Revolusi Film Tentang Dunia Perceraian di Mesir Sebagai Upaya Mereduksi Stigma Buruk Akan Perempuan Mesir

Kurang lebih memasuki tahun ke delapan perjuangan Mahasen Saber sebagai sosok inspiratif khususnya bagi kalangan perempuan berstatus sosial sebagai janda di Mesir, konsisten menggelorakan idealismenya. Pemberitaan mengenai Saber di media tidak seramai Arab Spring dan berbagai gejolak politik Timur Tengah sejak aksi pembakaran diri Mohammed Bouazizi di Tunisia.
Kini perjuangan itu kian samar meski dengan berbagai upaya masih dilakukan Saber seperti pengadaan Motalaqqat Radio (Divorcees Radio) sejak tahun 2006 di Mesir. Program acara dalam radio yang didirikan Saber sangat spesifik untuk mengangkat dunia perempuan berstatus sosial janda dengan polemik kehidupan mereka demi mengurangi stigma masyarakat konservatif yang menilai mereka sebagai oportunis. Hal ini menyebabkan kesulitan para janda di Mesir dalam melakukan interaksi sosial, juga tentunya dalam penghidupan mereka sebab banyak di antara mereka yang sebelum cerai tidak memiliki basis pendidikan yang tinggi (perguruan tinggi). Banyak dari para janda terpontang-panting ‘mendidik’ diri mereka dalam kursus-kursus aplikatif; menjahit, memasak, bahasa asing dan sebagainya untuk peningkatan keahlian demi kelangsungan hidup.
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Rasha Dewedar (dipublikasikan oleh Kantor Berita Common Ground News)[1], Saber mengatakan, “Saya merasa bahwa para janda tidak saja dimarjinalkan oleh media tetapi juga ditolak oleh masyarakat. Itulah mengapa saya memutuskan untuk membuat radio saya sebuah sarana agar orang bisa memahami mereka tanpa memberi stereotipe atau menilai tanpa bukti,”
Mengenai perceraian itu sendiri, secara umum bisa dikatakan bahwa perceraian merupakan salah satu fenomena sosial yang jika dilihat melalui data statistik peningkatannya per tahun di Mesir bisa pula dibilang fenomena sosial yang sudah membudaya. Dikatakan membudaya sebab fenomena sosial ini kerap berulang terjadi dan entah bagaimana faktornya secara umum bisa ditebak bahwa di Mesir dan masyarakat di lingkungan Timur Tengah sendiri memandang dan melakukan adanya pernikahan dini, pernikahan ulang (re-marriage), poligami, yang sudah menjadi asumsi banyak orang sebagai pemicu perceraian. Namun tidak hanya demikian. Dalam kajian sosiologi-psikologi, George Levinger (1966) merinci sebab-sebab perceraian sebagai berikut; 1. Karena pasangannya sering mengabaikan kewajiban terhadap rumah tangga dan anak, 2. Masalah keuangan (tidak cukupnya penghasilan yang diterima untuk menghidupi keluarga dan kebutuhan rumah tangga), 3. Adanya penyiksaan fisik terhadap pasangan, 4. Pasangannya sering berteriak dan mengeluarkan kata-kata kasar serta menyakitkan, 5. Tidak setia, seperti punya kekasih lain dan sering berzina dengan orang lain, 6. Ketidakcocokan dalam masalah hubungan seksual dengan pasangannya, seperti adanya keengganan atau sering menolak melakukan senggama dan tidak bisa memberikan kepuasan, 7. Sering mabuk, 8. Adanya keterlibatan atau campur tangan dan tekanan sosial dari pihak kerabat pasangannya, 9. Seringnya muncul kecurigaan, kecemburuan serta ketidak percayaan dari pasangannya, 10. Berkurangnya perasaan cinta sehingga jarang berkomunikasi, kurangnya perhatian dan kebersamaan di antara pasangan, 11. Adanya tuntutan yang dianggap terlalu berlebihan sehingga pasangannya menjadi tidak sabar, dan terakhir 12. Kategori lain-lain yang tidak termasuk sebelas tipe keluhan di atas. Adapun dampak mengenai perceraian  adalah penyesuaian kembali terhadap peranan masing-masing serta hubungan dengan lingkungan sosial mereka. Teori-teori mengenai penyebab perceraian tersebut bisa jadi mendominasi perceraian yang semakin meningkat di Mesir. Namun, kembali pada apa yang dipaparkan sebelumnya, ternyata pernikahan dini menjadi faktor utama perceraian. Hal ini didukung oleh pernyataan Doaa Eweda, sahabat Mahasen Saber sebagai pembenaran pernyataan pemerintah Mesir kala itu.[2]
Berbagai upaya yang dilakukan Saber bukan tanpa hasil. Divorcees Radio yang dia dirikan mendapat respon positif. Tidak hanya perempuan berstatus sosial janda, namun seluruh perempuan dalam status sosial manapun bergabung baik dari dalam negara Mesir maupun dari luar seperti Libanon dan Maroko.
Tentunya media sangat berperan penting dalam fenomena apapun untuk menyebarkan informasi, bahkan membangun stigma yang baik. Jika media jurnalistik cetak seperti koran dan majalah sudah dikuasai oleh stigma konservatif terhadap perempuan berstatus janda di Mesir, maka media berupa pembuatan film bisa dikatakan masih punya harapan menjadi sebuah upaya untuk mereduksi atau mengurangi stigma tersebut. Mengingat, dalam konteks kewilayahan Timur Tengah (Asia Barat jika dipandang dari Indonesia), film yang mendominasi adalah film-film produksi Mesir. Di Indonesia sendiri, pengaruhnya bisa dilihat dari para produser dan sutradara yang melakukan teknik pengambilan gambar (shooting) di beberapa kota dan tempat umum di Mesir.[3]
Film juga bisa merefleksikan lebih riil kehidupan nyata perempuan Mesir dengan sekelumit kehidupan mereka. Pembuatan film dalam hal ini bisa diperkuat sebagai revolusi film yakni langsung mengangkat tema ‘pemberantasan stigma konservatif terhadap status sosial janda di kalangan perempuan Mesir’. Jika faktor-faktor penyebab perceraian bisa diilustrasikan secara baik dan riil melalui film, penulis yakin akan berdampak positif terhadap opini masyarakat luas, khususnya yang berpikiran konservatif. Sebab hakikatnya, film seperti media jurnalistik lainnya, selain bersifat entertain juga bisa sebagai media provokatif. Sikap provokasi bisa diwujudkan dalam kebajikan dan dengan mengangkat tema seperti yang telah diusulkan sebelumnya diharapkan mampu mengangkat harkat dan martabat perempuan Mesir pada khususnya dan seluruh perempuan dalam status sosial apapun secara umum di seluruh belahan dunia.
Untuk Mahasen Saber dan semua perempuan janda dengan kasus yang serupa
Surakarta, 24 September 2013

[1] ‘Perlunya Cerita Nyata Perempuan Diangkat di Film Mesir’ ditulis oleh Rasha Dewedar, dipublikasikan dalam bahasa Indonesia oleh CGN Office pada tanggal 14 Oktober 2011.
[2] Menurut Doaa, pernikahan dini disebabkan gadis Mesir teramat mencintai sang kekasih. Lihat: Wanita Mesir Lawan Stigma Kaum Konservatif. Dipublikasikan Okezone.com pada tanggal 4 Maret 2010.
[3] Lihat: film Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan Dalam Mihrab Cinta yang mengambil lokasi pengambilan gambar di Mesir.

This entry was posted in Feature, Journalistic. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s