Kritis Hiu, Hiu Kritis!

Dokumentasi WWF Indonesia 2016
Diberitakan dari WWF Indonesia, bahwa sejak tahun 2013 jumlah hiu mati sebab diambil siripnya terhitung sebanyak 100 juta hiu per tahun atau sekitar 3 hiu per detiknya. Hal ini disebabkan konsumsi sirip hiu sebagai salah satu kuliner paling menarik di Jakarta sebanyak kurang lebih 15.000 Kg per tahun. Konon perolehan sirip hiu melalui proses shark finning yang brutal. Saya menyebutnya brutal karena hiu yang tertangkap dan ditangkap dipotong siripnya dalam keadaan hidup lalu dibuang ke laut sehingga mereka lambat laun mati dan tenggelam di dasar samudera.
Saya tidak mengerti kenapa para pelaku shark finning tega melakukan hal itu. Kalau dibayangkan saja sudah ngeri apalagi dilakukan. Kalau kita tahu bahwa hiu-hiu yang ada ditangkap dan dibunuh secara utuh saja sudah bikin iba apalagi hanya diambil siripnya lalu dibuang ke laut. Padahal, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Australian Institute of Marine Science menemukan bahwa satu hiu karang di Palau bisa menghasilkan hampir dua juta dollar dari wisata eko (ecotourism) sepanjang hidupnya dan ini tentunya angka yang jauh lebih besar dibandingkan hiu mati sebab diambil siripnya yang dihargai sebesar 250 dollar per kilogram.
dokumentasi WWF Indonesia
Memang, di Indonesia masih dibutuhkan pendidikan ah lagi-lagi pendidikan, tentang kesadaran para nelayan untuk ikut menyelamatkan ekosistem laut. Menurut beberapa sumber, nelayan di Costa Rica ikut diajak menyelam dan melakukan konservasi alam bawah laut bersama turis-turis yang datang. Tidak seperti nelayan-nelayan di wilayah Raja Ampat (mungkin sekarang sudah ada atau baru dilaksanakan, saya harap begitu). Para nelayan itu sebenarnya hanya bermaksud mencari nafkah. Mereka tahu bahwa harga hiu apalagi siripnya itu tinggi. Pasokannya sampai ke mancanegara. Jadi, andaikan mereka ada pendidikan (baca: diikutsertakan dalam bisnis ecotourism, diving, resor-resor sekitaran wilayah pantai Raja Ampat atau di manapun wilayahnya di Indonesia) maka para nelayan ini akan sadar bahwa hiu lebih baik dilestarikan. Dibiarkan hidup dan dipertontonkan sebagai objek wisata alami di pulau-pulau dengan sentuhan samudera sepanjang Indonesia.
Hiu diminati konon sebab beberapa manfaat yang ada di dalam dirinya. Beberapa manfaat itu diantaranya:
1. Minyak hati untuk industri tekstil, sumber vitamin A dan produk farmasi. Meski nyatanya saya baca di suatu sumber bahwa hiu tidak mengandung vitamin A sama sekali. cek di sini: https://id.wikipedia.org/wiki/Sup_sirip_hiu
2. Kornea mata untuk transplantasi mata manusia
3. Gigi hiu untuk perhiasan dan senjata (suku Maori biasa menggunakannya)
Sup Sirip Hiu dokumentasi google
4. Kulitnya untuk bahan makanan dan pembuatan pakaian renang
5. Sirip hiu terutama bagian punggung yang dijadikan bisnis kuliner Sup Sirip Hiu. Menurut suatu blog yang pernah menjual belikan sirip hiu, harga per mangkuk sup bisa mencapai satu juta rupiah.
Sirip yang biasa dipotong dan digunakan dalam sup tidak hanya sirip bagian punggung. Ada sirip dorsal, sirip pectoral, sirip pelvis, sirip anus dan sirip caudal. Untuk lebih jelasnya bisa diperhatikan gambar di bawah ini:
diagram sirip hiu dokumentasi google
Mungkin Anda bertanya-tanya kenapa saya menulis artikel tentang konservasi hiu sementara tulisan di blog saya pada umumnya berbicara tentang pemikiran, sastra, sejarah dan budaya. Kalau bicara alam, ekosistem, biota laut, kehidupan bawah laut sepertinya kurang cocok dengan lulusan Sastra Arab, tapi ketahuilah, pengetahuan tentang konservasi alam (tidak hanya untuk menyelamatkan hiu yang sudah tergolong nyaris punah) adalah tanggung jawab semua manusia tanpa kecuali tanpa memandang latar belakang. Mulai dari yang tidak mengenyam pendidikan formal apalagi yang sudah sekolah sampai Sarjana. Sarjana saja wajib apalagi yang sudah profesor.
Saya pribadi sebenarnya takut kalau bertemu hiu di laut. Salah satu hobi saya yaitu snorkeling, belum sampai diving karena saya belum mahir-mahir amat di laut, bisa dikatakan sebagai hobi yang punya kesempatan bisa berjumpa hiu meski belum terwujud. Diving juga butuh biaya sedangkan keuangan saya kalau backpacker-an tidak banyak-banyak amat. Tapi saya masih berharap suatu saat bisa belajar diving yang benar dengan para ahli sekaligus mempelajari lebih dalam tentang kehidupan bawah laut. Karena takut berpapasan langsung dengan hiu, saya lebih suka melihat dari tempat penangkaran atau berkunjung ke SeaWorld untuk melihat hiu dan hewan laut lainnya dengan aman.
Uniknya, walau demikian, saya menyukai hiu. Pertama kali saya menyukai hiu sebab saya menonton serial film petualangan Tin Tin atau dalam versi Inggrisnya “The Adventures of Tin Tin”. Sejak saya kecil bahkan saya menamai diri saya dengan nama pena Red Sea Shark (Hiu Laut Merah) seperti salah satu judul seri petualangan Tin Tin. Hiu menjadi menarik bagi saya sebab posisinya sebagai predator puncak di laut. Ia begitu penting. Penting saja. Ia angkuh tapi ia berhak demikian karena ia mengerti posisinya yang ditakdir sebagai paling penting. (ini hanya iseng pikiran saya saja hehehe)
sumber bacaan:
This entry was posted in Feature, Journal, Journalistic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s