Surat dari Rausyan

kid-869188_960_720
Rausyan dan alam imajinya. source: http://www.pixabay.com
 Selalu begini, Rausyan! Selalu terlambat!” Aulia, kakak Rausyan nomor dua sudah mengoceh sedari subuh membangunkan Rausyan—anak paling kecil di keluarga Buya Mahmoud. Tangan Aulia sibuk memasukkan buku-buku pelajaran Rausyan sementara mulutnya merapal doa pagi. Buya Mahmoud baru pulang dari masjid, Yama sibuk di dapur bersama putri pertamanya, Nuna. Haidar dan Mila sedang menyiapkan seragam mereka masing-masing dan Rausyan, meski sudah dihentak-hentak tidak bergeming dari kasurnya.

Kini waktunya Nouran beraksi, perkenalkan—Nouran adalah kucing Persia yang super mirip dengan Garfield. Ia menjilati pipi Rausyan, membangunkan bocah berambut ikal itu dengan halus dan menggoda. Nouran menggeliat-geliat di atas pusar Rausyan dan beberapa menit kemudian anak lelaki itu terbangun. Yama sudah siap dengan handuk di depan pintu kamar mandi sebelum akhirnya terpaksa berteriak memanggil anak bungsunya yang masih kecil manja.

“Lihat, anak Yama sudah sebesar ini dan belum mau mandi sendiri!” tukas Yama. Kenyataannya, Yama senang memandikan Rausyan. Setiap harinya, waktu-waktu emas yang bisa Yama berikan pada Rausyan adalah pagi dan malam hari. Selebihnya, Yama akan sibuk sekali di toko. Rausyan sadar Yama-nya akan marah besar jika ia tidak bergegas menuju kamar mandi. Maka ia berjalan, beringsut sembari menekuk wajahnya. Sebelum masuk kamar mandi biasanya ia akan berdiri cukup lama dan ketika Yama berteriak, “cepatlah Rausyan!” secepat kilat ia masuk ke dalam dan Yama memandikannya.

Bukan apa-apa. Sekolah adalah tempat paling menyebalkan bagi Rausyan. Ia selalu berusaha untuk terlambat bangun pagi agar jadwal semua orang di rumah kacau balau. Lagi pula, Rausyan tidak akan takut jika harus terlambat. Sekolahnya hanya berjarak dua puluh langkah dari rumah dan Buya tidak pernah memarahinya. Buya adalah lelaki yang dihormati di lingkungan rumah Rausyan. Melihat banyak orang yang menghormati Buya sedemikian rupa membuat bocah kecil itu sadar ia tidak akan mendapat ejekan meski sebaris kalimat, “rumah dekat kok sukanya terlambat.”

Meski begitu, sekujur tubuh Rausyan kerap bergidik ketika mendengar bel sekolah berbunyi sementara rambutnya masih berselimutkan sampo. Atau saat seorang guru yang baru datang melewati rumahnya menyapa Buya yang sedang menyapu halaman sembari menanyakan tentangnya dan ia hanya mampu sembunyi di balik kelambu.

Rausyan sudah siap pagi itu. Aulia menenteng tasnya keluar kamar dan memberikan pada bocah kecil itu dengan wajah lelah. “Bersyukurlah sebab kakakmu adalah aku dan bukan gadis-gadis sepantaranku yang lain di kampusku! Kau bisa habis dilumat oleh mereka!” ujar Aulia, jemarinya meremas rambut ikal Rausyan yang sulit diatur. “Sana pergi!”

Kalimat ‘sana pergi’ seperti komando rutin di mana Buya sudah siap di depan pintu dengan tangan kanan memegang gagang pintu. Rausyan mengenakan pecinya dan memakai tas punggung. Yama sudah menyuapinya sarapan beberapa saat sebelum Rausyan memakai baju dan kini, seperti yang sudah-sudah Rausyan akan menoleh dan berkata, “kumohon kalian semua jangan pulang terlalu malam.”

“Atau kau ambil kunci rumah? Begitu? Ah, ancamanmu nggak keren!” seloroh Haidar.

“Tenang Sayang, kami akan pulang segera.” Yama mengecup pipi Rausyan dan begitulah kisah setiap hari Rausyan menuju berangkat sekolah.

***

BENAR saja, Yama dan Buya masih di toko. Nuna dan Aulia masih di kampus, sementara Haidar dan Mila mungkin sudah pulang tapi Mila akan mampir ke pengajian dan Haidar barangkali sedang asyik main di rumah Habib. Setiap pulang sekolah, Rausyan selalu memikirkan itu. Ia akan lupa pada permainan serunya sewaktu di kelas atau cerita pak guru tentang kesetiaan Qithmir. Ia sudah tak berselera mengingat lagu-lagu menyenangkan selama waktu istirahat berlangsung sebab pikirannya hanya menunggu Yama untuk pulang.

Rausyan sudah satu jam lebih duduk di dekat gerbang sekolah. Hanya beberapa langkah saja ia sudah sampai di rumah, namun tangan yang ia harap menggandengnya menuju pintu belum datang juga. Lantas ia duduk berpangku tangan, memandangi angin yang membawa debu dan serpihan sampah yang memutar-mutar. Ia selalu berjanji dalam hati akan menyembunyikan kunci rumah esok hari meski kemudian tangannya seperti terpasung lemas. Rausyan menyadari, ia terlalu pengecut untuk tinggal sendirian di dalam rumah walau Nouran berkeliaran sekalipun.

“Rausyan!” seru Bunyamin. “Mau main denganku?”

“Nanti sore.” Rausyan masih berpangku tangan. Ia bahkan tidak berselera memandang setangkup kertas permainan monopoli di pelukan Bunyamin.

“Ini monopoli. Aku tahu kamu suka main ini.” Seru Bunyamin lagi. Anak itu bahkan sudah duduk di sebelah Rausyan, menggelar kertas permainan. Namun Rausyan tidak menjawab. Melirik barang sedetik pun tidak. Ia menatap lurus ke depan rumahnya.

“Yama belum jemput lagi?”

Rausyan memicingkan matanya sedikit ke arah Bunyamin seakan-akan hendak berkata, “kayak gini masih kamu tanya, heh?”

“Kau tahu, biasanya, para ibu lupa menjemput anak-anaknya sebab anak mereka nakal.”

Well, aku cerdas dan anak cerdas itu biasanya nakal.” Tukas Rausyan mengutip ucapan Yama. Ia sangat yakin bahwa kenakalannya tidak akan pernah mengusik Yama.

“Menurutku tidak.” Bunyamin sudah mengocok permainan dadu. Ia maju empat langkah di atas kertas monopoli. “Giliranmu.”

Rausyan suka merasa sebal dengan dirinya sendiri. “Baiklah.” Ia meraih dadu dan mulai mengambil langkah di monopoli. Bunyamin cuma bisa menggelengkan kepala. Sudah bertahun-tahun ia menjadi teman main Rausyan dan selalu tak habis pikir dibuatnya. “Kupikir, kamu harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Kau tahu kan cerita Hensel dan Gretel? Mereka itu anak-anak yang dilupakan orangtuanya. Kurasa, kau perlu melakukan sesuatu agar orangtuamu tidak melupakanmu, Rausyan!”

Rausyan memandang Bunyamin lekat-lekat. Terkadang, apa yang dikatakan anak ini ada benarnya—pikir Rausyan. Dulu Bunyamin pernah menyarankan agar Nouran diberi lonceng di lehernya agar kalau sembunyi bisa mudah ditemukan. Tapi Buya melarang karena bunyi-bunyi lonceng disukai makhlus halus, katanya. Maka suatu hari Nouran menghilang. Rausyan menangis seharian dan tak lama ia menyesali tangisannya. Nouran tidak ke mana-mana, ia hanya sembunyi di bawah sofa dan tidur cukup lama di sana. “Apa yang harus kulakukan?.” Rausyan tidak ragu menanyakan hal itu.

“Aku tidak tahu,” Bunyamin mengangkat bahunya, “kalau di rumah sendirian kamu takut, main di rumahku kamu nggak suka, aku jadi bingung apa yang seharusnya kamu lakukan.”

Rausyan menundukkan kepalanya. Jika memang benar Yama akan begitu mudah melupakannya, tentu ia harus berbuat sesuatu. Hanya saja, ia tidak mengerti. Harus dengan apa agar Yama tidak lupa menjemputnya tepat waktu terus menerus.

“Itu Yama-mu!” seru Bunyamin. Ia bergegas membereskan mainan monopoli, khawatir Yama akan memberitahu ibunya tentang permainan yang dilarang di sekolah itu. “Bye Rausyan, pikirkan ucapanku!”

Yama menutup pintu mobil dan berjalan menuju Rausyan. Sebelum ia mengulurkan tangan, Rausyan sudah bangkit dan berjalan menuju rumah. “Rausyan, maaf Yama terlambat lagi.”

Rausyan tidak menggubris. Ia terus melangkah, hingga sampai di depan pintu. Menunggu Yama membukakan pintu untuknya dan ia masuk lebih dulu. Ketika Yama hendak masuk, Rausyan segera menutup pintu. Ia membuka jendela dan menjulurkan lidah lalu pergi meninggalkan Yama di luar rumah.

***

aircraft-465723_960_720
Pesawat Rusia Rausyan, Source: http://www.pixabay.com

“TADI siang ada yang ngambek, tuh!” sindir Yama.

Keluarga Buya Mahmoud berkumpul semua di malam hari. Mereka asyik menonton tayangan televisi. Ketika Yama menyindir Rausyan, anak itu sedang merebahkan diri di depan  TV, merajai program siaran dengan tangan kanan menggenggam remote kuat-kuat.

“Udah minta maaf belum ke Yama?” Haidar menyolek pinggang adiknya dengan jempol kaki. Rausyan hanya menoleh, wajahnya menyeringai.

“Siapa yang ngajarin kamu jadi nggak sopan gitu? Buya, Rausyan tuh nakal.”

Rausyan duduk serta-merta memberikan tatapan tajam pada Aulia sebab mengatakan ia nakal. Buya menyeka wajah Rausyan dengan tangannya, “jangan melotot nanti matanya copot,”

Rausyan merinding, membayangkan bagaimana matanya copot. Kemudian suasana hening kembali. Siaran televisi menayangkan berita tentang pesawat Rusia Beriev BE 200 yang membantu pemerintah Indonesia memadamkan kebakaran di Sumatera. Bagi Rausyan, pesawat adalah barang mewah. Ia selalu berkhayal bisa menyentuh badan pesawat. Matanya mengawasi gerakan-gerakan pesawat dari layar TV, seakan-akan pesawat Rusia itu berada tepat di depan hidungnya. Tak lama, ia mendapat ide akan sesuatu. Usul dari Bunyamin akan baik jika ia wujudkan menjadi sesuatu yang menyenangkan, batinnya. Rausyan memberikan remote kepada Haidar dan ia bergegas ke kamarnya. Membuat sesuatu.

Semua anggota keluarga saling memandang. Buya menyikut Yama, Yama menyikut Haidar, Haidar melirik Nuna, dan begitu seterusnya hingga sikut-sikutan dan lirik-lirikan itu berakhir ke Aulia.

Aulia berjalan mengendap-endap menuju kamar Rausyan. Ia mengintip, Rausyan sedang melukis sesuatu di sebuah kertas gambar. Aulia memberanikan diri untuk maju pelan-pelan hingga mampu melihat apa yang dibuat Rausyan. Anak kecil itu menyadari lukisannya nyaris diketahui sang kakak, ia bergegas meraihnya dan melanjutkan di sudut kamar.

“Aku tidak akan bilang pada Yama.” Aulia mengangkat dua jarinya; telunjuk dan tengah bersamaan. Rausyan menggeleng, “Ini untuk Yama.” Ia meneruskan kegiatannya, dan Aulia menunggu adik kecilnya itu dengan sabar di pinggir ranjang. Beberapa menit kemudian Rausyan menyelesaikan lukisannya. Ia berjalan keluar menemui Yama dan anggota keluarga lain.

“Lukisannya aku taruh di sini.” Rausyan melipat gambarnya dan meletakkannya di atas meja makan. “Cuma Yama yang boleh lihat.” Bocah kecil itu kembali ke kamarnya, mematikan lampu dan memejamkan mata.

***

RAUSYAN benar-benar kaget ketika melihat Yama sudah berdiri di depan gerbang, sedang berbincang dengan salah satu gurunya. Ia bahkan mengerjapkan mata untuk memastikan apa yang dilihatnya adalah benar-benar Yama. Tanpa banyak basa-basi, Yama mengecup kening Rausyan dan menggandengnya. Yama hanya tersenyum dan sesampainya di rumah, Yama hanya berkata, “Aku akan selalu ada untukmu. Aku janji.”

Hari itu menjadi hari baru bagi kepercayaan Rausyan bahwa ia tak akan pernah dilupakan oleh Yama. Ia tidak menyangka bahwa coret-coretan bergambar pesawat dan cita-citanya sebagai pilot mampu membuat Yama memegang ucapan untuk menjemput tepat waktu. Namun bagi seorang Yama, lukisan itu amat berarti. Terlebih di balik lukisan itu terdapat beberapa kata:

 

“Buat Yama.

Umurku sekarang 7 tahun. Yama 44 tahun.

Kuliah kayak Aulia umur 18 tahun. Yama 55 tahun.

Jadi pilot umur 24 tahun. Yama 61 tahun.

Ke Rusia umur 35 tahun. Yama?

Usia Nabi Muhammad aja cuma 63 tahun.

Jangan telat lagi jemput aku!”

-dari Rausyan-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s