THE PEARL karya John Steinbeck: Monumental Peraih Nobel Sastra 1962

248a2205e4c1a995eb393b4ce3609298.474x648x1

dokumentasi google

“Kemujuran, kalian tahu, biasanya mengajak serta pasangannya, yaitu tragedi.”

Begitulah salah satu kutipan dialog dari Novel The Pearl karya John Steinbeck, Jr. Hanya dengan satu kalimat itu, Steinbeck mampu mengaduk-aduk perasaan pembacanya sampai asam lambung naik. Namun, juga hanya dengan kalimat itu, Steinbeck Jr menyuguhkan kisah sederhana namun sarat filosofis.

Tentang Buku

Judul: The Pearl (Mutiara)

Pengarang: John Steinbeck

Tahun pembuatan asli: musim dingin 1944 diterbitkan 1945

Cetakan: 2013

Penerbit: Penerbit Liris Surabaya

Penerjemah: Ary Kristanti

Editor Bahasa: Salififa Zanbihan

Garis Besar Isi Buku

Sang dokter meletakkan cangkirnya perlahan, sebelum membiarkan amarah menguasai dirinya.

“Tidak adakah hal yang lebih baik yang dapat kulakukan selain mengobati ‘Indian Kecil’ yang tersengat serangga? Aku bukan dokter hewan.”

“Ya, Tuan.” kata si pelayan.

“Memangnya dia punya uang?” desak sang dokter. “Tidak, kan, mereka tak pernah punya uang. Aku, akulah satu-satunya di dunia yang didesak bekerja tanpa imbalan dan aku lelah dengan hal-hal seperti ini. Lihat dulu, apakah ia membawa uang!”

The Pearl (Mutiara) mengisahkan perjalanan hidup keluarga Kino, seorang nelayan pencari mutiara beserta isterinya Juana dan putri pertama mereka Coyotito yang masih bayi. Steinbeck Jr sebenarnya hanya mengangkat satu masalah besar di dalam novel ini. Ia mengangkat gagasan tentang kemujuran yang beriringan dengan kesialan. Kemujuran ini disimbolkan dengan Mutiara yang didapatkan Kino saat menyelam untuk bisa mendapatkan mutiara berkualitas sehingga Coyotito yang tersengat racun Kalajengking Steinbeck Jr juga menggambarkan secara implisit mengenai perbedaan antara kondisi kaum Kino (orang Indian berkulit merah) dan kaum muka pucat yang ditokohkan oleh sosok dokter. Bagaimana Mutiara yang Kino temukan mewakili banyak impian-impiannya untuk mampu membawa keluarganya ke masa depan yang menurutnya gemilang: anaknya akan sekolah dan bisa membaca, ia dan isterinya bisa menikah secara resmi di gereja, ia bisa membeli sepucuk senapan dan tentu saja anaknya bisa dibaptis (semua itu membutuhkan biaya dan Mutiara yang besar se-Dunia itu mampu mewujudkan semuanya).

Novel pendek ini hanya terdiri dari enam bab besar. Sejak awal, Mutiara sudah diangkat menjadi penanda utama yang memulai harapan dan juga sekaligus menghancurkannya. Mutiara disimbolkan sebagai cerminan yang memantulkan dua dunia berbeda. Dunia kaum Indian dan kaum Muka Pucat di masa itu.

Sebagai pembaca Steinbeck Jr yang masih awam, saya baru bisa mengatakan bahwa karya Steinbeck begitu berani dan masygul jika ditempatkan seusai tahun lahirnya tulisan. Sekilas, mengingatkan saya juga pada karya-karya Karl May, bagaimana ia menceritakan di dalam novel serial Winnetou akan pergulatan Indian melawan penjajahan dan kebrutalan Muka Pucat lebih intens dan detil. Hanya saja, pernyataan-pernyataan implisit yang ditulis Steinbeck Jr membuat saya lebih merinding ketimbang pernyataan-pernyataan eksplisit Karl May. Namun, jauh dari pada itu, nilai humanis yang terkandung di dalamnya mestilah berkaitan pada kehidupan anak manusia dari masa ke masa.

This entry was posted in Journalistic, Review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s