menyebabkan ketidak mampuan perempuan kala itu untuk muncul fleksibel di tengah-tengah masyarakat. Kalau di Indonesia kala itu, bisa dijumpai beberapa pembatasan kepada kaum perempuan seperti dipingit, (dipaksa) menerima poligami, hanya mengurus dapur sumur dan kasur yang kesemuanya sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam tentang kesetaraan gender dan menghormati hak-hak perempuan. Oleh sebab itu, wilayah yang tidak dikuasai oleh kerajaan Islam kala itu pasti perempuannya mengalami diskriminasi dan kemunduran intelektual.

Muncul gerakan feminisme di Eropa bertujuan untuk membebaskan perempuan dari segala aspek penindasan yang kala itu melanda mereka di Eropa. Sebab didasari oleh kesadaran adanya penindasan tersebut, kaum perempuan di Eropa bermaksud untuk mengubah pola pikir patriarki dengan mengusung konsep kesetaraan gender. Cara berfikir feminisme menurut suatu sumber dikatakan sebagai cara berfikir yang menekankan pada pengalaman, identitas, dan cara berada serta berfikir perempuan dilihat sama seperti pria. Atau mudahnya, adalah cara berfikir dan berfilsafat dari sudut pandang perempuan. Hal ini bukan mengindikasikan bahwa adanya kesamaan kelamin (sex). Hati-hati, Sex dan Gender adalah dua hal yang berbeda. Jadi, konsep kesetaraan gender yang diusung oleh kaum feminis adalah tidak adanya diskriminasi kepada perempuan. Praktiknya, perempuan sah-sah saja bekerja di kantor, ikut di sektor industri selama tidak melupakan tugas dan kewajibannya sebagai anak dari orang tuanya dan ibu dari anak-anaknya. Begitupun praktiknya pada laki-laki adalah sah-sah saja laki-laki bekerja di dapur, membantu istrinya mengerjakan urusan domestik, mengasuh anaknya di saat istrinya bekerja di kantor. Bahkan di dalam Islam tidak ada larangan akan hal ini. Selama sebagai laki-laki dan perempuan masih tahu kodratnya (sex)-nya berarti masih mengingat betul peran dan fungsinya.

Islam tidak mengenal PATRIARKI

Beberapa waktu lalu, saya membaca status Dr. Craig Considine tentang kesalahpahaman masyarakat tentang Islam sebagai agama yang menindas kaum perempuan. Perlu diketahui, Dr. Craig Considine adalah seorang Katolik Amerika yang meraih gelar Ph.D dari Trinity College Dublin. Beliau aktif memberikan kajian-kajian ilmiah seputar Islam yang selama ini disalahpahami oleh masyarakat baik non-muslim atau bahkan muslim sendiri. Penjelasan-penjelasan Dr. Considine sangat menolong sebab penjabarannya yang simple namun mengena dan valid.

CqI4hkEVIAAhQpu

sumber twitter @CraigCons

Intinya, Dr. Considine mengungkapkan bahwa terdapat 5 HAK YANG DIBERIKAN ISLAM KEPADA PEREMPUAN SEBELUM SEORANG FEMINIS BARAT MELAKUKANNYA. Bahwa 1400 tahun yang lalu, Islam telah memberikan kepada kaum perempuan hak berlebih dibandingkan apa yang telah didapatkan perempuan Barat di era terakhir diantaranya; 1. The right to vote (hak untuk memilih) di mana posisi perempuan di dalam kepemimpinan telah disebutkan beberapa kali di dalam Alquran, 2. The right to own property and wealth (hak kepemilikan dan kekayaan) di mana Alquran tidak hanya menjaminnya melainkan juga menyatakan bahwa kaum perempuan bukanlah milik suami-suami mereka, 3. The right to an education (hak mendapatkan pendidikan), di mana sejarah mencatat bahwa Universitas pertama di dunia (Universitas Al Karaouine (Al-Qarawiyyin) di Fes, Maroko) didirikan oleh Muslimah bernama Fatimah Al Fihri (Dr. Craig Considine tidak menuliskan langsung di status, tapi keterangan itu saya sertakan untuk kelengkapan bacaan Anda saja), 4. The right to work or not to work, di sini Dr. Considine menjadikan Khadijah (Isteri pertama and I believe the only wife yang Rasul Muhammad Saw cintai) adalah potret perempuan mandiri, pebisnis sukses dan di dalam sejarah tercatat juga sebagai sponsor nomor 1 di dalam dakwah suaminya, Rasulullah Muhammad Saw. 5. The right to modesty, (hak untuk berbuat baik/santun) di mana Islam sendiri menyatakan bahwa segala tindakan atau keputusan perempuan tidak tergantung pada persetujuan laki-laki.

Sebelum Feminisme Menyeruak di abad 18

RA Kartini lahir di abad 18, di tanah Jawa, seorang keturunan ningrat atau darah biru alias orang bangsawan. Dari kalimat tersebut semestinya sudah bisa dipahami, bahwa dari kelahirannya saja baru diawali dengan penyeruakan gerakan feminisme. Sebuah gerakan yang akhirnya “mencuat” sebab penindasan yang cukup lama terhadap kaum perempuan. Bisa Anda bayangkan: penindasan yang cukup lama di Eropa, kemudian baru didemo besar-besaran dengan feminisme, di saat itu pula seorang Kartini lahir. Di tanah Jawa pula. Ningrat pula. Di mana kita semua tahu struktur sosial yang ada di masyarakat Jawa menghambat kemajuan perempuan Jawa kala itu.

Mari kita tinggalkan Kartini sejenak di situ. Saya ingin memperkenalkan Anda dengan satu kondisi jauh sebelum lahir Kartini, jauh sebelum kaum perempuan Eropa berteriak menolak diskriminasi, jauh sebelum omong-omong soal Feminisme ini bergulir…

Di tanah rencong Aceh pada masa kejayaan kerajaan Islam Aceh di akhir abad 15, lahir putri bangsawan bernama Keumalahayati. Singkat kata, tuan putri ini kemudian terkenal menjadi Laksamana Keumalahayati. Untuk cerita mengenai perempuan ksatria ini sebaiknya Anda baca seksama di sini

Yang ingin saya bahas dari sejarah tentang Laksamana Keumalahayati adalah kehidupannya dalam kerajaan Islam di Aceh. Islam yang tidak mengenal patriarki. Tidak pernah mengajarkan pada satu lelakipun di dunia ini untuk membuat kedudukan perempuan menjadi inferior. Bahkan memuliakan sedemikian sangatnya kepada posisi perempuan dan peranannya. Tidak seperti yang dialami Kartini dengan kebudayaan Jawa-nya kala itu. Oleh sebab itulah saya tadi berkata bahwa pasti di abad 15-20, wilayah atau negara yang tidak dipimpin oleh kesultanan Islam kebanyakan perempuannya mengalami diskriminasi dan kemunduran intelektual. Termasuk di Eropa. Jika orang berpikir Eropa sudah maju sejak dulu itu salah besar. Kerajaan Aceh dengan pahlawan Laksamana Keumalahayati menjadi salah satu bukti otentik. Saya bahkan belum membahas tokoh-tokoh perempuan Islam lainnya seperti Cut Nyak Dien dan Rohana Kudus.

Maka, saya sangat mengharapkan kepada perempuan, siapapun Anda. Untuk lebih dalam menggali bacaan kita, banyak-banyak mendalami ilmu, tidak begitu mudah mengatakan sesuatu yang kita tidak tahu atau hanya mengerti sedikit saja. Jika memang dirasa perlu menyampaikan sesuatu, sampaikanlah dengan betul-betul. Sampaikanlah sesuai apa yang memang menjadi kenyataannya.

Kini, melihat fenomena muslimah Indonesia banyak yang salah mengartikan feminisme, membuat saya semakin prihatin. Mungkin jika tulisan ini belum bisa membantu untuk sadar membaca saya harap doa saya didengar oleh Allah. Bagaimanapun saya yakin, kebenaran hanya ada satu. Misal, kita tidak perlu menjelek-jelekkan Kartini karena dia tidak bersalah. Sudah begitu banyak sejarah dibolak-balik kebenarannya. Sudah mungkin lebih dari ribuan tokoh disalah artikan dan dijadikan ikon yang semestinya bukan dia untuk menjadi yang paling tepat untuk mewakili suatu kebenaran.

Kuncinya, belajarlah terus menerus. Stay foolish stay hungry, begitu kata Steve Jobs. Teruslah merasa bodoh untuk terus lapar belajar. Jangan mudah untuk mempercayai sesuatu hanya karena itu dipercaya ribuan orang. Jangan mudah untuk memberi label pada seseorang atau golongan tertentu hanya karena banyak ulama mengatakan itu sesat. Jangan terlalu terburu-buru dalam membaca dan mengutip hanya karena ingin tampil eksis di media sosial maya yang akhirnya malah menjadi salah penafsiran dan pemahaman.

Semoga kita bisa memperbaiki mulai dari diri kita sendiri tentang arti emansipasi perempuan sesungguhnya. Saya harap, tidak ada lagi tuh kutipan-kutipan atau quote yang dicantumkan para “akhwat” atau aktivis Islam (lelaki/ Ikhwan termasuk juga) yang sembarangan menerjemahkan feminisme atau APAPUN. Apalagi pake bawa-bawa ajaran Islam segala.

Ayo benahi diri kita sendiri, keluarga kita sendiri. Kalau semua orang sadar diri saya yakin masyarakat Indonesia akan kembali membaik dan menuju kecemerlangan layaknya masa kejayaan Kerajaan Aceh di abad 15!

This entry was posted in Journal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s