Lebaran Lenggang

Secara akurat, aku tidak tahu benar berapa banyak orang yang keluar dari Jakarta menuju kampung halamannya. Akan tetapi, setiap lebaran tiba, jalanan di Jakarta tampak lenggang, sepi, lalu lintas lancar sekali. Kemudian dari situ aku mengerti, Jakarta itu sebenarnya berwarga sedikit. Kebanyakan ya pendatang. Maka tiap lebaran inilah wajah sebenarnya Jakarta muncul. Kota dengan berbagai bangunan menjulang dan kebisuan mendalam. Ya, bagiku Jakarta sudah bisu. Ibarat kacang, dia hanya kulit besar dengan daging kacang kecil melempem. Aku merasakannya di sini, di dalam hatiku.

Tulisan ini lahir setelah kubaca artikel Novelis Indonesia, Okky Madasari di Harian Jawa Pos. Okky mengisahkan apa yang dirasakannya sebagai perempuan yang tumbuh dengan menyaksikan kepulangan orang-orang ke kampung halamannya, (pastinya beliau juga pulang kampung). Beliau juga memberikan potret “seusai lebaran” dengan amat menyentuh perasaan paling dasar dari seorang manusia; perjalanan panjang menuju kampung, harus dinikmati dalam waktu singkat, tergesa-gesa kembali ke Jakarta dan hampa.

Keluarga saya lahir dan besar di Jakarta Barat. Namun bukan berarti kami asli Jakarta meski berstatus KTP asli Jakarta. Secara etnis, kami berasal dari berbagai suku bangsa: etnis papi merupakan perpaduan dari Jogja dan Surabaya. Sementara Mami lebih kompleks: Kutai-Dayak Sanga Sanga, Kesultanan Demak dan Tionghoa. Jadi, bisa terbayangkah bagaimana etnis yang ada di dalam darahku ini? Tapi dengan banyak latar belakang etnis berbeda itu, kami tidak punya kampung halaman di luar Jakarta. Kampung kami ya Meruya, Jakarta Barat. Di sana kami lahir sejak buyut kami, kakek nenek dan orang tua kami.

Maka seperti yang saya bilang sebelumnya, saya bisa menikmati lenggangnya Jakarta saat lebaran tiba. Meski kekosongan dan hampa terasa, jujur saja saya lebih menikmati kekosongan dan kesepian itu. Kenapa? alasannya sederhana: Jakarta tertib dan bersih.

Perspektif saya sebagai warga DKI, tanpa bermaksud menyakiti warga non DKI yang menetap di Jakarta dan mencari nafkah, bahwa Jakarta memang nyaman dan asri begitu lebaran tiba. Macet-macet sedikit ada, karena saya yakin tidak semua pendatang pulang ke kampung halaman mereka. Asri karena di wilayah saya, selain lenggang, tidak ada yang berjualan di sepanjang jalan. Tidak ada yang membuang sampah sembarangan. Tidak ada bekas sampah dagangan dan sebagainya.

Jika lebaran tiba, warga DKI asli hanya sibuk dandan sebelum solat Eid dan kemudian setelah solat dilanjut berkunjung ke rumah handai taulan di sekitaran mereka. Menyuguhkan dodol, tape uli, kembang goyang dan hidangan khas betawi lainnya. Dan juga, setiap anak muda yang sudah berpenghasilan wajib menyisihkan angpau meski cuma dua ribuan buat anak-anak yang keliling komplek. Di keluargaku, hal ini menjadi tugas rutinku dan kakak sepupu nomor satu. Kami kewalahan menghadapi bocah-bocah yang minta salim sambil ngerengek nambah duit. Bahkan aku harus menghafal wajah mereka kalau tidak mereka akan kembali seakan-akan belum dapat angpau.

Dan tidak ada kamus “lebaran sebagai ajang pengakuan bahwa kita orang punya.” Di keluargaku dan tetangga kampung Meruya sini, tidak bisa kami katakan sebuah kebanggaan meski bisa memberi angpau dua ribuan kepada puluhan anak. Atau, boleh nyinyir tatkala mpok-mpok di RT sebelah pakai bedak ketebelan, kaftan panjang ala-ala Syahrini atau hal-hal lain yang bisa diasosiasikan sebagai “eksistensi”. Dandan ya dandan aja, nyebar angpau ya nyebar aja, makan di tetangga ya makan aja. warga Betawi di Meruya sini malah seneng banget kalau ada yang mau mampir ngopi di rumah mereka bahkan makan ketupat dan abis itu muji-muji makanannya sampe ke komplek sebelah…

Jadi,

Maafkan aku atas kejujuran ini. Aku selalu senang sekali melihat kondisi jakarta di waktu lebaran, meski dengan demikian kusadari benar, Jakartaku sudah tua. Dia kopong. Dia hampa. Dia bagai sisa-sisa yang mestinya diikhlaskan (minjam liriknya Payung Teduh). Tapi, aku seakan-akan bisa melihat Jakartaku bernafas dengan amat leganya. Seakan-akan sekali tarikan napasnya mampu sampai mengangkat diafragma dan mengembalikannya pada posisi tenang, stabil. Walau sekali lagi, sudah terlalu tua dan tersiksa dengan semua beban rutinitas di luar Lebaran.

Namun, satu hal yang kupelajari dari tulisan Okky Madasari. Bahwa sampai kapanpun kita tak kan pernah puas beraktivitas di dalam hidup. Jika boleh kuteriakkan, “tak bosankah kita?!” aku tak yakin orang-orang kan merenung tuk kehidupan lain yang lebih kreatif. Nyatanya, bermiskin-miskin di kota agar tampil prima di desa masih jadi kebanggaan. Jakarta adalah korban dari kisah suram itu. Selebihnya, adalah makna lebaran yang sudah tidak bisa dimaknai kembali.

kharaso!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s