Sebuah Kajian Tentang Perkawinan

P_20160626_111618
dokumentasi pribadi mkwirawan

Sabtu kemarin, 25 Juni 2016 saya berkesempatan mengikuti sebuah kajian praktis namun sarat makna di Moco Library Cafe. Meskipun terlambat, karena sebenarnya kajian ini sudah berlangsung dua kali pertemuan, tapi saya merasa harus segera mengikuti sesi terakhir ini (daripada tidak sama sekali). Sadar dengan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, saya menghubungi calon suami:

“Ay (sapaan akrab saya pada calon suami, begitupun sebaliknya), Pak Haidar Bagir jadi pembicara kajian perkawinan nih, sabtu besok. tapi dompetku sekarat…” ujar saya di ujung telepon. Angga, calon suami saya tidak perlu banyak mempertimbangkan, “Udah berangkat aja. Perlu ongkos berapa kabarin ya. Nanti jangan lupa share ilmunya ke aku.”

Angga memang sudah mengerti bahasa-bahasa saya. Kami sudah berkawan sejak tahun 2010 namun baru intens sejak tahun 2012. Sejak kami berpacaran, lalu bertunangan di tahun 2014 sampai sekarang, hubungan kami semakin erat dan cukup banyak mengerti satu sama lain (karakter dan perilaku). Tapi kami sama-sama yakin, yang bisa membuktikan keaslian karakter seseorang hanyalah melalui perkawinan/pernikahan. Jadi, memang sudah lama kami menginginkan kajian-kajian tentang pernikahan yang efektif namun mendalam. Selama ini kami baru bisa membaca kajian-kajian itu dari beberapa buku/literasi. Nasehat-nasehat di youtube juga banyak yang menceritakan tentang pasal-pasal merawat perkawinan hanya saja beberapa tema kami rasa terlalu berat dan melupakan hal-hal sepele yang justeru terjadi di kehidupan sehari-hari.

Angga juga tahu benar bahwa saya ingin melanjutkan studi master di bidang tasawuf. Jadi, ia paham bagaimana saya berusaha menyempatkan diri membaca tulisan-tulisan pak Haidar dan pengajar tasawuf lainnya di koran, buku, maupun website. Belajar untuk mempersiapkan studi S2 tidak mudah loh, apalagi kerjaan di kantor amit-amit bejubel. So, ketika tahu pak Haidar mengadakan kajian perkawinan meski sudah sesi ketiga (saya baru lihat soft file selebarannya di twitter) saya langsung berkeyakinan untuk hadir. Bukan perkara beliau adalah dosen tasawuf yang selama ini saya ikuti tulisannya namun juga teknis dan gaya tuturnya (menurut saya) memudahkan para pendengar atau siapapun yang belajar dengan beliau dalam memahami suatu hal.

Maka, saya berangkat (tidak perlu dijelaskan betapa macet, panas dan nge-BETE-in nya Kranggan Jatisampurna menuju Depok). Tapi lagi-lagi Angga mengerti kondisi saya (kali ini saya tidak curhat kalo saya kepanasan di jalan) Angga bilang, “Ay, aku udah pesen gojek. Ay tunggu aja di depan terminal Kp. Rambutan ya. Gojeknya meluncur ke sana.”

“Loh duitku ngepas lho, gojek berapaan emang?” saya sudah senewen.

“Kan ada Go-Pay, Ay.” jawab Angga dengan sabar. (Emang dia tuh sabar banget).

“Oia maaf aku lupa.” batin saya. Angga sudah tahu memang kalau calon isterinya ini agak norak, kadang gaptek (mikirnya apa-apa manual dulu terus baru inget kalo sekarang udah jaman canggih), dan suka pukun wa panik.

Begitu saya tiba di Moco Library Cafe, betapa kagetnya saya bahwa acara belum dimulai. Pak Haidar masih duduk menunggu dan langsung menyapa,

“Mbaknya yang kena macet di jalan itu ya?” saya yakin beliau tahu karena sewaktu di angkot saya sempat nge-tweet “Kranggan macet, sabtu panas menuju Moco Library Cafe.” Saya mengangguk dan beliau mempersilakan saya naik ke lantai atas.

Singkatnya, ketika beberapa orang sudah datang, pak Haidar memasuki ruangan dan memulai acara. Nah, di sesi terakhir ini tema besarnya adalah “Memusatkan Perhatian kepada Kelebihan, bukan Kekurangan Pasangan.” Materi ini akan saya rangkum di dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

P_20160625_155806
Dr. Haidar Bagir @Moco Library Cafe “Kajian Perkawinan” dok pribadi mkwirawan

Pada sesi sebelumnya, dijelaskan bahwa untuk memaknai hakikat cinta kita harus tahu, cinta yang sebenarnya untuk menghindari cinta yang terkesan kepada pasangan kita malah sebenarnya hanya kepada diri kita sendiri (narsis).

Adapun tingkat cinta tertinggi manusia adalah sebagai ‘abd. Makna ‘abd adalah menghamba kepada Allah dengan atas dasar cinta. Hal ini tersurat dalam firman Allah yang memanggil Rasulullah Saw dengan sebutan ‘Abd pada surat Al-Isra ayat 1 yang berbunyi:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Cinta haruslah dijalankan pula dengan meruntuhkan kesombongan. Cinta sejati tidak dimiliki siapapun kecuali (mungkin) para Rasul, Nabi dan awliya’, menurut pak Bagir, manusia biasa tidak memiliki cinta sejati. Hanyalah cinta yang mesti perlu terus menerus dikembangkan.

Sesi sebelumnya juga membahas tentang ichsan. Dijelaskan bahwa sikap ichsan di awal perkawinan adalah niat unutk membahagiakan pasangan. Pak Bagir mencontohkan niat itu begini, “Saya niat memberi padamu (isteri/suami) yang dengan pemberian ini maka kamu memberi lagi atau tidak saya yakin saya akan bahagia.” Dari pernyataan ini, beliau memberi simpulan bahwa sikap ichsan adalah sikap yang tidak peduli apakah pasangan kita akan baik atau tidak baik terhadap kita maka kita akan selalu baik terhadapnya. Hal ini dikarenakan Allah menyukai sikap dan orang-orang yang ichsan, “wallaahu yuchibbu al-muchsiniin.”

Masih terkait dengan sikap ichsan, pak Bagir menceritakan kisah imam Ali Zainal Abidin (putera Husain ibn Ali) dengan budak perempuannya. Kisah ini bisa Anda baca lengkap beserta kisah lain di sini. Namun kutipannya adalah sebagai berikut:

Budak wanita menuangkan air untuk wudhu. Tiba-tiba mangkuk air jatuh dari tangan budak wanita itu ke kepala Imam dan melukai wajahnya. Imam mengangkat kepalanya dan melihat budak wanita itu. Budak itu berkata, “Allah swt di dalam al-Quran berfirman, Dan mereka yang menahan amarah.” Imam berkata, “Aku menahan amarahku.” Budak itu berkata lagi, Dan mereka yang memaafkan manusia.” Imam berkata,  “Allah swt mengampuni dosa-dosamu.” Budak itu berkata, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”  Imam berkata, “Engkau kubebaskan. Pergilah ke mana saja engkau mau!”

Berdasarkan kisah itu bisa ditarik kesimpulan bahwa sebagai manusia kita tidak hanya cukup untuk tidak marah, namun memaafkan dan terakhir bersikap ichsan. Bersikap ichsan dikatakan pak Bagir tentu suatu yang tidak mudah. Melainkan sikap yang mesti dipraktikkan sehari-hari. Jika sikap ichsan sudah terbentuk pada hubungan antar suami dan isteri, maka keharmonisan akan terwujud.

Setelah membahas beberapa poin penting di sesi-sesi sebelumnya, pak Bagir kemudian membuka lembaran sesi baru dan mengawalinya dengan sebuah hadis nabi yang berbunyi:

“Jangan ada yang tak menyukai pasangannya. Jika seseorang tak menyukai sesuatu dalam diri pasangannya, dia pasti akan mendapati sesuatu lainnya yang dia sukai.”

Pak Bagir mengatakan, bahwa redaksi Rasulullah Saw sangat detil dan teliti. Beliau bahkan mengulang dua kali bacaan hadis itu. Rupanya ketika saya dengar yang kedua kali, redaksi yang dikatakan detil dan teliti itu terletak pada kata “sesuatu”. Ya, betapa detil dan telitinya Rasulullah Saw dalam berbicara. Beliau mengatakan “sesuatu”. Jika kita baca redaksi hadis itu tanpa kata “sesuatu” tentu secara pragmatis, menunjukkan ketidak mungkinan. Kita tidak mungkin bukan, tidak menyukai pasangan kita secara keseluruhan. Pasti ada sesuatu yang menarik dari diri pasangan kita yang tentu membuat kita jatuh hati padanya!

Selanjutnya, dijelaskan bahwa Allah bahkan memberi porsi tentang ayat perkawinan serupa dengan ayat untuk berperang. Redaksi ayatnya bisa disimak berikut ini:

“Pergaulilah isterimu dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai mereka (jangan putuskan tali perkawinan). Karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu yang dibaliknya Allah menjadikan kebaikan yang berlimpah.” QS An-Nisa:19

“Diwajibkan atasmu berperang meskipun kalian tidak menyukainya. (karena) boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Dan boleh jadi juga kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” QS Al-Baqarah:216

Dijelaskan bahwa begitu beratnya ujian suatu perkawinan. Namun, meskipun bagi kita hal itu adalah sesuatu yang tidak kita sukai boleh jadi dibaliknya memiliki nilai-nilai keberkahan dari sisi Allah Swt.

Terkait dengan ujian perkawinan yang bermacam bentuknya, pak Bagir mengingatkan bahwa:

“Jika kita sakit tertusuk duri saja Allah memaafkan dosa kita, apalagi jika kita sanggup bersabar sakit dalam kesulitan perkawinan,” -HB-

Semua itu kembali pada cara pandang seseorang terhadap apa yang ada di depannya. pak Bagir memberikan sebuah contoh cerita tentang cara pandang. Singkatnya ya, ceritanya yaitu seorang psikiater bernama Victor Frankl (mungkin juga ini penulis yang selamat dari kamp konsentrasi Holocoust) yang berhasil mengubah cara pandang seorang pria yang ditinggal mati isterinya. Victor mengatakan bahwa kematian isteri pria itu sebenarnya adalah sesuatu yang harus disyukuri oleh si pria dan bukan membuatnya menderita. Karena, bisa jadi kalau si pria itu dulu yang mati maka isterinya akan menderita kehilangan sang suami. Sejak itu si pria yang tadinya tidak berselera hidup langsung menjadi segar bugar dan merasa dirinya sudah berkorban “menjadi orang yang menderita” dari pada harus mati lebih dulu dan membiarkan isterinya hidup dalam penderitaan seperti yang ia rasakan saat itu. Kisah ini memberikan pelajaran bahwa segala sesuatu termasuk dalam menyikapi penderitaan dari ujian perkawinan adalah tergantung bagaimana seseorang mengatur cara pandang/pola pikirnya.

Untuk urusan mencintai kelebihan dan kekurangan, Pak Bagir menyebut sebuah pepatah Inggris, “Beauty is in the eye of the beholder” ketika mencontohkan ‘kegilaan’ Qoys si Majnun pada Layla. Bahkan bagi sang Raja yang sudah melihat Layla, dan menurutnya tidak cantik lalu raja bingung kenapa Qoys bisa jatuh hati pada Layla, maka Layla menjawab, “Kau tidak melihat kecantikanku karena matamu bukan matanya Qoys!”

Begitulah, Pak Bagir mengingatkan agar kita terhadap pasangan kita hendaknya memiliki mata pecinta. Dengan mengamalkan diri kita sejak sekarang sebagai seorang pecinta bagi pasangan kita seorang tentu diharapkan kelak akan menjadi suatu kebiasaan atau habit yang bisa menerima tak hanya kelebihan namun juga kekurangan pasangan kita.

Sebelum materi ini berakhir, pak Bagir memberikan beberapa tips:

  1. Jangan ngambek kalau pasangan kita ngambek
  2. Cinta sejati itu memberi bukan menuntut
  3. Bersabar dalam kesulitan, bukan perkawinan
  4. Geser sudut pandang Anda!
  5. Bersikaplah Ridho!

Nah, penjelasan tentang Ridho itu simpelnya begini:

Jika ada kebaikan datang pada kita maka biasanya kita bersyukur. Jika ada keburukan datang kepada kita maka kita harus bersabar. Namun maqam pecinta paling tinggi adalah jika kebaikan atau pun keburukan datang pada kita, kita sudah tidak membagi mana yang baik mana yang buruk melainkan Ridha dengan apa yang Allah berikan.

“wa lasaufa yu’thyka rabbuka fatardha!”QS Adh-Dhuha :5

Artinya: Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas (ridha).

P_20160625_162314
syukran katsiir al-ustadz al-mukarram ad duktur Haidar Bagir, jazaakumullah khairul jazaa

Yeay, begitu kurang lebih rangkuman dari kajian sesi tiga tentang perkawinan yang disampaikan oleh Dr. Haidar Bagir di Moco Library Cafe Cinere Raya Depok. Sebelum pulang, saya dikasih kado yang bagi saya sangat istimewa, yaitu buku Surga di Dunia Surga di Akhirat lengkap dengan tanda tangan pak Haidar Bagir.

Sambil menulis dan menandatangani bukunya untuk saya, beliau sempat guyon dan mengatakan, “mba Miranti ini datang ke sini disponsori calon suaminya lho…Salam ya buat calon suamimu…”

Alhamdulillah wa syukurillah wa laa chaula wa laa quwwata illa billaah!

catatan saya:

“Setelah mengikuti sesi ini, saya merenung sepanjang perjalanan pulang. Betapa selama ini calon suami saya sudah sangat bersabar menghadapi saya, keegoisan saya, tipikal saya yang suka marah-marah kalo lagi PMS (bawa-bawa PMS lagi), belum lagi kalau saya suka curiga-curiga. Pokoknya kajian kali ini cukup singkat padat dan jelas namun sangat mengena! Saya tidak akan melupakan momen membahagiakan ini seumur hidup saya. Semoga kelak saya bisa memberikan yang terbaik bagi calon suami saya tanpa pamrih atau mengharap ia melakukan hal yang sama. Tapi, saya berdoa semoga calon suami saya juga memiliki kesadaran demikian. wallahu a’lam. Doakan pernikahan saya kelak dimudahkan ya teman-teman! GBU all.”

 

 

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s