Untuk Sukma

Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

kopi dan lily

“Aku, secangkir kopi favorit Besse dan sejambang bunga Lily  di musim Semi,” (dokumentasi http://www.pixabay.com)

PERTENGAHAN musim semi menawarkan kebahagiaan. Terdengarnya kicauan burung Magpie di pucuk-pucuk pepohonan tinggi dan taman-taman Lily. Atau seorang gadis yang meletakkan lembut kepalanya pada bahu sang lelaki di bawah teduhan Sycamore. Layaknya sebuah tawaran, pabila tak dijumpainya sebuah penerimaan maka kebahagiaan itu kan pergi menempati ruang barunya. Anggapan itu selalu hadir setiap musim semi. Dan kesempatan ini membuat saya menginginkan kebahagiaan itu bersemayam. Tak cukup sekali, namun bersemi abadi. Bagaimanapun, untuk menempatkan kebahagiaan itu, saya cukup menoleh sejenak ke masa lalu. Mencari di mana letak besar kesalahan saya untuk mengajukan sebuah permohonan. Saya harap, usaha ini berhujung sukacita. Atau Magpie kan pergi terhempas angin musim panas dan bunga-bunga Lily mengering bersama harapan.

***

“Sukma, surat ini tak lebih dari permohonan maaf yang hendak saya sampaikan kepadamu. Tentunya, di saat kedua mata kita saling menatap dan jemari kedua tangan kita saling menjabat erat. Hanya saja, kepedihan ini teramat sulit disingkirkan. Sejatinya, manusia penuh amarah seperti saya tak hanya perlu berlaku sampai begini. Andai saja ada sesuatu yang lebih pantas untuk bisa saya lakukan, maka surat ini tidak menjadi saksi bisu permohonan maaf. Hidup manusia tidak akan pernah lebih lama dari kebisuan itu sendiri, untuk itu, ampunilah saya.”

Begitu selesai menulis surat, saya segera merapikan diri untuk berangkat menuju bandar udara. Perjalanan kali ini dirancang khusus untuk menemui Sukma, apapun dan bagaimanapun kondisinya. Melayangkan surat melalui pos memang menyingkat waktu namun saya yakin kesungguhan isi surat tidak akan menyentuh perasaan gadis itu sama sekali. Jadi, ketika dokter Bob mengizinkan untuk pergi dan saya biarkan ia memberi sedikit bekal obat selama perjalanan jauh ini, saya putuskan untuk pulang ke Tanah Air.

Jasmin, putri saya mengatakan, sudah dua tahun belakangan ini Sukma menjadi penulis novel misteri paling masyhur. Karya-karyanya mendapat pujian, dan beberapa acara dikendalikan langsung olehnya di beberapa kota besar. Salah satu acaranya itu memberikan peluang bagi saya untuk berjumpa–meski baru dianggap ‘bisa saja bertemu’. Jasmin, memberi semangat ekstra agar perjalanan 17 jam ke depan penuh optimis.

“Apapun yang terjadi, Mama adalah yang terbaik bagi Jasmin.” kalimat itu yang saya tanamkan sejak kaki melangkah masuk ke kabin pesawat. Dan musim semi terindah sepanjang hidup ini mulai memberikan penawaran-penawaran lain; menjadi lebih yakin atau memusingkan diri sebelum bertemu Sukma. Saya memilih diam. Agaknya, bertaruh dengan harapan sendiri bukan solusi tepat. Saya tidak ingin mempertaruhkan apapun, hanya bertemu Sukma, menyerahkan surat itu dan meninggalkan seulas senyum. Tidak boleh ada harapan lebih setelah itu, karena semua sudah selesai.

Benar adanya, Sukma menjadi orang terkenal dua tahun terakhir ini. Begitu tampak wajahnya terpampang di suatu banner depan hotel, saya mantap melangkah masuk.

“Reservasi atas nama Primavera Besse,” ujar saya, “…dan, jika memungkinkan saat ini, bolehkah saya minta rundown acara talkshow bersama Sukma nanti malam?”

Tak lama, petugas hotel mengantar saya ke kamar dan menyerahkan secarik art paper berisi susunan acara bersama Sukma.

“Anda pembaca setianya, ya?” petugas muda itu menyunggingkan senyum.

Saya mengangguk. Di dalam hati saya nyengir, belum ada satu kalimat pun dari tulisan Sukma yang pernah saya baca. Selama ini saya…ah, sudah terlalu jahat padanya. Hal itu sudah membuktikan bagaimana pecundang macam saya bisa berlagak dimaafkan untuk berbagai kenangan yang terlanjur dirajut pahit.

“Pertemuan malam ini akan menghebohkan para pembaca. Ia meluncurkan satu buah novel yang menjawab kisah sebelumnya.” petugas muda itu terlihat antusias, ia berpikir telah berjumpa dengan penggemar karya Sukma lain, yang mungkin terkesan lebih fanatik sebab rambutnya sudah memutih dan mau-maunya menghabiskan 17 jam dengan pesawat hanya berjumpa dengan Sukma. Sambil memindahkan koper ke dalam dan merapikan keset, lelaki muda itu menunduk pamit, “selamat beristirahat, Nyonya Besse.”

“Tunggu,” sergah saya sembari membuka tas bermaksud meraih dompet yang semestinya sudah saya siapkan dari awal kedatangan. Lelaki muda itu menggelengkan kepala, “tidak perlu, Nyonya.”

“Ah, tidak banyak pula. Tolong diterima.” saya menyelipkan beberapa dollar yang belum sempat saya tukar, ke tangannya sambil menahan ia sebentar. “Nanti malam, saya membutuhkan seseorang untuk menemani saya di acara Talkshow bersama Sukma. Saya harap Anda sedang tidak bertugas.”

“Tentu, Nyonya. Saya juga penasaran dengan bagian akhir cerita itu…” mata lelaki muda itu berbinar-binar.

“Anu… sebenarnya saya bukan salah satu pembaca setia Sukma,” tukas saya. “Sesuatu membuat saya harus menemuinya dan menyelesaikan hal yang selama ini tertahan antara saya dengan Sukma.”

Petugas hotel itu terdiam sejenak. Kemudian ia mengangguk sopan, “Saya akan membantu Anda bertemu dengan Sukma. Kebetulan, saya cukup kenal dengan salah satu tim manajerial yang bertanggung jawab di sini.”

“Oh, bagus sekali kalau begitu.”

“Saya permisi dulu, Nyonya. Mungkin sekitar pukul tujuh malam, saya sudah siap dan menjemput Nyonya di sini.”

“Baik, Ide bagus.” jawab saya. Kami berpisah di ambang pintu. Namun saya teringat sesuatu. Dengan cepat saya buka kembali kenop pintu dan memanggil lelaki muda itu, “Sebentar, Nak!” seru saya, “Sepertinya saya butuh secangkir kopi. Apakah di restauran hotel menyediakan salah satu kopi terbaik?”

“Kami punya kopi Papua,” ujar petugas hotel. Ia masih berdiri tak jauh dari ujung koridor sempit yang memantulkan suara kami berdua. Saya mengangguk. Dan ia kembali melanjutkan langkahnya.

*

coffe-mill-1478865_960_720

“tak jauh dari alat penggiling kopi kami yang sudah tua, dia selalu menyeduh secangkir kopi Wamena setiap hari,” (dokumentasi http://www.pixabay.com)

Suami saya, Norman Besse adalah seorang pecandu kopi. Dia sudah tidak lagi mengatakan, “pingin ngopi, ah,” sebab tak jauh dari alat penggiling kopi kami yang sudah tua,  dia selalu menyeduh secangkir kopi Wamena setiap hari. Dan, kopi terbaik itu memberi kenangan tak terhitung; pertemuan pertama, lamaran, pertunangan, pernikahan, bulan madu, juga masa tua. Besse telah memilih untuk mencoba, bertualang dengan berbagai macam kopi di dunia. Hanya saja, ia selalu kembali pada Wamena. Suatu petang, Besse menitipkan pesan terakhirnya, sebelum kemudian saya temui ia tidur di dalam keabadian. Di dalam pesan itu ia berkata,

“sesuatu yang manis akan timbul setelah rasa pahit. Begitulah Tuhan memberi benang merah pada kehidupan ini. Begitu pula yang kunikmati dari kopi Wamena. Ditanam jauh dari kegetiran pantai namun menghasilkan pedar yang sama, bergumul pada kesejukan bukit di Papua namun menjelma keharmonisan saat menyesapnya. Jika tidak berlebihan, beginilah caraku menyandingkan kau dengan kopi terbaik. Apapun yang melanda karang dan membuatnya sompong, tetap mustahil menjadikannya karam. Dan siapapun yang berusaha merampaknya, tidak merasa sesuatu selain gula yang menyembuhkan dendam.”

Agaknya, Besse terlalu berlebihan. Ia selalu menganggap seorang Primavera adalah primadona. Dan harapan Besse itu terlalu menyeret saya pada keegoisan, kesombongan serta berbagai kekurangan yang mestinya tidak boleh dijadikan sikap.

Singkatnya, sejak Besse meninggal, saya dihantui kekosongan. Perasaan tumpang tindih antara menginginkan kenangan bersama Besse hadir melalui kopi favoritnya dari tanah Papua sekaligus membencinya. Tapi, Besse tidak pernah kembali. Dan usaha saya menghadirkannya selalu gagal. Saya tidak pernah benar-benar menerima kematian Besse.

Lambat laun, usia saya semakin senja dan penyakit-penyakit fisik sebab pikiran mulai bermunculan. Jasmin pun menghadirkan seorang gadis untuk menjadi asisten pribadi saya. Seorang perempuan yang harus memenuhi beberapa syarat utama; terampil, mahir menulis, dan tentunya membantu apapun yang berkaitan dengan pekerjaan saya. Syarat terakhir yang menjadi kunci adalah tidak ada KOPI. Dan, meski secara sadar saya mengerti bahwa perempuan ini juga menaruh kecintaan yang luar biasa pada kopi Wamena, dia terlihat berusaha sekeras mungkin untuk mengingat bahwa majikannya tidak menyukai kehadiran minuman itu bahkan pun dengan hanya menghirup semerbaknya!

Tahun demi tahun berlalu dan penyakit ini semakin menjadi-jadi. Perempuan pintar itu berusaha mendorong semangat hidup saya dan memacu segala aspek yang penting yang bisa saya kejar. Sampai suatu hari, salah satu usahanya sangat mengagetkan saya.

Hari itu ulang tahun Besse. Saya biasa melaluinya dengan doa, waffle hangat dan lilin di sekeliling foto Besse, tanpa kopi. Satu-satunya hal yang ingin saya hadirkan namun tidak pernah bisa menolong saya untuk melewati semuanya. Karena Besse terlalu kuat dan identik dengan aroma kopi kesukaannya. Maka, tanpa saya duga, pada kesempatan itu, seseorang telah mengubah letak barang-barang di ruang kerja saya. Ruang kerja direktur yang bertahun-tahun tidak pernah ditata sedemikian cantiknya. Si penata tahu betul saya menyukai warna putih, dan bagaimana ia mampu mengombinasikan bunga Lily dengan White Rose di sebuah jambang kristal. Di sudut ruangan terdapat foto saya dengan Besse, ditaruh pada meja bundar yang berselimut taplak putih keemasan. Di sekitar situ terdapat waffle, lilin-lilin dan… saya menghirup aroma yang selama ini berusaha saya singkirkan. Aroma kematian, aroma yang tak pernah membuat Besse kembali ke pelukan saya!

Aroma kopi Wamena!

Seketika air muka saya memerah menghimpit tangis di dalam dada. Kenangan bersama Besse, suaranya berputar-putar mendengung. Amarah saya lajak memuncak disertai kerinduan namun benci turut meradang menggelora. Seorang perempuan datang menemui saya dengan berseri-seri meski hanya sesaat dan berubah kacau dengan sendirinya. Ia gemetar di depan saya yang sudah menangis berlarut-larut. Melihat saya hendak roboh, ia bergegas memanggil Jasmin. Setelah itu, saya mengusirnya dan menganggapnya sebagai suatu kesalahan.

Perempuan itu bernama Sukma.

*

“Begitulah akhirnya sampai saya tahu, bahwa Sukma bukan pelakunya,” saya terkekeh sedikit, “maksud saya, seseorang yang menaruh secangkir kopi justru adalah Jasmin, putri saya sendiri. Ia berusaha membuat saya kuat dengan menerima kepergian suami saya, Besse. Dan, ia agaknya sedikit muak jika melihat saya sakit terus menerus dan membenci aroma kopi. Padahal menurutnya, kopi kesukaan Besse masih bisa saya nikmati dengan keluarga. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Sukma terlanjur pergi dan betapa mulia hatinya, ia tidak menyalahkan Jasmin sedikitpun!” Saya menjelaskan cerita tujuan saya bertemu Sukma kepada Nona Astin, sekretaris Sukma. Perempuan itu mengingatkan saya sedikit pada majikannya yang dulu menjadi asisten pribadi saya.

Nona Astin kemudian bangkit dan saya mengikuti gerakannya. Ia memeluk saya sejenak dan memohon untuk menunggu Sukma di kamarnya. Hanya saja, seperti yang sudah saya rencanakan, saya hanya menitipkan secarik surat dan, “…secangkir kopi Wamena untuk Sukma. Barangkali, ia sudah sedikit melupakan saya.” tandas saya. Sebelum pergi, saya juga meninggalkan catatan kecil di belakang amplop.

Seusai meletakkan semua yang saya pinta di meja kamar Sukma, Nona Astin mengantar saya keluar kamar. Ia berjanji bahwa semua titipan itu akan ditemui majikannya. Dengan perasaan cukup lega, saya berjalan keluar hotel ditemani petugas muda yang baik hati. Ia bahkan ikut menitikkan air mata saat saya menceritakan perjuangan saya untuk bisa menyampaikan itu semua. Sebelum kami berpisah, petugas muda itu sempat memberikan saya sebuah kenang-kenangan. “Anda akan terperangah dengan kisah yang ditulis Sukma,” ujarnya, lalu kami saling melambaikan tangan.

***

PEMAKAMAN Besse dirawat oleh seorang kakek yang masih tegap badannya. Ia menemani saya di depan pusara dan mengoceh banyak hal. Sementara mata saya menatap sekeliling dan berusaha mencari tahu apakah rencana saya berhasil atau tidak, namun si kakek terus membuyarkan pikiran saya. Tak lama, ia meninggalkan saya sendirian dan saya putuskan untuk menatap pusara Besse lekat-lekat lalu memejamkan mata. Tak sampai beberapa menit saya berdoa, hidung saya menangkap aroma sedap kesukaan Besse. Saya masih terpejam, berusaha menikmati aromanya. Besse sudah tidak ada di dekat saya, namun spirit cinta dan kehangatannya entah mengapa berlabuh dan memeluk jiwa saya rekat erat. Kala itu, saya mendongakkan kepala dan mendapati perempuan yang saya tunggu telah tiba sambil menyodorkan kopinya.

“Bagaimana kau menyelesaikan bagian akhir novel itu?” tanya saya.

Well, si direktur akhirnya mengerti bahwa orang yang mencintainya tidak pernah benar-benar pergi.” ucapnya lirih. Semburat sinar mentari mulai berpendar, dan menutupi pipi merah saya yang menahan haru.

TAMAT

This entry was posted in Literatures, Short Stories. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s