Gaya Mengajar Dosen di Level Sarjana

Sebenarnya, tidak bisa dikatakan juga bahwa cara mengajar dosen berbeda dengan cara mengajar guru di SMA. Nyatanya, saya pernah menjumpai dosen yang cara mengajarnya persis dengan guru-guru di SMA. Namun secara umum tipikal ini tidak bisa diharapkan ada pada semua dosen. Lagi pula, tipikal dosen yang selalu menyuapi mahasiswanya kurang baik dalam membangun pemikiran anak tersebut. Kata seorang kawan saya yang juga penulis aktif di Koran-koran, bisa kita bayangkan bedanya itu sama dengan tingkatan siaga, penggalang dan penegak di dalam PRAMUKA. Jadi, makin tinggi tingkatannya, makin sering untuk mencari dan mengolah sendiri.Sudah tidak nge-hits lagi untuk membaca apa yang disodorkan pendidik melainkan harus membacanya dengan kesadaran.
 
Pada artikel sebelumnya, terdapat pertanyaan nomor 2 yaitu bagaimana aku mampu menghadapi perangai dosen yang atmosfer mengajarnya sudah berbeda dari guru-guru di SMA.Sebelumnya juga kita sudah punya satu jurus untuk belajar efektif yakni dengan membaca tanpa tendensi dan prasangka.Sebenarnya jurus itu juga sudah cukup mampu mengakomodasi seseorang dalam kesiapannya menghadapi cara mengajar dosen yang berbeda dengan guru di SMA. Biasanya dosen-dosen di perguruan tinggi akan melakukan ini dalam cara atau gaya mengajar mereka:


memberikan presentasi melalui slide,
total tekstual,
total ceramah,
membuat forum diskusi, dan
menyodorkan referensi.

Bukan hal yang sulit jika Anda berhadapan dengan tipe dosen yang suka memberi presentasi.Tipe ini biasanya tidak menuntut banyak. Anda hanya perlu duduk, mendengarkan sembari membaca presentasi yang berjalan. Jika di dalam presentasi itu sudah lengkap keterangannya, Anda tidak perlu menulis kecuali intisarinya saja. Tipe ini sungguh tipe paling damai, menghindari konflik besar dalam tugas akhir dan tentunya menguntungkan kedua belah pihak dari segi penyampaian materi dan penilaian hasil.Hanya saja, kekurangannya, Anda terlalu fokus terhadap slide presentasi seumur hidup Anda di mata kuliah tersebut. Pemikiran Anda kurang berkembang sebab Anda sudah tahu “pertanyaan ujian akhir tidak jauh-jauh dari slide presentasi”. Meski tipikal ini tidak menuntut Anda menjawab persis dengan yang ada di slide presentasi, setidaknya beberapa poin yang disampaikan ada di dalam jawaban Anda. Untuk memperkaya wawasan, Anda bisa mengakalinya dengan membaca buku-buku pendukung dengan metode membaca tanpa tendensi dan prasangka.
 
Tipe kedua, total tekstual merupakan tipe yang menurut saya paling TIDAK EFEKTIF. Tentu saja tipe mengajar seperti ini tidak lain sebab kebiasaan dosen tersebut di masa mudanya yang gemar menghafal pelajaran dan atau enggan bersusah payah mengajar sebab mata kuliah yang diampu sudah terlalu banyak. Entah sebab tuntutan perkuliahannya dahulu atau perguruan tingginya yang mengharuskan mahasiswanya menghafal, maka dosen-dosen kelahiran dari proses ini biasanya kurang bisa menghargai keterbukaan pikiran. 
 
Sebagai contoh kasus, ada mata kuliah kebudayaan tentang memasyarakatkan ide-ide baru berisi field notes atau jurnal lapangan seorang peneliti etnografis di suatu kelompok masyarakat di Amerika. Di dalam field notes tersebut terdapat beberapa formula yang disari oleh peneliti. Dosen tipikal total tekstual biasanya akan menulis pertanyaan dalam ujian akhir seperti ini, “tuliskan formula-formula yang disarikan seorang peneliti dalam buku memasyarakatkan ide-ide baru!” untuk menjawabnya, Anda WAJIB menulis kalimat-kalimat yang sesuai dengan teks buku tersebut. Jangan pernah sekalipun menulis tidak sesuai sebab itu bisa mempengaruhi penilaian si dosen kepada Anda. Tipikal ini bisa terjadi di minat apa saja; budaya, sastra, apalagi linguistik (dalam beberapa hal, linguistik memang punya pakem yang mengharuskan mahasiswa untuk hafal, tapi dalam beberapa hal lain kajian linguistik tidak gelap mata memaksakan hafalan sebagai pola belajar). Saya menyebutnya tidak efektif sebab menghafal pelajaran bukanlah suatu terobosan yang baik dalam membangun paradigma (pelajaran lho ya, saya tidak membahas hafalan Alquran di sini).
 
Tipe ini menuntut Anda untuk patuh tanpa kompromi, berpikir tidak kritis, dan sejujurnya bagi saya tipe mengajar menghafal tekstual tidak selaras dengan jargon pendidik sebagai pencerdas generasi bangsa.Lebih tepatnya, mereka mendikte atau mendoktrin.Hal ini juga berpengaruh lho kepada pola pikir mahasiswa dan menjadikan mereka berpikir konservatif dan terbatas.Tidak ada solusi jitu selain Anda ikhlas menghadapi dosen semacam ini.Sebab dari sini kita bisa punya gambaran bahwa dosen tersebut kurang bisa menerima masukan, terbukti dari gaya mengajarnya yang tekstual dan letterleck. Sekali lagi, jurus membaca tanpa tendensi dan prasangka ampuh berperan sebagai obat sakit untuk mengobati kekecewaan.
 
Tipe ketiga, total ceramah adalah dosen yang aneka warna.Tipe ini biasanya berkepribadian Sanguin. Orang-orang yang berkepribadian Sanguin senang dengan pusat perhatian, bahagia ketika menjadi populer. Namun, tipe ini juga memiliki beberapa kategori.Ada dosen yang suka berceramah dengan fokus ceramah pada materi perkuliahan, ada yang ceramah sambil melantur pada hal-hal yang menonjolkan unsur dirinya, ada pula yang menjelaskan sembari mengajak berdiskusi dan memiliki sense of humour. Ketiga tipe ini memiliki manfaat masing-masing, itu kabar baiknya.Kabar buruknya, kita mudah mengantuk saat mengikuti perkuliahan apalagi kalau yang dibahas itu sudah melantur ke mana-mana dan tidak selaras dengan kesukaan kita. Kebaikan dari tipe ini adalah terbukanya alam pikir kita akan dimensi-dimensi di luar mata kuliah alias perkuliahan itu tidak melulu bicara buku dan teori. Juga bicara kehidupan sehari-hari dan pengalaman-pengalaman batin manusia sebagai wujud nyata dari alam teori.
 
Jika Anda berjumpa dengan dosen tipe ceramah yang suka melantur, mungkin Anda kerap tertidur (bukan mengantuk lagi) namun sesekali niatkan diri Anda untuk menjadi pendengar yang baik meski ceramah yang disampaikan sudah tidak sesuai dengan materi kuliah.Cerita yang disampaikan tak jarang menyentuh lapisan-lapisan sosial paling sensitif atau isu-isu kekinian yang bisa jadi memiliki relasi tak langsung terhadap mata kuliah.Jika Anda sudah menjalankan jurus ampuh membaca tanpa tendensi dan prasangka, Anda bisa membantu dosen kembali pada rel pembicaraan yang sesuai. Misalnya ketika seorang dosen tipe penceramah sedang menyampaikan kuliah tentang sejarah pertumbuhan sekte Sunni dan Syiah di dunia Arab, lalu ia mulai melantur pada kisah seorang martir ISIS sebab isu itu sedang marak, maka Anda yang sudah membaca referensi bisa mengajukan pertanyaan atau sanggahan untuk kembali membawa arah perbincangan si dosen kepada pertumbuhan sekte Sunni dan Syiah di dunia Arab.
 
Tipe keempat, membuat forum diskusi. Biasanya dosen-dosen yang gemar membuat forum diskusi adalah dosen yang suka tantangan, mau berpikir rasional, kritis dan mempertanyakan kembali semua gejala kehidupan. Kebanyakan saya menjumpai dosen seperti ini adalah dosen-dosen yang cinta damai dan toleransi. Mereka tidak hanya senang tampil sebagai seorang Sanguin di tengah-tengah mata yang menuju padanya melainkan juga seorang pendengar yang baik. Ia tidak malu untuk mengatakan, “saya belum pernah mendengar isu terkait apa yang Anda tanyakan,saya akan coba mencari jawabannya. Saya harap Anda juga mencarinya” ketika ada yang mengajukan persoalan pelik padanya.

Ia juga tidak gengsi ketika mahasiswa mencoba mengkritik dan ia akan merespon, “terima kasih atas sanggahan Anda, barangkali perkuliahan saya saat ini belum mampu mengakomodir apa yang dibutuhkan namun ke depannya saya akan coba memperbaiki.” Kebaikan tipe ini sangat banyak, diantaranya mampu membangun pemikiran universal dan menanamkan nilai-nilai toleransi kepada mahasiswa sebab melalui proses diskusi seseorang tidak hanya menyampaikan gagasan atau pandangannya melainkan juga mendengar dan mengolah pikiran dari apa yang didengarnya dari orang lain. Sayangnya, dosen sebaik ini sering disalahgunakan mahasiswanya. Mungkin itu jeleknya sifat dari dua kutub yang berbeda. Jika satu menarik maka yang satu menghindar dan sebaliknya. Mahasiswa edan yang sudah senang memperoleh dosen tipe ini biasanya suka asbi, askri dan asbun (asal bicara, asal kritik dan asal bunyi) mentang-mentang si dosen rendah hati dan penuh toleransi. Pada artikel lain saya akan membahas bagaimana cara menyampaikan opini bijak. Untuk hal ini, solusi tidak diperlukan kecuali Anda semakin banyak membaca, membaca dan membaca juga mengamati gejala di sekitar Anda sebab dosen tipe ini suka dengan mahasiswa aktif yang berwawasan, objektif dan santun.
 
Tipe kelima, dosen yang suka memberi referensi untuk dikaji oleh mahasiswa. Biasanya juga suka memasukkan metode diskusi ke dalam perkuliahannya. Namun, sebagai dosen di strata satu, tipe pemberi referensi berharap kita sudah membaca lebih dulu apa yang kelak dibahas. Supaya sejalur, tidak ngawur dan referensinya akurat. Biasanya juga, dosen seperti ini senang jika mahasiswanya reaktif dan berproses lebih dari sekedar membaca referensi yang diberikan. Pemuatan referensi yang diberikan ditambah referensi lain yang dibaca mahasiswa sering kali dijadikan nilai plus jika mahasiswa memasukkannya di dalam tugas perkuliahan. 

Sekian dulu tentang gaya mengajar dosen di Universitas, khususnya untuk level sarjana. Semuanya berdasarkan pengalaman saya pribadi dan cerita-cerita kawan di bangku Universitas dengan jurusan yang berbeda-beda. Semata-mata ditujukan untuk memberikan sedikit ilustrasi pengalaman agar menjadi manfaat bagi pembaca yang budiman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s