Florence Nightingale

Biografi Florence Nightingale

“ What the horrors of war are, no one can imagine”

Florence Nightingale (1820-1910)

Seperti yang diketahui oleh sebagian masyarakat yang terdidik di dalam dunia medis dan kesehatan, Florence Nightingale memberikan hidupnya pada dunia kesehatan dan kemanusiaan dengan tulus. Florence Nightingale lahir di Firenze, Italia pada tanggal 12 Mei 1820 dan termasuk ke dalam golongan masyarakat yang berada. Rambutnya tertata rapi dan berpenampilan layaknya wanita terhormat di zamannya. Ibunya seorang wanita berdarah biru dan ayahnya seorang tuan tanah yang kaya raya di Derbyshire, London. Florence memiliki seorang saudara bernama Parthenope dan keduanya memiliki karakter yang berbeda. Ia terkenal lebih cantik dari pada saudara perempuannya dan sering menerima lamaran dari pria bangsawan namun sering pula ia menolaknya. Pada masa itu, Florence tidak melakukan aktivitas yang lazim dilakukan oleh wanita ningrat kebanyakan atau seperti yang dilakukan oleh Parthenope. Ia cenderung melakukan aktivitas yang bisa membantu masyarakat yang membutuhkan dan lebih menghabiskan waktunya di luar rumah. Pada tahun 1846 ia pergi ke Jerman dan mengunjungi Kaiserswerth dimana akhirnya ia mengetahui tentang rumah sakit pionir modern yang dipimpin oleh Pendeta Theodor Fliedner dan istrinya. Rumah sakit itu pun dikelola oleh seorang biarawati Lutheran. Perjalanannya ke Jerman membuka hati dan cakrawalanya mengenai dunia kesehatan khususnya dunia perawat saat itu dimana ia terkesima akan komitmen para biarawati yang peduli terhadap pasien-pasien mereka. Florence pun bercita-cita untuk menjadi pekerja sosial keperawatan walau keluarga menentangnya dengan alasan bahwa perawat merupakan pekerjaan yang hina dan rumah sakit adalah tempat yang jorok. Perawat pun dianggap sebagai pekerjaan yang kurang sopan karena berhadapan dengan tubuh yang tanpa berbalut busana, juga dikenal sebagai wanita pengekor lelaki di zaman itu. Keluarga ningrat seperti keluarga Florence biasa memanggil dokter ke rumah jika mereka sakit. Ia pun menolak lamaran seorang penyair dan ningrat Baron of Houghton yang bernama Richard Monckton Milnes karena angan-angannya yang besar terhadap dunia keperawatan dan kesehatan juga merasa terpanggilnya ia di dalam kemanusiaan.

Singkatnya, Florence pergi ke Kaiserswerth, Jerman dan mendapat pelatihan dengan biarawati disana. Ia pun berpengalaman bekerja di Perancis dan ketika kembali ke Inggris ia bekerja di sebuah rumah sakit kecil di Upper Harley Street London, dan disokong dana oleh ayahnya sebesar kurang lebih ₤ 25.000 per tahun. Perjalanan hidup, karakter, idealisme dan kemanusiaan. Melalui pekerjaannya di Upper Harley Street ia mencurahkan pemikirannya yang berlainan dengan komite rumah sakit yang menolak pasien beragama katolik. Florence mengancam akan mengundurkan diri dan memaksa agar komite merubah peraturan tersebut dengan izin tertulis baginya yang berbunyi; “ rumah sakit akan menerima tidak saja pasien yang beragama katolik, tetapi juga yahudi dan agama lainnya, serta memperbolehkan mereka menerima kunjungan dari pendeta-pendeta mereka, termasuk rabi, dan ulama untuk orang islam,” tidak hanya itu, pemikiran dan idealisme yang ia miliki untuk menjunjung rasa kemanusiaan juga tersalurkan melalui kesukarelaannya menjadi satu-satunya perawat dari inggris yang mengajukan diri untuk menjadi tenaga medis di perang Krimea pada tahun 1854, perang yang terjadi antara Inggris-Perancis melawan Rusia. Bersama 38 gadis perawat ia berangkat ke Turki menumpang sebuah kapal dan bekerja di RS Scutari. Perjuangannya belum sampai disitu. Ia banyak membuat perubahan-perubahan yang drastis di Scutari. Ia merawat para prajurit, mengganti semua fasilitas kesehatan yang kotor seperti seprai dan perban secara berkala, membersihkan lantai, dan kegiatan bersih-bersih lain yang berkaitan dengan lingkungan rumah sakit. Termasuk mengubur dan membuang jauh-jauh berbagai potongan tubuh yang menumpuk setelah amputasi. Ia juga memperhatikan dan merawat para perawat lain. Mengunci mereka di waktu malam sebagai wujud buktinya kepada orang tua mereka yang notabene dari golongan menengah bahwa putri mereka aman dari serangan seksual. Walaupun pada enam bulan awalnya di Scutari belum mampu menurunkan angka kematian prajurit, namun akhirnya Florence berhasil menurunkan angka kematian tersebut. Ia memiliki andil besar di negaranya dan membuat banyak warga Inggris mengerti bahwa kebersihan lingkungan itu sangat penting.

AHospital800Ward

ilustrasi rumah sakit di Scutari

Florence Nightingale mendapat gelar Bidadari Berlampu ketika ia terjun langsung ke medan pertempuran untuk merawat banyak prajurit yang tidak bisa dikirim ke Scutari. Tiap malam setelah pertempuran terjadi, Florence berkeliling dengan lentera di tangannya untuk mencari prajurit yang masih hidup, termasuk menolong prajurit Rusia. Karena tindakannya yang berani dan sangat belas kasih itulah ia banyak menolong nyawa prajurit-prajurit yang seharusnya sudah meninggal.

FN

“Pada jam-jam penuh penderitaan itu, datanglah bidadari berlampu untukku,”-Santa Filomena, Henry Longfellow:1857-

 

Sekembalinya ke Inggris seusai perang Krimea, Florence Nightingale dikenal sebagai pahlawan, walau pada 7 Agustus 1857 ia terkena demam Bruselosis atau demam Krimea yang menyerangnya selama perang Krimea. Warga Inggris saat itu mendonasikan dana yang diberi nama Dana Nightingale dan akhirnya Florence mendirikan sekolah perawat dan kebidanan Florence Nightingale School of Nursing and Midwifery di sekitar St. Thomas Hospital, London melalui dana tersebut dan akhirnya mampu mengubah cara pandang gadis-gadis ningrat dan keluarganya akan pandangan mereka tentang perawat. Florence pun menulis buku Catatan Tentang Keperawatan setebal 136 halaman pada tahun 1860 dan menjadi acuan kurikulum di sekolah Florence dan sekolah lainnya.

Pada tahun 1883 Florence dianugerahi Palang Merah Kerajaan (The Royal Red Cross) oleh Ratu Victoria dan pada 1907 kembali dianugerahi bintang jasa The British Order of Merit. Terakhir, pada tahun 1908 ia diberikan penghargaan Honorary Freedom of The City dari Kota London. Florence Nightingale wafat di usianya yang ke-90 tahun pada tanggal 13 Agustus 1910 dan dimakamkan di Gereja St. Margaret di Hampshire, Inggris. Kontribusi dan hal-hal positif dari sosok Florence di dalam kehidupan.

Karya-karya Florence digunakan di berbagai belahan dunia dan menyokong kehidupan medis dengan sangat baik. Sebagai seorang tenaga medis ia telah melakukan profesinya dengan baik, bertanggung jawab dan penuh moralitas. Ia juga mengedepankan hati dan rasa kemanusiaannya dalam membantu sesama secara total dan telah ia buktikan di dalam alur kehidupannya yang berliku-liku. Kontribusi seorang Florence Nightingale mampu mengembalikan kesadaran dan rasa tanggung jawab para tenaga medis yang mungkin belum sepenuhnya memahami apa profesi mereka. Berbagai pengalaman hidupnya bisa menginspirasikan hal-hal positif yang dapat dibuat bersama untuk mencapai keajegan yang selaras, dan harmonis. Selain itu juga dapat memberikan pandangan positif terhadap kaum perempuan seperti saya pula dan masyarakat pada umumnya betapa pentingnya dunia kesehatan dan juga betapa luhurnya profesi sebagai tenaga medis jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Terlebih bagi mereka yang memiliki jiwa-jiwa kemanusiaan yang bermoral di dalam situasi dan kondisi apapun untuk selalu membuka mata dan mengulurkan tangan bagi siapa saja yang membutuhkan.

This entry was posted in Feature, Journalistic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s