Hiruplah Hanya Cinta; Launching Buku Rumi dan Ibn Arabi

Saya berpose sebelum acara
Rumi mengatakan dalam bait-bait cintanya kepada Maha Cinta. Meski tiada habis bagi manusia untuk mengungkapkan bagaimana rasa cinta itu. Abdullah wong mengatakan, mungkin sebab Cinta itu hanya bisa di-“rasa” sementara “rasa” baru kan tertempuh dalam perjalanan penuh “sara” (penderitaan, bahasa Jawa). Rumi menjabarkan setiap Cinta yang ia rajut dalam kata-kata. Menaburnya di taman mawar, menyesap luka dari duri-duri yang menghalau sejak awal perjalanan menuju kuntum-kuntum mawar yang merekah.
 
Mereguk Cinta Rumi (serpihan-serpihan puisi pelembut jiwa) tiada lain meminjam ucapan penyusun bukunya, “merupakan comotan-comotan dari puisi-puisi Rumi yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris.” Dr. Haidar Bagir (selanjutnya disebut HB) tidak meng-klaim bahwa buku berjudul Mereguk Cinta Rumi adalah karangannya sebab alasan itu. Beliau bahkan merasa sudah “memperkosa” karya-karya Rumi dengan kecerobohannya memotong bait demi bait puisi Maulana besar itu.
 
Meski sudah mengakui kekurangannya dalam penyusunan buku ini, HB tetap merasa perlu membela diri, “tapi ini semua kan untuk tujuan baik.” Nyatanya, menurut HB, dibandingkan karyanya yang berjudul Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan dan Semesta Cinta, buku Mereguk Cinta Rumi yang berisi ‘comotan’ dari puisi-puisi panjang Rumi lebih laris. Buku-buku ini tidak memuat royalti untuk HB, dengan penuh cinta ia persembahkan kepada masyarakat Indonesia, dari lapisan manapun, kalangan manapun. 
 
Romo Bagus (kiri) dan Dr. Haidar Bagir (kanan)
Acara yang bertajuk “Cinta dalam Kajian Mistisisme Keagamaan dan Budaya Jawa” ini juga diramaikan oleh kehadiran Romo Albertus Bagus Laksana. Beliau memberikan perspektifnya terhadap buku “mereguk cinta Rumi” sekaligus menyampaikan mistisisme di dalam ajaran Kristiani. Menurutnya, di dalam ajaran Kristen saat ini juga mengenal mistisisme. Tahapannya sama dengan Islam. Diantaranya meliputi:
 
Via Purgativa (purifikasi) di dalam tahap ini manusia membersihkan dirinya atau di dalam Islam dikenal dengan istilah Takhalli, pemurnian, pembersihan diri dari keburukan.
 
Via Iluminativa (pencerahan) atau dalam Islam adalah Tahalli, menghiasi diri yang sudah bersih atau kosong tadi dengan akhlaq terpuji.
 
Via Unitiva (bersatu dengan samudera Sang Maha Cinta sampai lebur) adalah Tajalli di dalam Islam, merupakan bersatunya seorang Insan Kamil dengan Tuhan dengan begitu lezat dan nikmatnya.
 
(kalau ada kesalahan dalam penulisan istilah Purgativa, Iluminativa dan Unitiva saya mohon maaf. Saya hanya mencatat sesuai yang saya dengar. Kalau ada penjelasan lengkap saya senang sekali menerimanya).
 
sesi tanda tangan dan ngobrol santai sejenak
Acara ini tak lain ditujukan untuk merangkul seluruh kalangan agar kembali memahami bahwa esensi Islam adalah agama cinta, agama damai. Islam adalah kesempurnaan, sementara manusia tidak sempurna. Untuk itu, sangatlah suatu ketidak bijaksanaan jika menilai Islam berdasarkan para pemeluknya. Cinta diartikan secara universal, semua agama yang ada di dunia adalah cara bagi manusia untuk belajar menyampaikan risalah cinta. Islam, sebagai agama sempurna telah melengkapi semua kebutuhan manusia atas hidup ini yakni dengan berlandaskan cinta. Seperti yang ditegaskan oleh sabda Rasul Muhammad Saw, “Al-chubbu asasi,” yang berarti cinta adalah prinsipku. 
 
Sebelum acara ini berakhir, saya berkesempatan menanyakan satu pertanyaan kepada HB. Beliau menjelaskan jawabannya dengan memaparkan bahwa ada suatu kesalahan dalam pendidikan anak-anak Islam sejak dini. “Sejak kecil kita diajarkan bahwa kisah-kisah Nabi Muhammad Saw kebanyakan adalah perang. Inget nggak?” saat itu semua ruangan riuh, seakan-akan mengingat kembali kisah-kisah Nabi tentang perang sewaktu mereka masih kecil. HB menjelaskan, tidak mudah memang untuk membuka pandangan orang tentang agama cinta dan toleransi. 
 
Semenjak kecil, anak-anak muslim Indonesia dijejali dengan kisah-kisah perang di masa awal Islam sehingga mengesankan, “Nabi kok kerjaannya perang dan perang saja.” Padahal menurut HB, berdasarkan dua penelitian besar, salah satu sumber mengatakan bahwa seumur hidup Rasulullah Muhammad Saw hanya menghabiskan 800 hari untuk berperang. “Lalu ke mana 99% kehidupan Nabi Muhammad Saw yang lain? Tentu dengan dakwah,” ujar HB. Dakwah adalah merangkul, demikian ujar HB. Melalui diskusi terbuka, HB ingin menyampaikan pesan dakwah sederhana tentang dasar Islam sebagai agama cinta yang ironisnya banyak menuai kesalahpahaman di kalangan fundamentalis. 
 
Pada suatu sesi, HB juga sempat ‘curhat’ tentang berbagai tudingan yang diberikan kepada beliau dan menyampaikan keprihatinannya dengan kondisi umat muslim sedunia khususnya di Indonesia saat ini. “Saat ini seakan-akan kalau belum mengkafirkan, belum memberi gelar sesat atau memberi label syiah kepada orang lain, belum membunuh belum perang tuh iman Islamnya belum kuat. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan hal-hal demikian,” tandasnya.
 
Over all, saya sangat menikmati acara yang bisa dibilang cukup singkat ini (jam tujuh malam sampai sembilan lewat lima belas menit). Penampilan dari penyair Iman Soleh, Macapat dan musik sufi dari Abdullah Wong, Ki Donny dan kawan-kawan turut mendukung suksesnya ‘kehangatan cinta puisi Rumi”. Arena pertunjukkan yang menunjang, suatu karya yang hebat dari Galeri Indonesia Kaya.
 
Saya berdoa semoga Anda pembaca yang budiman mampu mengambil manfaat dari tulisan sederhana saya ini. Mari sama-sama menjadi manusia yang penuh cinta dan menebar kebermanfaatan dan bukan saling menuding atau menyakiti. Karena Sayyidina Ali ibn Abi Thalib pernah berkata, “Dia yang bukan saudaramu dalam Iman, adalah saudara dalam kemanusiaan.”
 
PS: di acara ini juga hadir vokalis DEBU, Musthafa. Sayang beliau sudah pulang sebelum acara selesai, saya hanya bisa mengambil gambarnya dari atas tempat saya duduk.
Mustafa Vokalis DEBU yang hadir di acara Mereguk Cinta Rumi, rambut pirang diikat.
This entry was posted in Journal, Review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s