ATHEIS-PADI Review Competition 2016

P_20160720_141348_p
Roman ATHEIS karya Achdiat K. Mihardja koleksi saya sejak SMP

Tentang Buku

Judul : ATHEIS

Pengarang : Achdiat Karta Mihardja

Editor : Tim Balai Pustaka

Tahun Penerbitan : Cetakan pertama tahun 1949, cetakan ke-28 tahun 2006

Penerbit: Balai Pustaka

Halaman: 250 hlm

Pengantar

Roman Atheis pertama kali saya baca sewaktu duduk di bangku SMP kelas dua. Saat itu, guru bahasa Indonesia saya, Ibu Elly Alfiah sedang menyampaikan perbedaan antara Novel dan Roman serta periodisasi Sastra di Indonesia. Masih terpatri betul di memoar saya, beliau menuliskan beberapa judul novel dan roman di papan tulis. Dari sekian judul tersebut, beliau menulis ATHEIS karya Achdiat Karta Mihardja di urutan pertama. Sejak itu, pandangan saya tidak bergeser kepada judul lainnya sembari pikiran saya khusyuk membayangkan seperti apakah cerita yang berjudul ATHEIS itu. Maka, ketika lomba menulis review buku ini hadir, kenangan saya menyeruak. Saya pikir, ini adalah waktu yang tepat untuk sejenak bernostalgia dengan salah satu kisah paling menyentuh yang pernah saya baca.

Sesuai dengan genre-nya, roman berarti kisah hidup seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu dengan situasi tertentu dimulai dari kelahiran sampai kematiannya. Itu yang menjadi ciri khas roman dibanding novel yang tidak mewajibkan penulisnya menamatkan kisah si tokoh cerita. (Ini salah satu alasan saya menyukai roman dibandingkan novel karena kebetulan saya tidak suka penasaran. hidup dan mati atau bahagia dan tidaknya si tokoh cerita dalam roman bisa saya ketahui dengan cara yang seringkali tidak saya duga).

Sekilas Isi Buku

Roman ATHEIS mengambil alur progresif-regresif yang berarti ceritanya bermula dari peristiwa paling dini kemudian mundur ke peristiwa yang ada di waktu lampau. Mulanya, tokoh ketiga alias narator menceritakan bagaimana pertemuannya dengan tokoh utama yakni Hasan sampai si tokoh utama memberikannya seratus lembar kertas folio berisi karangan pribadinya. Karangan pribadi yang disebut narator sebagai Dichtung und Wahrheit tersebut mengisahkan kehidupan Hasan yang merupakan anak lelaki dari seorang pensiunan manteri guru (sekarang Kepala Sekolah Dasar). Hasan tumbuh di keluarga saleh dan alim. Pergaulannya dengan perempuan tidak vulgar dan cenderung membatasi diri. Hasan dibimbing menjadi anak lelaki yang menaati aturan agama Islam meski dalam praktiknya, Hasan kerap tidak mengerti bacaan-bacaan ayat suci yang ia rapal. Hal ini termaktub dalam salah satu kutipannya:

“Apa artinya kata-kata ‘arab’ (?) itu sampai kini aku tidak tahu.” hlm 17.

Sampai akhirnya Hasan tumbuh besar dan merantau meninggalkan keluarganya. Ia bekerja sebagai Jawatan Air di wilayah Kotapraja Bandung. Berbekal nasehat dari orang tuanya untuk tidak berpaling dari ajaran agama, Hasan menjalani hidupnya di perantauan. Ia berkenalan dengan Rusli, kawan lamanya. Bersama Rusli, Hasan juga berkenalan dengan Kartini yang dikiranya adalah Rukmini, gadis pujaan Hasan dahulu kala. Perkenalan dengan keduanya terus bergulir. Hasan menjadi kenal corak pemikiran Rusli yang pernah hidup di Singapura dan mempelajari politik. Rusli dan Kartini kerap mengajak Hasan pergi menonton film ke bioskop atau sekedar makan-makan namun awalnya Hasan sering menolak dengan dalih, jika bergaul terlalu intens dengan mereka akan sulitlah ia beribadah dengan baik. Sebab, keduanya (Rusli dan Kartini) tidak bersembahyang layaknya Hasan, bahkan Hasan mempertanyakan kesusilaan Kartini yang begitu mudah ‘nempel’ dengan Rusli yang bukan mahromnya. Namun agaknya ketertarikan Hasan terhadap kecantikan dan keelokan Kartini membuatnya luluh juga. Sampai-sampai ia pun turut hadir dalam berbagai kesempatan diskusi pemikiran Rusli dengan beberapa kawannya. Salah satu orang yang membincangkan tema-tema kapitalisme, feodalisme dan berbagai filsafat Barat sebab kondisi perang di Indonesia kala itu adalah Anwar. Maka dengan ketiganya itu, Hasan mulai melupakan sembahyangnya dan hampir-hampir menjadi Atheis sejati. Ia pun menikah dengan Kartini meski bapaknya tidak merestui sebab menurut sang ayah, Hasan lebih pantas disandingkan dengan Fatimah, adik pungutnya, yang dikatakan sebagai:

“…Fatimah, yang katanya dengan sabar masih menunggu-nunggu, ” aku, dan yang kata ayah, ‘sesungguhnya perempuan yang sederajat dan setingkat,’ untuk menjadi jodohku,” hlm 180.

Namun, pernikahannya dengan Kartini tidak sukses. Berbagai masalah mendera rumah tangga itu. Kartini pun pergi meninggalkan Hasan yang mengidap TBC kronis dan keduanya bercerai. Kehidupan Hasan berakhir di Kenpeitai (kantor polisi militer Jepang) setelah sebelumnya ia terkena tembak di pahanya.

Kelebihan dan Kekurangan Roman Atheis

Menurut saya, roman Atheis memiliki kelebihan cukup banyak. Di antaranya, memberikan kisah berlatar belakang sejarah di masa kemerdekaan, mengingat penulis roman ini merupakan sastrawan angkatan 45. Di dalam penulisan dialog antar tokoh memuat percakapan berbahasa Belanda yang menguatkan imajinasi kepada pembaca betapa pengaruh kolonial masih begitu kuat di zaman penulisan roman tersebut. Adapun beberapa istilah bahasa Jerman diungkapkan penulis ketika membahas tema-tema pemikiran Barat, misalnya Marxisme turut memperkaya nuansa budaya Indonesia di masa pasca kemerdekaan. Dengan hadirnya Atheis, secara tidak langsung juga menyiratkan kepada pembaca bahwa penulis telah melalui serangkaian proses penting dalam penulisannya. Hal ini tidak hanya bisa diketahui dari teknik menulis, setting dan bahasa yang digunakan tapi juga materi tulisan yang berbobot dan mengulik banyak sekali kajian tokoh filsuf melalui dialog antar tokoh. Dengan teknik inilah, kajian mengenai pemikiran tokoh Barat dan ataupun nasihat-nasihat bijak mengenai kehidupan tidak terkesan menggurui namun justeru memberi pengetahuan baru bagi pembaca. Kemampuan penulis dalam mengolah kalimat ‘berat’ berisi pemikiran tokoh menurut saya adalah cerminan betapa luhurnya intelektual para penulis kita di masa lampau (yang semestinya menjadi teladan untuk dikembangkan secara kreatif oleh penulis masa kini dan tentunya sudah ada dan kita nikmati saat ini).

Tiada kekurangan yang berarti dari penulisan ini selain hal-hal berkaitan teknis. Pembuatan glosarium atau pun catatan kaki bernomor saya pikir akan mempermudah pembaca dalam memahami percakapan. Selebihnya, Atheis tak hanya berhasil mengisahkan guncangan hebat dalam karakter Hasan namun juga mengguncang perasaan saya sebagai pembaca sampai-sampai berlinang air mata!

Terima kasih atas cerita yang begitu menyentuh dan membawa hikmah bijaksana, almarhum Achdiat Karta Mihardja.

Sungkem.

#PustakaDigital #PADIreview #LombaTelkomIndonesia2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s