Burung Kecici dan Anak Pemburu*

cerpen ini dimuat di HARIAN JOGLO SEMAR edisi Minggu, 31 Juli 2016

Amalia
ilustrasi oleh Amalia Septyani

Jauh sekali dari Siberia, sekelompok burung kecil cantik bersuara merdu mengepakkan sayap-sayap mungil mereka melawan perubahan cuaca. “Terus mengepak! Jangan menyerah! Kita hampir sampai di oasis!” seru Toro, pemimpin kelompok Burung Kecici. Ia terus memacu semangat dirinya dan kawan-kawannya untuk setidaknya bisa sampai pada suatu oasis padang pasir yang ditumbuhi tanaman rimbun. Burung-burung berbulu hitam itu sudah sangat lelah. Tak cukup peluh bertetesan untuk menggambarkan bagaimana mereka bersusah payah agar selamat dari cuaca tak bersahabat di negeri asalnya.

                Toro masih berjuang dan terus memacu semangat kawanannya. Sipiri mencoba untuk membantu pemimpinnya itu. Ia mengeluarkan bunyi-bunyi khas dari posisinya agar bergantian dengan Toro yang sudah kelelahan. “Istirahatlah pemimpin, aku akan mengganti tempatmu sejenak.” Namun Toro menolak, “sebentar lagi kita hampir sampai. Setelah itu kau bisa menggantikanku!” Lalu mereka berjuang kembali sampai tiba di sebuah oasis.

                “Selamat datang! Kita telah tiba di…”

                “DORR!” sebuah tembakan terdengar membahana memekakkan telinga mereka. Toro belum selesai berkata-kata, namun Sipiri melihatnya berhenti mengepakkan sayap. “Toro!” jerit Sipiri. Ia bergegas mengganti tempat pemimpinnya itu. Toro melayang-layang sejenak di udara hingga akhirnya menghujam bumi. Tak lama, bersusulanlah suara tembakan. Sipiri dan kawanannya berusaha sekuat mungkin menyelamatkan diri mereka sehingga mereka terpaksa berpencar. Sipiri mulai terbang rendah untuk menghindari serangan tembakan dari darat dan mencoba bersembunyi dari sela-sela rimbunan pohon sembari memberi aba-aba kepada kawanannya. Sayangnya, suara Sipiri tak terdengar oleh kawanannya. Kawanannya terus melaju sementara Sipiri masih terbang di antara rerimbunan. Ia terus mengepakkan sayapnya, membentur dedaunan, ranting-ranting pohon dan kayu-kayu. Mata kecilnya mencari-cari ke arah teman-temannya di langit sambil terus mengepakkan sayap. Tidak ia sadari, sesuatu berada di hadapannya dan bruk! Sipiri terjerat perangkap manusia!

***

                “Bagaimana ini? Sayap dan kakinya menempel di antara getah perangkap!” bisik seorang anak manusia pada dirinya sendiri. Seorang anak lelaki bertubuh kurus tinggi yang berhasil menemukan Sipiri yang terperangkap. Sipiri mulai siuman. Sepasang mata manusia sedang mengamatinya dan ia hanya bisa memandang samar-samar. Sipiri menutup dan membuka kelopak matanya dengan amat lemah. Ia ingin sekali minum. Sudah berhari-hari ia tidak memasukkan sesuatu apapun ke temboloknya.

                “Air…aku mau air…” rintih Sipiri begitu letihnya.

           Bagaikan disihir, anak lelaki itu memberinya tetesan air dari embun yang menempel di dedaunan. “Kupikir kau ingin minum, ini minumlah…” anak lelaki itu memberi Sipiri air sebab dilihatnya lidah mungil Sipiri menjulur-julur.

       Sipiri berusaha mengumpulkan segenap tenaga untuk mengepakkan sayapnya. Ia berhasil menggerakkan pundi-pundi udaranya, namun saat ia hendak bangkit, sadarlah ia berada di dalam perangkap manusia. Seketika, lemas sudah tubuh Sipiri. Hanya terngiang “mati…mati…mati…” dan terus terlintas di benaknya. Sipiri mencoba membuka matanya perlahan dan melihat dengan jelas. Sepasang bola mata manusia yang menatapnya kini tampak begitu besar dan menyeramkan. Seketika Sipiri menjerit-jerit, ia mencoba menggerak-gerakkan kedua sayap kecil yang dalam anggapannya sudah koyak.

                “Oh, oh, tenang wahai burung kecil… Aku Monro, aku tak akan menyakitimu.” seru si anak lelaki. Senyumnya mengerutkan pelipis mata dan menyorotkan pandangan penuh ketenangan bagi Sipiri. Burung itu mulai mengatur napasnya yang sudah tak karuan. Rasa takutnya sudah memuncak dan ia yakin, ia lebih baik mati ditembak seperti Toro.

               “Nah, kalau tenang begitu aku bisa menolongmu.”

             Entah dari mana asalnya, Sipiri bisa mengerti apa yang dimaksud Monro. Perlahan, ia membiarkan tangan-tangan kurus anak itu menjamah bulu-bulu pada sayapnya yang terpulut. Monro memastikan tidak ada satu helai bulu pun yang tercabut atau tertinggal di perangkap. Namun, meski sayap Sipiri sudah tidak menempel pada perangkap, Sipiri belum bisa terbang. Ia duduk di atas telapak tangan anak lelaki itu. Dengan senyum mengembang, Monro berkata, “Aku akan menyesap pulut yang menempel di sayapmu. Setelah itu, kau bisa pergi jauh.”

             Sipiri tidak bergeming. Ia memperhatikan betul bagaimana Monro menyesap pulut dari helai-helai bulu sayapnya, dari kedua kaki mungilnya. Sipiri tidak mengerti, jika manusia memasang perangkap mengapa susah payah ia melepaskannya.

          “Ayahku yang memasang jebakan untuk kau dan kawananmu,” pungkas Monro. Anak itu selalu bisa mengerti apa yang ada di dalam pikiran Sipiri. “Kau sudah bersih sekarang. Kau bisa terbang! Pergilah!”

             Sipiri memandang takjub pada kedua sayap utuhnya! Ia hendak mengambil ancang-ancang untuk terbang namun diliriknya pipi Monro dan dikecupnya. “Aku tahu kau mengerti. Semoga kelak aku bisa membalas budi baikmu, anak pemburu.”

***

                Tidak terlalu sulit bagi Sipiri untuk menemukan di mana Toro berada dengan mata jelinya. Sahabatnya itu berada di sela-sela ranting pohon jatuh di permukaan tanah basah. Sipiri hendak meluncur menuju tubuh tak bernyawa sahabatnya itu, namun ia mengurungkan niat. Ia tahu betul langkah kaki manusia tengah mendekati jasad Toro. Sipiri memilih bersembunyi dibalik dedaunan pohon dan mengamati dari jauh.

                “Ah, burung kesebelas!” ujar seorang pemburu sambil memungut ringan burung Kecici mati yang tak lain adalah Toro. “Jika Toro adalah burung kesebelas, itu artinya kawanan lain sudah mati,” gumam Sipiri. Ia berkabung dalam sunyi. Menahan isak tangis dari balik dedaunan rimbun agar tak terdengar sang pemburu. Setelah memastikan bahwa pemburu itu sudah pergi, ia perlahan bergerak mengikuti.

                Benar sudah, seluruh kawanan Sipiri berhasil ditembak mati. Mereka dan Toro disusun pada sebuah baki besar dan dijajakan di sebuah pasar. Sipiri, lagi-lagi hanya memandang dari jauh. Tak mungkin baginya untuk turun kecuali ia memang ingin menyusul mati. Sebenarnya, sudah tidak ada lagi yang bisa ia banggakan di dalam kehidupan ini, sebagai seekor burung kecil dan kemalangan yang menimpa dirinya, kawanannya, bahkan sahabat seperjuangannya. Sipiri tidak memiliki siapapun saat ini untuk diajak bersusah senang bersama. Sipiri berpikir, mungkin mati menjadi pilihan terbaik saat ini. Ia akan datang menyerahkan diri, atau merebah begitu saja di atas tanah dan manusia bisa memasaknya.

                Sipiri menundukkan kepala serta memejamkan mata sejenak tuk membulatkan tekad agar mati, sementara telinganya menangkap sayup-sayup suara Monro. Spontan ia terbelalak, mencari-cari di mana sosok Monro. Sipiri mendapati anak lelaki itu sedang menangis dimarahi ayahnya.

                Monro tidak bisa menembak.

Parahnya lagi, Monro ketahuan melepaskan seekor burung dari pulut! Itu yang didengar Sipiri. Di masyarakat Monro, menembak burung adalah suatu keandalan. Burung kecil bermata jeli dan gesit, tidak mudah untuk ditembak mati jika bukan seorang pemburu sejati. Monro menyandang nama keluarganya, sebagai salah satu turunan pemburu yang cakap melakukan tugasnya tiap tahun. Atau, keluarganya akan malu jika mengetahui ternyata keturunannya tidak bisa membidik senapan pada sasaran dengan baik.

                Monro mengasingkan diri ke sebuah bangunan kecil setelah ayahnya menggerutu, “Kau tidak akan kupercaya lagi jika tidak bisa menangkap burung yang sudah kau lepaskan itu dan mengembalikannya ke tempat semula!”

Sepanjang gerutuan ayah Monro itu, Sipiri serius menyimak. “Mungkin ini saat yang tepat bagiku untuk membalas budi baik Monro,” pikir Sipiri.

                Burung Kecici hitam itu terbang menjauhi Monro, melakukan sesuatu yang menurutnya bisa menjadi sebuah bantuan bagi anak pemburu yang tengah berduka. Meskipun sesuatu yang ditempuhnya kali ini membuat jantungnya berdegup seribu kali lebih kencang atau darahnya berdesir-desir tak beraturan. Tapi masa depan Monro sebagai seorang anak lelaki yang harus dipercaya orang tuanya sendiri adalah pertaruhan. Sipiri tahu, keputusannya sudah bulat. Ia kembali menuju tempat semestinya ia ditemukan.

***

                Maka, dengan penuh kerelaan dan kebahagiaan, berdirilah di sana. Seekor burung Kecici hitam yang melagukan lirih lagu kematian. Seekor burung Kecici yang memikirkan nasib hidup anak manusia, dengan pulut melekat pada kedua kaki mungilnya!

*cerita ini terinspirasi dari artikel tentang burung-burung yang nyaris punah di National Geographic Indonesia dan penulis berharap agar manusia lebih bijak dalam berkehidupan dengan alam dan makhluk hidup lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s