Mendongeng dengan Folklore

KELUARGA sebagai unit terkecil di dalam suatu sistem masyarakat, merupakan unit paling penting untuk membentuk para anggotanya berperilaku di kehidupan sosial. Apalagi di bidang pendidikan, keluarga memiliki peran besar. Salah satu budaya belajar yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak sejatinya adalah membaca. Tidak sedikit seruan untuk membiasakan membaca sejak dini di lingkungan keluarga. Hal ini sudah banyak dilakukan diantaranya oleh pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan, komunitas hingga individu-individu. Sayangnya, terkadang seruan baik ini tidak diimbangi dengan ketersediaan buku atau perpustakaan terdekat pada setiap rumah-rumah penduduk di wilayah tertentu. Hal ini menuntut kepada orangtua, pendidik atau wali dari anak-anak untuk mampu memfasilitasi sehingga anak-anak mereka terbiasa membaca dengan fasilitas yang ada. Namun, bukan soal fasilitas yang sebenarnya menjadi kendala besar. Terkadang, fasilitas yang diberikan oleh suatu keluarga dengan kondisi mapan ekonomi sekalipun masih dibilang “kurang” dalam hal menyodorkan buku-buku atau bacaan yang sesuai dengan anak-anak mereka. Beberapa kendala yang dialami orangtua diantaranya:

Adobe Photoshop 2007
dokumentasi google
  1. Kekeliruan terhadap pemilihan bacaan

Buku bacaan yang seringkali dianggap “cocok” untuk anak kenyataannya adalah bacaan yang semestinya dihindari. Umumnya pendidik mengira bahwa komik adalah solusi terbaik mengingat anak-anak gemar melihat ilustrasi dan warna ketimbang tulisan. Padahal tidak semua komik boleh dibaca oleh anak-anak. Beberapa komik yang tidak tepat namun kerap diberikan kepada anak-anak diantaranya adalah Donald Bebek, Paman Gober, Crayon Shinchan, Monika and friends dan lain-lain. Komik-komik ini sekilas terkesan hanya menggambarkan cerita fabel (Paman Gober), kisah anak kecil laki-laki yang selalu bermasalah dengan ibunya (Crayon Shinchan) dan keberanian seorang anak perempuan (Monika and friends). Realitanya, komik-komik tersebut mengandung hal-hal negatif yang tidak boleh diserap oleh anak-anak. Beberapa adegan dewasa, pornografi, dan bullying kerap muncul. Tentu bacaan seperti ini yang patut dihindari, apalagi komik menyajikan ilustrasi sebagai andalan meningkatkan daya imajinasi pembacanya.

  1. Lalai Pengawasan dan Minim Pengetahuan Bahasa Asing

Jangan salah, permainan anak di dunia maya saat ini sudah bertransformasi ke berbagai bentuk. Tidak selamanya permainan online berisi musik atau tokoh anime saja. Belakangan ini, ada situs game-online yang memasukkan bentuk narasi ke dalam cara permainannya. Bahasa Inggris yang digunakan memang bisa dijadikan ajang belajar bahasa asing namun kontennya mengandung unsur asusila. Bagi orangtua yang tidak memiliki kapasitas dalam berbahasa Inggris, hal ini sangat membahayakan karena anak akan merasa aman untuk membuka situs tersebut.

  1. Minimnya pengetahuan orangtua terhadap bacaan anak

Karena minim akan pengetahuan bacaan yang tepat bagi anak, tidak jarang ditemukan orangtua yang membiarkan anaknya membaca buku atau bacaan apa saja dengan dalih, “yang penting mau membaca.” Padahal sesungguhnya hal ini merupakan suatu kesalahan. Orang tua juga perlu untuk mengetahui apa yang dibaca oleh anak. Tidak serta merta membiarkan anaknya membaca tanpa pengarahan atau penyeleksian buku bacaan terlebih dahulu. Begitu pentingnya suatu bacaan untuk diseleksi kepada anak sederhananya untuk mengantisipasi. Selain itu, dengan kesadaran orangtua untuk menelaah bacaan yang tepat bagi anak-anaknya bisa membantu anak mempelajari hal-hal baru tanpa perlu duduk secara formal.  Aktifitas membaca buku adalah aktifitas paling fleksibel misalnya bisa dinikmati saat anak beristirahat di siang hari atau menjelang tidur.

Folklore untuk Anak

Jika orangtua sudah memiliki antisipasi yang cukup dalam menyeleksi bacaan anak-anaknya, cukup awas dan sudah belajar untuk meningkatkan bahasa asing, kendala lain yang lebih besar justru minimnya minat baca anak itu sendiri. Tidak bisa kita pungkiri bahwa tidak semua anak menyukai aktifitas membaca. Meskipun bacaan yang diberikan sudah cukup ‘berwarna’, ‘menarik’ dan kreatif sedemikian rupa, kadang kala terbentur oleh keengganan anak. Untuk menyiasatinya, orangtua bisa melakukan aktifitas mendongeng. Cerita yang didongengkan bisa berasal dari berbagai macam bacaan. Terkadang, orangtua menemukan masalah seperti ini; menemukan bacaan memiliki nilai moral baik namun kurang tepat jika dibaca langsung oleh anak. Maka, kebiasaan menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur mampu mengakomodasi hal tersebut. Orangtua bisa menyampaikan inti cerita yang memiliki nilai baik untuk ditiru anak dengan menyembunyikan bagian-bagian cerita yang tidak perlu anak ketahui di usia belia mereka. Kebiasaan membacakan dongeng yang mengandung nilai moral juga mampu memberikan contoh teladan kepada anak secara tidak langsung. Kisah atau dongeng yang dibacakan mampu terekam dalam imajinasi anak untuk kemudian diingatnya sebagai suatu nilai yang harus ditiru atau ditinggalkan.

Di Kyrgyzstan misalnya, sebuah negara kecil di Asia Tengah yang berjuluk “Negara Terbit Matahari” para orang tuanya menceritakan secara turun-temurun kisah perjuangan seorang pahlawan bernama Manas. Perjuangan pahlawan legendaris ini menjadi folkloreatau tradisi lisan yang kemudian banyak dikisahkan baik dari kalangan tua maupun muda dan anak-anak. Semangat Manas terus dipertahankan oleh budaya Kyrgyz dan diabadikan di dalam monumen dan museum di Manas Square bahkan sampai digelar “Manas Boy” pada tiap acara-acara sekolah. Murid-murid SD sampai SMA banyak yang mempersembahkan “Manas Boy” ini di perhelatan sekolah dan keluarga besar mereka.

Indonesia dengan ragam budaya serta kekayaan tradisi lisan tentu mampu menjadi sarana tepat bagi orangtua untuk membuat momen bersama sembari belajar dengan anak-anak. Menceritakan folklore Indonesia kepada anak bisa dimulai dari kisah-kisah sederhana yang umum dikenal seperti bawang merah dan bawang putih, timun emas, si kancil,malin kundang dan seterusnya. Terdapat lebih dari ribuan tradisi lisan di Indonesia telah dikisahkan ke berbagai bentuk narasi dan bisa dijadikan cerita pengantar tidur penuh manfaat kepada anak-anak. Cerita folklore umumnya memuat moral baik yang harus dilakukan manusia. Ada serangkaian sebab-akibat jika manusia tidak berlaku baik di lingkungan sosialnya. Misalnya, mencermati cerita Malin Kundang, melahirkan pesan moral bahwa kriteria anak baik adalah menghormati orangtuanya. Tak hanya berisi moral baik, folklore nusantara memuat kultur serta adat istiadat berbagai daerah sehingga mampu memberikan wawasan dan imajinasi tersendiri bagi anak. Contoh tradisi lisan yang sudah dilakukan para orangtua etnis Kyrgyz di Kyrgyzstan seharusnya juga patut dijadikan contoh oleh orangtua Indonesia kepada putra-putrinya. Selain mudah, aktifitas mendongeng dengan folklore juga mempererat hubungan batin antara orangtua dan anak-anak mereka atau kakak terhadap adik-adiknya. Mendongeng sendiri merupakan suatu kegiatan sederhana yang apabila dikerjakan dengan rutin mampu menguatkan peranan orangtua dalam mendidik anggota keluarga mereka dengan jalinan kasih sayang.(*)

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s