Ruh

(cerpen ini dimuat di Harian Joglo Semar Minggu, 3 April 2016)

Ilustrasi

ilustrator: Amalia Septyani

Hidup ini sudah diramaikan cinta. Begitu bayi lahir, sang ibu akan menyambutnya dengan suka cita. Hati yang berkeluh pun berputar dalam rona kesenangan. Ayah akan mendekap dan merapal doa-doa lirih di telinga kepada Sumber Kebahagiaan. Bahwa cinta sudah lahir bersamaan dengan jerit pertama anak manusia. Cinta sudah selayaknya bersemayam dalam ruh manusia, sebuah penjelmaan terindah bagi pemilik jasad. Ruh baik. Ruh bernama cinta.

***

 Ketika itu, usiaku baru menginjak usia dewasa. Berada di puncak-puncak kesenangan masa muda. Seusai pendidikan kuliahku, paman mengajak diskusi. Tentang hidup yang menurutnya begitu penting untuk ditanamkan padaku. Pamanku tak punya anak sama sekali. Di keluarga kami, paman adalah satu-satunya orang tuaku. Dan aku satu-satunya pewaris paman. Sebab itulah, berhektar-hektar lahan di perbukitan Manggalau menjadi milikku. Paman mati sekonyong-konyong. Rebah basah selepas salat Isya. Selepas paman wafat, kukuburkan beliau dengan sebaik-baiknya. Di bawah naungan pohon beringin sesuai dengan wasiatnya dulu ketika berdiskusi.

        Kematian paman tak lebih dari sekedar prosesi. Suatu kemaklumanku bahwa kelak setiap manusia kan mengecap maut. Tak mengerti mengapa begitu banyak keinginan paman sebelum mencapai ajalnya, untuk mendapatiku “memeluk sebuah kehidupan hakiki” katanya. Dari semua amanat yang paman berikan, hanya dikubur di bawah pohon beringin itu yang paling kuingat. Selebihnya, paman terlalu pusing memikirkan jalan hidupku. Bagiku, tidak ada yang perlu dipusingkan. Mengingat setiap kehidupan manusia memiliki rodanya, tersedia pula rel dan keretanya. Paman mungkin hanya ketakutan, aku tak bisa mengurus warisannya dengan baik. Berhektar-hektar tanah subur, sudah bertahun-tahun menjadi incaran banyak orang kaya di kota kami. Paman tak mau beri kepada mereka.

“Biarlah Manggalau menjadi sumber air terbaik, mengaliri sawah-sawah para petani.” Ujar paman dulu kala. Paman selalu berbagi dengan mereka, orang-orang kecil dengan tudung kepala. Paman tak pernah mau melihat mereka berjongkok-jongkok, sebagaimanapun telah ia angkat kehidupan manusia-manusia itu. Menurutnya, tak ada istilah “mengangkat” harkat manusia dalam kamus kehidupan. “tak ada yang boleh menjadi keset, pun tak pantas berkacak pinggang.”

***

Aku menggelar pesta meriah di apartemen, dekat pekuburan orang saleh, tempat peristirahatan paman. Rumah tingkat yang tak pernah diharapkan paman menjadi ada, kini kuwujudkan sembari mengutuk rendahnya cita-cita paman. Rekan kerjaku tak lain adalah kawan lama paman yang ia usir satu persatu. Paman tak pernah mengizinkan bukit Manggalau menjadi pijakan mereka selama bertahun-tahun. Boleh jadi, setelah perbincangan alot di antara mereka hingga paman tak mau bahkan sekedar berbasa-basi. Kupikir, tidak ada yang salah dengan konsep “kemajuan” yang mereka tawarkan. Konsep “pengelolaan” sumber air terbaik di pulau ini, cara mereka menyulap sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Aku setuju dengan kemajuan, tidak seperti paman yang bersikukuh pada adat, garis lurus suatu kepercayaan masyarakat. Sesuatu yang akhirnya menanam tubuh paman tak lebih dari sepohon beringin, nun jauh di bawah tempatku berteduh.

“Kalau kau bayangkan hidupmu dahulu, Kir! Bisa tidak ya kau berpakaian rapi macam sekarang ini?” Wanto berkali-kali bilang begitu. Ia akan rebah di sofa sambil meminum bergelas-gelas anggur.

“Sudah barang tentu, Wan.” Jawabku.

“Yakin saja, di alam ruh sana, pamanmu sedang iri. Cemburu dia!” jerit Wanto. Tak lama ia minum-minum, sambil sedikit keleyengan, mampir sebentar ke toilet. Keluar dari sana, Wanto sudah setengah sadar, aku memapahnya. Wanto masih meracau, bilang macam-macam tentang paman. Yang sok inteleklah, sok kaya, tidak butuh kemajuan.

“Biarlah paman saya beristirahat di rumah terakhirnya. Tak perlu kita bahas.” Bagaimanapun, masih tersirat dalam hatiku untuk menolak siapapun menyepelekan paman. Entah dari mana perasaan itu berasal.

“Aneh benar kau ini, Kir.  Masih saja membela pamanmu, sementara tiap hari kupandang kau mencibirnya dari atas apartemen, kau itu munafik, Kir!” seloroh Dulah, kawan karib yang lain. Ia muncul dari bilik dapur. Sebelum menghampiriku, ia termangu menatap bilik kayu berukir itu. “Kayu ukiran secantik ini, Kir. Kau pikir dari sekedar duduk, bertapa, berdoa? Ini butuh usaha dan pengorbanan, Kir. Kayu-kayu kualitas terbaik ini, yang dulunya dijaga rapi-rapi oleh pamanmu! Apa hasilnya? Kayu tetap hidup. Dia mati.”

Dulah mengambil sebotol anggur dari dalam almari. Sebelum ia melangkah keluar dari kamar apartemenku, ia sempat berujar lirih, “taruhan denganku. Kalau kau mati, kau tidak akan hidup lagi. Bahkan untuk kepusingan memikirkan anak cucumu. Kau terlalu lugu! Mati, ya mati. Tidak ada episode. Tidak ada babak baru. Tidak ada perpindahan. Sebab tidak ada skenario dan tidak ada penulisnya!”

***

“Zikir…Zikir…” Sunoto menimang-nimang, agaknya nama Zikir pantas saja dinisbahkan kepada ponakannya. Setelah sang ibu mengejan penuh pengorbanan, nafasnya tersengal-sengal. Tepat kedua bibirnya melafal kalimat pasrah kepada Tuhan, begitulah Zikir lahir ke dunia. Sang dukun berkata, “kepada yang Maha Cinta seluruh kepahitan dan manis dunia dikembalikan.”

Sunoto tidak habis pikir. Setelah semua anggota keluarganya meninggal dalam suatu wabah penyakit dan tinggal dirinya dan adik kandungnya, Mirah, dengan anak yang dikandung Mirah hasil perkawinannya dengan seorang tukang kayu di desa, mengapa kini ia harus hidup sendiri? Mengapa Mirah pun harus pergi.

Maka Sunoto pun memasrahkan si bayi kecil bernama Zikir kepada dukun anak untuk sementara waktu. Selama itu, Sunoto sibuk mengurus jenazah Mirah, memakamkannya di sebuah makam keluarga. Seluruh keluarga yang wafat bersama dalam wabah mematikan, di bawah pohon beringin.

Tak perlu ditanya, Zikir tumbuh dalam kebanggaan seorang Sunoto. Dilimpahkan padanya seluruh kebahagiaan, kesenangan, memang sebab satu-satunya yang berharga bagi perantauan Sunoto di dunia adalah Zikir. Sunoto enggan mengambil isteri hanya karena terbayang wajah kusut masai mendiang belahan jiwanya akibat wabah penyakit. Bagaimana ia tak mampu menolong apapun untuk kekasihnya. Zikir, menjadi pelipur lara hatinya jikalau masa-masa terbayang belahan jiwanya.

Begitu rajin Sunoto menyirami pohon beringin yang makin lama semakin besar. Selama ia menyiram, Zikir kerap menggelayut di kakinya. Seakan-akan, Sunoto turut membesarkan dua anak sekaligus; Zikir dan pohon beringin. Namun, hingga Zikir besar dan bertanya tentang kebiasaan Sunoto menyiram pohon itu, Sunoto malah membisu. Sunoto pikir, jika diberitahunya tentang asal muasal kebiasaannya menyiram pohon beringin maka Zikir akan terimbas kedukaan. Zikir mungkin akan membayangkan bagaimana ibunya tewas melahirkannya. Bagaimana ia menjadi generasi terakhir keluarga besar. Sunoto hanya berkata, pohon beringin itu adalah kenangan terakhirnya bersama belahan jiwa. Sebuah pohon yang ingin ia pelihara menjadi besar, mengusahakannya agar tidak mati. Sederhana.

Tiap hari Zikir belajar di Surau. Ia berlatih mengolah suaranya untuk bisa mengumandangkan adzan. Begitu ia dinilai lancar oleh gurunya, ia dipersilakan mengudarakan adzan dengan lantunan khusyuk. Sunoto begitu bangga, bahkan mengarak anak itu keliling desa. Sunoto, begitu mudah merasa senang dengan kesederhanaan. Ia tak perlu melihat Zikir tumbuh dengan ketampanan atau kehebatannya berlari seperti yang dilombakan para pemuda di desa. Tak perlu ia nampak Zikir dengan kekuatan tubuhnya sebab sering berlatih silat pada seorang sesepuh. Sunoto mengagumi setiap perkembangan spiritual anak itu dari hari-harinya. Sesuatu yang dianggap Zikir teramat biasa dan terkadang membuatnya jengah untuk bisa menghentikan sang paman mengelu-elukan kumandang adzannya.

Sebab kecondongan Sunoto pada hal-hal agama, perilakunya kian halus. Orang-orang mulai memandangnya sebagai sosok berilmu dan disegani. Ia pun didatangi seorang sesepuh dari tanah Sunda. Bergelung dalam perkenalan, pada realita dunia, Sunoto mulai ditata menjadi pribadi luhur. Ia ditantang untuk berpuasa. Untuk melakukan beberapa ritual pembebasan diri. Menurut sesepuh itu, ritual pembebasan diri menjelma suatu kehidupan baru yang tak kan pernah bisa dilihat oleh siapapun yang tak memiliki cinta. Ritual pembebasan diri atas kenyataan bahwa selama ini Sunoto belum benar-benar mengikhlaskan apa yang ia jalani. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun hingga Zikir menjadi pemuda dewasa di desa itu, Sunoto setia melakoni petuah sesepuh dari tanah Sunda. Sebelum sesepuh itu mati, Sunoto sempat dibekali beberapa keilmuan. “Hiduplah dengan cinta. Matilah dengan cinta. Jika tercipta sebuah atmosfer di antara keduanya, itulah yang kau sebut neraka.”

***

Zikir ingat betul hari ketika pamannya wafat. Mengurus baik-baik mayatnya bersama para warga. Menguburnya di bawah pohon beringin. Saat itu pula, Zikir menemukan hal-hal yang tak pernah diceritakan pamannya. Saat ikut menggali tanah, Zikir menemukan ada mayat lain di bawah beringin. Dalam hati ia berkata, barang kali mayat kerabat keluarga di desa itu juga. Tapi Zikir juga terkenang ucapan sang paman. Tentang belahan jiwa yang pernah disebut-sebut pamannya itu. Ia membatin lagi, barang kali inilah mayat si perempuan belahan jiwa pamannya. Maka tak banyak berpikirlah Zikir, ia halau begitu saja perasaan ingin tahunya.

Hanya saja, Zikir berkecamuk tatkala Wanto dan Dulah ingin memperluas area taman. Mereka memohon kepada Zikir untuk merelakan pohon beringin itu digusur saja. Lagipula, pohon itu kian besar dan membuat pendatang dari pulau lain yang tinggal di apartemen itu merasa gundah gulana.

 “Setahun dua tahun ini bolehlah kita biarkan pohon beringin itu bertengger di sana. Lagi juga, mayat Sunoto sudah berbaur dengan tanah dalam tempo hampir sepuluh tahun. Pusaranya saja rata dengan bumi. Tinggal tebang saja pohon itu. Kita bisa dirikan taman di sana. taman di atas makam Sunoto.”

“Kalian bermaksud mencemooh paman saya?” cetus Zikir.

“Tidak begitu, Kir.” Dulah menepuk ringan bahu pengusaha muda itu. “bayangkan saja kalau pohon itu dibiarkan membesar. Daun dan dahannya semakin liar. Masih untung orang-orang tak tahu kalau di bawahnya ditanam mayat pamanmu. Kalau tahu mungkin sampai sekarang apartemen kita masih kosong melompong!”

“Hanya perluasan area untuk taman, Kir. Kami tidak akan memindahkan jasad Sunoto. Biarlah ia di sana. orang-orang tak akan tahu ada mayat di dalam taman!” seru Wanto.

Zikir tidak mendengar dengan seksama ucapan kedua rekan kerjanya itu. Ia melangkah maju menuju jendela besar tempat biasa ia memandang pohon beringin dari jauh. Semakin ia berhasrat untuk mengabulkan permintaan rekan-rekannya, semakin ia yakin pernah mengingat sesuatu. Sebuah ingatan kecil yang membisiki benaknya. Zikir mencoba mendengar bisikan itu. Ia mulai mencari sesuatu.

***

Sesepuh dari tanah Sunda itu enggan menyebutkan nama.

Sunoto dan Zikir memanggil kakek tua itu dengan sapaan Aki. Dari jauh sekali si Aki ini mengembara hingga tiba di bukit Manggalau. Mendengar kabar dari warga desa bahwa Sunoto adalah pemimpin desa yang berperilaku alus budi, membuat Aki ingin berjumpa. Aki mengajarkan beberapa keilmuan kepada Sunoto atas dasar keinginannya beramal. Keilmuan itu tak sembarang diberikan Aki. Menurutnya, hati yang mencerahkan cinta adalah hati yang sudah dicerahkan terlebih dahulu.

Selama Sunoto berguru pada Aki, selama itu pula Zikir mulai tidak diperhatikan oleh Sunoto. Ia sering pulang malam, bukan sebab kegiatannya dengan masyarakat melainkan pergaulannya dengan orang-orang yang suka menyabung ayam. Perlahan pula, Zikir mulai mengenal mabuk. Sunoto tak melihat bagaimana Zikir menjadi begitu berbeda dengan tabiat biasanya, sebab Sunoto sering bertapa di lereng bukit Manggalau. Ketika ia pulang, ia selalu mendapati Zikir sudah terlelap atau sedang beristirahat memberi pakan unggas.

Setelah bertahun-tahun Aki menjadi bagian dalam hidup seorang Sunoto, Aki mengutarakan perpisahan kepada muridnya itu. Sebelum Aki wafat, ia sempat menuliskan beberapa mantera kepada Sunoto dan Zikir. Di situ ia menulis, “dengan ini kau bisa melihat Ruh. Jika tertanam di dalamnya cinta maka berpendarlah cahaya putih kebiruan, jika tertanam di dalamnya kebencian maka tak ubahnya ia seperti hewan.”

Sunoto menyimpan rapi-rapi catatan itu. Belum berani benar ia mengamalkan mantera yang diberikan Aki. Sampai suatu hari Sunoto merasa ajalnya kian dekat. Sunoto membuka lipatan catatan itu. Mengucap kata demi kata dalam hening, berkomat-kamit. Jiwanya merasa tenang, jiwanya dialiri kelembutan.

Sunoto terbimbing menuju pemandian. Di sana ia membasahi sekujur tubuh. Berdoa ia dalam setiap tangkup air yang ia tuang. Ke pundak kanan, ke pundak kiri, ke ubun-ubun kepala. Seusai mandi, ia bergegas menuju ruang ibadah dan menggelar sehelai kain tempat ia bersujud. Ketika ia sujud, ia menyebut nama seseorang yang hendak ia lihat ruhnya. Sunoto bertutur dalam sanubari, “kepada Zikir… kumohon, Pemilik Kuasa, terangkan sebuah jalan bagiku membuka jati diri sukmanya…”

***

Aku membuka beberapa kitab milik paman untuk menemukan sesuatu. Tanganku mengorek-ngorek tumpukan kertas, membacanya satu persatu dan memilah. Aku mencari secarik kertas berwarna merah dengan tinta hitam kelam menggores. Aku pun menemukannya!

Aku membersihkan diri di bawah shower kamar mandi apartemen. Seusai kugelar sehelai kain untuk bersujud, kubaca beberapa mantera yang tertulis di atas kertas. “Kumohon, Yang Maha Melihat, terangkan pandanganku atas sukma-sukma yang kau ciptakan!,”

Sekilas kupandang sekeliling. Berdiri menuju tempat tidur dan Wanto terlelap di sana. Kuberanikan diri mendatangi  Wanto yang mendengkur kencang sekali. Selimut besar yang menutupi kepala sampai kaki bahkan bergetar sebab dengkurannya itu. Pada hitungan ketiga, kubuka selimutnya dan kusaksikan apa yang selama ini kutakuti!

Keringat merembes kepalaku, berjuang menahan dengan membaca doa berulang-ulang dalam hati. Aku kembali melangkah masuk ke kamar mandi untuk bercermin. Kupejamkan mata sebelum dengan berani kubuka. Sambil menghitung dalam hati, kulihat wajahku sendiri.

 “Babi! Ruhku babi!”

This entry was posted in Literatures, Short Stories. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s