‘HelpNona Writing Contest: Perempuan Hebat’

IMG_6432
Penulis bersama teman-teman relawan di Bishkek Kyrgyzstan (dari kiri ke kanan: Shahzada Alisherovna, Renata Muru, Huilin Li, saya, Begaiym Kalysbekova) foto ini dokumentasi pribadi penulis.

Kita semua tahu bahwa perempuan memiliki peran sangat kompleks: sebagai anak, sebagai ibu, sebagai isteri dan pemimpin bagi dirinya sendiri. Bahkan, pepatah Arab mengatakan “Al-‘Ummu madrasah al-Ula” yang artinya, “Ibu adalah sekolah pertama (bagi anak-anaknya)”. Pepatah ini menegaskan bahwa sosok perempuan yang diwakili dari stage peran sebagai ‘Ibu’ memiliki fungsi paling mendasar dan sangat penting. Belum lagi kalau kita ingat beberapa kalimat bijak seperti, “Dibalik lelaki yang hebat ada perempuan tangguh,” dan “Perempuan kuat untuk negara kuat.”

Sayangnya, keagungan pada perempuan ini justru kerap kali tidak dipahami oleh suatu masyarakat dan bahkan oleh perempuan itu sendiri. Terbentur oleh beberapa kondisi seperti kultur daerah atau kepercayaan suatu istiadat tertentu, peran perempuan dan status sosialnya seringkali menemui hambatan. Di beberapa daerah di Indonesia, masyarakatnya masih memiliki pemikiran, “perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi,” atau bahkan, “perempuan itu urusannya dapur, sumur dan kasur.” Hal ini mengerucut menjadi sikap yang harusnya dihindari dan diantisipasi kaum perempuan sejak dini: MINDER.

Jika boleh sedikit saya berbagi kisah, sewaktu saya menjadi relawan (yah relawan baru belajar juga) di Kyrgyzstan. Sebuah negara yang sebenarnya secara pendapatan per kapitanya masih berada di bawah Indonesia tapi etos kerja mereka cukup tinggi. Saya tinggal bersama seorang janda beranak dua dengan jadwal padatnya sebagai penata rambut. Setiap subuh di tengah hawa dingin bersalju minus 21 derajat celcius, saya berangkat ke kantor bersama mama angkat saya itu. Rupanya di sepanjang perjalanan saya ke kantor, tak hanya laki-laki, perempuan juga sudah aktif berlalu-lalang menuju tempat mereka bekerja. Sungguh suatu pemandangan yang jarang sekali saya temukan di Indonesia.

Tempat kerja mama dan teman-teman perempuannya tidak terlampau jauh. Jika menggunakan marsyutka (transportasi umum berbentuk elf) bisa ditempuh kurang dari 10 menit. Namun mama dan banyak perempuan di komplek apartemen itu lebih memilih untuk berjalan kaki dari subuh bahkan dengan kondisi bersalju sekalipun dengan dua alasan: bangun pagi dan jalan kaki itu sehat. Ritme langkah mereka sudah terbiasa cepat, tepat dan gesit. Para perempuan ini sudah mengawali hari mereka dengan sebuah kecepatan dan ketepatan waktu alias disiplin. Jangan salah, mama bahkan sudah menyiapkan sarapan untuk anak bungsunya yang masih duduk di sekolah dasar sebelum mama siap berangkat ke salon! Rutinitas ini sudah mama lalui sejak muda. Meski sempat berhenti sewaktu suaminya masih hidup dan bisa menghidupi keluarganya dengan cukup, namun mama merasa kembali harus bekerja setelah suaminya sudah tiada. Untuk mencapai kedisiplinan dan ketertiban hidup dalam skala mama, ternyata tidak diawali dengan pendidikan tinggi. Mama hanya menekankan pada anak-anaknya termasuk pada saya kala itu bahwa perempuan harus memiliki kemampuan, terlepas dari ia berpendidikan formal atau tidak, perempuan harus mampu melakukan suatu keahlian. Jika bisa bersekolah tinggi, itu adalah anugerah! Mama selalu menanamkan hal itu pada anak-anaknya dan memacu semangat mereka untuk mempelajari keahlian tertentu dan mendapat beasiswa di sekolah. Kemandirian tentang perempuan seperti mama mengingatkan saya juga pada sebuah artikel bagus tentang perempuan harus mandiri yang ada di situs helpnona.com, Anda bisa menikmatinya di sini.

Selanjutnya, saya berjumpa dengan kawan-kawan relawan lain yang berada di bawah payung project yang sama dengan saya. Project ini sengaja mencari para perempuan-perempuan dari berbagai belahan dunia untuk bisa menjadi pengajar bahasa dan budaya di dua sekolah negeri yang ada di Bishkek. Saya merasa bersyukur bisa menjadi salah satu dari perempuan yang dicari oleh panitia dan ikut berproses di dalamnya. Para relawan ini berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, agama, dan budaya yang berbeda. Namun, kesamaan kami berada dalam kepercayaan bahwa perempuan atau laki-laki memiliki peran dan fungsi masing-masing. Dan perempuan memiliki berbagai keistimewaan dan keunggulan. Maka, menjadi suatu kebodohan jika perempuan yang sebenarnya mampu untuk belajar dan berproses malah sibuk dalam kebimbangan atau keminderannya yang belum tentu menjadi sebuah kebenaran. Hal ini yang menjadikan kami solid dalam bekerja sama dan bahkan saling menangguhkan satu sama lain.

Perjalanan saya ke Kyrgyzstan menambah wawasan saya bahwa perempuan hebat bukan terletak dari tingginya pendidikan atau ilmu yang ia miliki. Melainkan dari kesadaran betapa berharganya ia, betapa sedikitnya waktu sementara begitu banyak hal yang harus dipelajari. Perempuan hebat adalah perempuan yang mau terus berjuang, berproses, mengalami banyak kegagalan dan terus bangkit dari setiap kegagalannya. Sebab tiada hal yang lebih indah dari suatu penderitaan untuk mencapai keberhasilan hakiki. Semakin banyak perempuan berproses untuk belajar, mencari ilmu, serta mengamalkan apa yang ia miliki untuk sekitarnya semakin baik pula kepribadiannya dan kebermanfaatannya untuk dirinya, keluarga, negara dan dunia.

“Perempuan – perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta,
siapakah mereka…
Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan – perempuan perkasa
akar – akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota…
Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa…”
-karya Hartoyo Andangjaya-

Jadi, tunggu apalagi? Self respect, hargai dirimu dan taklukkan rasa minder. Mari berproses, menjadi perempuan hebat lahir dan batin!

Men Seni Suyoumh, girls! (I love you girls!)

 untitled

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s