Pendidikan Seks yang Perlu #LombaKompasiana

cosmouk-5779cc9cf97a6112102c4075
dokumentasi google

Pendidikan seks non formal semestinya menjadi solusi paling basis di dalam setiap kehidupan rumah tangga. Dengan sendirinya, setiap anak akan bertanya atau bersinggungan dengan seksualitas. Mereka sudah memiliki fase-fase tertentu dimulai dari rasa penasaran mengapa antara satu anak perempuan dan anak lelaki memiliki perbedaan kelamin. Orangtua semestinya tidak perlu khawatir akan bagaimana dengan pengetahuan anaknya mengenai seksualitas, atau terburu-buru memberikan pendidikan seksualitas secara utuh dan lengkap sebab khawatir sang anak terjerumus ke dalam informasi yang salah atau berseberangan, mungkin malah membiarkan anak-anaknya mencari-cari sendiri di luar pengawasan orangtua sebagaimana yang terjadi (sebagai asal muasal) dari kasus kekerasan yang marak terjadi.

Menurut Dr. Benyamin Spock di dalam karyanya mengatakan bahwa pendidikan seks pada anak tidaklah diberikan secara sempurna melainkan diberikan seperlunya saja. Beberapa orangtua malah membuat karangan cerita ketika anaknya bertanya, “dari mana asal-usul bayi?” dan sampai usia belasan tahun si anak mempercayai dongeng tersebut. Beberapa komik yang mengangkat kehidupan anak namun sebenarnya tidak tepat dikonsumsi anak-anak malah banyak beredar, salah satunya bahkan menceritakan bahwa kehadiran bayi adalah melalui burung pelican yang membawanya langsung dari surga. Untuk itu, sebelum orangtua mengerti bagaimana mestinya memberikan pendidikan seks yang perlu kepada anak adalah dengan teliti memeriksa bacaan anak sesuai fase dan usianya. Tulisan saya yang lain dan cukup mengulas tentang itu dapat dinikmati di sini.

Dengan memberikan pendidikan seks yang perlu, anak kelak diharapkan mengerti dan mampu membedakan antara sex dan gender secara alami. Praktik mudahnya, Dr. Spock memberikan permisalan dalam diskusi. Orangtua bisa menjelaskan kepada anak laki-lakinya yang tengah khawatir karena melihat teman perempuan seusianya memiliki alat kelamin yang berbeda seperti ini,

“Beberapa anak lelaki mengira bahwa anak perempuan juga punya alat kelamin yang sama dengan mereka, dan jika melihat anak perempuan ternyata tidak memiliki alat kelamin yang sama biasanya mereka akan berpikir bahwa ada sesuatu hal tak beres terjadi pada anak perempuan. Pikiran seperti itu salah, tidak ada sesuatu yang tidak beres pada anak perempuan. Anak perempuan harus dapat dibedakan dari anak lelaki. Anak perempuan tidak memiliki alat kelamin yang sama dengan anak laki-laki.” (hlm 157 dengan sedikit perubahan).

Selanjutnya, orangtua menurut Dr. Spock juga harus bersikap dan berperilaku sesuai peran mereka. Anak akan mengikuti peran orangtuanya sesuai kelamin yang ia miliki. Maka jika seorang ayah berperilaku mengikuti gerak-gerik wanita atau sebaliknya, seorang ibu yang bersikap seperti pria dan memakai aksesoris layaknya pria dewasa, sudah barang tentu menjadikan kegamangan dan kebingungan bagi anak-anaknya.

Adapun mengenai peran ayah dan ibu tentunya relatif. Terkadang dijumpai kondisi rumah tangga di mana isteri bekerja di kantor dan suami dengan urusan bisnis di rumahnya sambil mengurus anak-anak. Peran ayah dan ibu saling melengkapi, tidak selamanya ibu harus bekerja di rumah dan di dapur dan bukan hal yang tabu jika ayah mengasuh anak di rumah. Toh sekalipun tugas mengasuh dilakukan sang ayah di siang hari, pasti malam hari sang ibu juga mengasuh anaknya. Nah, peran-peran seperti ini yang mestinya diajarkan kepada anak sejak kecil, agar kelak mereka beranjak dewasa mereka sudah tahu peran dan fungsi mereka baik di unit keluarga maupun di masyarakat.

Sumber bacaan:

Dr. Benyamin Spock, Menghadapi Anak di Saat Sulit. Penerbit Delapratasa Indonesia tahun 1999.

https://miraworldweb.wordpress.com/2016/05/03/mendongeng-dengan-folklore/

#KualitasKesehatanReproduksi #MentalRemajaIndonesia

banner-berita-admin-blog-competition-bkkbn-bengkulu-57723a65b37a610713bc7145
banner lomba menulis blog 2016

3 Comments

    1. Maaf ya Bu, saya yang belum punya anak tapi sudah ‘belagu’ membuat artikel tentang pendidikan seks untuk Anak hanya berdasarkan bahan bacaan yg masih minim. Namun dibalik kekurangan tersebut, terdapat harapan agar kita semua berhasil dalam berkomunikasi dengan anak-anak tentang seks. Tentu Bu Mugi lebih berpengalaman langsung dengan putra-putri Ibu.. sungkem.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s