Apakah Aku Bisa Menjadi Penulis dan Bagaimana Aku Menemukan Jawabannya

l64-ww-wp21

dokumentasi google

Kali ini benar-benar menguras pikiranku. Berhari-hari, berpekan-pekan!

Seorang dosen favoritku di kampus dulu pernah berujar, jika aku ingin memproyeksikan diriku ‘bakal jadi apa’ di masa depan, buku-buku di rak adalah cermin. Mereka berderet di sana. Ada yang sudah terjamah berkali-kali, ada yang masih separo, masih juga mulus baru kubaca-baca sinopsisnya pun ada.

Tahun ini aku menargetkan hidupku membaca buku-buku sufi, di mana belum sepenuhnya selesai kubaca bahkan boro-boro kurangkum. Website Fethullah Gulen selama ini baru kubaca lepas dan lagi-lagi mati di sela jadwal kantor. Aku tidak bisa menyalahkan rutinitas, tidak boleh sebenarnya. Meski selalu saja menimpa macam itu.

Bisa jadi, setelah tahun ini, aku jadi sedikit jenuh dengan sufistik, atau kecanduan membaca–bukan perkara apakah intisari ajarannya masih bersemayam atau tidak. Bagiku, mengeluh ‘jenuh’ bukan berarti benci lantas meninggalkan serta merta. Jadi, beberapa susunan judul dari “Books Challange 2016” sepertinya terwujud walau tidak 1 bulan dengan 1 buku dan 1 review/resume.

Sementara, tanggal 9 September besok aku akan melangsungkan pernikahanku. Kedua adik kembarku menjadi panitia inti, mereka disuruh Mom sejak komunikasiku tidak lagi “menyenangkan” bagi Mom. Bayangkan; aku stres di kantor (aku akan menceritakan hal ini lain waktu kalau sudah resign), tidak berhasrat mengurus pernikahanku (sebab semua rancangan itu bikinan Mom), dan malah fokus pada pertanyaan Apakah Aku Bisa Menjadi Penulis?

Kubaca beberapa tulisan penulis di blog mereka dan hasilnya di luar ekspektasiku!

Beberapa poin ini menjadi sangat penting untuk kemudian menjawab sendiri pertanyaan yang kulayangkan:

Menjadi penulis dan menulis apa yang aku mampu, aku sukai dan aku inginkan ada

Boleh jadi, meski bosan dan jenuh itu menyerang perasaan atau mood-ku selama membaca sufisme, beberapa waktu lainnya mengawinkan rasa cintaku yang berlebih terhadapnya. Jadi, pada poin pertama ini aku sudah bisa menjawab bahwa ya, aku bisa menjadi penulis. Dan, uniknya, jika melihat dari apa yang ‘selama ini kutulis’, sepertinya aku bisa meramalkan bakal menjadi penulis apa.

Well,

Aku akan menjadi penyebar damai. Novelku akan membahas sesuatu yang bertema religi. Sebentar, jangan terburu mual, atau mendeskreditkan cita-citaku. Jika yang kau bayangkan bahwa religi ini mengacu hanya pada Islam (agama yang kuimani), atau kalimat-kalimat standar tentang penyebaran keyakinan? Atau jangan buru-buru berpikir kelak aku akan menulis halus-halus atau pun terang-terang ayat-ayat Tuhan di dalamnya?

Justeru, aku adalah pembaharu. Cerita-ceritaku mengaliri gagasan lama yang cukup lama membuatku diare. Mengubah mereka menjadi sesuatu yang lain. Atau aku lebih suka sebenarnya tidak merubah apapun dan hanya memberikan perspektif baruku terhadap sesuatu yang selama ini sering “dikambing hitamkan” dan dijadikan bulan-bulanan. Gosip, sesuatu yang asik dan makin sip ini terus menjamur. Mereka menjadikan gosip sebagai cara dari tulisan-tulisan bertemakan religi yang mereka sebut “religi” namun tidak bagiku.

Kau akan tahu, aku akan menulis sesuatu yang lain. Sesuatu yang jika kau baca berangsur-angsur, kau merasa pulih. Dan semakin kau menikmatinya, rasa terganggumu malah mulai bangkit dan mengalahkan kepulihanmu itu.

Aku akan membuat buku yang seperti itu. Bersiaplah bagaikan menaiki sesuatu yang entah apa namanya karena memang karyaku kelak bukan suatu hal yang “standar”.

Aku Punya Bakat dan Aku Harus Menulis

Oke, aku tidak memaksakan diri karena jika kulihat portofolio, beberapa prestasi menulisku boleh dibilang selalu membuat Mom senang. Biasanya, ibu-ibu ortodox akan menyuruh anak-anaknya menjadi guru, bidan, dokter, ahli hukum atau pekerjaan “pasaran” yang menurut mereka mampu menghidupi. Namun sejak Mom tahu bahwa caraku menulis, kehidupanku di dalamnya dan bagaimana aku bisa membawanya di acara-acara penganugerahan membuatnya bangga untuk kemudian mengatakan, “Anakku seorang penulis.” Nyatanya, sedikit dari dirinya masih membela diri bahwa menjadi jurnalis tidak tepat buatku, alasannya, aku harus pandai menjaga diri. Mom takut kehilanganku. Di masa mudanya, sekelompok jurnalis yang dibungkam rezim, pernah dikabarkan terpasung kaki dengan semen, dilempar ke laut hidup-hidup sementara bangkainya dimakan hiu. Benarkah? (Setahuku hiu tidak suka bangkai atau sesuatu yang tidak memancingnya penasaran karena bergerak-gerak di permukaan seperti penyu).

Intinya, aku tetap diperbolehkan menjadi penulis. Berpenghasilan atau tidak dan Mom menyetujuinya.

Aku Menulis Sebab Dunia Ini Memerlukannya!

Tidak terkesan memaksa. Aku menanamkan sesuatu yang kunamakan, “percaya diri” dan terkadang beberapa energi dari frasa itu bermakna penting. Setidaknya, jika energi itu dimanfaatkan dengan baik dan bukan sebaliknya (sebab frasa ‘percaya diri’ punya oposisi biner) akan mendorong seseorang mewujudkan sesuatu yang selama ini hanya berkutat pada benak atau doa.

Satu cita-citaku, untuk menguniversalkan Islam dan menanam sifat ‘salam’ dari dalam tubuh Islam kepada dunia secara universal. Mereka butuh kesadaran otentik dari pemahaman agama yang semestinya juga otentik. Kuharap, cita-citaku yang mungkin terkesan “mustahil” bagimu atau ‘ecek-ecek’ bisa melebihi dari sekedar doa dan imaji.

Nah, begitulah bagaimana aku bertanya dan menjawab sekaligus. Jangan pernah menyesali sudah habis membaca satu tulisanku di sore ini, kelak bisa jadi kau mengalami hal serupa.

anyway, aku tidak mengharap imbalan apa-apa saat itu terjadi. don’t thank me.

This entry was posted in Journal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s