3 Film Animasi Jepang Inspiratif Karya Hayao Miyazaki

hayao_miyazaki_by_rutabaga91-d31j4u7

Miyazaki, Hayao (Transliterasi dari Hiragana pada ilustrasi). dokumentasi google.

Prolog

Liburan Paskah dan Isra-Mi’raj kali ini saya isi dengan menikmati tiga film garapan Hayao Miyazaki sembari mengingat-ingat kembali kosakata bahasa Jepang yang pernah saya pelajari di bangku SMA. Dari semua film garapan beliau, saya baru menonton tiga film ini: My Neighbour Totoro, Spirited Away dan The Wind Rises. Berhubung adik kembar saya kuliah di Sastra Jepang, saya semakin asyik belajar dengan mereka melalui film. Ketiga film yang akan saya ulas di bawah ini cocok jika dinikmati oleh anak-anak usia 5 s.d 15 tahun meski kenyataannya bisa juga dinikmati oleh usia berapapun. Film karya Miyazaki pada umumnya berisi kritik sosial, etika manusia, keluarga, dan cita-cita luhur namun disajikan dengan imajinasi kanak-kanak yang renyah dan riang. Sangat tepat jika Anda ingin menikmati film-film berikut ini dengan buah hati Anda di hari liburan. Bahkan, lebih baik dari pada drama keluarga Amerika seperti Home Alone atau Jumanji sekalipun.

Sekilas Tentang Hayao Miyazaki

Hayao Miyazaki lahir pada tanggal 5 Januari 1941 dan kini usianya sudah 75 tahun. Ia seorang sutradara, produser film, penulis naskah, animator, penulis cerita dan seniman Manga. Karirnya sudah melampaui 5 dekade mengantarnya sebagai seorang pendongeng master dan pembuat anime film di skala internasional. Ia bahkan diundang oleh animator Amerika untuk bergabung di Walt Disney. Dua tokoh barat yang mempengaruhi karya Hayao Miyazaki diantaranya Antoine de-Exupery dan Lewis Carroll. Kita bisa merasakan pengaruh itu melalui tiga film garapan Miyazaki berikut ini:

  • My Neighbour Totoro (1988)
images

dokumentasi Google

Sedikit Ulasan

Film ini berlatar tahun 1958 di Jepang, mengisahkan seorang profesor bernama Tatsuo Kusakabe dengan dua puterinya Satsuki (kurang lebih 7 tahun) dan Mei (kurang lebih 5 tahun), pindah ke sebuah rumah tua. Tujuan mereka pindah agar dekat dengan Yasuko, istri Prof. Kusakabe yang dirawat di sebuah rumah sakit sebab penyakit menahun. Berbagai peristiwa dialami Satsuki dan Mei. Mereka berjumpa dengan susuwatari, semacam spirit berbentuk gumpalan debu kecil berwarna hitam yang memiliki mata dan kaki-kaki kecil. Spirit itu pergi menuju tempat kosong lain setelah keluarga kecil itu saling melempar rasa bahagia dan tertawa di rumah baru mereka. Suatu hari Mei berjumpa dengan dua ekor kelinci kecil dan membuntutinya sampai ke pohon besar. Di dalam pohon itu terdapat lubang dan Mei terjatuh ke dalamnya (hampir mirip dengan kisah Alice in Wonderland yang jatuh ke dalam lorong kelinci). Gadis kecil itu rebah di atas Totoro, kelinci besar seperti raksasa. Dan sejak itu, momen-momen ajaib bersama para spirit mulai berkesinambungan.

Pesan Moral

Film dengan alur cerita sederhana namun penuh imajinasi, kekuatan dari kesederhanaan, cinta dan kesetiaan antara anggota keluarga serta kepercayaan diri untuk meraih sesuatu menjadi pesan moral terbaik. Anak-anak yang menonton film ini secara tidak langsung telah belajar arti dari kesetiaan antar kakak beradik, orangtua dan anak, tekad berjuang, dan kemampuan untuk percaya kepada diri sendiri dan mimpi-mimpinya untuk bisa diraih. Selain itu, custom atau budaya Jepang: sopan santun, berbicara sopan, serta menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda sangat tergambar di sini. Sangat baik untuk dicontohkan kepada anak-anak yang berusia mulai dari 5 sampai menjelang remaja, 15 tahun.

  • Spirited Away (2001)
Spirited_Away_(Amerikansk_DVD)

dokumentasi Google

Sedikit Ulasan

Chihiro Ogino dan kedua orangtuanya sedang dalam perjalanan ke rumah baru mereka ketika sang ayah salah mengambil jalan pintas. Chihiro yang merasa sedih sebab berpisah dengan kawan-kawan lamanya enggan mengikuti sang ayah dan ibunya memasuki sebuah lorong di jalan buntu. Tak lama, karena takut sendirian, Chihiro dan kedua orangtuanya keluar dari mobil dan masuk ke dalam lorong sampai menembus ke sebuah tempat bermain tak terawat. Tempat itu seakan-akan sudah lama sekali tidak dioperasikan. Keluarga itu kemudian menjelajahi area luas berbukit dan berbatu sampai tiba di sebuah pemukiman penduduk tak berpenghuni. Anehnya, meski tidak berpenghuni, terdapat banyak sekali kedai dan makanan minuman yang terhidang seperti baru selesai dimasak. Dengan segera, ayah Chihiro mengajak istrinya dan Chihiro untuk duduk dan menyantap makanan. Chihiro menolak, ia memilih pergi berjalan-jalan karena penasaran dengan lingkungan baru itu. Betapa kagetnya Chihiro ketika ia kembali menemui orangtuanya, keduanya sudah berubah menjadi babi besar yang gemuk! Mulai dari situ perjalanan spirit Chihiro dimulai. Berbagai petualangan dan tokoh-tokoh spirit yang ditemuinya menyimbolkan beberapa hal di dunia tentang kebaikan dan keburukan sikap manusia.

Pesan Moral

Jika dikaji secara semiotik dan pragmatik, film ini menyampaikan gagasan etika manusia yang selama ini sering dilalaikan: pentingnya bersikap jujur, pentingnya mengontrol emosi dan hawa nafsu (serakah), serta keseimbangan antara manusia dan lingkungan (alamnya). Film ini juga menyampaikan kritik sosial tentang kondisi sungai dan air laut (disimbolkan dengan dewa sungai) yang sudah banyak terkontaminasi oleh polutan. Hampir sama dengan My Neighbour Totoro, film Spirited Away menampilkan spirit-spirit yang umumnya hanya dilihat anak kecil dan seringkali disepelekan oleh orang dewasa. Spirited Away juga mengajarkan pada generasi muda bahwa ukuran kebahagiaan bukan berdasarkan pola hidup konsumtif, juga bukan dari banyaknya uang yang dimiliki atau kemewahan terhadap suatu barang berharga (disimbolkan dengan emas). Kehidupan pada hakikatnya akan menuju kepada sang Maha Kuasa dan bahwa dunia ini hanya sebuah kefanaan. Tokoh Chihiro menggambarkan anak perempuan yang awalnya manja menjadi mandiri dan berkepribadian kuat ketika dibenturkan berbagai masalah. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya dalam diri atau jiwa seorang anak berpotensi untuk menjadi pemimpin bagi masa depannya sendiri jika diberi kesempatan untuk mencari solusi bagi permasalahan yang dihadapi (tidak melulu disuapi). Persahabatan, kasih sayang dan keyakinan antara Chihiro dan Haku juga mengajarkan anak-anak untuk bergaul dan saling tolong menolong dalam kebaikan, menjadi orang baik, dan tetap berbuat baik pada orang yang sudah berbuat buruk kepada kita.

  • The Wind Rises (2013)
images (1)

dokumentasi Google

Sedikit Ulasan

Film ini berdasarkan kisah nyata Jiro Horikoshi perancang pesawat tempur Mitsubishi A5M di masa perang dunia II. Pada tahun 1918, Jiro Horikoshi bermimpi menjadi seorang pilot dan di dalam mimpinya ia berjumpa dengan Caproni, seorang perancang pesawat berkebangsaan Itali. Melalui mimpi itu, Caproni menyampaikan pada Jiro untuk tetap semangat membuat pesawat meski tidak pernah bisa mengendarainya. Menurut Caproni, membuat pesawat lebih baik daripada mengendarainya.

The Wind Rises memuat juga perjalanan cinta Jiro dengan Naoko, bagaimana mereka berjumpa, berpisah dalam waktu lama, dan bertemu kembali. Jiro dan sahabatnya, Kiro Honjo ditugaskan ke Jerman untuk mempelajari pesawat tempur Jerman. Karir Jiro juga dikisahkan cukup detil di sini sampai ia sukses menerbangkan Mitsubishi A5M dan berkontribusi bagi Jepang meski akhirnya kalah di Perang Dunia ke-II dan istrinya, Naoko, meninggal dunia karena TBC.

Meski film ini menggunakan animasi, bukan berarti film ini cocok untuk usia anak-anak. Di dalamnya terdapat gagasan politik, kisah asmara yang meski tidak dirajut secara pornografi namun tersirat untuk remaja dewasa. Jadi, jika putra-putri Anda berumur di bawah 15 tahun, lebih baik jangan dulu menonton film ini.

Pesan Moral

Kontribusi paling besar film ini menurut saya adalah memacu semangat generasi remaja untuk fokus terhadap pendidikan dan memperbanyak praktik belajar ketimbang terlalu banyak bermain. Impian yang sudah ada sejak usia kanak-kanak boleh jadi imajinatif seperti yang dialami Jiro Horikoshi, namun bukan berarti sebuah khayalan semata. Jika remaja Indonesia mau mengejar mimpi dan cita-cita mereka sejak usia muda maka mereka akan menikmati keberhasilannya di usia senja.

Epilog

Ketiga film Miyazaki di atas memiliki plot cerita berciri khas romanticism. Setiap alurnya sangat dinikmati, terkesan agak sedikit menjemukan namun menjadi selalu menarik dengan kejutan-kejutan setelahnya. Kisah yang digambarkan detil namun simbolik. Jika ditulis dalam karangan, saya bisa membayangkan karya-karya Miyazaki tersebut mirip dengan prosa narasi. Akhir kata, selamat menikmati karya-karya hebat Hayao Miyazaki bersama teman atau keluarga tercinta

This entry was posted in Feature, Journalistic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s