Apa yang perlu Anda lakukan sebagai mahasiswa Sastra Arab di Semester Awal

 
membaca sejak kecil bagai mengukir ilmu di atas batu
 Setiap bangku perkuliahan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ketika tahun 2010 saya duduk di semester pertama sebagai mahasiswa Sastra Arab tentu berbeda suasana dengan Anda yang saat ini sedang duduk di bangku semester awal di atas tahun 2014. Semester awal bisa dikatakan bermula dari angka 1-4 dalam skala 8. Itu artinya, Anda masih sangat muda (bukan muda usia) untuk mampu mempelajari hal-hal baru yang kelak Anda hadapi di semester-semester selanjutnya. Itu kabar baik. Kabar buruknya, Anda mungkin (pada sebagian besar dari Anda) memiliki kebimbangan dan atau kurangnya wawasan tentang perkuliahan yang Anda hadapi. Apalagi jika Anda lulusan baru SMA sederajat dan guru-guru Anda di sekolah tidak semuanya sadar untuk memberikan stimulus tentang wawasan perkuliahan. Karena saya ingat betul, guru-guru di SMA akan lebih heboh menyiapkan anak-anak didik mereka untuk lulus UN dari pada siap belajar di Universitas. Padahal, dengan memahami beberapa wawasan perkuliahan mampu memotivasi anak-anak SMA untuk siap menghadapi UN secara alami.
 
Ketika pertama kali Anda masuk sebagai mahasiswa Sastra Arab, beberapa pertanyaan seperti ini mungkin berkelebat di kepala Anda:
 
1.       Bagaimana sih pola belajar di Sastra Arab yang efektif?
2.     Bagaimana aku mampu menghadapi perangai dosen yang atmosfer mengajarnya sudah berbeda dari guru-guru di SMA?
3.       Dan akhirnya mempertanyakan tentang, akan jadi apa aku nanti?
 
Di dalam tulisan ini, saya berusaha untuk mengajak Anda berpikir dan menjawab pertanyaan nomor 1 lebih dahulu dengan komitmen bahwa pertanyaan nomor 2 dan 3 kelak dibahas pada kesempatan selanjutnya.
 
Anda tentu pernah belajar pelajaran Sejarah sewaktu duduk di bangku sekolah dasar sampai menengah atas. Untuk menjawab pertanyaan nomor 1, tidak jauh berbeda dengan mengambil struktur berpikir kronologis sejarah suatu budaya atau peristiwa. Setiap fase dalam kronologi sejarah memiliki atribut masing-masing. Begitupun dengan kuliah di Sastra Arab. Bukan saja urutan mata kuliah yang diambil, melainkan pola pikir Anda yang harus sistematis. Setiap semester di perkuliahan Sastra Arab memiliki mata kuliah yang semakin menuju skala semester 8 semakin sedikit alias meruncing ke arah penelitian skripsi. Tentu kondisi ini menuntut Anda untuk bisa melakukan serangkaian kegiatan yang menunjang Anda semakin siap mengerjakan penelitian skripsi tersebut. Ingat, menunjang Anda untuk menjadi siap bukan menunjang Anda menjadi lebih cepat. Sesuatu yang dikerjakan dengan terburu-buru dengan suatu target yang hanya berlandaskan “ingin cepat selesai” sudah dibuktikan di mana-mana sebagai tindakan ceroboh. Sikap untuk mendapatkan segalanya dengan instant adalah nol besar. Anda mungkin meraih gelar sarjana lebih cepat, namun mungkin tidak berbobot. Jika Anda mampu cepat bertindak dan diiringi dengan kesiapan itu lain persoalan.
 
Di sini kita belajar proses, Kawan-kawan. Jangan pernah mengharapkan keberuntungan karena (meminjam kalimat Ayu Utami) keberuntungan tidak bisa dipelajari. Proses inilah yang kelak mampu menunjang Anda untuk siap menghadapi serangkaian penelitian, proses menulis penelitian, berpikir dan mempertanyakan kembali karya penelitian Anda. Ingat, kita sudah hidup di zaman post-modern. Artinya, Anda sudah tidak boleh bermanja-manja dengan fasilitas, rasionalitas, teknologi dan berbagai kemapanan lainnya. Anda harus mempertanyakan kembali semua kondisi kemapanan itu.
 
Kefektifan belajar di perguruan tinggi setahu saya belum pernah ada formulanya kecuali si mahasiswa melakukan serangkaian uji ilmiah dan mendapat hasilnya. Setidaknya jika mau bercermin pada sistem belajar di perguruan tinggi di Eropa atau kawasan Asia Timur misalnya Jepang, kita akan paham bagaimana menyiapkan diri untuk menyongsong penelitian skripsi dengan kondisi siap banget. Biasanya, calon mahasiswa yang akan disaring di perguruan tinggi di Eropa dan Jepang harus membuat proposal penelitian yang hendak ia lakukan di strata 1. Edan! Mungkin itu yang terbesit. Bagaimana bisa menyusun proposal penelitian sementara masuk kuliah dan belajar metodologi penelitian saja belum pernah. Bedanya, calon-calon mahasiswa di Eropa dan Jepang umumnya sudah disiapkan guru-guru mereka di SMA untuk mendaftar kuliah di universitas. Sedangkan kita, dengan kondisi yang masih awam begitu masuk bangku S1, tentu kesulitan menghadapi tantangan itu. Oleh karenanya, kefektifan belajar bisa kita mulai dari semester awal. Jangan MALAS membaca, khususnya membaca buku-buku (bisa digital atau masih bersampul). Buku apa saja yang berkaitan dengan mata kuliah Sastra Arab. Buku keilmuan, teoretik, novel, novel grafis, sastra klasik, kontemporer, buku-buku netral, buku-buku kontroversi. Buku-buku apa saja. Pada semester pertama, dengan melahap semua buku itu saya yakin akan membangun pemikiran yang universal di dalam pribadi Anda. Tipsnya, lepaskan dulu segala atribut yang melatarbelakangi pemikiran Anda. Baca buku tanpa tendensi, serap ilmunya, kaji dan pertanyakan kembali fenomena-fenomenanya. Sembari Anda bersemayam dalam kalimat-kalimat di buku yang Anda baca, sembari Anda melihat kecondongan diri Anda terhadap salah satu dari empat minat yang ditawarkan oleh jurusan Sastra Arab. Mungkin selama pengembaraan Anda menjelajahi bacaan-bacaan tersebut, Anda memiliki beberapa ketertarikan pada minat tertentu. Bisa saja kepada Sastra, kepada Kajian Budaya, kepada Linguistik, kepada penerjemahan. Yang penting, bacalah terlebih dahulu kesemuanya. Membaca tanpa tendensi tanpa prasangka.

The Incredible Book Eating Boy, karya Oliver Jeffers

 

Jangan terburu-buru untuk melakukan debat dengan wawasan Anda yang masih sangat sedikit atau sempit. Sikap waspada ini akan menolong Anda dari gelar “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”. Berbincang dan berdiskusi adalah kegiatan yang lebih baik daripada mendebatkan sesuatu. Justru dengan diskusi akademis yang sehat dengan sendirinya akan mendebat suatu keganjilan, mempertanyakan suatu fenomena misterius dan menelusurinya dengan keilmuan yang anggun. Mungkin saat ini ketika Anda menjalankan tips yang saya berikan, Anda belum merasakan secara langsung bagaimana membaca buku tanpa tendensi dan prasangka mampu membantu Anda belajar lebih efektif. Namun, seiring berjalannya waktu, konstruksi pikiran Anda akan kokoh disertai sikap toleransi yang tinggi. Hal itu tidak hanya membantu Anda menjalankan perkuliahan secara efektif namun juga membangun kebijaksanaan dalam diri Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s